Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "RAJA TAN UNGGAL"

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "RAJA TAN UNGGAL"
Ilustrasi Raja Tan Unggal

RAJA TAN UNGGAL

 

 

Konon pada zaman dahulu kala, di wilayah kota Sambas atau Kabupaten Sambas sekarang ini. Pernah memerintah seorang raja yang bernama Raja Tan Unggal. Raja Tan Unggal tersebut tidak mempunyai bapak ataupun ibu kandung. Bayinya dahulu ditemukan dalam seruas bambu oleh rombongan Sultan yang sedang berburu di sebuah pulau,  yaitu pulau Lemukutan. Pulau Lemukutan terletak di kawasan Pasir Panjang. Jika ingin menuju ke Pulau Lemukutan tersebut, kita bisa naik motor air dari Teluk Suak. Pulau Lemukutan sekarang masuk wilayah Kota Singkawang.
Ceritanya bermula ketika keturunan Sultan sedang pergi berburu ke hutan di Pulau Lemukutan, ketika sedang asik berburu tetapi bukan buruan yang mereka dapatkan. Waktu itu secara tiba-tiba rombongan dikejutkan dengan tangisan suara bayi. Semua rombongan berpikir dan saling pandang serta saling bertanya.
“Apakah di hutan ini ada bayi…?”, tanya salah satu pengawal kepada pengawal yang lainnya.
“Di hutan belantara seperti ini dari mana asal suara tangisan bayi tersebut, ya …..?” ujar keturunan Sultan menimpali.  
“Entahlah, Paduka”, jawab salah satu pengawal.
Keturunan Sultan tersebut langsung memberikan perintah kepada seluruh prajurit yang ikut berburu untuk mencari dari mana suara bayi itu berasal. Setelah sekian lama mencari ternyata suara bayi tersebut berasal dari rumpun bambu. Prajurit itu langsung diperintah untuk menebang pohon bambu tersebut, tanpa di duga dan di sangka semua rombongan dikejutkan dengan kehadiran seorang bayi yang berasal dari batang pohon bambu yang paling besar.
Tanpa pikir panjang, didampingi dengan perasaan panik keturunan Sultan yang memimpin kegiatan berburu langsung memberikan perintah kepada seluruh anak buahnya untuk membawa bayi yang ditemukan di dalam bambu tersebut di bawa ke istana untuk ditemukan dengan Sultan Sambas. Secara kebetulan Sultan Sambas juga belum mempunyai anak, jadi bayi yang di temukan di hutan tadi langsung di angkat oleh Sultan Sambas untuk menjadi anaknya dan diberi nama Tan Unggal. Mengapa bayi yang ditemukan di dalam batang pohon bambu tersebut diberi nama Tan Unggal ?
Pada zaman dahulu setiap keturunan Sultan pasti di panggil dengan sebutan “Tan”, kebetulan bayi yang ditemukan di dalam rumpun bambu tersebut memiliki gigi yang aneh kalau dibandingkan dengan manusia biasa atau manusia normal. Dari rahang kiri sampai rahang kanan gigi bayi tersebut menyatu seolah-olah hanya memiliki satu gigi atau sering di sebut dengan gigi tunggal. Padahal kalau manusia biasa giginya tidak mungkin menyatu atau terdiri dari beberapa buah gigi, sehingga bayi tersebut diberi nama Tan Unggal. Tan Unggal dibesarkan di lingkungan istana Sambas layaknya seperti anak sendiri, sehingga Tan Unggal menjadi tumbuh dewasa dengan gagah berani dan dipercaya akan menggantikan posisi bapaknya, yaitu Sultan Sambas yang memimpin kerajaan Sambas.
Pada saat Tan Unggal memerintah Kerajaan Sambas dia menyunting rakyat biasa menjadi istrinya dan dikaruniai tiga orang anak, yaitu dua orang laki-laki dan satu orang perempuan, yang laki-laki diberi nama Nadi dan yang perempuan diberi nama Nandung. Sedangkan yang paling bungsu diberi nama Tan Kebal. Tan Kebal sering dipanggil oleh masyarakat dengan sebutan Tok Kullup. Dalam kebiasaan masyarakat Sambas biasanya anak laki-laki sering dipanggil dengan sebutan Bujang dan yang perempuan dipanggil dengan sebutan Dare. Maka jelaslah anak tersebut dipanggil dengan Bujang Nadi dan Dare Nandung. Pada saat Tan Unggal berkuasa di Sambas, raja Tan Unggal terkenal dengan raja yang kejam karena sifatnya yang sombong dengan rakyat.
Raja Tan Unggal memerintah dengan tangan besi yang membuat rakyat sengsara dan senantiasa hidup dalam ketakutan. Tidak seorangpun dari pembantu-pembantu raja, seperti penasehat kerajaan, panglima dan hulubalang serta sesepuh istana yang berani memberikan saran-saran apalagi berani membantah perintahnya. Siapa saja yang melanggar peraturan akan menerima hukuman tanpa pandang bulu. Hukuman yang terkenal dan paling ditakuti saat itu adalah hukuman pancung (penggal kepala). Raja Tan Unggal tidak pernah memberikan ampunan ataupun keringanan hukuman terhadap yang melanggar perintahnya. Kata “TAN” konon juga diartikan sebagai “tahan” terutama ketahanan fisik yang dipunyai raja di mana hal tersebut merupakan faktor pendukung selama ia menjadi raja.  
Dia memimpin dengan sewenang-wenang, apa yang ia katakan dan semua keinginannya harus dilaksanakan walaupun hal tersebut dibenci oleh rakyatnya, banyak hal yang terjadi sehingga Tan Unggal dikatakan raja yang kejam dan zalim. Pernah pada suatu saat rakyat Sambas digemparkan dengan kejadian yang sangat mengejutkan sampai-sampai Tan Unggal dikatakan manusia setengah siluman. Pada saat ia memimpin Tan Unggal paling senang makan sambal asam. Pada hari itu tukang masak kerajaan atau tukang buat sambal terlambat membuat sambal asam. Sedangkan jam makan siang Tan Unggal sudah sebentar lagi, jadi si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam untuk Tan Unggal. Sedangkan dia sudah tahu bahwa Tan Unggal tidak mau memakan tanpa sambal asam bahkan Tan Unggal bisa marah.
Sang pembuat sambal begitu takut dimarah Tan Unggal, hingga si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam sampai-sampai jari kelingkingnya teriris lalu darahnya menetes ke dalam sambal asam yang dibuat tadi. Karena waktu yang sudah sangat singkat lalu si tukang masak itu langsung mengaduk darah yang menetes tadi ke dalam sambal asam yang ia buat karena ia berpikir tidak sempat lagi membuat sambal asam yang baru.
Sambal asam tersebut langsung disajikan di meja makan Tan Unggal, begitu memakan sambal tersebut Tan Unggal sangat kenyamanan. Tan Unggal berpikir dan berkata di dalam hatinya.
“Mengapa ya, sambal asam pada hari ini sangat enak berbeda dengan hari biasanya ?”, ucap Raja Tan Unggal di dalam hatinya.
 Lalu Tan Unggal bertanya kepada si tukang masak.
“Hei ….tukang masak, kamu campur apa sambal asam ini…? Rasanya begitu enak dan lezat sekali”, tanya sang raja kepada juru masak istana.
Si tukang masak pun tidak berani untuk berbohong, ia menceritakan bahwa sambal asam itu sudah bercampur dengan darahnya sendiri.
“Anu …Tuanku, sambal…sambal … sambal itu tercampur dengan darah hamba, Tuanku. Karena hamba terburu-buru sekali membuatnya buat Tuanku”, kata pembuat sambal dengan gugupnya.
“Pantas sekali begitu enak rasanya. Esok kamu harus membuatkan lagi sambal seperti ini, ya…”, pinta Raja Tan Unggal kepada si tukang masak.
“Ba…ba…baiklah Tuanku. Perintah Tuanku akan hamba laksanakan”, ucap juru masak istana dengan gugupnya.
Semenjak kejadian itu Raja Tan Unggal memerintahkan kepada tukang masak setiap kali membuat sambal asam harus dicampur dengan darah manusia.
Kejadian yang lain, yang tidak manusiawi dengan perintah Raja Tan Unggal adalah pada saat Raja ingin bersantap makan. Nasi yang disuguhkan haruslah yang berasnya utuh, tidak patah-patah atau hancur. Untuk mendapatkan yang seutuh itu, rakyat diperintahkan untuk mengupas padi satu persatu. Sulit dibayangkan betapa sukar dan beratnya pekerjaan itu. Ada lagi perintah raja yang tidak jarang membawa korban jiwa. Raja Tan Unggal mempunyai perahu kerajan yang biasa digunakan untuk meninjau wilayah yang dikuasainya. Bila perahu yang akan diturunkan ke air, raja memerintahkan kepada rakyatnya untuk mengumpulkan wanita-wanita hamil. Ibu-ibu hamil itu disuruh berbaring lalu perahu itu ditarik ke air melalui di atas perut ibu-ibu hamil itu sebagai alasnya. Kalau perahu kerajaan sedang tidak digunakan tetapi belum ditambat di darat, raja kemudian memerintahkan beberapa orang laki-laki berendam di dalam air dan tali-tali perahu itu dikaitkan ditubuh mereka agar perahu itu tidak hanyut.
Raja Tan Unggal mempunyai anak yang sudah besar yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandung. Walaupun keduanya merupakan kakak beradik, namun pergaulan mereka tidak seperti pergaulan anak-anak yang bersudara. Sejak kecil keduanya telah dipisahkan. Bujang Nadi menempati salah satu bangunan dibagian istana, sementara si Dare Nandung dibagian bangunan yang lain. Raja Tan Unggal memerintahkan rakyatnya untuk melakukan penjagaan dan pengawasan yang ketat agar keduanya tidak boleh berjumpa. Pengawsan dan penjagaan tambah diperketat ketika kedua menjelang usia remaja. Siapa saja diantara penjaga-penjaga yang melalaikan atau melanggar perintahnya akan menerima hukuman pancung.
Akibat dari pemisahan dan pengawasan yang dilakukan oleh ayahnya, sulitlah bagi Bujang Nadi untuk membayangkan bagaimana wajah sang adik pada saat-saat usia menjelang remaja. Begitu pula dengan halnya Dare Nandung. Untuk menghibur kedua anaknya itu, Raja Tan Unggal memberikan alat bertenun kain yang terbuat dari emas kepada Dare Nandung, sedangkan untuk Bujang Nadi diberinya beberapa ekor ayam jantan dengan tujuan agar Bujang Nadi belajar membina ayam-ayam itu menjadi ayam jago yang unggul bila diadu. Karena secara kebetulan juga, Bujang Nadi memang sangat suka memelihara ayam jago. Sedangkan Dare Nandung paling suka untuk menenun kain. Karena kesukaan mereka itulah sang ayah memberikan hadiah kepada mereka. Sedangkan si Bujang Nadi dan si Dare Nandung tidak tahu dengan muslihat sang ayah.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga beberapa tahun berlalu sudah. Telah banyak kain tenun yang dihasilkan oleh Dare Nandung. Demikian juga dengan halnya si Bujang Nadi, ayam-ayam Bujang Nadi sudah berpuluh-puluh ekor yang menjadi ayam jago yang unggul dan handal siap untuk digelar dimedan laga. Baginya dengan pekerjaan dari itu ke itu saja mulai membosankan, bahkan tidak jarang dalam sehari penuh ia mengurung diri di dalam kamarnya.
Pada suatu hari, ketika Bujang Nadi melewati ruang kerja adiknya Dare Nandung, ia menemukan sebuah alat bertenun adiknya terjatuh. Alat tenun itu lalu diambilnya, dan ketika ia melihat ke atas, yaitu ke tempat si Dare Nandung bekerja, terpandanglah olehnya sebuah wajah yang cantik dan ayu dengan daya pandang yang memukau. Sejenak nian wajah itu muncul, setelah itu hilang dan hanya meninggalkan seberkas senyum yang sukar dilupakan. Cepat-cepat Bujang Nadi kembali ke kamarnya. Wajah Dare Nandung masih terbayang dimatanya. Hati kecil Bujang Nadi berkata.
“Itukah Dare Nandung, adikku ?”, katanya di dalam hati.
“Tak dikira, wajah Dare Nandung seayu dan seanggun itu”, tambahnya.
Rupanya pertemuan sekilas pandang itu telah membawa hal-hal yang aneh sanubari Bujang Nadi.
“Kalau tidak seperti adikku Dare Nandung, aku tidak akan menikah seumur hidupku”, bisiknya seorang diri. Bujang Nadi menarik nafas dalam-dalam.
Masih terdengar langkah Dare Nandung menuju kamar tidurnya. Terpandang olehnya wajah seorang laki-laki yang sedang memegang alat tenunnya itu. Dadanya berombak, ia menoleh ke kiri dan ke kanan seolah-olah mencari dan mendengar sesuatu. Hati si Dare Nandung bertanya-tanya, banyak sekali pertanyaan yang dikemukakan hatinya. 
“Siapakah laki-laki yang begitu tampan, gagah dan simpatik itu? Dimana rumahnya? Apakah dia akan datang lagi ke mari? Apakah aku akan bertemu lagi dengannya”, hati kecil Dare Nandung bertanya-tanya.
“Mudah-mudahan aku menemukan laki-laki yang akan menjadi jodohku setampan dan segagah dia”, tambah Dare Nandung seraya mengucapkan do’a pada yang Maha Kuasa. . 
Sebenarnya ia ingin bertanya kepada Mak Inangnya, tapi beranikah dia untuk mengatakan semua itu kepada inangnya?.
Hari-hari berlalu dengan cepat, tanpa ada hal-hal yang luar biasa. Namun sampailah pada suatu hari.
Bujang Nadi dan Dare Nandung diperbolehkan bermain berdua saja. Mereka tidak punya teman seorangpun di dalam istana. Selain mereka berdua, yang menjadi teman mereka  hanyalah ayam jago milik Bujang Nadi dan alat tenun miliknya Dare Nandung. Karena Tan Unggal sangat membenci mereka jika mereka berteman dengan rakyat biasa. Tan Unggal takut mereka akan terpengaruh dengan budaya atau kebiasaan rakyat yang kurang baik menurut Raja Tan Unggal. Padahal jika dilihat dari latar belakang istrinya adalah orang biasa.  
Pada suatu kejadian, ketika Bujang Nadi dan Dare Nandung sedang asik bermain di taman istana tanpa sadar mereka diintip oleh seorang pengawal istana, tepat pada saat itu Bujang Nadi dan Dare Nandung sedang asik bercerita tentang perkawinan. Karena usia mereka pada waktu itukan sudah remaja.  
“Dik, jika kamu ingin mencari pasangan hidup. Pasangan hidup seperti apa yang kamu idamkan?”, tanya Bujang Nadi kepada adiknya Dare Nandung.
“Adik sangat mengharapakan, nanti calon suami adik mirip dengan abang, baik itu dari segi gantengnya, gagahnya, dan sikapnya harus seperti abang”, jawab Dare Nandung kepada abangnya.
“Sedangkan abang, istri seperti apa yang abang inginkan?”, tambah Dare Nandung sambil tersenyum tipis.
 “Abang juga berkehendak demikian, abang sangat mengharapkan istri abang nantinya seperti adik cantiknya dan tentunya hati istri abang juga seperti adik lembutnya”, jawab Bujang Nadi mengemukakan pendapatnya tentang calon istrinya kepada adiknya.
Ucapan yang diucapkan mereka itu hanyalah pelipur lara saja, karena mereka hanya berteman berdua, mereka dilarang untuk bergaul dengan khalayak ramai, orang-orang diluar istana. Jadi orang yang dilihatnya hanya mereka berdua. Mungkin di luar istana ada seseorang yang lebih cantik dari Dare Nandung ataupun lebih ganteng dari Bujang Nadi. Semua itu tidak mereka ketahui sama sekali.
Pengawal istana yang mendengar percakapan kakak adik tersebut adalah pengawal kerajaan. Pengawal tersebut yang sedang mengintip tadi salah artikan, dia berpikir kakak adik tersebut ingin melakukan perkawinan sedarah, tanpa berpikir panjang sang pengawal kerajaan itu langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Raja Tan Unggal.
Menerima laporan seperti itu, Raja Tan Unggal sangat terkejut, dia sangat malu dengan kejadian itu, sebelum anaknya berbuat hal yang dapat merusak citra atau nama baik kerajaan Sambas bahkan dapat memberikan aib bagi kerajaan. Raja Tan Unggal tidak mampu lagi membendung amarahnya. Warna merah padam menjalar diwajahnya, matanya berkilat-kilat bagaikan kilat menyambar awan-awan hitam. Di dahinya nampak bulir-buir keringat sebesar jagung. Ia mondar-mandir dikamarnya sambil mengepalkan tangan menahan amarahnya pada Bujang Nadi dan Dare Nandung. Kedua anaknya telah melakukan hal yang sangat memalukan dan telah mencorengkan arang dimukanya. Padahal apa yang ia dengar dari pengawal istana semuanya salah belaka. Pengawal itu salah artikan kalimat yang keluar dari mulut Dare Nandung dan Bujang Nadi.
“Memalukan …..! Memalukan sekali ….!”, teriak Raja Tan Unggal.
“Mereka harus dihukum …! Harus dihukum …!”, tambah Tan Unggal.
Tan Unggal bingung, hukuman apa yang sesuai untuk anak-anaknya.
“Tetapi, hukuman apa yang harus dijatuhkan kepada mereka?. Apakah harus hukuman pancung?. Tapi… bukankah mereka berdua adalah anakku…!. Itukah yang dinamakan hukum karma?. Dan sekarang aku yang harus mengalaminya …!? Tidak …. Tidak ….!”, keluh Tan Unggal yang penuh tanda tanya di hatinya.
Raja Tan Unggal mondar-mandir, ia berpikir, keningnya berkerut. Sedangkan kedua tangannya terkepal keras. Raja Tan Unggal geram dengan tingkah anak-anaknya. Kini Raja Tan Unggal telah menemukan satu bentuk hukuman baru. Hukuman itu akan diberlakukannya kepada kedua anaknya, yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandung. Berdasarkan isi laporan yang mengatakan bahwa Bujang Nadi dan Dare Nandung berjanji bahwa mereka akan hidup dan semati. Maka hukuman yang tepat untuk itu adalah keduanya akan ditanam secara hidup-hidup dalam satu peti mati dan dalam satu kubur.
Namun sebelum hukuman dijatuhkan kepada mereka berdua, Bujang Nadi dan Dare Nandung dipanggil oleh ayahandanya. Mereka diintrograsi oleh ayahnya sendiri. Mereka berdua ditanya ini dan itu oleh Tan Unggal sesuai dengan laporan pengawal kerajaan. 
“Bujang Nadi…! Apakah benar kamu ingin hidup semati dengan adikmu, Dare Nandung…!?”, tanya Tan Unggal dengan tegas.
Bujang Nadi terkejut mendengar pertanyaan ayahandanya.
“Apa, ayahanda …! Sehidup semati dengan Dare Nandung…! Kabar apa ini ayahanda? Semua itu adalah fitnah. Semua itu tidak benar ayahanda”, jawab Bujang Nadi membela diri.
“Ya, benar, ayahanda. Semua yang ayahanda dengar itu semuanya adalah bohong belaka. Kami tidak pernah mengatakan hal seperti itu”, tambah Dare Nandung membela. 
“Kalian berdua bohong… berani kalian membohongiku…! Kalian berdua telah mencoreng nama baikku…! Aku malu dengan perbuatan kalian berdua …! Kalian akan aku beri hukuman yang setimpal dengan perbuatan kalian”, tegas Tan Unggal tanpa usul periksa.
“Kalau sudah begitu keputusan ayahanda, apa hendak kami lakukan lagi. Kami pasrah dengan keputusan ayahanda. Jika dengan hukuman ini akan mengembalikan nama baik ayahanda dimata rakyat dan pembesar-pembesar istana. Kami rela ayahanda”, kata Bujang Nadi kepada ayahnya sambil menangis sedih.
“Ya, ayahanda,tak apalah kami dihukum. Kami kini sudah siap menerima hukuman dari ayahanda. Silakanlah perintahkan pengawal kerajaan untuk melaksanakan hukuman kepada kami berdua”, tambah Dare Nandung dengan pasrah dan rela.
.Akhirnya, putusan hukuman diambil dan diputuskan oleh sang raja. Putusan tersebut diumumkan keseluruh wilayah kerajaan. Rakyat sangat terkejut dan saling bertanya sesama mereka.
“Kesalahan apa gerangan yang telah diperbuat oleh Bujang Nadi dan Dare Nandung”, tanya salah satu rakyat jelata.    
“Entahlah, kita tidak mengetahui dengan hal-hal mereka. Karena mereka hidup di dalam istana, sedangkan kita hidup di luar istana”, jawab temannya.
“Kasihan mereka, ya…” sahut yang lainnya.
“Ya…itu pasti gara-gara fitnah”, yang lain menimpali.
“Mereka hidup dalam istana, mereka mati dalam bencana”, kata salah seorang yang tua dari mereka. 
 Segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan hukuman sudah disiapkan. Tan Unggal langsung memerintahkan kepada prajuritnya untuk mengubur kedua anaknya yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandung. Sebuah peti mati yang mampu menampung dua orang manusia, demikian juga liang lahat yang cukup besar dan luas digali pula. Agar keduanya merasa terhibur di alam kuburnya kelak. Raja Tan Unggal membekali Bujang Nadi dengan beberapa ayam jago miliknya, dan ada juga yang dibuatkan oleh Tan Unggal patung ayam jago yang terbuat dari emas murni. Sedangkan buat Dare Nandung alat tenunan kesayangannya yang dibuatkan dari emas murni oleh ayahandanya juga di bawa untuk di tanam bersama mereka.
Hari pelaksanaan hukuman pun tiba. Di sekitar istana penuh oleh rakyat yang ingin menyaksikan dan memberi salam terakhir kepada Bujang Nadi dan Dare Nandung yang mereka cintai. Setelah diadakan upacara pelepasan, rombongan kemudian menuju tempat penguburan yang terletak jauh di luar kawasan istana, yaitu di salah satu puncak bukit kecil (dipegunungan Sebedang sekarang). Tidak terdengar jerit tangis dan linangan air mata dari Bujang Nadi dan Dare Nandung. Rakyat semuanya menyaksikan, bahwa mereka tidak merasa takut sedikitpun. Rakyat hanya melihat teriakan dan jerit tangis histeris dari ibunda tercinta yang melahirkan Bujang Nadi dan Dare Nandung tersebut. Kini kedua anaknya akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.      
Kemudian kedua kakak adik tersebut di kubur hidup-hidup di daerah bukit Sebedang di Kecamatan Sebawi sekarang, tentunya masih di Kabupaten Sambas. Konon kisahnya, sampai beberapa waktu sejak Bujang Nadi dan Dare Nandung dikuburkan. Orang-orang masih mendengar bunyi suara orang bertenun dan suara kokok ayam jantan yang keluar dari kuburan itu. Suara itu masih terdengar oleh mereka hingga tujuh hari tujuh malam. 
Konon pula, kata masyarakat setempat sampai pada saat ini masih percaya bahwa kuburan tersebut sangat angker karena setiap malam Jum’at sering mendengar kokokan suara ayam jantan yang berasal dari kuburan Bujang Nadi dan Dare Nandung yang di kubur dalam satu makam. Bahkan kadang-kadang terdengar suara orang sedang menenun kain yang juga berasal dari kuburan tersebut yang di duga milik Dare Nandung.
Menjelang beberapa waktu kemudian, rakyat dan pegawai-pegawai kerajaan serta pembantu-pembantu kerajaan tidak tahan dengan kepemimpinan Raja Tan Unggal yang kejam dan zalim pada rakyat. Mereka mengatur sebuah rencana, bagaimana cara untuk meleyapkan Raja Tan Unggal tersebut. Jika adu kekuatan mereka tidak bisa. Sang raja sangat sakti mandraguna. Siapapun tiada tandingnya dengan Raja Tan Unggal itu. Akhirnya mereka menemukan sebuah ide baru. Mereka menggunakan akal untuk melenyapkan raja lalim tersebut. Mereka befikir dengan sepenuh tenaga. Mereka mencari-cari cara apa yang bisa untuk melenyapkan Raja Tan Unggal tersebut.  
Akhirnya, rencana sudah disepakati. Mereka mengatur rencana untuk meninjau wilayah kerajaan yang jauh dengan menggunakan perahu kerajaan. Sang raja menyanggupi. Kemudian berangkatlah mereka berlayar. Setelah agak jauh mereka berlayar. Air perahu dibuang dan ditinggalkan sedikit. Kemudian timbak ditelungkupkan oleh salah seorang pembantu Raja Tan Unggal tanpa sepengetahuannya. Timbak yang ditelungkupkan oleh salah seorang pembantu Raja Tan Unggal tersebut berbunyi.
Krooot….krooot….kroooot”, bunyi timbak ruang.
Krooot….krooot….kroooot”, begitulah bunyi dari timbak ruang.
 “Bunyi apa, itu”, tanya Tan Unggal.
“Itu bunyi lanun, Tuanku”, jawab nahkoda kapal.
“Lanun…!”, kata Tan Unggal.
“Ya, Paduka, Raja”, jawab nahkoda kembali.
“Bagaimana kita, aku tidak mau berhadapan dengan lanun”, kata Tan Unggal.
Ternyata Raja Tan Unggal takut dengan lanun. Sebenarnya salah seorang dari pegawainya mengetahui kelemahan Raja Tan Unggal. Kelemahannya hanyalah takut dengan lanun. Karena bagi Tan Unggal, lanun itu dapat melemahkan kekuatannya.
“Gampang, Paduka Raja. Paduka masuk saja ke dalam peti ini yang sudah kami siapkan. Pasti lanun-lanun itu tidak bisa menemukan paduka raja. Setelah mereka pergi, baru kami akan membukakan pintu ini kembali”, kata nahkoda kepada Raja Tan Unggal.
“Benarkah”, tanya Tan Unggal.
“Benar, Paduka”, ucap nahkoda meyakinkan sang raja.
Tanpa pikir panjang, Tan Unggal langsung masuk ke dalam peti besi itu. Kemudian dia menyuruh pintu itu dikunci dengan kuat agar lanun-lanun itu tidak dapat menemukannya. Kemudian pintu peti itupun dikunci dengan kuat. Setelah peti itu dikunci dengan kokohnya, peti itu kemudian dibuang ke dalam sungai oleh para pegawai dan pembantu istana. Maka berakhirlah riwayat dari Raja Tan Unggal. Raja Tan Unggal dibuang di muara sungai Sambas Kecil. Begitulah akhir dari riwayat Raja Tan Unggal yang zalim.  


KEPUSTAKAAN 


Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...