Senin, 21 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "Dongeng Hubungan Padi dengan Gasing"

Padi
Konon pula menurut versi cerita suku melayu Kalimantan Barat khususnya Kabupaten SAMBAS, timbulnya permainan gasing yang dilaksanakan setiap tahunnya menurut cerita atau dongengnya adalah sebagai berikut:
Seorang putra khayangan yang turun ke bumi sedang melihat anak manusia yang bermain dan ia tertarik dengan permainan ini yaitu memainkan sepotong kayu yang berputar-putar dihalaman rumah anak manusia tersebut. Anak bangsa khayangan ini merasa heran campur senang sepotong kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa dapat berputar dengan cara dilempar dengan menggunakan seutas tali. Kemudian dengan kekagumamannya, ia mengajak anak manusia naik kekhayangan dengan membawa benda yang dimainkan tersebut.
Sesampainya di khayangan, dimintanya anak manusia untuk memainkan permainan itu dihadapan anak-anak bangsa khayangan. Semua anak bangsa khayangan terkagum-kagum dengan permainan tersebut. Setelah mereka bermain-main, dan mereka semua telah merasa lelah, anak manusia tersebut diberi makan oleh anak bangsa khayangan. Pada saat diberi makanan tersebut, giliran anak manusia yang terheran-heran dan kagum. Karena belum pernah ia makan makanan yang berbiji putih dan nikmat sampai perutnya merasa kenyang dan kenyangnyapun lama.
Melihat anak manusia yang makan dengan banyak dan senang sehingga tergugahlah perasaan anak bangsa khayangan lalu ia pun berkata:
“Nanti akan saya bawakan benda ini ke bumi, dengan sarat kamu harus selalu memainkan benda ini”, kata anak khayangan tersebut.
“Baiklah, aku janji. Aku akan selalu memainkan benda ini”, kata anak manusia itu kepada anak bangsa khayangan.
Kemudian anak manusia diantarkannya pulang ke bumi. Sesuai dengan permintaan anak bangsa khayangan, anak manusia tadi selalu memainkan permainan ini di bumi.
Setelah sekian lama, anak bangsa khayangan hampir lupa dengan apa yang telah diucapkannya pada waktu mereka bermain dikhayangan. Tidak lama kemudian datanglah anak bangsa khayangan ke bumi dengan membawa sebutir biji benda yang dikeluarkannya dari kemaluannya. Biji atau benda tersebut disimpan dikemaluannya, karena ia takut dimarahi oleh orang tuanya. Makanya biji tersebut disimpannya dalam kemaluannya.
Kemudian, benda atau biji tersebut diminta oleh anak bangsa khayangan kepada anak manusia di bumi untuk segera ditanam.
Anak manusiapun menuruti apa yang dimintakan oleh anak bangsa khayangan. Biji tersebut ditanam di tanah yang gembur dan subur serta basah. Kemudian, dari hari ke hari biji itu makin menampakkan pertumbuhannya. Biji itu semakin banyak pula tumbuhnya.
Sesuai dengan permintaan anak bangsa khayangan agar selalu memainkan permainan yang pernah mereka mainkan di khayangan waktu yang lalu. Anak manusia di bumi selalu memainkan permainan itu.  
Biji-biji itu terus berkembang, dan biji yang ditanam tadipun akhirnya telah layak untuk diambil karena telah menguning. Dari satu biji yang ditanam hasilnya berlipat ganda beribu-ribu banyaknya. Maka biji tanaman ini terus dikembangkan oleh anak-anak manusia di bumi.
Sejak saat itulah tanaman ini dikenal oleh manusia sebagai makanan pokok yang dapat mengenyangkan dan tahan lama, yaitu “padi”. Padi ini diolah menjadi “beras”. Kemudian oleh anak manusia permainan yang berputar serta berpusing tersebut diberilah nama dengan sebutan “gasing”.
Sampai saat ini permainan gasing selalu dimainkan oleh anak-anak manusia mulai musim bertanam padi sampai masa panen. Dengan turunnya padi kepada manusia ke bumi, maka Pangkak Gasing (bermain gasing) selalu dimainkan turun-temurun bagi masyarakat melayu dan dayak Kalimanatan Barat pada umumnya, dan khususnya masyarakat Kabupaten Sambas. Permainan Pangkak Gasing hingga sampai sekarang ini terus dimainkan, dari tingkat pedesaan sampai tingkat provinsi Kalimantan Barat. Dari anak usia Sekolah Dasar hingga orang tua. Kegiatan Pangkak Gasing tersebut dimainkan dalam acara peringatan hari-hari besar agama, gawai Naik Dangau, pesta ulang tahun kerajaan maupun peringatan hari-hari besar Nasional, pesta demokrasi, dan lain sebagainya.
Padi dengan gasing berhubungan sangat erat sekali, sehingga di dalam kehidupan orang Dayak dan Melayu Kalimantan Barat, padi dibuatkan tempat khusus (dangau padi atau tamping). Pada lumbung padi dimasukkan sebuah gasing yang namanya gasing gantang. Ukuran gasing yang disimpan ke dangau (lumbung) padi tersebut ukurannnya sama dengan pengukur padi atau beras sebagai alat timbangan tempo dulu yaitu “gantang”. Sedangkan di dalam tempayan tempat menyimpan beras disimpan gasing cupak, yang ditutupkan pada mulut tempayan, dan pasu untuk ukuran beras.


 KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...