Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "PAK BONGOK"

PAK BONGOK

 

 

Konon pada zaman dahulu kala, di sebuah desa Ramayadi yang terletak di pesisir pantai Kecamatan Jawai, tinggallah seorang nelayan yang bernama Pak Bongok. Sebenarnya Pak Bongok adalah keturunan orang kaya. Namun karena kebodohannya maka hampir semua harta peninggalan orang tuanya habis dijual kecuali rumah pusaka, peralatan untuk menjala udang dan sebuah ikat pinggang dari emas sebagai  barang kesayangannya. Ikat pinggang  emas  itu selalu saja dipakai dan dibawa oleh Pak Bongok ke mana saja ia pergi.
Sejak kematian orang tuanya Pak Bongok tinggal sebatang kara. Ia tak punya istri apalagi seorang anak. Tidak jarang pula kebodohan Pak Bongok dimanfaatkan oleh orang-orang desa yang tidak bertanggung jawab. Pak Bongok menyesal sekali karena pada masa mudanya tidak mau sekolah, padahal orang tuanya sudah berulang kali menasehatinya. Tetapi Pak Bongok bersikeras untuk tidak sekolah dan lebih senang menjala ikan dan menjala udang dari pada sekolah.
Sebagai penghibur rasa sedih dan penyesalannya dimasa muda, maka Pak Bongok memulai hidup baru sebagai nelayan penjala udang. Dengan menjala udang segala duka derita yang ada di hati Pak Bongok menjadi hilang.
Sudah menjadi kebiasaan Pak Bongok, bahwa waktu untuk menjala udang adalah pada waktu sore hari menjelang magrib. Pak Bongok baru pulang dari menjala udang setelah malam hari. Begitulah kerjaan Pak Bongok saban malamnya.
Di samping kebiasaan itu, Pak Bongok masih punya kebiasaan lain yang aneh dan punya makna tersendiri baginya. Kebiasan itu adalah menjala sambil bernyanyi . Lagu yang dinyanyikan Pak Bongok bukanlah sembarang lagu. Tapi lagu tersebut adalah lagu yang ditujukan khusus untuk seseorang. Tentu saja seseorang yang disenangi oleh Pak Bongok. Lagunya cukup menarik sekali bila didengarkan waktu Pak Bongok bernyanyi sambil menjala udang.
“Nong ……Neneng …… Nong Dayang ……”. Begitulah antara lain syairnya. Lagu itu dinyanyikan lagu itu  di nyanyikan dengan di iringi bunyi kibaran jala yang jatuh ke air sebagai iramanya.
Dayang sebagaimana dalam lagu tersebut adalah seorang perempuan yang disenangi oleh Pak Bongok. Dayang tahu dan sadar bahwa Pak Bongok tergila-gila kepadanya. Namun sayangnya Dayang sudah punya suami. Akan tetapi Pak Bongok tidak mau tahu akan hal itu. Dan malah Pak Bongok menyangka bahwa Dayang masih gadis yang masih belum punya suami dan belum punya anak.
Di ujung desa itu, terdapat sebuah rumah yang cukup mewah. Berdinding papan dan bertingkat dua. Rumah itu tiada lain adalah rumahnya si Dayang. Setiap kali menjala udang, rumah Dayang selalu dilewati oleh Pak Bongok. Dan rumah Dayang itu sudah menjadi rute rutin dalam menjala ikan udang.
Pada suatu ketika Pak Bongok seperti biasa menjala ikan udang. Dengan ikat pinggangnya yang selalu menempel kuat di pinggangnya. Dengan ikat pinggang emas itu Pak Bongok kelihatan gagah sekali. Sambil mengayunkan jala Pak Bongok bernyanyi merdu sekali. Lagu yang dinyanyikannya adalah lagu si Dayang.
“Nong ……Neneng …… Nong Dayang ……Byuuuuuuuuurrrrr……!”, bunyi jala Pak Bongok yang memecah air sungai. Dari kejauhan Dayang telah mendengar senandung Pak Bongok. Ketika Pak Bongok mendekati rumah si Dayang, Dayang membuka pintu dan bertanya kepada Pak Bongok.
“Sedang apa Pak Bongok ?”, tanya Dayang.
“Menjala udang”, jawab Pak Bongok singkat.
Kemudian Dayang bertanya lagi.
“Apakah ada dapat udangnya?”, tanya Dayang manja.
Pak Bongok tidak menjawab pertanyaan si Dayang. Malah Pak Bongok balik bertanya kepada Dayang.
“Adakah suamimu?”, tanya Pak Bongok pada Dayang.
“Saya sudah punya suami dan punya anak”, jawab Dayang jujur.
Mendengar jawaban seperti itu, dengan sepontan muka Pak Bongok berubah menjadi cemberut. Pertanyaan Dayang selanjutnya dijawab dengan jawaban yang ketus oleh Pak Bongok.
“Tidak ada”, jawab Pak Bongok singkat.
Walaupun sebenarnya Pak Bongok banyak dapat udang di dalam perahunya. Tanpa banyak komentar Pak Bongok pergi ke tempat lain yang dianggapnya sebagai sarang udang. Kalau Pak Bongok sudah menjala disarang udang, pasti banyak ia dapat udang. Baik udang besar atau pun udang yang kecil. Karena jala Pak Bongok ruas-ruas jalanya agak kecil, jadi ikan atau udang kecil pun dapat terperangkap oleh jalanya.
Melihat tingkah laku Pak Bongok seperti itu, maka Dayang sedikit heran dan kebingungan. Dayang berpikir sejenak dan bertanya di dalam hatinya.
“Kenapa, ya Pak Bongok seperti itu. Kenapa dia cepat-cepat mengayuh perahunya. Apa ada yang salah dengan ucapanku”, tanya hati kecil si Dayang.  
Tak lama kemudian, Dayang menemukan satu cara untuk menjebak Pak Bongok. Setelah menutup pintu, kemudian Dayang menemui suaminya yang ada di loteng.
“Bagaimana Bang, jika Pak Bongok kita jebak”, tanya Dayang membuka pembicaraan.
“Pikiran mu bagus sekali, Dayang”, jawab suaminya.
“Sebenarnya Abang sudah lama memikirkan hal itu”, sambung suaminya kemudian.
“Jadi bagaimana, Bang”, tanya Dayang pada suaminya.
“Begini, Dayang. Aku tahu bahwa Pak Bongok suka dengan kamu. Bahkan dia tergila-gila dengan mu, Dayang. Aku juga sering mendengar Pak Bongok bertanya kepada mu, yang menanyakan apakah kau sudah punya suami”, jawab suaminya.
“Jadi, Bang”, tanya Dayang yang masih kurang paham dengan maksud suaminya.
“Begini”, kata suami Dayang sambil merangkul si Dayang agar Dayang agak mendekat kepadanya.
“Begini, Dayang. Jika esok sore Pak Bongok bertanya seperti itu lagi, kau harus menjawab bahwa kau belum punya suami dan tidak punya anak”, tambah suami Dayang.
 “Baiklah, akan saya laksanakan esok”, jawab Dayang sambil mengangguk-angguk tanda mengerti.
Kedua suami istri itu telah sepakat untuk menjebak Pak Bongok, dan rencana mereka pun sudah disiapkan buat besok sore.
Keesokan harinya, seperti biasa Pak Bongok telah siap melakukan aktifitasnya sehari-hari sebagai penangkap ikan dan udang. Peralatan menjala semuanya sudah siap untuk dibawa oleh Pak Bongok menjala. Tidak ketinggalan juga ikat pinggang yang terbuat dari emas itu, yang selalu menghiasi pinggang Pak Bongok.
Seperti biasa Pak Bongok bernyanyi ketika mengayunkan jala ke air.
“Nong ……Neneng …… Nong Dayang ……Byuuuuuuuuurrrrr……!”, disusul bunyi jala Pak Bongok yang jatuh ke air.
Mendengar senandung itu, maka Dayang cepat-cepat menyuruh suaminya bersembunyi di loteng agar tidak diketahui oleh Pak Bongok. Dayang membuka pintu rumahnya dan bertanya kepada Pak Bongok yang sedang menjala tepat di depan rumahnya.
“Sedang apa, Pak Bongok?”, tanya Dayang sekedar basa-basi.
“Menjala udang”, jawab Pak Bongok singkat.
“Adakah hasilnya”, tanya Dayang kemudian.
Seperti biasa, Pak Bongok belum juga menjawab pertanyaan si Dayang. Malah Pak Bongok yang kembali bertanya kepada Dayang.
“Adakah suamimu”, tanya Pak Bongok kepada Dayang dengan sopannya.
Karena Dayang telah sepakat dengan suaminya untuk mengerjakan Pak Bongok, maka Dayang menjawab pertanyaan dengan cepatnya.
“Saya tidak punya suami apalagi anak, Pak Bongok”, jawab Dayang.
Mendengar jawaban Dayang seperti itu, maka Pak Bongok dengan cepat menjawab pertanyaan Dayang yang sejak dari tadi belum dijawabnya.
Ada Dayang, cukup lumayan”, jawabnya.
“Oh…ya, Dayang…maukah kau makan udang”, tambah Pak Bongok menawarkan udang kepada Dayang.
“Asal Pak Bongok mau memberi saya. Saya tidak keberatan sekali menerimanya”, jawab Dayang.
“Kalau begitu bawalah tempat kemari”, lanjut Pak Bongok menawarkan jasa kepada si Dayang.
Mendengar kata-kata Pak Bongok seperti itu, maka Dayang segera mengambil bakul kecil dan menemui Pak Bongok. Kemudian bakul itu diisi oleh Pak Bongok dengan udang dan ikan sampai penuh.
“Terima kasih Pak Bongok”, kata Dayang kepada Pak Bongok. Pak Bongok hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.
Karena jasa baik dari Pak Bongok, Dayang mempersilakan Pak Bongok untuk mampir sebentar di rumahnya. Mendengar ajakan dari Dayang, dan tanpa pikir panjang Pak Bongok menerima ajakan tersebut.
Perahu pun ditambat disebuah jamban yang terbuat dari kayu belian (kayu besi). Pak Bongok kelihatannya senang sekali. Ia tidak tahu bahwa semua itu hanya untuk memperdaya dirinya semata. Sebelum mampir terlebih dahulu Pak Bongok mengisi sebuah ember dari seng dengan kueh-mueh yang sengaja di bawa dari rumah sebagai oleh-oleh untuk Dayang yang disayanginya.
Setelah tiba di rumah si Dayang, Dayang mempersilakan Pak Bongok agar masuk ke dalam. Alangkah gembiranya hati Pak Bongok. Kemudian Pak Bongok dipersilakan duduk oleh si Dayang. Dayang kemudian pergi ke dapur sebentar untuk membuatkan Pak Bongok air kopi. Tak lama kemudian, keluarlah Dayang dengan membawa secangkir kopi ditangannya yang putih lagi halus itu. Melihat air kopi tersebut, Pak Bongok bertanya kepada Dayang.
“Ini gelas siapa, Dayang”, tanya Pak Bongok dengan manjanya.
“Gelas milik kita, Pak Bongok!”, jawab si Dayang dengan manjanya pula.
Mendengar jawaban Dayang, Pak Bongok tertawa.
“He …. he …. he ……….”.
Dayang mempersilakan Pak Bongok untuk berbaring-baring di ranjangnya. Sementara itu Dayang ke dapur untuk memasak nasi dan menyiangi udang serta ikan yang diberi oleh Pak Bongok. Sambil baring-baring di ranjang, Pak Bongok menunggu Dayang memasak. Beberapa jam kemudian, semuanya telah selesai. Semuanya sudah matang dan siap untuk di makan oleh Pak Bongok dan si Dayang. Dayang kemudian menghidangkan masakannya kepada Pak Bongok.
“Pak Bongok makanan telah siap, sekarang mari kita makan bersama”, ajak Dayang.
“Mari, Dayang”, jawab Pak Bongok tanpa basa-basi lagi.
Dengan senang hati Pak Bongok makan bersama si Dayang. Sambil makan semua barang-barang yang ada di rumah Dayang ditanyakan oleh Pak Bongok. Pak Bongok bertanya kepada Dayang.
“Ini mangkok siapa, Dayang”, tanya Pak Bongok kepada Dayang sambil menunjuk kearah mangkok yang ada di depannya.
“Mangkok ini kita yang punya, Pak Bongok”, jawab Dayang dengan manja sekali.
Mendengar jawaban seperti itu, Pak Bongok tertawa kembali.
“He ….. he ….. he ….. ha ….. ha ……….”, tawa Pak Bongok kegirangan.
Tidak hanya mangkok yang ditanyakan oleh Pak Bongok. Pinggan, piring, gelas, juga tidak luput dari pertanyaan Pak Bongok. Bahkan Pak Bongok pun bertanya tentang sendok, panci, kuali, pisau, dan bahkan ranjang pun ditanyakan oleh Pak Bongok kepada Dayang.
Apapun yang ditanyakan oleh Pak Bongok kepada Dayang, semuanya dijawab oleh Dayang dengan jawaban yang sama. Bahwa semua itu adalah barang milik mereka berdua. Mendengar jawaban-jawaban si Dayang, Pak Bongok tertawa terbahak-bahak.
“Ha …… ha ….. ha ….. ha ….”, tawa Pak Bongok senang sekali.
Pak Bongok makan dengan lahapnya. Setelah selesai makan Pak Bongok kekenyangan. Pak Bongok kecapean dan kengantukan. Pak Bongok menguap. Rasa kantuknya semakin berat. Dayang mempersilakan Pak Bongok untuk tidur di ranjangnya. Siasat dari si Dayang sama sekali tidak diketahui oleh Pak Bongok. Pak Bongok juga tidak terpikir dengan hal-hal seperti itu. Karena Pak Bongok sudah capek dan sangat mengantuk serta Pak Bongok sangat menikmati sekali atas layanan dari Dayang yang di sayanginya itu. Sebelum tidur Pak Bongok bertanya kepada Dayang.
“Dayang, ranjang dan kasur ini miliki siapa!”, tanya Pak Bongok kepada Dayang. Padahal pertanyaan seperti itu sudah ditanyakannnya kepada si Dayang pada saat mereka lagi makan. 
“Semua ini milik kita berdua, Pak Bongok”, jawab Dayang sambil tersenyum tipis kepada Pak Bongok.
Bukan main senangnya hati Pak Bongok. Jawaban dari si Dayang disambut gelak tawa Pak Bongok yang menggelegar.
“Ha …………. ha ………. ha ………… ha ………..”, tawa Pak Bongok memecah keheningan di rumah Dayang.
Mungkin inilah saat-saat yang paling mengembirakan bagi Pak Bongok, sehingga dia tidak mengira ada udang dibalik batu. Tidak lama kemudian Pak Bongok tertidur pulas. Pada saat Pak Bongok sedang tidur, Dayang menenui suaminya di loteng, dan mereka ingin  membuat rencana baru agar Pak Bongok jera. Setelah rencana mereka rampung, si Dayang turun kembali mendekati Pak Bongok yang lagi tertidur pulas. Waktu itu, mungkin Pak Bongok lagi bermimpi sedang bermesraan dengan si Dayang di taman-taman bunga. Sampai-sampai Pak Bongok lupa dengan tugasnya menjala udang pada malam itu. Tidak lama kemudian, terdengar suara yang amat nyaring dari atas loteng rumah si Dayang.
“Hemmmmmmmm ………. hemmmmmmm …….. hemmmmmm ……”.
Pak Bongok tersentak dari tidurnya. Pak Bongok mendekati Dayang, lalu Pak Bongok bertanya kepadanya.
“Suara apa itu, Dayang!?. Kok dekat sekali suaranya …!”, tanya Pak Bongok cemas.
“Itu adalah suara orang-orang desa yang sedang mengintip kita”, jawab Dayang berbohong.
“Lalu ..... kemana aku akan lari, Dayang ...?”, tanya Pak Bongok agak gugup.
“Jangan takut, Pak Bongok. Sekarang Pak Bongok masuk dalam goni ini agar tidak diketahui oleh orang-orang desa”, jawab Dayang.
“Yang benar, Dayang”, tanya Pak Bongok.
“Iya, Pak Bongok. Cepat nanti ketahuan oleh orang-orang desa”, ucap si Dayang menakuti Pak Bongok.
Tanpa pikir panjang, Pak Bongok menuruti apa yang diperintahkan oleh si Dayang. Setelah Pak Bongok masuk ke dalam goni itu. Goni tersebut lalu di bawa oleh si Dayang ke belakang rumah. Goni itu dibawa oleh si Dayang dengan susah payahnya. Kemudian goni itu digantungnya di belakang rumah pada salah satu tiang sente rumah. Suami Dayang turun dari loteng dan menemui Dayang di belakang rumah.
“Apa yang kau gantung, Dayang?”, tanya suaminya pura-pura tidak tahu.
“Ini adalah gong kepunyaan raja”, jawab Dayang sambil tersenyum tipis.
“Bolehkah saya memukulnya, Dayang?”, tanya suaminya lagi.
“Jangan, Bang. Nanti rajanya marah ...!”, jawab Dayang menegaskan.
Akan tetapi suami Dayang bersikeras untuk untuk memukulnya.
“Tidak apa-apa, Dayang...!. Saya yang tanggung jika raja marah kepada mu...”, kata suaminya.
“Jangan, Bang...”, jawab Dayang pura-pura.
Suaminya terus mendesak Dayang, sehingga mau tidak mau Dayang mempersilakannya juga. Karena sudah mendapat izin dari istrinya si Dayang, maka suami Dayang mengambil sepotong kayu api, dan dipukulnya benda tersebut dengan keras sekali.
“Tok .....tok......tok.......”, bunyi goni yang diketok oleh suami Dayang. 
“Aduh ..... aduh ..... aduh .....”, terdengar bunyi dari dalam karung goni itu.
Suara itu tiada lain adalah suara dari Pak Bongok. Suara orang yang lagi kesakitan menahan pukulan suami Dayang. Sedangkan suami Dayang tidak menghiraukan suara Pak Bongok. Dia terus memukul karung goni tersebut, dan bahkan lebih keras lagi serta bertubi-tubi.
“Tok .....tok......tok.......”, bunyi goni yang diketok oleh suami Dayang. 
“Aduh ..... aduh ..... aduh .....”, terdengar kembali bunyi dari dalam karung goni itu.
Suara orang yang lagi kesakitan terdengar kembali dari dalam goni tersebut. Pak Bongok menahan rasa sakit dari pukulan suami Dayang yang kuat. Sedangkan suami Dayang tidak menghiraukan suara Pak Bongok, dan bahkan dia terus memukul karung goni tersebut, dan bahkan lebih keras lagi serta berulang-ulang kali.
“Tok .....tok......tok.......”, bunyi goni kembali lagi diketok oleh suami Dayang. 
Seraya dengan pukulan itu, Pak Bongok yang ada di dalam goni itu berteriak nyaring. Karena Pak Bongok sudah tidak tahan lagi menahan pukulan suami Dayang yang bertubi-tubi itu.
“Aduuuuuuuhhhh ..... aduhhhhhhhh ..........aduuuuuuhhhhhhh”, terdengar teriakan yang amat nyaring dari dalam karung goni itu.
“Aduuuuuuuhhhh ..... sakiiiiiiiiittttt ..........”, tambahnya.
Goni tersebut berputar-putar dan akhirnya goni itu pun jatuh. Akhirnya, Pak Bongok keluar dari dalam goni tersebut. Dilihatnya lelaki setengah baya di dekatnya sambil memegang kayu bakar yang siap untuk memukul Pak Bongok. Pak Bongok jadi ketakutan. Pak Bongok berlari ke serambi rumah Dayang sambil mengambil jala dan embernya. Tanpa pikir panjang Pak Bongok melompat keluar dan berlari sambil berteriak.
“Keparat si Dayang sudah bersuami ngaku belum!”, celoteh Pak Bongok.
“Kedumprang ........... kedumprang ........”, bunyi ember dipukul oleh Pak Bongok melepaskan rasa geramnya.
Ucapan seperti itu diteriakkan berkali-kali oleh Pak Bongok. Sampai di rumah, Pak Bongok langsung tidur untuk menghilangkan rasa kekecewaannya. Pak Bongok tidak menyadari bahwa ikat pinggangnya tertinggal di rumah Dayang. Dayang dan suaminya merasa cukup puas, karena rencananya berjalan dengan mulus. Setelah semuanya dianggap tuntas, maka Dayang dan suaminya ingin tidur. Setibanya di ranjang, suami Dayang melihat suatu benda yang mengkilat.
“Wah .....kita sangat beruntung malam ini, Dayang”, kata suaminya kepada Dayang.
“Iya, Bang....!. Ikat pinggang Pak Bongok dapat kita miliki, Bang ...!” jawab si Dayang kegirangan.
Melihat ikat pinggang Pak Bongok yang terbuat dari emas, suami si Dayang sangat senang. Ia berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil memeluk istrinya. Karena senangnya suami Dayang berencana hendak ke pasar untuk menjual ikat pinggang Pak Bongok itu.
Sepasang suami istri itu tidur pulas dan kegembiraan. Sementara di sana Pak Bongok, tidur dalam kesedihan dan sejuta kekecewaan.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dayang dan suaminya telah mempersiapkan diri untuk ke pasar. Setelah semuanya siap, maka mereka pun berangkat ke pasar untuk menjual ikat pinggang Pak Bongok. Pikir suami Dayang mereka akan kaya raya. Mereka akan menjadi orang kaya baru di kampung itu.
Matahari telah sepenggalah naik dan memancarkan sinarnya yang amat terang. Sedangkan Pak Bongok baru bangun dari tidurnya. Dilihatnya ikat pinggangnya, akan tetapi hasilnya tidak ada. Pak Bongok terus mencari-cari ikat pinggangnya dimerata tempat. Ke sana ke mari Pak Bongok mencari ikat pingggangnya, ke depan dan ke belakang rumah, di gantungan pakaian, di lemari, semuanya sudah dicari oleh Pak Bongok. Namun ikat pinggangnya belum juga ditemukan, dan hasilnya tetap nihil.
Kemudian, Pak Bongok duduk sebentar dikursi tengah, ia menenangkan pikiran. Wajahnya tengadah ke langit-langit rumah. Tidak lama kemudian, baru Pak Bongok ingat akan peristiwa semalam, bahwa ikat pinggangnya telah tertingal di rumah Dayang. Pak Bongok mencaci maki si Dayang dan suaminya karena telah memperdayakannya.  
Untuk menghilangkan rasa kecewanya, Pak Bongok memutuskan untuk pergi ke pasar. Kemudian Pak Bongok berangkat ke pasar dengan berjalan kaki. Setibanya di pasar, Pak Bongok terasa haus dan ia ingin sekali minum air kopi di kedai kopi milik Pak Umar. Belum sempat Pak Bongok meminum air kopinya, tiba-tiba Pak Bongok melihat sepasang suami istri yang mirip dengan Dayang dan suaminya. Karena dipinggang suaminya terdapat ikat pinggang dari emas miliknya. Maka Pak Bongok langsung melaporkan hal itu kepada pihak yang berwajib.

Akhirnya, si Dayang dan suaminya ditangkap oleh orang yang berwajib untuk diadili karena mereka berdua telah melanggar hukum, yaitu menipu orang lain dan menyandaranya. Setelah si Dayang dan suaminya ditangkap, Pak Bongok merasa puas sekali. Sambil minum kopi di kedai kopi milik Pak Umar kenalannya, Pak Bongok berpikir sejenak. Pak Bongok berpikir bahwa kejahatan tidak akan berumur lama. Di samping itu pula, Pak Bongok juga sadar bahwa begitu penting dan berartinya pendidikan. Setelah menghabiskan dan membayar secangkir air kopinya, Pak Bongok pulang ke rumahnya dengan senang hati. Ia bernyanyi sambil bersiul-siul kecil karena ikat pinggangnya sudah kembali terpasang dipinggangnya dengan erat. Pak Bongok kelihatan gagah sekali pabila memakai ikat pinggang emas tersebut.

KEPUSTAKAAN 

Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...