Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "TOK KULLUP"

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "TOK KULLUP"
Lappak Kaki Tok Kullup di Bukit Piantus

TOK KULLUP


Konon menurut cerita orang-orang, nun dahulu kala di sebuah kerajaan yang terletak di Kabupaten Sambas sekarang, tersebutlah seorang raja yang bernama Tan Unggal. Sang raja mempunyai seorang putra kesayangan yang kelak diharapkan bisa menggantikannya setelah ia wafat. Sang putra mempunyai nama yang cukup berwibawa dan bagus untuk didengar yaitu TAN KEBAL, sesuai dengan kondisi yang dimilikinya. Kalau dilihat dari unsur cerita Tan Unggal, Tan Kebal ini adalah adik bungsu dari Dare Nandung dan Bujang Nadi. Karena Dare Nandung dan Bujang Nadi dikubur oleh ayahnya hidup-hidup di bukit Sebedang. Karena menurut Tan Unggal Dare Nandung dan Bujang Nadi telah melakukan kesalahan yang amat besar. Padahal semua itu adalah pitnah belaka. Jadi maksud Tan Unggal adalah, yang akan menggantikannya menjadi raja ialah Tan Kebal nantinya.     
Ciri kekebalan ini memang sudah diwarisinya sejak dari kecil. Ini terbukti dari beberapa kejadian yang menimpa dirinya semasa kanak-kanak, ketika sebuah tombak yang disimpan di atas loteng terjatuh dan tepat menghantam tubuhnya yang kekar. Bagi orang biasa pastilah kejadian tersebut menyebabkan hal yang fatal. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan Tan Kebal. Pada kulitnya hanya terdapat goresan kecil yang sama sekali tidak membahayakan jiwanya.
Kejadian yang lain ialah sewaktu ia berjalan-jalan disuatu pagi, dan ia melihat orang membuat sebuah perahu. Secara tidak sengaja Tan Kebal itu menyepak mata sebuah beliung yaitu alat tajam yang biasa digunakan untuk menoreh papan atau batang pohon yang akan dijadikan perahu itu. Alangkah kagetnya si pembuat perahu melihat akan hal itu. Tidak hanya dia, Tan Kebal sendiri pun merasa heran mengapa tubuhnya mempunyai daya tangkal yang hebat seperti itu dan tidak seperti orang-orang yang lain.
Walaupun dibekali dengan kekebalan, namun Tan Kebal tidak memiliki karakter seperti ayahnya. Ayahnya, Tan Unggal terkenal bengis dan kejam serta kurang berperikemanusiaan. Hal ini dibuktikan dengan disingkirkannya kedua saudara Tan Kebal yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandung ke sebuah kamar besi buatan di dalam tanah di kaki gunung Sebedang yang jauh dari keramaian, masyarakat menyebutnya penjara besi buat Dare Nandung dan Bujang Nadi.
Sifat dan sikap Tan Kebal tidak angkuh dan sombong, sifatnya manis, tutur katanya sopan, dan tindak tanduknya tidak merugikan orang lain. Malah boleh dikatakan tidak pernah membuat kekacauan apalagi merugikan orang lain. Tidak heran apabila ia disegani dan disenangi oleh masyarakat terutama teman-teman sebayanya.
Tan Kebal mempunyai kesenangan yang hampir sama dengan kesenangan saudaranya, yaitu Bujang Nadi. Keduanya senang akan berburu. Walaupun Tan Kebal anak dari seorang raja, dalam kepergiannya berburu sering ditemani oleh teman-temannya dari keluarga orang kebanyakan. Dalam perburuannya itu mereka sering membawa pulang hasilnya berupa burung atau jenis binatang buruan lainnya yang terdapat semak belukar disekitar istana.
Usia Tan Kebal semakin hari semakin bertambah. Pada suatu hari sang raja dan para pembesar serta keluarga istana berkumpul untuk merencanakan akan mengkhitankan Tan Kebal. Persiapan-persiapan pun diadakan. Pesta keluarga itu akan dilaksanakan dan tukang khitanpun akan segera dipanggilnya. Pagi-pagi sekali di suatu hari Jum’at, sang putra disuruh berendam di dalam kolam di lingkungan istana sambil bermain dengan beberapa buah kelapa yang disediakan untuk itu. Keluarga sudah berkumpul  di salah satu  ruangan  yang telah  ditata rapi sesuai dengan keperluan khitanan anak seorang raja. Bapak pengkhitan sudah siap dengan tungku perabuannya yang mengeluarkan asap kemenyang. Bapak pengkhitan mulai dengan pembacaan mentera-mentera dan do’a yang dipanjatkan ke hadiran Tuhan Yang Maha Kuasa demi kelancaran dan keselamatan perhelatan.
Tidak lama kemudian, sang putra diminta untuk memasuki ruangan. Dengan memakai pakaian  adat Tan Kebal pun langsung berbaring di atas tilam atau tikar di depan pengkhitan. Dengan mengucapkan “bismillahirohmanirrohim”, bapak pengkhitan mengambil sembilu dan siap memotong “burung” Tan Kebal. Namun apa yang terjadi .....?. Sembilu tidak mampu untuk melakukan tugasnya. ‘Burung’ Tan Kebal belum bisa dipotong dan seluruh keluarganya merasa heran dan cemas. Dengan segala daya dan upaya sang pengkhitan melakukan tugasnya, namun masih belum bisa menyelesaikan khitanan itu.
Karena usaha pada hari itu gagal, maka diadakanlah rapat keluarga yang dipimpin langsung oleh Raja Tan Unggal. Mereka kini sepakat untuk mencari usaha yang lainnya. Sang raja memerintahkan para hulubalang raja untuk membuat selebaran atau pengumuman. Mereka mencari orang yang dikjaya atau orang yang mampu untuk mengkhitan Tan Kebal.
“Hai, hulubalang kerajaan, siapkan pengumuman dan sebarkan ke seluruh penjuru kerajaan agar mereka-mereka yang mempunyai ilmu kebal dan kedikjayaan supaya menghadap aku, dan barang siapa yang berhasil menyelesaikan tugas pengkhitanan terhadap putra raja yaitu Tan Kebal akan diberi hadiah !”, demikian intruksi Raja Tan Unggal kepada seluruh hulubalang kerajaan.
Pengumuman disebar oleh para hulubalang kerajaan dimerata tempat. Mulailah para orang hebat berdatangan. Mereka yang mempunyai “simpanan” satu persatu menghadap sang raja dengan rasa was-was, khawatir kalau-kalau tugas yang akan dilaksanakan tidak sanggup mereka laksanakan. Bisa-bisa nyawa mereka yang menjadi taruhannya. Masing-masing dari mereka mencoba untuk bisa mengkhian putra sang raja yaitu Tan Kebal. Ada yang menggunakan sembilu, seperti yang sering dilakukan oleh tukang khitan. Ada yang menggunakan pisau cukur, parang, dan malah ada yang menggunakan beliung. Namun tidak seorang pun diantara mereka yang bisa memutuskan kulub sang putra raja. 
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan bulan berganti dengan tahun, tetapi “burung” Tan Kebal sang putra raja masih masih tetap seperti dia masih kanak-kanak, yang belum terpotong kulubnya. Namun baginya, keadaan seperti itu tidak mengecilkan hatinya. Dia tetap sibuk dan melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa.
Di suatu pagi yang cerah, matahari bersinar dengan terang. Burung-burung berkicau bergembira ria menyambut kedatangan sang surya. Tidak seperti biasanya, pagi itu Tan Kebal dengan peralatan berburunya meninggalkan istana menuju semak belukar disekeliling istana untuk mencari binatang buruan. Kali ini Tan Kebal tidak ditemani oleh rekan-rekannya yang biasa menemaninya. Tan Kebal pergi berburu sendirian. Makin lama Tan Kebal semakin jauh dari istana. Sambil menenteng hasil buruan, sayup-sayup dari kejauhan terdengar di telinga Tan Kebal bunyi suara burung. Burung itu berkicau dan berkicau. Tan Kebal merasa terganggu dengan kicauan burung itu. Namun burung itu tetap bernyanyi atau berbicara sesama mereka.
“Kullup ... kullup ... kullup ... kullup ...”, bunyi suara burung itu.
Mendengar bunyi itu Tan Kebal semakin mendekat dan ingin tahu siapa yang mengatakan kullup tersebut. Kata “kullup” bagi Tan Kebal sekarang merupakan kata yang tidak sedap untuk didengar atau purno. Kata “kullup” itu merupakan ejekan baginya. Apalagi Tan Kebal sampai sekarang masih “kullup” yaitu “burung” belum dikhitan atau disunat. Karena seringnya mendengar bunyi ejekan itu, Tan Kebal secara perlahan-lahan mengintip dicelah-celah pepohonan dan akhirnya ia mengetahui bahwa bunyi kullup itu berasal dari seekor burung yang bernama burung Kallak. Pendapat lain ada juga yang mengatakan burung “Bubut” yang berbunyi seperti itu. Karena geramnya dengan ejekan yang dikeluarkan oleh burung Kallak itu, sumpit yang dibawanya itu pun diisi dengan anak sumpit dan siap untuk membidik burung itu.
“Push .....”, bunyi yang keluar dari sumpit dan mengagetkan sang burung Kallak.
Bidikan pertama Tan Kebal meleset. Kemudian disusul dengan bidikan yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Hinggakan Tan Kebalkehabisan peluru untuk menyumpit burung Kallak tersebut. Hati Tan Kebal semakin penasaran, burung itu terus dikejarnya sehingga ia sudah terlalu jauh meninggalkan istana dan tiba di sebuah bukit yang bernama bukit Piantus. Konon dikatakan bahwa jalan setapak yang dilalui oleh Tan Kebal untuk mengejar burung Kallak itu sekarang berubah mejadi sebuah sungai yang mengalir di kaki bukit Piantus menuju ke Kecamatan Sejangkung. Di bukit Piantus inilah Tan Kebal yang selalu diejek oleh burung Kallak dengan ejekan “kullup”, ia menghabiskan masa tuanya. Dia tidak lagi kembali lagi ke istananya. Akan tetapi Tan Kebal membaur dengan masyarakat yang ada disekitar bukit Piantus itu.         

Sampai sekarang di salah satu lokasi yaitu di kaki bukit Piantus masih dapat kita saksikan sebuah batu besar tempat Tan Kebal melakukan sholat. Batu cekung yang terjadi karena bekas kening dan kedua lututnya merupakan peninggalan yang sering dikunjungi oleh masyarakat ramai. Di daerah itu pulalah Tan Kebal mengakhiri hayatnya dan kuburnya dipelihara dengan baik dan oleh masyarakat sering dijadikan sebagai tempat berziarah dan memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi masyarakat Sambas, Tan Kebal ini lebih populer dengan sebutan “Tok Kullup” dan bukit Piantus semakin hari semakin ramai dikunjungi orang sebagai salah satu obyek wisata di Kecamatan Sejangkung Kabupaten Sambas.    

KEPUSTAKAAN 


Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...