Pertemuan antara aku dan kau, semua ini sudah menjadi suratan dan ketentuan Tuhan. Pertemuan yang tidak pernah aku bayangkan sama


Cerpen KAU BUKAN AISYAH DAN AKU BUKAN RASULULLAH
BUKAN AISYAH DAN AKU BUKAN RASULULLAH

KAU BUKAN AISYAH DAN AKU BUKAN RASULULLAH

Pertemuan antara aku dan kau, semua ini sudah menjadi suratan dan ketentuan Tuhan. Pertemuan yang tidak pernah aku bayangkan sama sekali. Selama ini aku tidak pernah diperhatikan oleh seorang insan. Selama ini aku tidak pernah dipandang dua belah mata. Tapi, kau gadis yang berbeda dengan yang lainnya. Kau anggap aku adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Padahal, diriku ini merupakan insan yang hina-dina. Aku seorang hamba yang miharsa. Aku seorang taruna yang dhoif, seorang arjuna yang sudah tua renta dengan batang usia tinggi sudah, dan sudah bau tanah.

Pertemuan antara aku dan kau seumpama bulan purnama dan burung pungguk. Kau gadis yang masih muda dan terlalu amat muda. Sedangkan aku, kubur sudah menantiku. Bidadari pun sudah siap untuk menjemputku. Karena kini yang kurasakan nafasku sudah diujung nadiku. Hingga saat ini tidak satu pun insan yang peduli dengan keadaanku. Hingga saat ini tidak satu pun insan yang merasa empati dengan hidupku. Dan aku pun tidak perlu sedu- sedan itu dari mereka.

Pertemuan denganmu seakan-akan mimpi bagiku. Aku bersyukur kepada Tuhan, aku berterima kasih kepada-Nya. Ternyata Tuhan punya rahasia kepadaku tentang kamu. Aku juga berterima kasih kepadamu. Kau gadis kecil berhati bidadari, yang telah memungutku dari onggokan sampah yang terbuang di pinggir jalanan.

Meskipun hanya sesaat Tuhan berikan padaku bersamamu. Meskipun hanya sesaat kau izinkan aku menggenggam kedua tanganmu dengan erat. Itu sudah cukup bagiku. Itu sudah dari cukup untuk membuat aku bahagia. Aku tahu pertemuan denganmu tidak akan lama. Karena esok atau lusa malaikat-malaikat akan menjemputku. Karena esok atau pun lusa, bidadari akan menemuiku. Sedangkan pada saat itu aku dan kau bercerita tentang kita.

Biarlah semua ini menjadi kenangan bagiku. Biarlah namamu ikut bersamaku, akan kusematkan namamu di hatiku “Siti Aisyah”. Karena kutahu kau bukan Aisyah dan aku bukan Rasulullah. Aku bukan Dia (Rasulullah). Aku bukan Dia, dan kau bukan Aisyah. Dan semua ini tidak mungkin akan terjadi. Semua ini hanyalah kebetulan dan bukan sebuah ketentuan Tuhan.

Semua ini akan menjadi kenangan yang indah bagiku. Semua ini akan menjadi suatu memory yang tidak akan terlupakan dalam hidupku. Semua ini merupakan mimpi yang indah Tuhan berikan kepadaku. Ternyata selama ini aku larut dalam mimpi ciptaanku sendiri. Kau gadis yang begitu polos hadir dalam kehidupanku disaat akhir hidupku. Kau gadis yang begitu sempurna hadir disaat sisa-sisa hidupku. Kau gadis yang begitu polos yang belum mengerti akan makna cinta, hadir disaat ajal akan menjemputku.

Apa itu cinta? Apa itu kasih-sayang? Engkau belum mengerti akan semua itu. Tapi, hati dan jiwaku melihatmu seakan-akan kau care (peduli) kepadaku. Seakan-akan kau menyayangiku (tapi itu Cuma seakan-akan saja). Sesaat kita lalui bersama, berjalan, bercanda, makan dan minum jajan, kadang berdua, dan kadang bertiga. Entah kapan lagi semua itu akan kita rasakan. Entah kapan lagi. Mungkinkah semua itu akan terjadi lagi diantara kita berdua? Kurasa semua itu tidak akan mungkin terjadi kembali.

Yang pasti semua itu tidak mungkin lagi. Yang pasti semua itu tidak mungkin akan terjadi. Semua itu tidak mungkin... Jangan tanyakan padaku mengapa. Jangan tanyakan padaku hal semacam itu. Tanyakanlah semua itu padamu. Tanyakan semuanya ini pada Tuhan. Mengapa Tuhan menciptakan aku seperti ini? Mengapa Tuhan bedakan kehidupanku dan kehidupanmu? Mengapa Tuhan pertemukan kita disaat hatiku telah bangkit dari kerapuhan dan kehancuran? Mengapa Tuhan pertemukan kita ketika bidadari siap untuk menjemputku.

Jujur, aku belum mampu untuk berpisah denganmu. Jujur, aku tidak sanggup. Jujur, aku ingin hidup seribu tahun lagi. Aku ingin hidup bersama orang yang menyayangi aku. Aku ingin hidup bersama insan yang mencintai dan menyayangi aku apa adanya. Meskipun itu bukan “kau”. Dan, kutahu itu tidak mungkin “kau”. Mustahil semua itu... Aku akan mencintai dan akan menyayangi dengan sepenuh jiwaku, orang yang sudi mencintai dan menyayangiku. Aku akan menyayanginya karena Tuhan semata.

Tapi, itu juga tidak mungkin akan terjadi. Pada kenyataannya lain yang kurasakan. Cinta di hatiku tiada lagi yang tersisa. Dan cinta untukku memang tidak ada di dunia. Begitu juga dengan kau. Kutahu itu, tidak mungkin kau mencintaiku. Semuanya tidak mungkin, yang kunanti saat ini hanyalah “kematian.” Harapan cinta yang kekal dan indah kini pudar dan luntur lah sudah. Luntur dan pudar dengan seketika. Kau bukan Aisyah dan aku bukan Rasulullah. Kau bukan Aisyah... tapi “Siti Aisyah”                

                           
Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours