Februari 2017
Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "PAK BONGOK"
Ilustrasi Pak Bongok

PAK BONGOK

 

 

Konon pada zaman dahulu kala, di sebuah desa Ramayadi yang terletak di pesisir pantai Kecamatan Jawai, tinggallah seorang nelayan yang bernama Pak Bongok. Sebenarnya Pak Bongok adalah keturunan orang kaya. Namun karena kebodohannya maka hampir semua harta peninggalan orang tuanya habis dijual kecuali rumah pusaka, peralatan untuk menjala udang dan sebuah ikat pinggang dari emas sebagai  barang kesayangannya. Ikat pinggang  emas  itu selalu saja dipakai dan dibawa oleh Pak Bongok ke mana saja ia pergi.
Sejak kematian orang tuanya Pak Bongok tinggal sebatang kara. Ia tak punya istri apalagi seorang anak. Tidak jarang pula kebodohan Pak Bongok dimanfaatkan oleh orang-orang desa yang tidak bertanggung jawab. Pak Bongok menyesal sekali karena pada masa mudanya tidak mau sekolah, padahal orang tuanya sudah berulang kali menasehatinya. Tetapi Pak Bongok bersikeras untuk tidak sekolah dan lebih senang menjala ikan dan menjala udang dari pada sekolah.
Sebagai penghibur rasa sedih dan penyesalannya dimasa muda, maka Pak Bongok memulai hidup baru sebagai nelayan penjala udang. Dengan menjala udang segala duka derita yang ada di hati Pak Bongok menjadi hilang.
Sudah menjadi kebiasaan Pak Bongok, bahwa waktu untuk menjala udang adalah pada waktu sore hari menjelang magrib. Pak Bongok baru pulang dari menjala udang setelah malam hari. Begitulah kerjaan Pak Bongok saban malamnya.
Di samping kebiasaan itu, Pak Bongok masih punya kebiasaan lain yang aneh dan punya makna tersendiri baginya. Kebiasan itu adalah menjala sambil bernyanyi . Lagu yang dinyanyikan Pak Bongok bukanlah sembarang lagu. Tapi lagu tersebut adalah lagu yang ditujukan khusus untuk seseorang. Tentu saja seseorang yang disenangi oleh Pak Bongok. Lagunya cukup menarik sekali bila didengarkan waktu Pak Bongok bernyanyi sambil menjala udang.
“Nong ……Neneng …… Nong Dayang ……”. Begitulah antara lain syairnya. Lagu itu dinyanyikan lagu itu  di nyanyikan dengan di iringi bunyi kibaran jala yang jatuh ke air sebagai iramanya.
Dayang sebagaimana dalam lagu tersebut adalah seorang perempuan yang disenangi oleh Pak Bongok. Dayang tahu dan sadar bahwa Pak Bongok tergila-gila kepadanya. Namun sayangnya Dayang sudah punya suami. Akan tetapi Pak Bongok tidak mau tahu akan hal itu. Dan malah Pak Bongok menyangka bahwa Dayang masih gadis yang masih belum punya suami dan belum punya anak.
Di ujung desa itu, terdapat sebuah rumah yang cukup mewah. Berdinding papan dan bertingkat dua. Rumah itu tiada lain adalah rumahnya si Dayang. Setiap kali menjala udang, rumah Dayang selalu dilewati oleh Pak Bongok. Dan rumah Dayang itu sudah menjadi rute rutin dalam menjala ikan udang.
Pada suatu ketika Pak Bongok seperti biasa menjala ikan udang. Dengan ikat pinggangnya yang selalu menempel kuat di pinggangnya. Dengan ikat pinggang emas itu Pak Bongok kelihatan gagah sekali. Sambil mengayunkan jala Pak Bongok bernyanyi merdu sekali. Lagu yang dinyanyikannya adalah lagu si Dayang.
“Nong ……Neneng …… Nong Dayang ……Byuuuuuuuuurrrrr……!”, bunyi jala Pak Bongok yang memecah air sungai. Dari kejauhan Dayang telah mendengar senandung Pak Bongok. Ketika Pak Bongok mendekati rumah si Dayang, Dayang membuka pintu dan bertanya kepada Pak Bongok.
“Sedang apa Pak Bongok ?”, tanya Dayang.
“Menjala udang”, jawab Pak Bongok singkat.
Kemudian Dayang bertanya lagi.
“Apakah ada dapat udangnya?”, tanya Dayang manja.
Pak Bongok tidak menjawab pertanyaan si Dayang. Malah Pak Bongok balik bertanya kepada Dayang.
“Adakah suamimu?”, tanya Pak Bongok pada Dayang.
“Saya sudah punya suami dan punya anak”, jawab Dayang jujur.
Mendengar jawaban seperti itu, dengan sepontan muka Pak Bongok berubah menjadi cemberut. Pertanyaan Dayang selanjutnya dijawab dengan jawaban yang ketus oleh Pak Bongok.
“Tidak ada”, jawab Pak Bongok singkat.
Walaupun sebenarnya Pak Bongok banyak dapat udang di dalam perahunya. Tanpa banyak komentar Pak Bongok pergi ke tempat lain yang dianggapnya sebagai sarang udang. Kalau Pak Bongok sudah menjala disarang udang, pasti banyak ia dapat udang. Baik udang besar atau pun udang yang kecil. Karena jala Pak Bongok ruas-ruas jalanya agak kecil, jadi ikan atau udang kecil pun dapat terperangkap oleh jalanya.
Melihat tingkah laku Pak Bongok seperti itu, maka Dayang sedikit heran dan kebingungan. Dayang berpikir sejenak dan bertanya di dalam hatinya.
“Kenapa, ya Pak Bongok seperti itu. Kenapa dia cepat-cepat mengayuh perahunya. Apa ada yang salah dengan ucapanku”, tanya hati kecil si Dayang.  
Tak lama kemudian, Dayang menemukan satu cara untuk menjebak Pak Bongok. Setelah menutup pintu, kemudian Dayang menemui suaminya yang ada di loteng.
“Bagaimana Bang, jika Pak Bongok kita jebak”, tanya Dayang membuka pembicaraan.
“Pikiran mu bagus sekali, Dayang”, jawab suaminya.
“Sebenarnya Abang sudah lama memikirkan hal itu”, sambung suaminya kemudian.
“Jadi bagaimana, Bang”, tanya Dayang pada suaminya.
“Begini, Dayang. Aku tahu bahwa Pak Bongok suka dengan kamu. Bahkan dia tergila-gila dengan mu, Dayang. Aku juga sering mendengar Pak Bongok bertanya kepada mu, yang menanyakan apakah kau sudah punya suami”, jawab suaminya.
“Jadi, Bang”, tanya Dayang yang masih kurang paham dengan maksud suaminya.
“Begini”, kata suami Dayang sambil merangkul si Dayang agar Dayang agak mendekat kepadanya.
“Begini, Dayang. Jika esok sore Pak Bongok bertanya seperti itu lagi, kau harus menjawab bahwa kau belum punya suami dan tidak punya anak”, tambah suami Dayang.
 “Baiklah, akan saya laksanakan esok”, jawab Dayang sambil mengangguk-angguk tanda mengerti.
Kedua suami istri itu telah sepakat untuk menjebak Pak Bongok, dan rencana mereka pun sudah disiapkan buat besok sore.
Keesokan harinya, seperti biasa Pak Bongok telah siap melakukan aktifitasnya sehari-hari sebagai penangkap ikan dan udang. Peralatan menjala semuanya sudah siap untuk dibawa oleh Pak Bongok menjala. Tidak ketinggalan juga ikat pinggang yang terbuat dari emas itu, yang selalu menghiasi pinggang Pak Bongok.
Seperti biasa Pak Bongok bernyanyi ketika mengayunkan jala ke air.
“Nong ……Neneng …… Nong Dayang ……Byuuuuuuuuurrrrr……!”, disusul bunyi jala Pak Bongok yang jatuh ke air.
Mendengar senandung itu, maka Dayang cepat-cepat menyuruh suaminya bersembunyi di loteng agar tidak diketahui oleh Pak Bongok. Dayang membuka pintu rumahnya dan bertanya kepada Pak Bongok yang sedang menjala tepat di depan rumahnya.
“Sedang apa, Pak Bongok?”, tanya Dayang sekedar basa-basi.
“Menjala udang”, jawab Pak Bongok singkat.
“Adakah hasilnya”, tanya Dayang kemudian.
Seperti biasa, Pak Bongok belum juga menjawab pertanyaan si Dayang. Malah Pak Bongok yang kembali bertanya kepada Dayang.
“Adakah suamimu”, tanya Pak Bongok kepada Dayang dengan sopannya.
Karena Dayang telah sepakat dengan suaminya untuk mengerjakan Pak Bongok, maka Dayang menjawab pertanyaan dengan cepatnya.
“Saya tidak punya suami apalagi anak, Pak Bongok”, jawab Dayang.
Mendengar jawaban Dayang seperti itu, maka Pak Bongok dengan cepat menjawab pertanyaan Dayang yang sejak dari tadi belum dijawabnya.
Ada Dayang, cukup lumayan”, jawabnya.
“Oh…ya, Dayang…maukah kau makan udang”, tambah Pak Bongok menawarkan udang kepada Dayang.
“Asal Pak Bongok mau memberi saya. Saya tidak keberatan sekali menerimanya”, jawab Dayang.
“Kalau begitu bawalah tempat kemari”, lanjut Pak Bongok menawarkan jasa kepada si Dayang.
Mendengar kata-kata Pak Bongok seperti itu, maka Dayang segera mengambil bakul kecil dan menemui Pak Bongok. Kemudian bakul itu diisi oleh Pak Bongok dengan udang dan ikan sampai penuh.
“Terima kasih Pak Bongok”, kata Dayang kepada Pak Bongok. Pak Bongok hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.
Karena jasa baik dari Pak Bongok, Dayang mempersilakan Pak Bongok untuk mampir sebentar di rumahnya. Mendengar ajakan dari Dayang, dan tanpa pikir panjang Pak Bongok menerima ajakan tersebut.
Perahu pun ditambat disebuah jamban yang terbuat dari kayu belian (kayu besi). Pak Bongok kelihatannya senang sekali. Ia tidak tahu bahwa semua itu hanya untuk memperdaya dirinya semata. Sebelum mampir terlebih dahulu Pak Bongok mengisi sebuah ember dari seng dengan kueh-mueh yang sengaja di bawa dari rumah sebagai oleh-oleh untuk Dayang yang disayanginya.
Setelah tiba di rumah si Dayang, Dayang mempersilakan Pak Bongok agar masuk ke dalam. Alangkah gembiranya hati Pak Bongok. Kemudian Pak Bongok dipersilakan duduk oleh si Dayang. Dayang kemudian pergi ke dapur sebentar untuk membuatkan Pak Bongok air kopi. Tak lama kemudian, keluarlah Dayang dengan membawa secangkir kopi ditangannya yang putih lagi halus itu. Melihat air kopi tersebut, Pak Bongok bertanya kepada Dayang.
“Ini gelas siapa, Dayang”, tanya Pak Bongok dengan manjanya.
“Gelas milik kita, Pak Bongok!”, jawab si Dayang dengan manjanya pula.
Mendengar jawaban Dayang, Pak Bongok tertawa.
“He …. he …. he ……….”.
Dayang mempersilakan Pak Bongok untuk berbaring-baring di ranjangnya. Sementara itu Dayang ke dapur untuk memasak nasi dan menyiangi udang serta ikan yang diberi oleh Pak Bongok. Sambil baring-baring di ranjang, Pak Bongok menunggu Dayang memasak. Beberapa jam kemudian, semuanya telah selesai. Semuanya sudah matang dan siap untuk di makan oleh Pak Bongok dan si Dayang. Dayang kemudian menghidangkan masakannya kepada Pak Bongok.
“Pak Bongok makanan telah siap, sekarang mari kita makan bersama”, ajak Dayang.
“Mari, Dayang”, jawab Pak Bongok tanpa basa-basi lagi.
Dengan senang hati Pak Bongok makan bersama si Dayang. Sambil makan semua barang-barang yang ada di rumah Dayang ditanyakan oleh Pak Bongok. Pak Bongok bertanya kepada Dayang.
“Ini mangkok siapa, Dayang”, tanya Pak Bongok kepada Dayang sambil menunjuk kearah mangkok yang ada di depannya.
“Mangkok ini kita yang punya, Pak Bongok”, jawab Dayang dengan manja sekali.
Mendengar jawaban seperti itu, Pak Bongok tertawa kembali.
“He ….. he ….. he ….. ha ….. ha ……….”, tawa Pak Bongok kegirangan.
Tidak hanya mangkok yang ditanyakan oleh Pak Bongok. Pinggan, piring, gelas, juga tidak luput dari pertanyaan Pak Bongok. Bahkan Pak Bongok pun bertanya tentang sendok, panci, kuali, pisau, dan bahkan ranjang pun ditanyakan oleh Pak Bongok kepada Dayang.
Apapun yang ditanyakan oleh Pak Bongok kepada Dayang, semuanya dijawab oleh Dayang dengan jawaban yang sama. Bahwa semua itu adalah barang milik mereka berdua. Mendengar jawaban-jawaban si Dayang, Pak Bongok tertawa terbahak-bahak.
“Ha …… ha ….. ha ….. ha ….”, tawa Pak Bongok senang sekali.
Pak Bongok makan dengan lahapnya. Setelah selesai makan Pak Bongok kekenyangan. Pak Bongok kecapean dan kengantukan. Pak Bongok menguap. Rasa kantuknya semakin berat. Dayang mempersilakan Pak Bongok untuk tidur di ranjangnya. Siasat dari si Dayang sama sekali tidak diketahui oleh Pak Bongok. Pak Bongok juga tidak terpikir dengan hal-hal seperti itu. Karena Pak Bongok sudah capek dan sangat mengantuk serta Pak Bongok sangat menikmati sekali atas layanan dari Dayang yang di sayanginya itu. Sebelum tidur Pak Bongok bertanya kepada Dayang.
“Dayang, ranjang dan kasur ini miliki siapa!”, tanya Pak Bongok kepada Dayang. Padahal pertanyaan seperti itu sudah ditanyakannnya kepada si Dayang pada saat mereka lagi makan. 
“Semua ini milik kita berdua, Pak Bongok”, jawab Dayang sambil tersenyum tipis kepada Pak Bongok.
Bukan main senangnya hati Pak Bongok. Jawaban dari si Dayang disambut gelak tawa Pak Bongok yang menggelegar.
“Ha …………. ha ………. ha ………… ha ………..”, tawa Pak Bongok memecah keheningan di rumah Dayang.
Mungkin inilah saat-saat yang paling mengembirakan bagi Pak Bongok, sehingga dia tidak mengira ada udang dibalik batu. Tidak lama kemudian Pak Bongok tertidur pulas. Pada saat Pak Bongok sedang tidur, Dayang menenui suaminya di loteng, dan mereka ingin  membuat rencana baru agar Pak Bongok jera. Setelah rencana mereka rampung, si Dayang turun kembali mendekati Pak Bongok yang lagi tertidur pulas. Waktu itu, mungkin Pak Bongok lagi bermimpi sedang bermesraan dengan si Dayang di taman-taman bunga. Sampai-sampai Pak Bongok lupa dengan tugasnya menjala udang pada malam itu. Tidak lama kemudian, terdengar suara yang amat nyaring dari atas loteng rumah si Dayang.
“Hemmmmmmmm ………. hemmmmmmm …….. hemmmmmm ……”.
Pak Bongok tersentak dari tidurnya. Pak Bongok mendekati Dayang, lalu Pak Bongok bertanya kepadanya.
“Suara apa itu, Dayang!?. Kok dekat sekali suaranya …!”, tanya Pak Bongok cemas.
“Itu adalah suara orang-orang desa yang sedang mengintip kita”, jawab Dayang berbohong.
“Lalu ..... kemana aku akan lari, Dayang ...?”, tanya Pak Bongok agak gugup.
“Jangan takut, Pak Bongok. Sekarang Pak Bongok masuk dalam goni ini agar tidak diketahui oleh orang-orang desa”, jawab Dayang.
“Yang benar, Dayang”, tanya Pak Bongok.
“Iya, Pak Bongok. Cepat nanti ketahuan oleh orang-orang desa”, ucap si Dayang menakuti Pak Bongok.
Tanpa pikir panjang, Pak Bongok menuruti apa yang diperintahkan oleh si Dayang. Setelah Pak Bongok masuk ke dalam goni itu. Goni tersebut lalu di bawa oleh si Dayang ke belakang rumah. Goni itu dibawa oleh si Dayang dengan susah payahnya. Kemudian goni itu digantungnya di belakang rumah pada salah satu tiang sente rumah. Suami Dayang turun dari loteng dan menemui Dayang di belakang rumah.
“Apa yang kau gantung, Dayang?”, tanya suaminya pura-pura tidak tahu.
“Ini adalah gong kepunyaan raja”, jawab Dayang sambil tersenyum tipis.
“Bolehkah saya memukulnya, Dayang?”, tanya suaminya lagi.
“Jangan, Bang. Nanti rajanya marah ...!”, jawab Dayang menegaskan.
Akan tetapi suami Dayang bersikeras untuk untuk memukulnya.
“Tidak apa-apa, Dayang...!. Saya yang tanggung jika raja marah kepada mu...”, kata suaminya.
“Jangan, Bang...”, jawab Dayang pura-pura.
Suaminya terus mendesak Dayang, sehingga mau tidak mau Dayang mempersilakannya juga. Karena sudah mendapat izin dari istrinya si Dayang, maka suami Dayang mengambil sepotong kayu api, dan dipukulnya benda tersebut dengan keras sekali.
“Tok .....tok......tok.......”, bunyi goni yang diketok oleh suami Dayang. 
“Aduh ..... aduh ..... aduh .....”, terdengar bunyi dari dalam karung goni itu.
Suara itu tiada lain adalah suara dari Pak Bongok. Suara orang yang lagi kesakitan menahan pukulan suami Dayang. Sedangkan suami Dayang tidak menghiraukan suara Pak Bongok. Dia terus memukul karung goni tersebut, dan bahkan lebih keras lagi serta bertubi-tubi.
“Tok .....tok......tok.......”, bunyi goni yang diketok oleh suami Dayang. 
“Aduh ..... aduh ..... aduh .....”, terdengar kembali bunyi dari dalam karung goni itu.
Suara orang yang lagi kesakitan terdengar kembali dari dalam goni tersebut. Pak Bongok menahan rasa sakit dari pukulan suami Dayang yang kuat. Sedangkan suami Dayang tidak menghiraukan suara Pak Bongok, dan bahkan dia terus memukul karung goni tersebut, dan bahkan lebih keras lagi serta berulang-ulang kali.
“Tok .....tok......tok.......”, bunyi goni kembali lagi diketok oleh suami Dayang. 
Seraya dengan pukulan itu, Pak Bongok yang ada di dalam goni itu berteriak nyaring. Karena Pak Bongok sudah tidak tahan lagi menahan pukulan suami Dayang yang bertubi-tubi itu.
“Aduuuuuuuhhhh ..... aduhhhhhhhh ..........aduuuuuuhhhhhhh”, terdengar teriakan yang amat nyaring dari dalam karung goni itu.
“Aduuuuuuuhhhh ..... sakiiiiiiiiittttt ..........”, tambahnya.
Goni tersebut berputar-putar dan akhirnya goni itu pun jatuh. Akhirnya, Pak Bongok keluar dari dalam goni tersebut. Dilihatnya lelaki setengah baya di dekatnya sambil memegang kayu bakar yang siap untuk memukul Pak Bongok. Pak Bongok jadi ketakutan. Pak Bongok berlari ke serambi rumah Dayang sambil mengambil jala dan embernya. Tanpa pikir panjang Pak Bongok melompat keluar dan berlari sambil berteriak.
“Keparat si Dayang sudah bersuami ngaku belum!”, celoteh Pak Bongok.
“Kedumprang ........... kedumprang ........”, bunyi ember dipukul oleh Pak Bongok melepaskan rasa geramnya.
Ucapan seperti itu diteriakkan berkali-kali oleh Pak Bongok. Sampai di rumah, Pak Bongok langsung tidur untuk menghilangkan rasa kekecewaannya. Pak Bongok tidak menyadari bahwa ikat pinggangnya tertinggal di rumah Dayang. Dayang dan suaminya merasa cukup puas, karena rencananya berjalan dengan mulus. Setelah semuanya dianggap tuntas, maka Dayang dan suaminya ingin tidur. Setibanya di ranjang, suami Dayang melihat suatu benda yang mengkilat.
“Wah .....kita sangat beruntung malam ini, Dayang”, kata suaminya kepada Dayang.
“Iya, Bang....!. Ikat pinggang Pak Bongok dapat kita miliki, Bang ...!” jawab si Dayang kegirangan.
Melihat ikat pinggang Pak Bongok yang terbuat dari emas, suami si Dayang sangat senang. Ia berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil memeluk istrinya. Karena senangnya suami Dayang berencana hendak ke pasar untuk menjual ikat pinggang Pak Bongok itu.
Sepasang suami istri itu tidur pulas dan kegembiraan. Sementara di sana Pak Bongok, tidur dalam kesedihan dan sejuta kekecewaan.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dayang dan suaminya telah mempersiapkan diri untuk ke pasar. Setelah semuanya siap, maka mereka pun berangkat ke pasar untuk menjual ikat pinggang Pak Bongok. Pikir suami Dayang mereka akan kaya raya. Mereka akan menjadi orang kaya baru di kampung itu.
Matahari telah sepenggalah naik dan memancarkan sinarnya yang amat terang. Sedangkan Pak Bongok baru bangun dari tidurnya. Dilihatnya ikat pinggangnya, akan tetapi hasilnya tidak ada. Pak Bongok terus mencari-cari ikat pinggangnya dimerata tempat. Ke sana ke mari Pak Bongok mencari ikat pingggangnya, ke depan dan ke belakang rumah, di gantungan pakaian, di lemari, semuanya sudah dicari oleh Pak Bongok. Namun ikat pinggangnya belum juga ditemukan, dan hasilnya tetap nihil.
Kemudian, Pak Bongok duduk sebentar dikursi tengah, ia menenangkan pikiran. Wajahnya tengadah ke langit-langit rumah. Tidak lama kemudian, baru Pak Bongok ingat akan peristiwa semalam, bahwa ikat pinggangnya telah tertingal di rumah Dayang. Pak Bongok mencaci maki si Dayang dan suaminya karena telah memperdayakannya.  
Untuk menghilangkan rasa kecewanya, Pak Bongok memutuskan untuk pergi ke pasar. Kemudian Pak Bongok berangkat ke pasar dengan berjalan kaki. Setibanya di pasar, Pak Bongok terasa haus dan ia ingin sekali minum air kopi di kedai kopi milik Pak Umar. Belum sempat Pak Bongok meminum air kopinya, tiba-tiba Pak Bongok melihat sepasang suami istri yang mirip dengan Dayang dan suaminya. Karena dipinggang suaminya terdapat ikat pinggang dari emas miliknya. Maka Pak Bongok langsung melaporkan hal itu kepada pihak yang berwajib.

Akhirnya, si Dayang dan suaminya ditangkap oleh orang yang berwajib untuk diadili karena mereka berdua telah melanggar hukum, yaitu menipu orang lain dan menyandaranya. Setelah si Dayang dan suaminya ditangkap, Pak Bongok merasa puas sekali. Sambil minum kopi di kedai kopi milik Pak Umar kenalannya, Pak Bongok berpikir sejenak. Pak Bongok berpikir bahwa kejahatan tidak akan berumur lama. Di samping itu pula, Pak Bongok juga sadar bahwa begitu penting dan berartinya pendidikan. Setelah menghabiskan dan membayar secangkir air kopinya, Pak Bongok pulang ke rumahnya dengan senang hati. Ia bernyanyi sambil bersiul-siul kecil karena ikat pinggangnya sudah kembali terpasang dipinggangnya dengan erat. Pak Bongok kelihatan gagah sekali pabila memakai ikat pinggang emas tersebut.

KEPUSTAKAAN 

Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak. 

     
Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "MAK MIDDING"
Midding/Pakkok Dayak
Tersebutlah sebuah kisah di sebuah desa terpencil di Kabupaten Sambas, tinggallah seorang perempuan tua bersama seorang anaknya yang bernama Mahoni yang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, atau sama juga dengan anak dara tua. Nama ibunda Mahoni adalah Timmah. Orang-orang kampung di tempat tinggal mereka menyebutnya dengan sebutan Nek Timmah. Tidak jauh dari kediaman Mahoni ini tinggal seorang anak bersama ibunya yang bernama Mak Midding, sedangkan anaknya itu bernama Mohyani. Sebenarnya hubungan antara Mahoni dengan Mak Midding itu bukanlah orang lain, mereka masih bersaudara. Perbedaannya hanya terletak dalam hal kekayaan. Mahoni yang tinggal bersama ibunya itu hidup di dalam suasana yang serba berkecukupan. Rumahnya bagus, ternak peliharaannya pun banyak. Demikian juga dengan kebunnya yang selalu menghasilkan buah-buahan yang melimpah. Untuk hidup yang hanya dua beranak, kekayaan Mahoni itu dapat dikatakan lebih dari cukup.

Sebaliknya Mak Midding bersama anaknya Mohyani hidup di dalam suasana kehidupan yang serba kekurangan. Apa yang diperolehnya hari ini, tidak cukup untuk makan berdua. Syukur-syukur jika hasilnya hari ini bisa cukup untuk makan pada hari itu juga. Terkadang apa yang diperolehnya itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk menyisihkan sedikit penghasilan demi hari esok.
Perbedaan lain antara kedua keluarga ini adalah bahwa bibinya ini terkenal dengan sifat pelit dan kikir. Lain halnya dengan ibunya, Mak Midding lebih terkenal dengan kemurahan hati dan keramah-tamahannya. Bagi Mahoni, apa-apa yang telah diperolehnya jarang sekali atau boleh dikatakan tidak pernah dibaginya dengan tetangganya. Sedangkan Mak Midding walaupun penghasilannya pas-pasan, masih sanggup juga untuk menyisihkan hasil jerih payahnya untuk tetangga.
Setiap hari Mak Midding, kerjanya hanyalah pergi ke hutan belukar mencari dan mengumpulkan sejenis pakis yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama midding. Pakis ini ia kumpulkan untuk dijual ke rumah-rumah tetangga di sekitar tempat tinggalnya dan hasil penjualan pakis itu mereka pergunakan untuk memenuhi keperluan hidupnya sehari-hari. Oleh sebab itulah, sehingga masyarakat di kampungnya menyebut namanya dengan sebutan “Mak Midding”.
Pada suatu hari, Mak Midding memanggil anaknya lalu berkata kepada Mohyani.
“Oi ….. Ni ….. Nii, Umma’ nak paggi dolo’, kau jage rummah i …..”, kata sang ibu dengan penuh percaya diri.
“Aok be Mak, ati-ati jak, Ummak e care’ midding e … biar aku yang jage rummah”, sahut Mohyani. Nama Mohyani lebih dikenal orang dengan sebutan Yani.
Ibunya pun pergilah ke dalam hutan dengan membawa perlengkapan seperti yang sering dipergunakannya untuk mencari pakis. Capel di kepala, tangkin di gendong di belakang dan tidak lupa pula membawa bekal kapur sirih dan tembakau untuk ia menyugi. Berjalanlah Mak Midding perlahan-lahan di antara pepohonan sambil sesekali memetik tangkai midding (pakis) yang masih segar. Sudah merasa cukup dengan hasil midding yang diperolehnya dan kelihatannya matahari pun sudah mulai tinggi pertanda hari sudah siang. Lalu Mak Midding pun pulang menuju rumahnya. Midding tidak langsung dibawanya pulang ke rumah, tetapi dijualnya dulu ke rumah tetangga dengan harapan dapat ditukar dengan beras dan garam. Demikianlah pekerjaan Mak Midding dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun. Waktu terus berlalu, hingga kini Yani sudah mulai menginjak usia sekolah. Kalau nasib kurang mujur, kadang-kadang Mak Midding pulang tanpa membawa beras dan garam.
Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, pada suatu pagi Mak Midding jatuh sakit. Mak Midding memanggil Mohyani.
“Nii ….. Ni”, panggil Mak Midding kepada Mohyani.
“Iya, Mak. Ada apa, Mak …?”, tanya Mohyani kepada ibunya Mak Midding.
“Aduuuuh ….. aduuuhhh ….., aku sakit, Ni, ndak rabbah aku na’ midding ari to’ ke uttan, Ni”, kata Mak Midding kepada Mohyani sambil merintih kesakitan.
“Mane barras kite udah abis, Ni. Bagaimane carenye kitte nak makan to’, Ni?”, tambah Mak Midding kepada Mohyani.
“Ooh Mak, bagus aku paggi ke rumah Mak Ussu. Aku na’ minjam barras barang dua’ canting”, kata Mohyani kepada ibunya Mak Midding.
“Aok beh Nong, mun dipinjamme’-‘eng, cobe we kau paggi dolok ke rummah Mak Ussumu e”, kata Mak Midding kepada Mohyani.
“Aoklah Mak, aku paggi dolok Mak i?”, kata Mohyani kepada ibunya.
“Aok, ati-ati dijalan e”, kata Mak Midding berpesan kepada anaknya.
Jadi berangkatlah Mohyani menuju rumah bibinya Mahoni, dengan harapan akan mendapatkan pinjaman beras barang (sekitar) secanting atau dua canting (sekaleng atau dua kaleng). Langkah demi langkah yang kadang-kadang diselengi dengan berlari-lari kecil tibalah Yani atau Mohyani di rumah bibinya.
“Oi Mak Su, Mak Su”, panggil Mohyani dari luar rumah Mak Su nya (bibinya).
“Kau ke Ni … ade ape …? Naiklah Ni …..”, sahut bibinya dari dalam rumah.
“Duddok, Ni”, kata bibinya kepada Mohyani.
“Iye, Mak Su … Mak Kaseh”, jawab Mohyani.
“Kak, ye …ade ape, Ni?”, tanya bibinya kepada Mohyani.
“Ummak be sakit, sedangkan kamek uddah kehabissan barras. Rasenye be, nak minjam barras, rang si canting atau dua’ canting”, sambung Mohyani.
“Eh … ndak jarreh be nak minjam ye. Kallak kau ku barrek barras rang sicanting, asalkan maok nguttu aku”, kata Mohani.
“Bagaimane Ni, maok ke?” tanya bibinya.
 “Aok we Mak Su. Ape salahnye we”, jawab Mohyani kepada bibinya.
Mohyani pun dudukah di belakang bibinya sambil mencari kutu di kepalanya. Lama juga menghilangkan kutu yang ada di kepala bibinya itu. Setelah beberapa jam berlalu, selesailah sudah tugas yang dilakukan oleh Mohyani, yaitu menggutu bibinya.
“Dah sek age’ macam nye tok e, Mak Su guttunye. Tang ndak ade age’ yang ku liat tok e” kata Mohyani kepada bibinya.
“Ye ke … Mun dah dissek agek e, uddahlah. Kau balik udek”, jawab bibinya.
Kemudian, pulanglah si Mohyani ke rumahnya dengan membawa secanting beras. Setibanya di rumah, Yani pun segera memberi tahu kejadian itu kepada ibunya.
“Oh Mak, Mak. Ade mak e barrasnye, tappi cume secanting na-‘ang, Mak”, kata Mohyani kepada ibunya Mak Midding.
“Tak apelah, syukor bannar Mak Ussumu maok minjammek, biar sicanting” jawab ibunya.
“Cobe kau masak barras iye”, tambah Mak Midding kepada anaknya Mohyani.
“Aok Mak. Aku ke dapor lok i”, kata Mohyani kepada ibunya.
“Aok”, jawab ibunya singkat.
Beraspun segera dimasak oleh Yani, karena ia tahu pasti ibunya sudah lapar. Tanpa dikira dan dibayangkan, dan tanpa permisi kepada Mohyani atau Mak Midding, bibinya Mahoni masuk ke rumah Mak Midding dengan tergopoh-gopoh serta dengan suara yang agak nyaring.
“Oi Ni, Ni, kau be mbulaek aku. Jimmu be guttu di kepalak ku uddah abis, nyatenye be maseh ade tok e … waktu ku sisser, ade nang belabbik. Kaccik-kaccik kau dah pandai nak bullak i”, kata sang bibi kepada Mohyani.
“Mun gayye, aku ndak jadi nak marrek kau barras”, lanjut si Mahoni marah.    
Rupanya dengan adanya kutu yang jatuh dari rambutnya Mahoni menjadi sangat marah sehingga keluarlah kata-kata dari mulut Mahoni yang tidak sedap didengar telinga. Lebih-lebih beras yang telah diberikannya kepada Yani akan diambilnya kembali. Dengan muka yang agak pucat berbaur dengan perasaan yang sedih, Mohyani berkata kepada bibinya.
“Oh Mak Su, Mak Su, barras nang Mak Su barrekkan uddah kumasak, sadangkan kencengnyepun maseh tijarang di atas tungkok nun we”, kata Yani menjelaskan kepada bibinya.
Dengan tanpa merasa kasihan, bibinya terus menuju dapur mengangkat belanga’ yang masih tijarang seraya mengeluarkan isinya. Isinya (nasi) diletakkan di atas daun pisang, yang kebetulan pula ada daun pisang di atas kayu api. Nasi itu lalu dibungkus oleh Mahoni, dan tanpa bicara lagi langsung ia bergegas pulang ke rumahnya. 
“Saggal lalu Mak Ussu, cume gare-gare sekkok guttu sampai ati die ngambek nasek nang udah dijarangkan. Mudah-mudahan die dapat hukuman, dapat balla yang setimpal dangngan perbuatanye”, guman Mohyani. 
“Uddahlah Nong, Nong…mungkin uddah nasseb kitte. Nang panting kitte ndak boleh bebuat jahhat dangngan urrang”, kata ibunya menentramkan hati anaknya, Mohyani.
Sisa-sisa nasi yang masih melekat di dalam belanga itu dikumpulkan oleh Mohyani, tetapi apa hendak dikata lagi, nasi yang melekat di dalam belanga itu satu dua sendok saja. Itupun dalam bentuk kerak nasi yang agak hangus. Nasi hangus itulah yang mereka makan.  
Selang beberapa hari kemudian, melihat keadaan yang semakin memprihatinkan berkatalah Yani kepada ibunya yang terbujur di pembaringan karena sakit.
“Mak, Mak, bagaimane mun aku ajak yang incarek midding ke uttan. Ummak kan maseh sakit. Nak minjam dangngan mak Ussu, gayyelah rupenye die, Mun ndak ade nak dimakan, badan Ummak kallak mangkin lammah. Yani takut Ummak kallak kenape-nape”, kata Mohyani kepada Mak Midding dengan sedikit nada memohon.
“Mun kau dah maok, paggilah Nak, tappi ati-ati di jalan, ati-ati di uttan. Di uttan banyak ullar, lippan, kale, intiggik, dan macam-macam agek”, kata Mak Midding perlahan-lahan berbicara kepada anaknya Mohyani.
Mohyanipun pergilah ke hutan sambil menggendong bakul dan membawa sebilah parang. Waktu itu hari sudah agak sore. Tidak seperti biasanya, kali ini Mohyani mencari midding di sore hari selepas sembahyang Asyar. Dipetiknya midding satu persatu, sehingga terkumpullah untuk makan sore itu. Asik sekali Mohyani memetik midding di sore itu. Ketika ia lagi asik-asiknya memetik midding. Tiba-tiba Mohyani dikejutkan oleh seekor ular besar, ular phiton (ular sawak). Namun, dilihatnya ular phiton itu terjepit disebuah pohon. Oleh karena ular itu sudah terjepit dengan keadaannya yang demikian, Mohyani tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berkata kepada ular tersebut dengan suara yang lemah lembut.
“Oi ….. Sawak, mun kau nak makan aku, makanlah ….. Aku jak urrang miskin, ummak ku sakit. Aku incarek midding jak kan ummakku, kan kamek makan”, kata Mohyani kepada si ular sawah.
Di luar dugaannya, dikiranya ular itu setiap saat dapat saja membelit dan menelannya. Akan tetapi sebaliknya, ular itu membalas kata-kata Mohyani dengan lembut pula.
“Ndaan, aku jak ndaan nak makan kau, malah aku nak mbantok kau”, ujar ular sawah tersebut.
“Tappi maok ke kau nullong aku. Mun kau maok, bawaklah aku ke rumahmu”, lanjutnya.
“Bagaimane carenye”, tanya Mohyani kepada si ular phiton atau ular sawah tersebut.
“Gampang ye be, tarik ajak we ekokku. Aku jak daan barrat. Cobelah …..!”, kata si ular kepada Mohyani.
Mohyanipun pelan-pelan dengan perasaan agak takut mulai menarik ekor ular tersebut hingga datang ke rumahnya tanpa merasa lelah sedikitpun. Setelah tiba di rumahnya, ular sawah tersebut disuruh oleh Mohyani melingkar di bawah rumahnya. Kemudian Mohyani menyiangi midding yang didapatnya untuk makan malam bersama ibunya tercinta. Setelah selesai memasak midding, merekapun memakan sayur midding dengan lahapnya. Maklum hanya midding saja yang tersedia pada saat itu. Untunglah tidak seorangpun yang tahu bahwa Mohyani membawa ular besar itu ke rumahnya, sehingga keadaan tetap tenang dan aman. Namun setelah makan dan hampir tiba waktu sholat Isya, Mohyani berkata kepada ibunya.
“Mak ….. tade’ we waktu aku incare’ midding, aku be meliat ullar bassar innyan, Mak. Ullar sawak, Mak”, kata Mohyani kepada Mak Midding.
“Mane diye?”, tanya ibunya kepada Mohyani. 
“Ndak ke die ngi’git kau”, tanya ibunya lebih lanjut kepada Mohyani.
“Ndak be Mak, katenye die jak nak nullong kitte. Die nak tinggal same-same dangngan kitte, katenye Mak”, kata Mohyani menjelaskan kepada ibunya.  
Setelah Mohyani dan Mak Midding makan malam, terdengarlah suara yang begitu pelan namun sangat jelas terdengar dari bawah rumah Mak Midding. Suara itu memanggil-manggil Mohyani. Suara itu tiada lain adalah suara si ular phiton atau ular sawah yang berada di bawah rumah Mohyani.
“Ooooooi Ni, Ni, dah lama aku terbaring di bawah rumahmu. Tapi, sampai kin itto’, aku ballom mendengar kau masak nase’. Nang kau makan dangngan ummakmu cume sayok midding nak ‘ang. Ape ke kitta’ se’ be barras?”, tanya si ular sawah yang berada di bawah rumah Mak Midding.
“Jak dah innyan sawak e. Dah lamak kamek ndak merase barras, sibuttekpun ndak ade nak dimasak”, ujar Mohyani kepada si ular sawah atau ular phiton.
“Berape ari yang lalu be, aku paggi ke rumah Mak Ussuku, aku nak minjam barras. Tappi, kate Mak Ussuku, die maok marrek sicanting, tapi dangngan syarat, aku harus nguttu die dolok. Dah lakkaklah aku nguttu Mak Ussuku, barroklah aku dibarreknye barras sicanting. Tappi be, taggal maseh ade sekkok guttu yang belabbik dari kepalaknye, barras nang sicanting iye diambeknye agek”, lanjut Mohyani kepada si ular sawah.
“Kajjam lalu Mak Ussumu i. saggal lalu diye dangngan kittak” kate si ular sawah kepada Mohyani.
“Sek lalu ke barras kittak? Cobelah liattek, kallu-kallu ade di timpayan marrassan dua tigge igek”, lanjut si ular sawah kepada Mohyani.
Memang sebelumnya di dalam tempayan itu sudah ada sebiji keminting, sebuah batu kecil, dan sebatang paku. Ketiga benda tersebut ditemukan oleh Mak Midding sewaktu dia mencari midding disekitar rumahnya. Karena dianggapnya aneh, lalu disimpannya ketiga benda tersebut di dalam tempayan tempat menyimpan beras. Orang Sambas biasanya menyebut barang tersebut dengan sebutan “pekarras“ buat beras agar tidak didatangi oleh hantu sarrau (boros).
Kemudian Mohyani melihat tempayan tempat mereka menyimpan beras.
“ ‘A … ade tige buttek, Wak”, kata Mohyani kepada sang ular sawah.
“Maok di apekan to’ e, dimasak ke?”, tanya Mohyani pula.
“Eh mane cukup we”, jawab si ular.
“Buatkan aku kassai lager”, pinta si ular sawah kepada Mohyani.
“Untokkan ape, Wak?”, tanya mohyani keheranan.
“Ehh, ndak usah ditanyakkan ‘age’. Cumme passanku, mun kittak bangun tangngah malam, ussah nak tikajjut ajak i”, kata sang ular sawah kepada Mohyani.
Mohyanipun mengambil ketiga beras tersebut dan menumbuknya di dalam lesung batu. Kemudian diberinya air sedikit sehingga menjadi agak kental. Kemudian Mohyani mengikis-ngikis kulit pohon lager. Setelah kikisannya dirasa Mohyani cukup, maka disatukannya dengan tepung beras tersebut. Dan diletakkannya kassai lager (tepung beras dicampur kikisan kulit kayu lager) tersebut di atas sehelai daun dan diserahkannya kepada sang ular.
Ketiga butir beras yang ditemukan Mohyani dicelah buah keminting itulah, oleh ular diminta agar Mohyani membuatnya menjadi tepung. Dan tepung itu diberi sedikit air sehingga menjadi cairan kental, ditambah sedikit kikisan kulit kayu lager, yang disebut dengan kassai langger. Oleh sang ular, kassai langger itu nantinya akan dipoleskan di sekeliling keningnya seperti layaknya seorang pengantin wanita agar tampak cantik dan berseri.
Setelah semuanya beres, Mohyanipun masuk ke kamarnya mendampingi ibunya yang sudah sejak dari tadi berbaring melepaskan lelah. Keadaan semuanya hening, dan tidak lama kemudian merekapun tertidur. Sang ular sawah mulailah dengan rencananya. Kassai langger yang sudah ada di dekatnya, diambil dan dipoleskan disekeliling keningnya sambil membaca mantera dan berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga dirinya dikembalikan kepada wujud aslinya. Dengan kekuasaan Tuhan yang telah mengabulkan do’a sang ular. Perlahan-lahan wujud ular itu berubah menjadi manusia. Berkat do’a sang ular, rumah Mak Middingpun berubah menjadi sebuah bangunan yang indah seperti istana raja. Memang sang ular sebelumnya adalah seorang putera raja. Tetapi karena suatu kesalahan yang diperbuatnya, ia disumpah berubah menjadi wujud seekor ular sawah yang besar. 
Begitu kokok ayam pertama terdengar, sang putera raja kembali menjadi ular. Kemudian Mak Midding dan Mohyanipun terbangun dari tidurnya yang lelap. Alangkah kagetnya mereka berdua, karena rumahnya yang tadinya reot sekarang telah berubah menjadi seperti istana. Tidak hanya itu, semua pakaian yang melekat di badan mereka semuanya telah berubah menjadi baru dan indah. Mereka juga mempunyai perhiasan-perhiasan yang indah gemerlapan melingkari pergelangan tangannya dan jari mereka. Mak Midding dan Mohyani menjadi bingung dan keheranan. Mereka saling pandang, dan Mohyani berkata kepada ibunya, Mak Midding.
“Ittok di barangkali Mak, nang dikatekan Sawak e, kittak ussah nak tikajjut, kate si ular kepade kitte simalam e”, kata Mohyani kepada ibunya.
“Aok di Nong kallinye, kitte jak miskin. Ittok juak barangkali Tuhan Yang Maha Kuase nak nullong kitte, tapi lewat si Sawak”, sahut Mak Midding pula.
Teringat akan sang ular sawah, mereka berdua bergegas mendatanginya dan memanggilnya. Kali ini sang ular sudah berada di tempat tidur yang indah.
“Oi ….. Sawak, trima’ kaseh i, atas bantuanmu ngan kame’. Mun ndak gayye ndak mungkin kame’ na’ gai-tok”, kata Mak Midding kepada si ular sawah atau ular phiton.
“Mak kaseh atas bantuannye i ngan kame”, tambah si Mohyani kepada si ular.
“Aok be, yang namenye kitte iddup tantulah saling membantok”, jawab sang ular.
“Mun kittak ndak kebarattan, aku be rase nak minta’ tullong buatkan kelambu tujjoh lapis. Lapis pertame warnenye ittam, lapis kedua’ warnenye putteh, lapis ketige warnenye kunning, lapis keempat warnenye ijjau, lapis kelimma’ warnenye putteh agek, dan lapis keannam warnenye kunning agek, yang terakher ke tujjoh warnenye ittam agek”, pinta sang ular sawah kepada Mak Midding dan Mohyani.
Oleh karena telah dibantu, tanpa banyak bicara Mak Midding beserta anaknya Mohyani dengan senang hati menerima permintaan itu untuk membuat kelambu tujuh lapis dengan warna-warna yang sudah disebutkan oleh si ular sawah tersebut. Dengan kehidupan mereka seperti itu, Mak Midding dan anaknya Mohyani semakin merasa dekat dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka juga dekat kepada orang-orang kampung apalagi kepada tetangga-tetangganya mereka tidak segan untuk memberikan bantuan.
Pada suatu hari, berita tentang kekayaan dan kemurahan hati Mak Midding terdengar di telinga Mahoni, bibinya Mohyani.
“O, Mak!, Aku rase nak nyumpaek cuccokmu dolok. Dah lamak aku ndak ke rumahnye. Ummak tinggal i?”, kata Mahoni kepada ibunya, Nek Timmah.
“Aok …”, jawab ibu Mahoni singkat.
Setelah memberitahukan keinginannya, Mahonipun berangkatlah menuju rumah Mak Midding saudaranya itu. Setelah Mahoni tiba di tempat saudaranya Mak Midding, Mahoni begitu kaget dan terbengong-bengong menyaksikan di tempat rumah Mak Midding dan Mohyani itu telah berdiri sebuah bangunan indah bagaikan istana raja.
“Tang bagus innyan i, ittok ke rumah Mohyani”, kata Mahoni dengan suara yang agak keras keheran-heranan menyaksikan rumah yang begitu indah. Rumah yang selama ini tidak pernah dilihatnya sama sekali. 
“Ohhh … Mak Ussu ke?”, tanya Mohyani.
“Naiklah Mak Su, silekan naik”, lanjutnya kepada bibinya. 
Dengan perasaan gembira, Mohyani segera melayani bibinya dan menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi terhadap mereka. Seolah-olah Mohyani telah bersuamikan seekor ular sawah yang besar. Setelah agak lama berada di rumah keponakannya itu, Mahonipun pulang. Namun sebelumnya, ia berpamitan dengan Mak Midding dan Mohyani keponakannya. Setibanya di rumah, apa yang telah didengar dan dilihatnya, diceritakannya lagi kepada ibunya Nek Timmah. Sehingga Mahonipun ingin mencoba berbuat seperti apa yang telah dilakukan oleh keponakannya, si Mohyani.
“Mak …. Mak, aku be tang carrat innyan nak incarek midding juak”, kata Mahoni kepada ibunya.
“Ussah nak berani gillak, Ni. Banyak ullar di uttan ye. Ape age’ ari dah sore to’ e”, bantah Nek Timmah.
“Tappi, Mak. Aku kan carrat juak nak macam Mohyani. Masak die bisse, aku ndak bisse”, rengek Mahoni meminta izin kepada ibunya.
“Aoklah dah mun gayye maokmu e. ati-ati ajak di uttan e”, kata ibunya mengizinkan.
Oleh karena niat dan hasrat Mahoni yang kuat, sehingga ia berkeinginan untuk meninggalkan rumahnya pergi ke hutan rimba untuk mencari midding (pakis). Namun yang ada di dalam hatinya hanya untuk mencari atau untuk menjumpai ular yang besar seperti keponakannya. Setelah sekian lama berjalan masuk hutan belantara yang lebat. Tidak lama kemudian Mahonipun melihat seekor ular yang sangat besar. Besar ular itu sama persis sebagaimana apa yang diceritakan oleh Mohyani kepadanya. Mahoni mencoba berbuat seperti apa yang telah dilakukan oleh Mohyani. Namun, apa yang terjadi? Kejadiannya tidaklah sama sebagaimana yang diharapkan oleh Mahoni. Apa hendak dikata, niat dan harapan Mahoni tidak pernah kesampaian. Ular yang ditarik ekornya itu, serta merta berbalik langsung mematuk badan Mahoni. Sehingga dengan seketika itu juga ia pingsan dan akhirnya meninggal dunia.
Setelah kejadian itu, ular yang berada di rumah Mohyani dan Mak Midding dengan seketika berubah wujud menjadi seorang putera raja. Seorang manusia yang gagah perkasa dan ganteng rupanya. Putera raja tersebut akhirnya mempersunting Mohyani menjadi istrinya yang sebenar, tidak seperti waktu ia menjadi ular. Mereka kini tinggal serumah tidaklah sama dengan waktu ketika ia menjadi seekor ular sawah. Sejak hari itu mereka hidup dengan damai dan dalam suasana yang bahagia. Kejadian yang menimpa Mahoni adalah pembuka kutukan atau sumpahan yang dialami oleh si putera raja.

KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Istilah-istilah dalam BBM
BBM
Istilah dalam bbm, hari gini siapa sih yang tidak punya applikasi BBM, Faceboo, Instagram, Twitter, Line, dan lain sebagainya. Akan tetapi sekarang kita membicarakan tentang BBM. Saat ini BBM sudah menjadi populer di kalangan masyarakat yang biasa digunakan sebagai pengganti SMS, tapi buat kamu yang baru terjun di dunia BBM mungkin masih asing dengan beberapa kata atau istilah yang biasa digunakan dalam aktivitas chatting di BBM. Nahh! dari dasar itulah muncul postingan ini yang bertujuan untuk memberitahu kamu agar kamu tau, yuk simak postingan bermanfaat kamu...

ISTILAH DALAM BBM

1. PIN (Personal Identification Number)

Merupakan nomor acak dari RIM yang digunakan sebagai nomor identitas BBM dan menjadi perantara untuk mengandung teman yang banyak.

2. PING

Ping dalam BBM merupakan fitur yang digunakan untuk memanggil atau menyapa. Tapi tidak sedikit juga orang yang menggunakan fitur ping ini untuk mengeTes koneksi pada HP dan konon katanya dipercaya dapat mengatasi pesan BBM yang pending.

3. BC (Broadcast)

Broadcast merupakan fitur BBM yang digunakan untuk mengirim pesan ke seluruh kontak BBM, dengan adanya fitur ini kamu bisa mengirim pesan langsung ke semua teman kamu dengan sangat mudah dan juga cepat tentunya.

4. PM ( Personal Messages)

PM merupakan aktifitas chatting dengan 2 orang saja, sebenarnya istilah ini juga sudah biasa digunakan dalam pembicaraan di media sosial yang artinya inbox.

5. Delcont / DC ( Delete Contact)

Delcont merupakan aktifitas menghapus teman BBM kamu.

6. Invite

Merupakan istilah yang digunakan untuk mengundang kontak bbm baru untuk dijadikan teman.

7. DP (Display Picture)

Maksud dari istilah ini yaitu gambar atau foto profil BBM kamu.

8. BM (BlackBerry Message)

Pengertian BM yaitu sama dengan PM
yaitu obrolan hanya dengan 2 orang saja.

9. TC (Test Contact)

Biasanya TC penggunaannya dibarengkan dengan BC yang bertujuan untuk mengeCek kontak teman masih hidup, tidak atau bahkan sudah di DelCont.

10. Maksud Dari Icon Centang, D dan R

Centang : Ketika pesan sudah terkirim tapi belum diterima oleh penerima.
D : Ketika pesan sudah diterima penerima tapi belum dibaca.
R : Ketika pesan sudah diterima penerima dan sudah dibaca.

11. RBM artinya Read BBM


Nah, itulah beberapa istilah di dalam bahasa gaul BBM, lain lagi bahasa gaul di dalam aplikasi Facebook. Untuk lebih lanjut, silakan saja sharcing yang lainnya, selamat mencoba. 

“Hayalan”: judul Kultum Malam Ke 22 Ramadhan
Menghayal
Auzubillahimnassaitonirrojim, Bismillahirohmanirrohim, Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarkatuh.

Para jamaah sholat Isya, Tarawih dan Witir yang dibahagikan oleh Allah SWT. Malam ini adalah malam kedua puluh dua kita melaksanakan sholat sunat tarawih dan witir serta tadarus.

Judul kultum saya beri judul dengan “Hayalan”, namun sebelumnya saya akan mengatakan bahwa pahala sholat tarawih malam ini adalah (Klik di sini “Fadilah Sholat Tarawih Malam KeduaPuluh Dua 1434 H”).    

Para jamaah sholat Isya, Tarawih dan Witir yang berbahagia dan dirahmati oleh Allah SWT, manusia tidak akan lepas dari yang namanya hayalan, sukur-sukur menghayal baik, lalu bagaimana dengan menghayal yang buruk atau kotor? “Nauzubillahimin zalik, Ya Allah jauhkanlah hamba dari perbuatan itu”.

Bapak-bapak, ibu-ibu yang berbahagia, jangan sampai anak-anak kita pada bulan yang berbahagia ini, menghayal yang bukan-bukan. Karena mereka tidak punya pekerjaan, jadi pengangguran mereka asik menghayal yang bukan-bukan. Pada bulan puasa banyak waktu terluang, biasanya yang saya lihat disekeliling itu disempatkan untuk menghayal yang bukan-bukan. Contohnya menghayal tentang buka puasa, nanti aku akan makan kue puas-puas, menghayal kena nomor (togel) katany ingin beli motor, untuk menggonceng cewek, nanti malam setelah selesai sholat Isya, jadi tidak puasa donk.... dan banyak lagi hayalan-hayalan yang buruk,,,, tau sendiri dech ya....

Dari pada menghayal yang bukan-bukan, lebih baik bantu orang tua buat kue, ke kebun, ke sawah, atau mengerjakan PR, dan banyak lagi yang lainnya.

Demikianlah kultum pada malam ini yang dapat saya sampaikan. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amin.... Wasalamualaikum Warohmatullahi Wabarkatuh....
    
Sumber/Daftar Pustaka:
  1. Mahfudli Sahly. 1995. Pedoman Khutbah Jum’at dari Masa ke Masa. CV. Aneka Solo.
  2. Sugianto, S.Pd.I. 2000. Kumpulan Ringkasan Kultum. CV. Contras Singkawang.

“Menghargai Waktu” judul Kultum Malam Ke 21 Ramadhan
Sugianto, S.Pd.I
Auzubillahimnassaitonirrojim, Bismillahirohmanirrohim, Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarkatuh.

Para jamaah sholat Isya, Tarawih dan Witir yang dibahagikan oleh Allah SWT. Malam ini adalah malam kedua puluh satu kita melaksanakan sholat sunat tarawih dan witir serta tadarus.

Judul kultum saya beri judul dengan “Menghargai Waktu”, namun sebelumnya saya akan mengatakan bahwa pahala sholat tarawih malam ini adalah (Klik di sini “Fadilah Sholat Tarawih Malam KeduaPuluh Satu 1434 H”).    

Para jamaah sholat Isya, Tarawih dan Witir yang berbahagia dan dirahmati oleh Allah SWT, manusia tidak akan terlepas dari tiga sistem, yaitu berdiri, duduk, dan berbaring. Coba kita fikirkan, mengapa kita seperti itu? Maka dengan itu kita harus bisa membagi waktu, yaitu kapan waktu untuk kita berbaring, artinya waktu kita unuk istrirahat, baik siang atau malam. Kapan waktu kita berdiri, yaitu waktu kita bekerja, berusaha mencari nafkah buat kita dan anak-anak, istri atau suami serta keluarga, termasuk orang tua kita. Dan kapan waktu untuk kita duduk, yaitu waktu untuk kita kumpul bersama keluarga, teman, sanak saudara, kolega, dalam membicarakan hal kerjaan atau permasalahan rumah tangga dan lain sebagainya.

Sekarang ini, waktunya kita sholat Isya, Tarawih, dan Witir, serta sebentar lagi kita akan tadarus, esok puasa lagi, nanti dini hari kita sahur lagi. Maka dari itulah kita selaku insan harus bijaksana dalam membagi waktu dengan sebaik-baiknya. Sekarang ini kita sudah tua, berapa lama lagi kita akan hidup, sedangkan hidup kita sudah dijatah 63 tahun, bagi yang lebih itu mendapat “bonus” dari Allah SWT. Satu jam atau dua jam, sehari atau dua hari, seminggu atau dua minggu, sebulan atau dua bulan, setahun atau dua tahun, kita tidak mengetahuinya kapan kita akan dijemput.

Perhatikan firman Allah dalam Quran Surah Al-Ashr ayat 1-3 yang artinya “demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-‘Ashr: 1-3).

Demikianlah kultum pada malam ini yang dapat saya sampaikan. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amin.... Wasalamualaikum Warohmatullahi Wabarkatuh....
    
Sumber/Daftar Pustaka:
  1. Mahfudli Sahly. 1995. Pedoman Khutbah Jum’at dari Masa ke Masa. CV. Aneka Solo.
  2. Sugianto, S.Pd.I. 2000. Kumpulan Ringkasan Kultum. CV. Contras Singkawang.