November 2017


Asal Usul Nama Kampung Sungai Kelambu: Sugianto, S.Pd.I
ilustrasi "Sungai Kelambu"

Asal Usul Nama Kampung Sungai Kelambu
Sahdan sebelum kampung atau Desa Sungai Kelambu mempunyai nama seperti sekarang ini. Dulunya tempat atau lokasi ini hanyalah hutan atau semak belukar. Ceritanya berawal dari orang yang berdomisili di hilir Sungai Sebangkau pergi ke hulu untuk mencari rotan, kayu bakar, atau mengambil kayu balok untuk membuat ramuan rumah. Ramuan adalah bahan-bahan untuk membuat rumah seperti kasau, tiang, papan dan lain sebagainya. Selain itu juga mereka mencari buah-buahan hutan yang bisa dimakan.  
Jika musim hujan atau masuk bulan September, Oktober, November dan Desember, bahkan hingga ke bulan Januari, banyak orang-orang hilir pergi ke hulu untuk mencari ikan, buah-buhan dan kayu serta rotan. Di hulu mereka membuat pondok (gubuk kecil) untuk mereka bermalam selama sebulan atau pun lebih. Bahan-bahan makanan sudah mereka siapkan dari rumah yang sudah mereka perkirakan cukup untuk satu purnama.
Kebiasaan mereka seperti itu orang Sambas menyebutkan dengan muddik. Muddik dalam artian adalah seseorang yang melakukan perjalanan ke hulu sungai dengan tujuan mencari kayu atau pun ikan dengan bermalam di hulu. Di sana mereka mendirikan pondok sebagai tempat tinggal sementara. Biasanya mereka ada yang pergi satu keluarga atau pun rombongan yang terdiri dari beberapa kepala keluarga.
Alkisahnya bermula, tersebutlah seorang kakek yang bernama Ki Kasem dan anaknya Maman serta istrinya bernama Mak Minah. Usia Maman saat itu berusia 13 tahun. Ia tidak sekolah, karena ekonomi mereka kurang. Mereka berasal dari hillir Sungai Sebangkau yaitu di Desa Sungai Tapah sekarang (dulu masih belum mempunyai nama, wallahu aklam bissawab). Mereka merencanakan akan pergi ke hulu untuk mencari kayu bakar dan buah-buahan hutan yang bisa di makan seperti tampoi, buah gayam, jambu merekan, buah keraji, dan lain sebagainya.
Kayu ataupun buah-buahan tersebut bisa mereka jual ke pasar atau pun dijual dengan tetangga. Hasil dari penjualan kayu dan buah-buahan tersebut dapatlah mereka gunakan untuk membeli beras atau pun garam serta barang dapur lainnya. Selain bertani seperti itulah pekerjaan dari Ki Kasem dan keluarganya. Keluarga Ki Kasem sudah dikenal oleh orang-orang yang ke hulu.
Pagi itu mereka berencana ingin berangkat ke hulu untuk mencari kayu atau pun ikan tapah, dan ikan yang lainnya.
“Bu... Ibu...!”, panggil Ki Kasem kepada Istrinya.
“Iya, Pak...!”, jawab istrinya dari dapur sambil melangkah menemui Ki Kasem.
“Ada apa, Pak?”, tambahnya.
“Apakah semua peralatan yang ingin kita bawa sudah siap, Bu?”, tanya Ki Kasem sambil mengemaskan jaring (pukkat) yang akan dibawanya ke hulu.
“Sudah, Pak. Sudah dari tadi Ibu siapkan”, jawab istrinya.
“Maman mana, Bu... Dari tadi tidak bapak lihat?”, tanya Ki Kasem pada istrinya.  
“Ia lagi dibelakang, Pak. Maman lagi membereskan bekalannya. Entah apa yang dibuatnya. Ibu tidak tahu”, jawab Mak Minah kepada suaminya.
“Oh...”, ucap Ki Kasem.
“Suruh Maman cepat, Bu. Bapak sudah siap, ni”, tambah Ki Kasem kepada istrinya.
“Iya, Pak”, jawab istrinya tegas.
Kemudian Mak Minah menemui Maman yang asik membuat pancingan untuk bekal ke hulu nantinya.
“Man, apa kamu sudah selesai. Bapakmu menyuruh cepat. Karena kita sudah mau berangkat. Sekarang matahari sudah sepenggalah”, kata Mak Minah kepada anaknya. 
“Iya, Bu. Ini sudah selsai”, jawab Maman sambil mengemaskan barang-baragnya.
“Sekarang aku sudah siap, Bu... ayo kita berangkat”, kata Maman kepada ibunya dengan semangat sekali.
“Ikan tapah sudah menunggu kita, Bu”, tambahnya.
Ibu Maman hanya tersenyum melihat ulah anak kesayanganya itu. Kemudian Mak Minah membereskan rumah dengan menutup semua jendela dan pintu gubuk mereka. Meskipun harta benda tidak mereka miliki, akan tetapi jendela dan pintu harus tetap terkunci. Takutnya rumah mereka akan disatroni maling atau pun anjing hutan. Setelah pintu dan penjawan (jendela) tertutup dengan rapat, penyapu ijuk Mak Minah simpan di tengah pintu depan. Semua itu adalah petua agar mahluk halus dan ilmu sihir tidak dapat masuk ke rumah mereka.
Semua peralatan sudah siap. Barang-barang sembako, pelaratan untuk menebang pohon, peralatan untuk menangkap ikan, semuanya sudah ada di dalam sampan. Peralatan untuk menebang pohon, misalnya kapak, gergaji, matap, semuanya sudah beres. Matap adalah alat yang terbuat dari besi untuk menahan kayu agar tidak lari ketika dipotong dengan gergaji. Sedangkan untuk menangkap ikan, Ki Kasem menggunakan pukkat (jaring), rawai, joran, tajur (joran pendek panjang 50-80cm), bubu ada juga dibawa oleh Ki Kasem. Intinya apa yang dibutuhkan oleh Ki Kasem dan keluarganya semuanya ada untuk selama satu purnama.   
“Ayo Pak, kita berangkat!”, ucap Maman kepada bapaknya.
“Iya, sebentar”, jawab Ki Kasem.
Saat itu Ki Kasem sedang membaca do’a atau pun mantra untuk rumah mereka agar ada yang menjaga selama mereka ke hulu. Do’a yang dibaca Ki Kasem adalah sebagai berikut:  
"Bismilaahi tawakkaltu 'alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi"
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja”. Itulah do’a yang dibaca oleh Ki Kasem sedangkan do’a yang lain Ki Kasem tambah dengan do’a selamat dan do’a Nur Buah (Nurun Nubuah). Sedangkan mantra yang dibacanya ialah “Begetak gajah dipintu, gajah melenggang dilelaman. Tertutup terkunci rumah dan pintu, selamat sentosa dijagekan Tuhan. Barkat aku makai kata Lailahaillah, Muhammadarrasulullah”. Itulah mantra yang dibaca oleh Ki Kasem sebagai penjagaan rumahnya. Selain itu Ki Kasem juga membaca serapah. Serapah yang dibacanya adalah “Tok, Nek penunggu rumahku, tolonglah jagakan rumah anak cucu ini. Karena anak cucu akan berpegian jauh dan dalam waktu lama satu purnama. Jika ada orang yang berniat jahat. Engkaulah yang akan menguruskannya dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala. Barkat aku makai kata Lailahailallah Muhammadar Rasulullah”. Begitulah kira-kira bunyi dari serapah yang dibaca oleh Ki Kasem.
Setelah membaca do’a dan mantra, Ki Kasem pun menemui anak dan istrinya. Kemudian mereka melakukan perjalanan menuju hulu Sungai Sebangkau. Diperkirakan dari tempat dimana mereka tinggal hingga ke hulu setengah hari perjalanan. Jika arus sungai deras, dari hilir ke hulu bisa mencapai 7-8 jam perjalanan. Akan tetapi terkadang ada orang bisa sampai ke hulu hanya dengan 4 jam perjalanan. Semua itu dengan bantuan supranatural atau ilmu ghaib (mantra). Orang-orang tempo dulu memang hebat dan punya ilmu kesaktian. Secara normal jarak tempuh dari hulu ke hilir di mana tempat Ki Kasem dan Mak Minah tinggal biasanya 7-8 jam perjalanan.
Sudah lelah mereka mengayuh sampai dengan melawan arus Sungai Sebangkau. Mereka istirahat sebentar di bawah pohon Dungun yang rindang sambil menyantap makanan yang mereka bawa dari rumah. Selain mereka, ada juga keluarga lain atau rombongan lain yang pergi ke hulu dengan tujuan yang sama.
“Makan dulu kita, Pak. Aku sudah lapar rasanya. Sudah lama kita mengayuh sampan ni. Mungkin asar nanti kita baru sampai”, kata istri Ki Kasem.
“Iyalah... Bapak juga sudah lapar ni”, jawab Ki Kasem sambil mengambil piring yang disodorkan oleh istrinya.
“Aku juga lapar Bu. Tolong ambilkan nasi Bu”, pinta Maman pada ibunya.
“Iya sabar... Ibu tahu kok”, jawab ibunya.
Mereka sekeluarga makan dengan lahap sekali. Meskipun lauk yang mereka bawa hanya ikan asin gambung dan ikan teri (pussok) serta sayur kacang-panjang yang dioseng. Tidak luput pula sambal belacan (terasi) itu tidak pernah absen dari menu Mak Minah. Karena tenaga mereka sudah terkuras dengan mengayuh sampan melawan arus sungai yang lumayan deras. Sesekali ketika ada orang lewat ke hulu, Ki Kasem disapa oleh orang-orang tersebut.
Setelah dirasa cukup beristirahat, mereka pun melanjutkan perjalanan ke hulu. Mak Minah mulai mengemaskan barang-barangnya.
“Sepertinya sudah lama juga kita istirahat, Bu. Dan sudah banyak pula orang-orang yang melewati kita ke hulu. Mungkin mereka sudah tiba di Desa Penage ni, Bu”, kata Ki Kasem kepada istrinya.
“Iya, Pak. Sekarang ibu kemaskan dulu makanan kita ini”, jawab istrinya.
“Sekarang anginnya mulai kencang, menuju ke hulu. Perjalanan kita akan menjadi cepat. Mungkin sebelum asar kita sudah sampai ke hulu”, kata Ki Kasem.
“Bagaimana bisa, Pak?” tanya Maman kepada bapaknya.     
“Ya bisalah, Man. Kita akan menggunakan daun nipah untuk dijadikan layar. Agar sampan kita melaju dengan kencang. Mungkin orang-orang yang sudah lama lewat itu, kita akan dapat mendahului mereka. Tapi, jika mereka tidak menggunakan layar semacam kita”, jelas Ki Kasem pada Maman.
“Baguslah jika begitu, Pak. Aku sudah tidak sabar untuk memancing ikan tapah ni, Pak”, kata Maman kegirangan.
“Sekarang bapak ambil dulu daun nipahnya empat pelepah agar sampan kita melaju dengan deras”, kata Ki Kasem.
“Iya lah, Pak”, jawab anaknya si Maman.
Kemudian Ki Kasem pun mengambil daun nipah empat pelepah. Daun nipah tersebut kemudian ditancapkan diempat bagian dari sampannya. Ki Kasem mendayung sampannya ke tengah sungai, agar ketika sampan melaju tidak menabrak kiambang ataupun tanjung. Sampan Ki Kasem pun melaju dengan deras. Ki Kasem menyetir sampannya seumpama memainkan motor air. Tidak terasa tanjung dan muara sudah banyak yang mereka lalui. Kini sebentar lagi mereka akan datang di “Batu Nek Jage”.
Batu Nek Jage sangat ditakuti orang-orang yang berdomisili disekitar Gunung Pelanjau dan yang mengetahui cerita mengenai Batu Nek Jage. Karena dilokasi Batu Nek Jage airnya berputar-putar dan amat deras. Banyak orang yang karam dan bahkan meninggal dipusaran air tersebut. Konon, di dalam air tersebut terdapat terowongan hingga ke Kampung Tibangun Kecamatan Teluk Keramat. Di Kampung Tibangun juga terdapat pusaran air yang begitu besar. Lagi-lagi banyak orang yang karam dan bahkan meninggal ditempat itu. Konon menurut cerita masyarakat Raja Tan Unggal yang zalim pun dibuang di Kuala Tibangun.
Ki Kasem dan istrinya dengan sangat hati-hati melintasi Batu Nek Jage tersebut agar tidak terbawa arus. Kini layar daun nipah sudah tidak lagi mereka gunakan. Sudah sekian lama mereka mendayung sampan, datanglah mereka pada tempat yang dituju, yaitu di Tangkit. Sepanjang perjalanan si Maman memperhatikan burung-burung yang beterbangan, kera yang bergayutan di pohon, serta banyaknya tangkapan ikan mulai dari yang besar hinga yang kecil. Sepertinya si Maman sudah tidak sabar lagi untuk memancing atau pun menjala ikan.
Sampan pun ditambatkan oleh Ki Kasem. Bekalan pun diangkat satu persatu ke darat oleh mereka. Pondok Ki Kasem tidak terlalu besar, diperkirakan 4 x 4 meter. Pondok tersebut sudah lama dibuat oleh Ki Kasem. Sebenarnya di hulu itu, silakan saja menempati pondok orang lain jika tidak ada penghuninya. Jika penghuninya sudah menghilir (pulang). Di hulu orang-orang selalu ramai, dan bahkan ada yang menetap agak lama di hulu hanya sekedar untuk mencari ikan. Kadang-kadang mereka menuba ikan di hulu.
  Setelah semuanya beres, Mak Minah memasak, Maman pergi memancing di depan pondok. Sedangkan Ki Kasem sedang membereskan rawai dan jaringnya. Rawai merupakan alat pancing dengan seutas tali yang mempunyai mata pancing sangat banyak sesuai dengan ukuran besar sungai. Rawai bisa dipasang melintang atau membujur sungai. Namun sebelum itu, Ki Kasem membaca serapah jampi kepada Jubata (penghuni hutan) agar mereka tidak mengalami gangguan sedikitpun bila di hutan.
“Assalamualaikum Datok Panglima Hitam. Saya ini anak cucu Sultan Syafiuddin Sambas, datang kemari untuk mencari rezeki. Jika ada pantang larang di hutan ini, tolong sampaikan ke anak cucu. Jika ada makhluk halus yang datang mengganggu, engkaulah yang akan melarangnya dengan izin Allah Subahanu Wata’ala. Barkat aku makai kata Lailahailallah Muhammadar Rasulullah”.
Serapah jampi telah dibaca oleh Ki Kasem. Setelah serapah jampi dan do’a kepada Jubata dan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mereka pun bisa bekerja dengan tenang. Selain itu pula, Ki Kasem mengambil sedikit rumput disekitar pondonya, kemudian ia membaca mantra.
“Ya rasi narasi ashaduannarasi”, ucap Ki Kasem.
Tujuan dari mantra tersebut adalah untuk mendapatkan alamat dari Duata penunggu hutan (Datok Panglima Hitam), agar menyampaikan pantang larang dan nama penunggu atau pun penghuni yang ada di hutan tersebut (makhluk astral).
Waktu terus berjalan, kini hari mulai malam. Ki Kasem dan istri serta anaknya setelah makan malam mereka pun tertidur pulas. Mungkin karena capek kurang lebih 6-7 jam mengayuh sampan. Ditambah lagi dengan mengemaskan pondok dan lain sebagainya. Di dalam tidurnya, Ki Kasem mendapatkan mimpi atau wangsit dari Duata (Datok Panglima Hitam). Dalam mimpinya si Datok Panglima Hitam menyampaikan pantang larang ketika di hutan. Tujuh pantang larang yang didapatkan oleh Ki Kasem di dalam mimpi adalah sebagai berikut: 
1.      Tidak boleh bersiul.
2.      Tidak boleh mandi telanjang.
3.      Tidak boleh membakar terasi (belacan).
4.      Tidak boleh membuat bubur nasi.
5.      Tidak boleh membakar ikan asin.
6.      Tidak boleh celupar (takabur).
7.      Tidak boleh berteriak atau tertawa terbahak-bahak.
Itulah tujuh pantang larang yang disampaikan oleh datok penunggu hutan atau Datok Panglima Hitam kepada Ki Kasem dalam mimpinya. Kemudian keesokan harinya, mimpi itu disampaikan oleh Ki Kasem kepada anak dan istrinya.
“Bu, semalam bapak bermimpi. Bapak ditemui oleh seorang kakek-kakek berjanggut panjang dan berbaju jobah warna putih”, kata Ki Kasem kepada istri dan anaknya.
“Apa kata datok itu, Pak?”, tanya anaknya si Maman sambil mendekati bapaknya.
“Dia mengatakan pantang larang ketika kita berada di hutan ini. Katanya kita tidak boleh bersiul, kita tidak boleh mandi telanjang, kita tidak boleh membakar terasi, kita juga tidak boleh membuat bubur nasi”, kata Ki Kasem.
“Kenapa kita tidak boleh membuat bubur nasi, Pak? Bubur nasi kan enak, Pak!”, tanya Maman mau tahu banyak. Maklum Maman kan masih anak-anak.
“Jangan banyak tanya, Man. Tidak baik...!”, jawab ibunya.
“Jika kita membuat membuat bubur nasi, Man. Maka nanti yang akan mendatangi kita adalah hantu bala seribu. Hutan ini bunyi hancur, semua pohon bertumbangan. Akan tetapi makhluknya tidak ada, tidak kelihatan. Jika kita tidak segera menyajikan bubur nasi itu ditengah hutan, maka pondok kita dan kita semua ini, akan dihabisinya. Kau mau seperti itu, Man?”, jelas bapaknya.
“Ya, tidak mau Pak”, kata Maman ketakutan.
“Makanya dengarkan, Man”, timpal ibunya.
“Iya, Bu... Maman paham”, sahutnya kecut karena takut.  
“Kemudian kita tidak boleh membakar ikan asin, kita juga tidak boleh bicara celupar, takabur, bicara yang kotor-kotor, dan yang terakhir kita tidak boleh berteriak atau tertawa terbahak-bahak”, jelas Ki Kasem.
“Ya, Pak. Kami paham sekarang. Sekarang mari kita memualai pekerjaan ini dengan membaca basmalah, Pak. Kita berdo’a bersama-sama, agar kita selamat hingga ke pulangnya kelak”, jawab istrinya.
Kemudian mereka pun berdo’a bersama-sama. Setelah mereka berdo’a mereka memulai pekerjaannya mengambil kayu dan mencari ikan. Sepulang dari mencari kayu mereka menyempatkan mengambil buah yang mereka jumpai dalam perjalanan menuju pondok. Ki Kasem dan istrinya bekerja tidak jauh dari pondoknya. Sedangkan si Maman mencari ikan disekitar lubuk yang juga tidak jauh dari pondok mereka tinggal.
Bunyi burung bersahut-sahutan menambah serem bagi orang yang baru pergi ke hulu. Akan tetapi tidak dengan keluarga Ki Kasem. Karena mereka sudah sering pergi ke hulu mencari kayu dan ikan serta buah-buahan hutan. Burung-burung hutan banyak sekali, warna dari bulunya juga banyak yang cantik dan indah-indah. Burung punai, burung kilik, burung alau, burung kandang, dan banyak lagi burung yang lainnya. Burung-burung tersebut diburu dan diincar oleh orang-orang yang datang ke hulu. Burung-burung itu akan dijual ke kota dengan harga yang setimpal, antara 200 ribu hingga 500 ribu rupiah perekornya.
Hari mulai malam, Ki Kasem dan istrinya sudah istirahat di pondoknya. Sedangkan si Maman sudah tertidur dengan pulas, mungkin ia kecapek-an memancing. Nyanyian burung malam menambah suasana semakin mencekam. Bunyi mereka bermacam-macam sekali, ada yang seperti bunyi orang tertawa, ada bunyi seperti orang bekerja. Apalagi pada saat bulan purnama, burung hantu saling bersahut-sahutan. Udara malam semakin dingin, si Maman semakin membulat seperti seekor kucing atau pun tringgiling. Bunyi jangkrik semakin nyaring, kini Ki Kasem dan istrinya pun sudah tertidur dengan pulas.
Keesokan harinya, seperti baiasa Ki Kasem dan istrinya mencari kayu untuk dipotong. Sedangkan Maman mencari ikan di sungai. Jika ada waktu senggang, terkadang Ki Kasem dan istrinya membantu Maman mencari ikan, begitu juga sebaliknya. Terkadang Maman membantu kedua orang tuanya mengambil kayu api. Berbagai kayu yang mereka ambil, ada yang namanya kayu ubah, kayu meranti, kayu belian, dan lain-lainnya.  
Seperti itulah kegiatan mereka hari-hari selama di hulu. Begitu juga dengan orang-orang yang lainnya. Tidak jauh dari pondok mereka terdapat pondok orang dari kampung lain. Mungkin mereka berasal dari Seburing, Sebangkau, Sekadim, atau pun Mak Tangguk. Jarak dari pondok ke pondok yang lain biasanya 20-50 meter. Dan ada pula yang berdekatan sekitar 5 meter jaraknya. Ada pula pondok yang terdapat diseberang sungai tidak jauh di depan pondok mereka.    
Siang berganti dengan malam, malam berganti dengan siang. Hari berganti dengan minggu, kini sudah sepuluh hari mereka di hulu. Kayu dan ikan mereka sudah banyak sekali mereka dapatkan. Ikan-ikan yang didapat oleh mereka sebagian dijadikan ikan salai, dan ada pula yang dijemur dibuat ikan asin. Pastinya Mak Minah banyak sekali membeli garam untuk persedian selama mereka di hulu. Sedangkan kayu yang mereka potong sudah menumpuk didekat pondok mereka.
“Bu, sepertinya kayu kita sudah banyak ni. Cukuplah buat kita beberapa bulan menggunakan kayu bakarnya nanti. Selain kebutuhan kita sudah terpenuhi, kayu yang sisa kita jual kepada tetangga atau pun ke pasar”, kata Ki Kasem kepada istrinya.
“Iya, Pak. Sepertinya ikan yang kita dapat pun sepertinya sudah banyak. Ikan asin dan ikan salai pun sudah banyak di dalam keranjang”, jawab istrinya.
“Jadi Pak, esok kita pulang ya?”, tanya Maman kepada bapaknya.
“Iya, esok pagi kita ngilir (ke hilir)”, jawab Ki Kasem.
“Sip, akhirnya kita pulang”, ucap Maman kegirangan. Karena maman rindu dengan teman-temannya untuk bermain bersama.
Keesokan paginya mereka sudah mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa pulang. Kayu, ikan, burung, buah keranji dan yang lainnya sudah dimasukkan ke dalam sampan. Kini mereka sudah siap untuk berangkat.
“Pak Long Kasem, pulang ya hari ini?”, tanya salah satu warga (orang) yang sedang mencari rawainya. Mencari dalam artian dimaksudkan mengambil ikan yang terdapat pada rawai atau pun jaring yang dipasang oleh nelayan.
“Iya, Mat”, jawab Ki Kasem kepada orang tersebut. Ternyata orang tersebut namanya adalah Amat.
“Kamu kapan pulang, Mat?”, tanya Ki Kasem kepada Pak Amat sambil menempatkan barang-barangnya ke dalam perahu (sampan).
“Mungkin lusa, Pak Long Kasem”, jawab Pak Amat kepada Ki Kasem.
“Oke lah jika begitu, Mat. Kami pulang dulu ya... Semuanya sudah siap ni. Kami pun tidak mau berlama-lama lagi. Maklum perjalanan kami jauh, Mat”, kata Ki Kasem kepada Pak Amat. Sedangkan anak dan istrinya sudah siap dari tadi di dalam sampan. Si Maman dan ibu Minah sudah dari tadi menunggu Ki Kasem.
“Tolong jaga pondok kami, Mat”, tambah Ki Kasem kepada Pak Amat.
“Insya Allah-lah itu Pak Long... Akan aku uruskan nanti pondok Pak Long... Semua insya Allah beres, Pak Long!”, ucap dari warga hulu yang mencari ikan tapah.    
Kemudian dengan mengucapkan “bismillahirohmanirrohim” Ki Kasem pun mulai mengayuh sampannya. Setelah itu diikuti oleh anak dan istrinya membantu mendayung sampan agar sampan mereka melaju dengan cepat. Sampan Ki Kasem melaju dengan cepat mengikuti arus sungai. Sesekali ada orang yang menyapa mereka, ketika mereka melewati orang-orang yang mencari ikan. Maman mendayung sampan dengan semangatnya. Seolah-olah ia merupakan seorang atlet dayung yang akan mengharumkan nama Sambas di Indonesia. 
Ketika mereka melewati Batu Nek Jage, tiba-tiba hari mendung dan hujan mulai turun. Melihat keadaan seperti itu Ki Kasem membuat tenda agar mereka terlindung dari hujan yang sudah disiapkannya. Ki Kasem mencari suak atau tempat untuk berlindung dari terjangan angin yang begitu kencang. Tanpa diduga sama sekali oleh Ki Kasem dan istrinya, hujan turun dengan tiba-tiba. Suak adalah parit kecil yang dibuat oleh orang yang bermuara ke sungai.
Sudah lama juga mereka berteduh, akan tetapi hujan juga masih belum berhenti. Meskipun sekarang hujannya tidak lagi begitu deras, akan tetapi udaranya terkadang masih kencang. Diperkirakan mereka berteduh sudah tiga jam lamanya.
“Hujannya kok belum berhenti ya, Bu? Padahal perjalanan kita masih jauh. Jika seperti ini terus, mungkin esok kita akan sampai ke rumah, Bu!”, kata Ki Kasem kepada istrnya.
“Iya, Pak... sepertinya sih”, jawab istrinya.
“Jadi, bagaimana ni, Pak?”, tanya Maman kepada bapaknya.
“Hujannya gogon sekali ni, Pak!”, tambah Maman. Gogon adalah susah untuk berhenti atau lambat untuk berhenti.       
“Tidak apa Man, sebentar lagi hujannya pasti teduh. Paling tidak, hujannya mengecil. Jika hujannya mengecil, kita lanjutkan perjalanan kita. Yang penting jangan sampai kita kemalaman di “Penage”, kata Ki Kasem.
“Memang kenapa, Pak?”, tanya Maman mau tahu.
“Kata orang-orang sih, tempat itu angker. Ada puake tapah. Banyak orang yang melihatnya dan ada juga yang telah menjadi korban. Begitulah kata orang-orang, Man”, kata Ki Kasem kepada anaknya.
Puake itu apa sih, Pak?”, tanya Maman lagi kepada bapaknya. 
Puake itu adalah hantu atau datok yang dapat berubah wujud apa pun. Apakah ia akan menjadi ikan tapah, ular tedung, buaya, dan lain sebagainya. Dan setiap makhluk itu ada puakenya, Man. Wujud puake itu sangat besar, bisa-bisa sebesar rumah, dan sepanjang puluhan meter jika ia puake dari ular tedung. Sebagaimana yang terjadi di “Lubuk Tedung” yang terdapat di hulu Sungai Sebangkau ini, Man”, kata bapaknya menjelaskan kepada Maman. Maman mengangguk-ngangguk tanda mengerti. 
“Ooo... begitu, Pak”, jawab Maman singkat.
“Nah, sekarang hujannya sudah mengecil. Mari kita lanjutkan perjalanan kita, Pak”, kata Mak Minah kepada suaminya.
“Oh iya, Bu. Ayo Man, kita lanjutkan perjalanan kita”, ucap bapaknya sambil mendayung sampannya.
Sampan Ki Kasem kembali melaju dengan cepat mengikuti arus sungai. Tenda yang terpasang tidak dibongkar oleh Ki Kasem. Karena hujan masih turun rintik-rintik. Mereka mendayung sampan dengan penuh kosentrasi. Air berciprakan ke dalam sampan mereka, seiring dengan gemerincing bunyi riak air yang ditiup bayu. Hari semakin sore, tidak lama lagi malam akan menjelang. Burung-burung kini sudah pulang kesarangnya masing-masing. Anak-anak mereka sudah lama menanti kedatangan induknya ke sarang dengan membawa banyak makanan.
Kini malam mulai menjelang, hari telah gelap. Matahari kini sudah ditelan bumi, bianglala pun tidak lagi muncul dibalik mega. Dari kejauhan terdengar sayup suara azan berkumandang. Kini mereka pun sudah lelah mendayung sampan. Mereka memutuskan untuk beristirahat. Karena jika perjalanan mereka dilanjutkan pada malam ini, mereka akan kelelahan. Mereka memutuskan untuk bermalam dan beristirahat.
“Pak, sepertinya kita harus istirahat. Ibu capek, Pak. Kita cari suak yang cocok dan bagus untuk kita bermalam, Pak”, kata istrinya kepada Ki Kasem.
“Iya, Bu... Bapak juga ni”, jawab Ki Kasem.
“Bu, Pak... Lihat...! Di sana ada suak, sepertinya suak itu bagus buat kita bermalam, Pak”, ucap Maman sambil menunjuk tempat tersebut.
“Iya juga sih, tajam sekali matamu, Man!”, kata ibunya.
“Ayo kita ke sana”, ucap Maman.
Kemudian sampan pun diarahkan ke parit tersebut. Muara parit itu tidak terlalu besar, banyak pohon Rangngas tumbuh ditepi sungai itu.
“Man, bongkar tendamu. Karena kita akan bermalam disini. Karena hujan pun sudah reda dari tadi”, perintah Ki Kasem kepada anaknya.
“Iya, Pak”, jawab Maman sambil membongkar tendanya dengan segera. Cekatan sekali Maman dalam membongkar tenda tersebut. Mungkin Ki Kasem sudah mengajari anak semata wayangnya itu.
“Sudah selesai, Pak!”, kata Maman kepada bapaknya.
“Sekarang ikat sampan di pohon itu, Man. Dan di sana juga, Bu”, perintah Ki Kasem kepada anak dan istrinya.
“Sip, Pak”, jawab mereka serempak.  
“Untuk malam ini, kita bermalam di muara sungai ini, Bu. Man, sekarang pasang lenteranya, agar orang tahu jika dimuara ini ada orang yang sedang bermalam. Dan pula agar kita tidak diganggu oleh binatang malam, seperti ular, kelelawar, kalong, serta penunggu hutan”, ucap Ki Kasem.
“Iya, Pak”, jawab Maman sambil memasang lenteranya. Kini lentera sudah tergantung di pohon yang sudah dipancung oleh Ki Kasem.
“Bu, aku lapar”, kata Maman kepada ibunya.
“Iya, Ibu juga lapar...”, jawab ibu Maman.
“Bapak juga lapar, kan?”, tanya ibu Maman kepada suaminya.
“Iya...”, jawabnya singkat.  
“Sekarang ibu siapkan nasinya dulu, ya”, kata ibunya sambil menyiapkan nasi dan yang lainnya.
Setelah semuanya tersaji, kemudian mereka makan dengan lahap sekali. Masakan Ibu Minah sangat lezat. Ikan tapah sambal goreng dan sayur tumis pakis serta sambal belacan jeruk kecil (sambal belacan irisan limau calong). Mereka makan dengan hati-hati sekali, karena takut nanti bisa ketulangan  ikan tapah atau pun mungkin kejangngallan. Kejangngallan adalah makanan atau minuman yang terhalang (tersangkut) dikerongkongan. 
“Man, sebelum tidur, kelambunya dipasang dulu, banyak nyamuk”, kata Ki Kasem.  
“Iya, Pak”, jawab Maman.
Maman langsung memasang kelambu yang mereka bawa dari rumah. Kelambu diikat pada empat tiang atau pada pohon yang berada disekitar tepian sungai. Kini kelambu Maman sudah terpasang dengan rapi sekali. Meskipun kelambu tersebut sudah usang karena sudah lama. Akan tetapi kelambu tersebut dapat melindungi mereka dari serangan pesawat penghisap darah.
“Pak, kelambunya sudah terpasang. Aku tidur dulu, Pak. Aku mengantuk sekali, ni”, ucap Maman kepada bapaknya.
“Iya, tidurlah kamu disitu, Man. Bapak merokok dulu. Jika sudah habis rokok bapak, bapak menyusul, Man”, jawab bapaknya.
“Jika ibu sudah mengantuk, silakan tidur, Bu”, ucap Ki Kasem kepada istrinya.
“Iya Pak, ibu tidur dulu, ya. Mata ibu sudah berat sekali ni, esok pagi kita akan melanjutkan perjalan lagi”, jawab istrinya.
“Iya, Bu...”, jawab suaminya singkat.     
Kini Mak Minah dan Maman sudah tertidur dengan pulas sekali. Sedangkan Ki Kasem masih menghisap rokoknya dengan nikmat. Udara malam itu sangat dingin, karena tadi siang hujan turun dengan deras. Mungkin dengan merokok Ki Kasem dapat mengusir rasa dingin yang menusuk tulang tersebut. Setelah rokok Ki Kasem habis, ia pun tertidur menyusul anak dan istrinya. Kini semuanya sudah tertidur dengan pulas sekali. Entah kemana para malaikat mimpi membawa mereka jalan-jalan. Mungkin mereka jalan-jalan ke istana dunia bunian di Paloh. Atau mungkin mereka sedang menjadi tamu di Istana Kerajaan Sambas.
Terdengar sayup suara kokok ayam jago, kini hari mulai pagi. Ki Kasem dan istrinya masih saja belum terjaga dari tidurnya, begitu juga dengan Maman. Burung-burung yang bertengger di atas dahan pohon dungun dan rangngas bernyanyi riang. Seolah-olah mereka sedang menyanyikan si Maman dan kedua orang tuanya. Sedangkan burung-burung yang lainnya pada terbang mencari makan di sebelah utara. Mungkin disebelah utara sana banyak makanan buat anak-anaknya.
Ki Kasem dan istrinya belum juga sadar dari tidurnya, begitu juga dengan Maman. Mungkin karena mereka capek bekerja mencari kayu dan mendayung sampan. Sedangkan matahari sudah mulai tinggi sepenggalah. Banyak sudah orang yang lewat pergi ke hulu atau pulang ke hilir melihat ada kelambu yang tergantung di sungai.
“Aneh, mengapa kelambu bisa tergantung di tengah-tengah sungai”, ucap mereka yang lewat. Peristiwa tersebut beredar dengan cepat pada orang-orang yang mudik (pergi ke hulu), atau yang menghilir (pulang dari hulu). Tidak lama kemudian, Ki Kasem pun terjaga dari tidurnya, dan diikuti oleh anak serta istrinya.
“Ternyata sudah siang, Bu”, ucap Ki Kasem pada istrinya.
“Iya, Pak... Ibu letih sekali, susah rasanya ingin membuka mata ini, Pak. Berat...”, jawab istrinya.
“Ayo, Bu... Kita kemaskan barang-barang kita”, ajak Ki Kasem kepada Mak Minah.
“Pak, air sudah surut, Pak... Kelambu kita di atas, Pak!”, kata Maman kepada Ki Kasem sambil menengok kelambunya.     
“Biarlah, tidak apa. Kelambu kita juga sudah usang. Nanti kita buat lagi yang baru. Setelah kita datang ke rumah, nanti kita ke pasar membeli kain”, kata Ki Kasem kepada Maman.   
“Horreee... ke pasar”, teriak Maman kegirangan.
“Sebelum kita melanjutkan perjalanan pulang, kita sarapan dulu. Agar kita tidak kelaparan dan kecapean nanti. Karena perjalanan kita masih jauh”, ucap Ki Kasem kepada istri dan anaknya.
“Iya, Pak”, jawab Maman.
“Iya, Pak”, imbuh istrinya sambil mempersiapkan buat mereka sarapan.
Air surut teryata sudah membuat sampan mereka beranjak dari kedudukan aslinya. Posisi sampan menjadi turun jauh dari kelambu mereka yang terpasang. Sedangkan posisi kelambu mereka tergantung di pohon Rangngas yang diikat oleh Maman. Lagi pula keadaan kelambu tersebut sudah usang dan sudah cukup lama. Jadi, kelambu tersebut dibiarkan oleh Ki Kasem terpasang di tengah sungai tersebut.
Setelah mereka selesai sarapan, Ki Kasem dan istri serta anaknya si Maman melanjutkan perjalanan pulang. Desa yang mereka tuju masih jauh, diperkirakan masih empat jam perjalanan mendayung sampan. Dengan mengucapkan “bismillahirohmanirrohim” Ki Kasem mulai mengayuh sampannya. Sedangkan kelambu mereka masih terpasang di sungai tersebut. Kini Ki Kasem semakin jauh meninggalkan sungai tempat mereka bermalam. Mereka meninggalkan harta yang paling berharga buat mereka selama ini, yaitu sebuah kelambu pusaka. Mereka tidak menyadari dengan ditinggalkannya kelambu tersebut yang tergantung di tengah sungai akan mendatangkan sejarah yang amat berharga bagi masyarakat setempat.
Orang-orang yang melewati muara sungai tersebut menjadi keheranan, “kelambu siapakah gerangan?”. Mengapa sungai ada kelambunya? Mengapa sungai dikelambui? Berita atau kabar tersebut menjadi heboh. Kabar tersebut oleh orang-orang tersebar dari hulu ke hilir. Banyak orang menceritakan kabar tersebut. Tidak luput pula, banyak orang yang lewat menyebutnya dengan nama “sungai kelambu”. Karena di tengah sungai atau di muara sungai tersebut terdapat sebuah kelambu. Semua itu ulah dari Ki Kasem dan keluarganya yang kemalaman dengan memasang kelambu di muara sungai.
Lama sudah kelambu itu terpasang di muara sungai tersebut. Lama kelamaan kelambu tersebut sobek dan rusak. Sedangkan kabar tersebut sudah menyebar ditelinga masyarakat setempat. Kabar tersebut diceritakan oleh masyarakat dari mulut ke mulut, hinggakan orang-orang menyebut tempat tersebut dengan nama “Sungai Kelambu”. Hingga kini nama “Sungai Kelambu” itu diabadikan menjadi nama sebuah desa yang ada di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Begitulah alkisahnya dari “Asal-usul nama Kampung Sungai Kelambu”. Wallahuaklam Bissawab... salam penulis “Sugianto, S.Pd.I”.     








Tugas Cerpen "HARUSKAH AKU BERPUTUS ASA UNTUK MENDAPATKANMU"
Putus Asa karena Cinta

HARUSKAH AKU BERPUTUS ASA UNTUK MENDAPATKANMU

Dalam guratan hatiku saat ini, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu. Andaikan kau tahu, aku selalu mendo’akanmu. Tapi, kenyataannya lain, kau selalu mendo’akan dia. Andaikan kau tahu, aku selalu meminta kepada Tuhan agar kau selalu sehat dan dalam lindungan-Nya. Tapi, pada kenyataannya lain, kau mendo’akan dia agar selalu dalam lindungan Tuhan. Andaikan kau tahu, aku sangat menyayangimu. Tapi hatimu tidak. Kau menyayangi dia.

Andaikan kau tahu, aku sangat mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Tapi tidak denganmu. Kau sangat mencintai dia lebih dari cinta yang kau miliki. Andaikan kau tahu, aku sangat mengasihimu. Tapi kenyataannya kau mengasihi dia lebih dari hidupmu. Andaikan kau tahu, hidup dan matiku hanya untukmu, dan hanya untukmu. Tapi, itu tidak kau padaku. Hidup dan matimu hanya untuk dia, hanya buat dia. Andaikan kau tahu, jasmani dan rohaniku bahkan darah serta jasadku yang kerempeng berbau tanah ini aku persembahkan hanya untukmu. Aku korbankan segalanya hanya buatmu. Tapi, itu tidak kau sayang. Itu tidak kau padaku. Jasmani dan rohanimu serta tubuhmu yang cantik itu hanyalah buat dia. Hanya untuk dia. Semuanya kau korbankan untuk dia. Kau persembahkan dan kau berikan segalanya hanya untuk dia, untukku tiada tersisa lagi.

Andaikan kau tahu, segala yang kumiliki adalah untukmu. Tapi sebaliknya, segala yang kau miliki kau persembahkan kepadanya. Andaikan kau tahu, nyawaku akan aku persembahkan padamu. Semua itu tiada lain untuk aku mendapatkan cinta dan kasih sayangmu. Tapi sayang, nyawa serta cinta dan kasih-sayangmu buat dia. Andaikan kau tahu, sudah banyak yang telah aku korbankan kepadamu saat ini. Andaikan kau tahu, aku tidak pernah mengeluh sedikitpun tentang apa yang kau mau. Tentang apa yang kau katakan. Tentang apa yang kau lafazkan. Tentang apa yang kau inginkan. Aku tidak pernah menolak apa pun kehendakmu. Aku tidak pernah sedikitpun mengeluh kesah kepadamu.

Aku akan melindungimu dari segala marabahaya. Aku akan selalu membuat kau tersenyum. Aku akan selalu membuat kau tertawa. Aku akan selalu membuat kau riang-gembira. Aku akan selalu... tapi, itu tidak kau. Bahkan kau sebaliknya padaku. Kau membenciku melebihi benci orang kepada seorang penjahat. Kau tidak menginginkan diriku ada disisimu. Kau tidak sudi untuk menolehku lagi. Kau enggan untuk bersua denganku. Kau malu bila aku bersamamu. Kau diam sejuta bahasa bila aku bicara kepadamu.

Kau ingin melindungi dia dari segala marabahaya. Kau ingin membuat ia selalu tersenyum, karena senyumanmu hanya untuk dia. Kau sangat menginginkan dia disisimu, menemani hidup dan matimu. Sedangkan selama ini akulah yang selalu ada untukmu. Dengan sekelip mata kau tinggalkan aku di pinggir jalanan. Kau ingin selalu bicara dengan dia, kau ingin selalu ada untuk dia. Kau inginkan dia selalu bersua denganmu setiap waktu. Dan, akunya kapan...?          

Aku tidak akan mendapatkan kesempatan untuk bersamamu. Aku tidak akan mendapatkan peluang untuk bersamamu. Semua itu bagiku hanya hayalan di siang bolong. Semua itu hanyalah ilusinasi disiang hari. Bagimu aku tiada arti, meskipun berjuta pengorbanan yang telah aku berikan kepadamu. Bagimu aku tiada berfaedah, aku hanya bebanmu. Aku hanyalah benalu dibenakmu.
Cukupkah sampai disini saja usahaku untuk mendapatkanmu? Cukupkah sampai disini saja untuk aku menaklukkan hatimu? Cukupkah disini saja untuk aku memohonkan kau pada Tuhan, agar kau menjadi milikku? Cukupkah sampai disini saja untuk aku memintamu pada Tuhan? Cukupkah sampai disini saja untuk aku menginginkanmu? Cukupkah sampai disini, Tuhan? Haruskah aku berputus asa untuk mendapatkan dia menjadi istriku, Tuhan? Sekali lagi Tuhan, haruskah aku berputus asa...?

Andaikan kau tahu, sebenarnya aku sudah lelah untuk menaklukkanmu. Andaikan kau tahu, aku sudah capek untuk mendapatkanmu. Andaikan kau tahu, aku sudah letih untuk mendapatkan cintamu. Andaikan kau tahu, aku juga sudah capek untuk membuka hatimu. Andaikan kau tahu, aku juga sudah lelah untuk membuat kau mencintai dan menyayangi aku. Mungkin aku memang tidak layak untuk kau cintai. Mungkin aku memang tidak layak untuk kau sayangi. Mungkin cinta dan kasih-sayangmu buatku sudah tiada lagi. Kutahu, semua itu bukan mungkin lagi, akan tetapi semua itu “pasti”.

Tuhan, mengapa dia mencintai orang lain? Sedangkan aku sangat mencintai dan menyayanginya. Sedangkan aku amat merindukannya setiap waktu. Aku ingin dia menjadi milikku, Tuhan. Aku ingin dia menjadi istriku selamanya bahkan ke surga nantinya. Tuhan, mengapa dia bisa mencintai orang lain, sedangkan orang itu belum tentu mencintainya? Sedangkan orang itu belum pasti lagi menyayangi dan mengasihinya. Cintanya yang masih polos akan dipermainkan oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab, Tuhan. Tolonglah lindungi dia untuku, Tuhan....

Tuhan, bantulah aku. Kuatkanlah aku. Bakarlah semangatku. Jangan sampai aku berputus asa untuk mendapatkannya. Bakarlah semangatku, Tuhan, agar dia akan kupinta hingga Kau menjemputku. Akan kupinta dia hingga hatinya luluh buatku. Hatinya yang keras bagaikan batu cadas itu akan aku hancurkan dengan palu cinta dariMu. 

"D" Aku mencintaimu dengan sepenuh raga dan nyawaku.