Senin, 21 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "Sambas Di Serang Siak SRI INDRAPURA 1789-1791"

SAMBAS DISERANG SIAK SRI INDRAPURA 1789-1791 (PANGERAN ANOM MEMPERTAHANKAN SAMBAS)

Serangan Pertama Kerajaan Siak Sri Indrapura ke Sambas.
Tidak lama ketika Pangeran Anom memerintah di Sambas, pada bulan Desember tahun 1789 Kesultanan Sambas diserang pasukan Siak Sri Indrapura yang dipimpin oleh Raja Ismail. Penyerangan dari Siak ini adalah karena persaingan dagang dan ekonomi diantara kedua Kesultanan. Dua keerajaan salin berebut kekuasaan dilaut serta berusaha menguasai wilayah antara pulau Sumatra dan Kalimantan. Armada Siak Sri Indrapura bergerak maju disekitar perairan Sungai Sambas kecil menembakan meriam ke arah pasukan dari kesultanan Sambas.
Ketika pasukan Siak Sri Inderapura hendak mendarat maka pasukan Sambas berenang mendekati kapal musuh dan membocorkan kapal mereka hingga tenggelam. Tenggelamnya kapal dari Siak diiringi pula dengan tembakan meriam dari halaman istana. Hampir menjelang malam, namun pertempuran di antara kedua pasukan semakin sengit. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
Namun lagi-lagi strategi dan kepiawaian pasukan Sambas yang dipimpin Pangeran Anom dapat memukul mundur pasukan dari Siak Sri Indrapura. Sebagian kapal mereka ditenggelamkan dan sebagian berhasil meloloskan diri dan keluar dari perairan Sambas.
Serangan kedua Kerajaan Siak Sri Indrapura ke Sambas.
Pada tahun 1791 pasukan Siak Sri Indrapura menyerang kembali untuk kedua kalinya dengan jumlah pasukan yang jauh lebih besar dan dipimpin langsung oleh Sultan Ali Said sendiri. Pertempuran berlangsung cukup lama, pasukan Siak Sri Indrapura menyerang dengan keberanian yang luar biasa tanpa memperhitungkan korbanya yang gugur di medan laga. Pertahanan pasukan kerajaan Sambas sudah goyah karena serangan bertubi tubi dari pasukan Siak Sri Indrapura yang gagah berani.
Memperhatikan keadaan yang sangat genting itu beberapa orang menteri Kerajaan Sambas, Wazir serta Hulubalang berunding dengan Sultan Abubakar Tajudin I dan Pangeran Anom supaya diadakan perundingan damai dengan Sultan Said Ali dari Siak Sri Indrapura. Usul tersebut ditolak oleh Sultan dan Pangeran Anom, karena Pangeran Anom merasa yakin atas kekuatan pasukanya.
Maka diperintahkanlah oleh Pangeran Anom kepada beberapa pengawal setianya untuk menjemput pasukan mereka yang lain yang terdiri dari orang orang Dayak Sungkung, dan orang orang Dayak Saribas. Maka tak beberapa lama pasukan bala bantuan Pangeran Anom telah terkumpul dan dengan pasukan tersebut Pangeran Anom berhasil memukul mundur pasukan dari Siak Sri Indrapura.
Tapi rupanya Pasukan Siak Sri Indrapura tidak kembali kenegerinya mereka bertahan dilaut menunggu bala bantuan tiba dari garis belakang,mereka menghimpun kekuatan baru untuk menyerang Sambas.
Serangan Ketiga Siak Sri Inrdapura ke Sambas 1792.
Pada tahun 1792 pasukan Siak Sri Indrapura menambah dan memperkuat pasukanya yang ada diperairan Sambas, dipimpin Sayyid Ali Mustafa dan didampingi oleh seorang panglima dari Aceh yang terkenal keberanianya bernama Panglima Aru. Aru adalah nama dari suatu kampung di daerah Aceh, dalam penyerangan itu ikut serta juga permaisuri Sayyid Ali Mustafa yang sakti dan gagah berani.
Pucuk pimpinan perang pasukan Sambas dipegang oleh Pangeran Anom dan didampingi oleh Panglima Awang Tandi (Lawang Tandi) yang khusus dijemput dari tempat pertapaanya dikeramat Bantilan (letaknaya sekarang dalam wilayah kecamatan Sejangkung).
Pertempuran antar pasukan Sambas dan pasukan Siak Sri Indrapura disertai adu kekuatan dan ketangkasan antara panglima Aru dengan Panglima Awang Tandi. Pertarungan yang memakan waktu cukup lama itu adalah beradu kesaktian dan kekuatan. Namun kesaktian yang dimiliki Awang Tandi tak dapat ditandingi oleh Panglima Aru. Awang Tandi berhasil mengalahkan Panglima Aru hingga ia tewas di tangan Awang Tandi. Melihat kejadian tersebut Permaisuri Sayyid Ali Mustafa menjadi geram dengan tangkas ia turun ke medan perang (dihalaman istana Sambas) ibarat seekor singa yang haus darah ia membunuh prajurit dan panglima pasukan Sambas satu persatu hingga parajurit Sambas kelabakan dan menjadi kocar kacir.
Permaisuri Sayyid Ali Mustafa menjadi beringas, siapa saja yang berada di depan atau di belakangnya langsung dibunuh dan dipenggalnya. Melihat keadaan yang mencemaskan itu, Pangeran Anom segera terjun ke medan pertempura menahan gerak maju pasukan musuh dan diperintahkanya kepada Panglima Awang Tandi untuk menyerang langsung tubuh permaisuri tersebut.
Namun penyerangan sulit dilakukan karena permaisuri kebal terhadap senjata tajam dan dia diapit oleh pasukanya yang berlapis lapis. Untuk menghentikan dan mengatasi ketangkasan serta keberanian dan kesaktian permaisuri Sayyid Ali Mustafa tersebut, Pangeran Anom segera memasukan “Peluru Petunang” kedalam Meriam. Sambil mengucapkan mantera diarahkanya meriam tersebut tepat kepada tubuh permaisuri Sayyid Mustafa. Kemudian, dengan tembakan “Peluru Petunang” tersebut tubuh permaisuri yang kebal terhadap senjata tajam tersebut roboh seketika. Tubuhnya bersimbah darah dan seketika itu pula ia gugur di medan laga.
Melihat kejadian itu Raja Sayid Ali dan Sayid Mustafa beserta pasukanya dengan rasa kesal dan sedih memutuskan mundur dari pertempuran dan kembali ke negerinya. Sebagian dari panglima panglimanya yang menyerah kepada pasukan Sambas dan bersedia setia menjadi penduduk Negeri Sambas diberikan tempat oleh Sultan Abubakar Tajudin I sebuah kampung yang diberi nama “Kampung Tanjung Rengas” untuk kediaman orang-orang dari Zulu disediakan suatu kampung yang diberi nama “Kampung Nagur”, dan untuk kediaman orang orang dari Sulawesi disedikan suatu kampung yang diberi nama”Kampung Bugis”.
Sultan Sambas dan rakyatnya selalu membuka pintu selebar lebarnya menerima pendatang baru dari seluruh pelosok Nusantara, sehingga turun temurun tinggal di Sambas sampai sekarang. Rakyat Sambas merasa bangga mempunyai seorang Panglima seperti yang telah di contohkan Pangeran Anom dalam mempertahankan negeri dan rakyatnya dari gangguan orang orang Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan dari kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Catatan:
Keruis adalah perahu layar Pangeran Anom.
Fenes adalah sebuah perahu layar ukuran kecil atau lebih kecil dari Keruis.
Menurut dugaan Keruis dan Fenes berasal dari bahasa Portugis atau Spanyol.

Peluru Petunang adalah peluru yang didalamnya berisi jisim halus atau sahabat “Mu’akal” Pangeran Anom yang bernama”Bujang Danor”.
Cerita ini telah menjadi cerita rakyat masyarakat Kabupaten Sambas sampai sekarang.



 KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...