Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "Semangka Emas"

Semangka Emas

Orang Sambas pergi berlayar

Putus tali diganti atap

Hutang emas dapat dibayar

Hutang budi seumur hidup



Pada zaman dahulu kala, di pantai utara daerah Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Sambas, hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Darmawan.
Si Muzakir ini sangat loba, tamak dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang saja. Ia sama sekali tidak perduli kepada orang-orang miskin. Sebaliknya si Darmawan sangat berbeda tingkah lakunya dari abangnya. Kalau abangnya seorang yang loba dan kikir, maka si Darmawan tidaklah terlalu rakus akan uang. Memang enak rasanya kalau sakunya berisi dengan uang, tetapi uangnya bukanlah untuk dilihat dan dihitung-hitung, melainkan ia sedekahkan kepada fakir miskin dan kepada orang yang melarat dan sangat memerlukannya karena ditimpa musibah.
Sebelum meninggal, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua orang anaknya tanpa membedakan yang satu dengan yang lainnya. Tanpa membedakan yang mana adik dan yang mana Abang Maksudnya supaya anak-anaknya tidak berbantah dan saling iri satu sama lainnya, terutama bila ia telah meninggal kelak. Bukan main girangnya hati kedua anak itu menerima pusaka yang amat banyak itu. Uang dan harta yang menumpuk, tujuh keturunan tidak akan habis. Si Muzakir langsung membeli peti besi. Uang bagiannya dimasukkan ke dalam peti tersebut, lalu dikuncinya. Tujuh buah kunci peti besi itu. Orang-orang miskin banyak yang mendengar tentang uang pusaka yang dibagikan itu. Orang-orang miskin tersebut berdatangan ke rumah si Muzakir. Bila ada orang miskin datang ke rumahnya, bukannnya ia memberi sedekah kepada mereka, melainkan ia tertawa terbahak-bahak melihat orang miskin yang pincang, buta, bongkok dan lumpuh itu. Bila orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya, maka si Muzakir memanggil orang gajiannya untuk mengusir orang-orang miskin itu.
Orang-orang miskin yang pergi dari rumah si Muzakir karena diusir oleh si Muzakir, kemudian orang-orang miskin itu berduyun-duyun datang ke rumah Darmawan. Tatkala Darmawan melihat orang-orang miskin itu datang ke rumahnya, maka ia pun menyambut orang-orang miskin dengan senang hati. Orang-orang miskin itu dijamunya makan dan diberi uang karena ia merasa iba melihat orang miskin dan melarat. Si Darmawan tidak ada membeli peti besi. Uangnya disimpannya saja di lemari. Ia merasa iba dan belas kasihan melihat orang-orang yang miskin dan melarat itu. Masing-masing orang miskin itu diberinya sepatu, meskipun sepatu itu kesayangannya.
Orang-orang miskin itupun pergilah meninggalkan rumah si Darmawan dengan sukacitanya. Kepada kawan-kawannya diceritakannya akan kebaikan hati si Darmawan itu. Kawan-kawannya pada berdatangan pula ke rumah si Darmawan untuk meminta sedekah. Mereka itu diberi juga oleh Darmawan. Orang-orang miskin itu diberi Darmawan uang sekedarnya.
Akhirnya karena terlalu banyak jumlah orang miskin yang minta sedekah kepada si Darmawan, karena mereka mengetahui bahwa si Darmawan itu pemurah hati, sehingga mereka tidak putus-putusnya datang ke rumah si Darmawan. Semuanya mendapat sedekah dari Darmawan, tak ada yang kecewa orang-orang miskin itu. Mereka pulang dengan senyuman yang cerah, secerah mentari pagi diufuk timur. Lama kelamaan habislah uang Darmawan, ia tidak sanggup lagi membiayai rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih kecil dan harus bekerja.
Kini ia harus bekerja keras untuk mencari makan. Untungnya ia mendapat pekerjaan sebagai mandor. Gajinya tidak seberapa besar, sekedar cukup makan saja. Tetapi ia sudah merasa senang dengan hidupnya yang demikian.
“Uang adalah pemberian Tuhan”, katanya, “Dan Tuhan telah menyuruh orang yang melarat itu datang ke rumahku. Tentulah semua itu atas kehendak Tuhan juga. Dan aku harus memberi uang kepada mereka itu”, lanjutnya.
Abangnya si Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan si Darmawan. Si Muzakir tertawa terbahak-bahak, karena Darmawan dianggapnya bodoh. Muzakir telah membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Orang gajinya pun banyak. Akan tetapi Darmawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya.
“Tidak ada orang yang sebodoh adikku itu”, kata si Muzakir berulang-ulang.
”Memang, adikku itu akalnya terlalu sempit”, katanya lagi.
Akan tetapi si Darmawan tidak ambil perduli dengan ocehan-ocehan, ataupun ejekan-ejekan abangnya itu.
Pada suatu hari Darmawan sedang duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan.
“Kasihan,,,!” kata Darmawan.
“Barangkali sayapmu patah, ya?” lanjut Darmawan seolah-olah ia berbicara dengan burung pipit itu.
Ditangkapnya burung tersebut, lalu diperiksanya sayapnya. Ternyata benar, sayap burung pipit itu telah patah.
“Biar kucoba mengobatimu, ya” katanya.
“Kumisalkan saja engkau manusia yang patah tangannya”, lanjutnya.
Diambilnya lidi sepotong, lalu dibelat (balut) nya sayap burung itu. Ia mengerjakannya dengan hati-hati sekali dan perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan. Burung itu menjadi jinak dan tidak takut kepadanya.
Setelah beberapa hari kemudian, si Darmawan membuka balutan sayap burung pipit itu. Burung pipit tersebut sudah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan sesaat kemudian ia pun terbang. Burung pipit itu hingga disubuah dahan pohon. Didahan itu ia mencicit sebentar, seolah-olah mengucapkan terima kasih atas kebaikan si Darmawan yang telah memeliharanya. Kemudian burung itupun terbang tinggi meninggalkan si darmawan.
Akan tetapi keesokan harinya burung pipit itu kembali mengunjungi Darmawan. Di paruhnya ada sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan si Darmawan. Si Darmawan tertawa melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun demikian, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu kemudian ditanam di belakang rumahnya. Setelah tiga hari kemudian, maka tumbuhlah biji itu, dan nyatalah kelihatan pohon apa gerangannya. Bahwa yang tumbuh itu adalah pohon semangka.
Semangka itu dipeliharanya baik-baik, sehingga pohon itu tumbuh besar dengan suburnya. Pada mulanya Darmawan menyangka akan banyak buahnya. Tentulah ia akan kenyang makan buah semangka dan selebihnya akan ia sedekahkan. Demikian pikir Darmawan. Tetapi aneh, meskipun bunganya banyak, tetapi yang menjadi buah hanya satu, tidak lebih dari satu. Akan tetapi ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih dari semangka pada umumnya. Semakin lama semakin besar pula semangka itu. Sedap benar kelihatannya dan harum pula baunya.
Setelah semangka itu masak, Darmawan memetik buah semangka itu. Ambooi….., bukan main beratnya. Ia terengah-engah mengangkatnya dengan kedua belah tangannya. Setelah diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Kemudian Darmawan membelah semangka itu. Setelah semangka terbelah, betapa kagetnya Darmawan. Isi semangka itu berupa pasir kuning yang bertumpuk di atas meja.
“Hai, ganjil benar ini…!”, kata si Darmawan sambil mengaduk-aduk pasir dengan tangannya.
Ketika diperhatikannya sungguh-sungguh, nyatalah bahwa pasir itu adalah emas urai murni 24 karat.
“Astarfirulah, emas rupanya ini”, serunya.
“Kaya raya aku, lebih kaya dari pada saudaraku”, kata Darmawan dengan mata berbinar-binar.
Darmawan pun menari-nari karena girangnya. Ia mendengar burung mencicit di luar, terlihat burung pipit yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak.
“Terima kasih…!”, seru Darmawan.
“Terima kasih ya, burung pipit”, kata Darmawan sekali lagi. Dan burung pipit  itu pun terbang tanpa kembali lagi.
Keesokan harinya, Darmawan membeli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Banyak pulalah orang miskin yang datang ke rumahnya. Semua diberinya makan, diberinya uang. Akan tetapi si Darmawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu, karena uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah ruah. Selamat sentosa Darmawan tinggal di rumahnya yang bagus itu.
Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir iri melihat kekayaan Darmawan adiknya itu. Rumah adiknya lebih bagus serta lebih banyak dari rumahnya. Kebun adiknya lebih luas dan lebih banyak hasilnya dari kebun miliknya. Si Muzakir menjadi tidak senang apabila ada orang lain yang lebih kaya darinya. Disamping itu si Muzakir juga heran, dari mana si Darmawan memperoleh uang sebanyak itu.  Bukankah uang warisannya telah habis dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin. Kemudian ia menjadi mandor serta menyewa rumah kecil dikampungnya.
Si Muzakir ingin sekali mengetahui rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Darmawan adiknya itu. Di rumahnya Darmawan menceritakan secara jujur kepada abangnya tentang rahasia harta yang ia dapatkan.    
Si Muzakir terheran-heran mendengar cerita Darmawan. Lama ia memandang Darmawan dengan mata yang kecil dan hitam itu. Betulkah agaknya ada semangka emas? Dan mungkinkah seekor burung pipit bisa memberikan sebutir biji kepada adiknya? tanya Muzakir di dalam hatinya.
Kalau demikian, ia pun mau mencari burung serupa itu. Setelah ia kembali dan tiba di rumahnya, ia pun pergi ke pohon kelapa yang berada di kebunnya. Maksudnya akan mencari burung pipit yang bertuah itu. Tetapi pekerjaan mencari itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Karena badan si Muzakir terlalu gemuk, maka ia tidak dapat bekerja dengan keras. Ia sangat letih membungkuk-bungkuk melihat rumpun-rumpun dan di balik pohon kelapa itu. Sedangkan pohon kelapa cukup tinggi dan berdaun lebat serta kuning.
Peluhnya mengalir, dan nafasnya terasa sesak. Kemudian terpikir olehnya, bahwa pekerjaanya seperti pekerjaan orang yang bodoh. Bukankah orang gajinya banyak? Kemudian, semua orang gajinya disuruhnya berkumpul. Kemudian Muzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya untuk mencari burung yang patah kaki atau patah sayapnya di mana-mana.
“Ayo, pergilah kalian. Bawa semua burung yang patah kaki atau sayapnya yang kalian lihat atau temukan di kebun atau di jalan atau di sawah! Lekaslah sedikit…!” kata si Muzakir.
Orang-orang gajinya pada berlarian ke sana ke mari, mencari burung seperti yang dikehendaki oleh majikannya. Namun sampai satu minggu lamanya, siang maupun malam mereka mencari burung yang dimaksud. Namun seekor burung yang dimaksudkan tidak ditemukan oleh mereka. Tidak ada seekor burungpun yang patah kaki ataupun patah sayapnya yang mereka temukan. Bukan main marahnya si  Muzakir.
“Kalian ini semuanya malas. Makan gaji buta saja”, kata si Muzakir dengan nada geram.
Malam itu ia tidak dapat tidur karena marahnya. Keesokan paginya, si Muzakir mendapat akal. Dipanggilnya salah seorang dari orang gajiannya, lalu ia membisikkan sesuatu kepada orang gajinya tersebut. Orang gajinya mangut-mangut sambil tertawa.
“Jangan tertawa…!,” bentak Muzakir.
“Cepat kerjakan…!”. Orang gajinya itu cepat-cepat berlari masuk ke dalam kebun kelapa.
Sementara itu si Muzakir bersandar di tempat tidur menanti kedatangan orang suruhannya itu. Setelah kurang lebih satu jam datanglah orang suruhannya. Ia membawa seekor burung yang patah sayapnya. Burung itu ditangkapnya dengan apitan burung. Tentu saja sayap burung itu menjadi patah, karena apitan itu tertutup. Dengan tertutupnya apitan itu, maka terjepitlah sayap burung tersebut sebelah kanan.
Burung itu mencicit kesakitan. Si Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung. Si Muzakir berkata dengan suara iba kepada burung tersebut.
“Ah, kasihan …! Patah sayapmu? Diamlah, nanti saya obati. Sebentar pasti sembuh”.
Sayap burung itu dibalutnya seperti yang pernah dilakukan oleh adiknya si Darmawan. Burung itu tampaknya senang karena setelah beberapa hari kemudian ia sembuh. Burung itu kemudian dilepaskan oleh si Muzakir. Burung itu pun terbanglah. Seharian itu si Muzakir sangat gelisah menunggu pemberian burung itu.
Petang hari barulah burung itu muncul dengan membawa sebuah biji. Burung itu pun memberikan sebutir biji kepada Muzakir. Si Muzakir sungguh gembira. Kemudian burung itupun terbang cepat-cepat meninggalkan Muzakir. Mata muzakir bersinar-sinar, berbinar-binar ibarat ombat pantai diterpa sang surya yang mau tenggelam. Si Muzakir kegirangan, ia akan memperoleh semangka emas seperti adiknya Darmawan.
“Siapa tahu buahnya lebih besar dan banyak dari punyanya Darmawan…”,  ucap hati Muzakir.   
Biji pemberian burung tersebut ditanam oleh Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Seorang tukang kebun diperintahkan untuk mengurus pohon tersebut baik-baik.  Biji itu tumbuh dan cepat sekali menjadi besar. Tumbuhnya subur dan rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Darmawan. Semakin hari semakin besar. Ingin benar si Muzakir hendak melobangi semangka itu untuk melihat isinya. Akan tetapi ia khawatir, kalau-kalau buah semangka itu tidak mau besar lagi.
Tidak lama kemudian, semangka itupun masak. Besar sekali buahnya. Lebih besar dari semangka Darmawan. Dua orang pembantu si Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Si Muzakir mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, maka menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran manusia ke muka si Muzakir. Baunya busuk seperti bau bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani yang ada di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil menjerit-jerit. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.
“Aduh…aduh…!” teriak Muzakir.
“Bau sekali…!”. Tambahnya.
Kemudian Muzakir berlari ke rumah karena malu menjadi tertawaan orang banyak. Ia menanggalkan pakaiannya di kamar mandi. Berjam-jam ia menggosok badannya dengan wewangian, tetapi bau busuk itu tidak mau hilang juga. Seperti baunya babi otong.
Demikianlah hukuman si Muzakir, yang tidak mau menaruh kasihan kepada sesame manusia maupun binatang. Kemanapun ia berjalan selalu menjadi ejekan tertawaan orang banyak.
Orang menunjuknya sambil berseru, “Itulah dia si Muzakir yang busuk itu”. Seorang pun tidak mau bergaul dengan dia. Itulah hukuman yang patut buat si Muzakir yang tamak dan rakus serta kikir dan sombong. 


 KEPUSTAKAAN 

Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...