Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "MUARE ULAKKAN"

MUARE ULAKKAN

Pada zaman dahulu, di daerah Sambas terdapat simpang tiga muara sungai yang terdiri dari sungai Subah di sebelah timur, sungai Tiberau di sebelah barat, dan sungai Serabe di sebelah utara. Ketiga sungai itu bermuara ke laut. Walau pun terletak di simpang tiga bermuara sungai, kehidupan penduduknya tidak seramai seperti di zaman ini. Penduduknya terdiri dari suku darat dan suku laut yang masih bersatu. Mereka jarang meresahkan tentang masalah pemimpin.
Alkisah pada suatu hari si Masam dan si Ribbas sedang berbincang-bincang di tepi sungai. Kali ini mereka membicarakan sesuatu hal yang tidak pernah dibahas oleh orang lain yang ada di desa itu, yaitu tentang siapa yang berhak memimpin penduduk di daerah itu, suku darat ataukah suku laut.
“Masam, siapa ya menurut kamu yang berhak menjadi pemimpin kita”, kata Ribbas kepada Masam mengawali pembicaraan.
“Sepatutnya orang laut yang menjadi pemimpin kita”, semua itu akan ada kebaikannya, baik bagi suku laut ataupun suku darat”, kata Masam yang berasal dari suku laut.
“Tidak mungkin!, orang darat yang paling dahulu menetap di sini, siapa yang lebih awal dialah yang menjadi pemimpin”, sahut Ribbas yang berasal dari suku darat.
“Tidak harus orang laut yang memimpin”, kata Masam dengan nada sedikit keras.
“Tidak!, orang daratlah yang berhak memimpin”, kata Ribbas yang tidak mau kalah dengan Masam.
“Baiklah, kami mengerti kalau sekiranya orang darat itu adalah orang asli di sini”, Masam melunakkan suaranya sambil mencari alasan lain yang dapat mematikan pendapat Ribbas.
“Dimanakah lalu lintas air berpusat?” tanya Masam kepada Ribbas.
“Di sungai”, jawab Ribbas singkat.
“Kemanakah sungai bermuara?” tanya Masam lagi kepada Ribbas.
“Di laut”, jawab Ribbas lagi.
“Kalau begitu orang laut yang menjadi pemimpin kita”, kata Masam lebih meyakinkan Ribbas. 
“Tidak bisa, orang darat lebih berhak untuk menjadi pemimpin kita”, teriak si Ribbas dengan emosi yang meluap-luap.
Muka Ribbas menjadi merah oleh karena menahan gejolak emosi di dadanya.
“O tidak, tidak bisa. Harus orang laut yang menjadi pemimpin kita”, balas Masam bersemangat pula.
Mereka berdua saling bertengkar, dan akhirnya mereka berdua berkelahi. Satu sama lain tidak ada yang mau mengalah. Permainan baku hantam semakin seru, sampai mereka terguling-guling di tanah, dan akhirnya mereka berdua jatuh ke dalam sungai. Perkelahian mereka pun terus berlangsung meskipun di dalam air. Tiba-tiba Mare datang dan berteriak histeris melihat pergulatan yang seru diantara Masam dan Ribbas.
“Hei Bujang, apa yang membuat kalian berkelahi …?!. Gadis mana yang kalian perebutkan…?”, tanya Mare kepada mereka berdua.
Masam dan Ribbas tidak memperdulikannya. Seakan-akan mereka tidak mendengarkan perkataan Mare tersebut. Mereka terus saja berkelahi dan terus bergulat di dalam air. Sesekali mereka timbul dan tenggelam di dalam air sungai itu. Lalu Mare teriak lebih keras lagi di hadapan mereka berdua.
“Hai Masam, Ribbas ! Berhenti”, teriak Mare sambil mengambil ranting kayu di pinggir sungai dan melempar kedua pemuda itu yang sedang berkelahi. Mendengar teriakkan Mare yang keras itu, mereka menghentikan pergulatannya di dalam air sungai. Kemudian mereka naik ke darat dengan nafas yang terengah-engah, pakaian mereka pun basah, dan muka mereka lebam-lebam akibat saling tonjok dan pukul.
“Nah, sekarang kalian jangan berkelahi lagi. Coba jelaskan kepada Kak Mare apa penyebab kalian berkelahi ?”, pinta Mare kepada kedua pemuda itu.
“Begini, Kak Mare, yang kami ributkan hanyalah masalah kecil saja. Siapa menurut kami yang berhak yang menjadi pemimpin di daerah ini?. Suku Darat atau pun Suku Laut”, kata Ribbas dengan suara tersendat-sendat membuka pembicaraan.
“Betul Kak Mare”, kata Masam menegaskan.
“Oooohhh … begitu, ceritanya”, kata si Mare sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Mengapa kalian sampai berkelahi hanya dengan mencari siapa yang menjadi pemimpin di daerah ini ?. Padahal, sedikitpun tidak ada untungnya bagi kalian berdua mempersoalkan masalah ini. Perlu kalian ketahui bahwa sejak nenek moyang kita dahulu antara Suku Laut dan Suku Darat tidak pernah berselisih paham sedikitpun mengenai masalah ini. Mereka selalu hidup berdampingan, rukun, dan damai”, kata Mare memberi penjelasan kepada mereka.
“Itulah Kak Mare, sudah seharusnya kita mengangkat seseorang yang mampu memimpin kita semua. Menurut saya, Suku daratlah yang lebih pantas untuk menjadi pemimpin kita semua”, Ribbas kembali berpendapat.
“Tidak, Kak Mare, menurut saya, Suku lautlah yang lebih berhak menjadi pemimpin kita”, bantah Masam tidak mau kalah.
Mereka saling beradu argumentasi sehingga suasana menjadi tegang kembali. Keduanya saling menatap, sedangkan Mare sibuk memikirkan dan mencari jalan keluar dalam memecahkan masalah yang diperdebatkan oleh Masam dan Ribbas. Ia menyusun rencana apa yang harus dilakukannya agar mereka tidak mempermasalahkan hal kepemimpinan lagi.
“Kalau begitu baiklah, sekarang Ribbas, kamu duduk di atas batu di pinggir sungai itu, sedangkan kamu Masam, tetap duduk di sini”, perintah Mare kepada kedua pemuda itu, kemudian Mare pun melanjutkan pembicaraannya.
“Beri saya kesempatan untuk memikirkan hal ini sejenak. Saya hendak berpikir dahulu untuk mencari jalan keluar yang terbaik dalam menyelesaikan masalah ini. Jadi sementara saya berpikir, kalian tidak boleh beranjak dari tempat duduk masing-masing”, kata Mare agak sedikit tegang.       
Masam dan Ribbas pun menurut, keduanya duduk termenung. Tidak ada yang dapat mereka lakukan, kecuali mengeringkan baju mereka yang basah itu. Matahari kian meninggi. Sedangkan si Mare belum juga berhasil menemukan akal untuk jalan keluar bagi menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Oleh karena terlalu lelah, Masam dan Ribbas akhirnya tertidur pulas ditempat duduknya masing-masing. Menjelang petang, Mare menemukan jalan penyelesaian yang dianggapnya lebih baik untuk menyelesaikan masalah mereka itu. Kemudian Mare pun memanggil mereka kembali dengan suara yang mengejutkan untuk mendekat kearahnya.
“Hai Masam …Ribbas … bangun !, saya sudah punya jawaban dari permasalahan yang kalian hadapi”, kata Mare dengan suara yang nyaring membangunkan kedua pemuda itu.
“Apa itu, Kak?”, tanya si Masam dengan penuh harap sambil mengusap-usap matanya.
“Hai Ribbas, cepat ke sini”, perintah Mare yang merasa kelelahan.
Mereka berdua segera mendekat ke arah Mare dengan mengajukan pertanyaan tentang jalan keluar yang telah direncanakan oleh si Mare.
“Apa jalan keluarnya, Kak?” tanya Masam dan Ribbas secara bersamaan.
Perasaan letih yang mereka rasakan menyebabkan mereka menjadi tidak semangat mendengarkan penjelasan Mare.
“Baiklah, kalau kalian bersedia menuruti apa yang Kakak katakan, persoalan ini akan beres dan tidak ada lagi pertengkaran di antara kalian berdua”, kata Mare seraya menyibakkan rambutnya yang panjang itu.
“Saya akan membuatkan perjanjian buat kalian berdua, agar anak cucu kita tahu bahwa kita telah membuat perjanjian tentang daerah kekuasaan kita. Kalian harus mengambil batu bekas reruntuhan Gunung Sibato’ yang dikalahkan oleh Gunung Senujuh. Akan tetapi batu yang diambil adalah batu yang paling besar yang menutupi aliran sungai di sana”, kata Mare kepada Masam dan Ribbas.
“Bagaimana cara kami membawanya, Kak Mare?”, tanya Ribbas kebingungan.
“Nah, kalian berdua harus membawa dengan rakit kayu kayan atau batang dungun yang hanyut di sekitar sungai sana”, jelas Mare.
“Baik Kak Mare”, ucap Masam dan Ribbas bersamaan tanda mereka mengerti dengan perintah si Mare.
Masam dan Ribbas mulai beranjak mau pulang meninggalkan si Mare. Tiba-tiba Mare memanggil mereka.
“Hai Masam … Ribbas …. ! Tunggu dulu”, kata Mare sambil berlari kecil menghampiri mereka mereka berdua, sehingga Mare tersandung kerikil-kerikil yang ada di jalan itu.
Ada apa lagi, Kak Mare ?”, tanya keduanya dengan nada kesal. Karena mereka sudah capek, dari tadi mereka belum makan sedikit pun.
Mare mengatur napas yang terengah-engah karena berlari kecil mengejar kedua pemuda itu.
“Untuk mengambil batu itu, kalian harus berangkat esok pagi dan kembali lagi ke sini saat air sedang pasang. Ingat itu, ya …! Jangan sekali-kali pada saat air surut”, kata Mare menjelaskan.
Masam dan Ribbas mengangguk secara bersamaan tanda mengerti. Selanjutnya mereka berjalan menuju tempat tinggalnya masing-masing. 
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Masam dan Ribbas sudah berangkat karena mereka takut terlalu sore tiba di tempat tujuan. Secara bergantian mereka bergantian mendayung sampan menuju Gunung Sebato’. Ketika matahari tepat di atas kepala, mereka tiba di mulut sungai Sambas yaitu jalan menuju Gunung Sebato’. Mereka beristirahat sejenak untuk mengisi perut mereka. Setelah selesai menyantap bekal yang telah mereka persiapkan, mereka segera melanjutkan perjalanan. Suasana diperjalanan begitu sunyi, padahal saat itu siang hari. Keduanya patut dijuluki ksatria. Tekad untuk menyelesaikan pertikaian membuat mereka berusaha untuk cepat sampai ketempat tujuan. Ketika matahari hampir sampai ke peraduannya, mereka tetap meneruskan perjalanan karena tempat yang dituju tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada. Selepas mega merah menghilang, Ribbas dan Masam telah sampai di tempat tujuan. Oleh karena rasa lapar, kemudian mereka menghabiskan bekal makanan yang masih tersisa. Setelah itu mereka beristirahat untuk melepas penat yang mereka rasakan karena seharian melakukan perjalanan dengan mendayung sampan. Dalam waktu yang sekejap saja mereka berdua telah tertidur dengan pulasnya.
Di dalam tidurnya, Masam dan Ribbas bermimpi. Ribbas bermimpi bahwa dirinya dapat membawa batu itu sendiri dengan bantuan makhluk halus yang ada disekitar hutan itu. Dengan sekejap ia berhasil membawa batu itu di Simpang Tiga tepat pada saat air sedang pasang. Oleh karena Masam tidak ada di tempat itu, akhirnya Kak Mare memutuskan bahwa Ribbas adalah raja di daerah itu.        
Lain halnya lagi dengan mimpinya si Masam. Masam bermimpi telah menjadi raja di daerahnya. Dengan keberhasilannya membawa pulang batu itu tepat pada saat air sedang pasang. Masam tidak mengayuh sampannya sendiri melainkan ia dibantu makhluk-makhluk halus yang mendayungkan sampannya sehingga kerjanya hanya menjaga batu yang telah diambilnya itu.
Mereka lagi hanyut dalam mimpi-mimpinya, hingga tidak terasa hari sudah pagi. Sinar matahari kian hangat terasa menyentuh tubuh si Masam dan si Ribbas. Masam dan Ribbas segera terbangun. Keduanya segera beranjak menuju sungai untuk membasuh muka mereka agar terasa segar kembali.
“Masam !, sebaiknya kita segera mengambil batu itu sekarang”, kata Ribbas sudah tidak sabar.
“Baiklah, tetapi kita harus mempersiapkan rakit itu terlebih dahulu. Apakah kamu telah menemukan kayu kayan dan batang dungun ?”, tanya Masam kepada Ribbas dengan agak resah.
“Sebaiknya kita bersama-sama berjalan ke tempat di mana batu itu berada. Menurut Kak Mare, kayu kayan dan batang dungun itu hanyut disekitar sungai sebelah sana”, kata Ribbas mengajak Masam.
“Baiklah”, kata Masam menyanggupi ajakan si Ribbas.
Keduanya berjalan menuju daerah sungai yang tertutup oleh pecahan batu Sinujuh dan Sibato’. Memang, kayu kayan dan batang dungun banyak yang terapung di sana. Oleh karena itu mereka langsung mengumpulkan beberapa batang dungun dan kayu kayan untuk dijadikan rakit. Sementara Masam menyusun batang dungun dan kayu kayan itu, si Ribbas mencari akar untuk dijadikan tali pengikat rakit. Masam sudah menyelesaikan tugasnya menyusun kayu-kayu yang akan dijadikan rakit, tetapi karena beberapa lama ia telah menunggu di pinggir sungai, si Ribbas belum juga kembali membawa akar sehingga ia harus turun kembali ke sungai untuk menyusun kayu-kayu yang bergerak oleh arus air yang agak deras. Sambil menyusun kayu-kayu itu, si Masam menggerutu karena perutnya mulai terasa lapar.
“Lama sekali si Ribbas datang, padahal aku sudah lapar sekali. Aku ingin mencari buah-buahan di dalam hutan untuk mengganjal perutku”, kata Masam sambil menggerutu dengan melihat ke arah depan kalau-kalau si Ribbas muncul dengan seketika.
Menjelang tengah hari, barulah si Ribbas datang dengan membawa akar-akar di pundaknya, dan ia pun langsung meminta maaf atas keterlambatannya kepada Masam.
“Maafkan aku, kawan. Tentunya engkau sudah lama menungguku, ya …”, kata Ribbas dengan tenangnya.
“Sudahlah, sebaiknya engkau segera mengikat kayu-kayu itu. Aku ingin mencari buah-buahan untuk mengisi perutku ini, yang sejak tadi sudah berbunyi. Perutku sudah sangat lapar sekali, sejak pagi tadi aku belum makan sesuatu apapun”, kata Masam memohon pengertian si Ribbas.
“Ehhh, tunggu dulu, kau tidak boleh seperti itu, Masam…!, ini tidak adil namanya”, protes Ribbas atas permintaan Masam.
“Apanya yang tidak adil ?. Aku sudah menyusun kayu-kayu itu, menunggu mu serta menjaga kayu-kayu itu agar tidak hanyut lagi, karena arus air yang agak deras”, kata Masam menjelaskan kepada si Ribbas.
“Aku telah mengambil akar-akar ini dan telah menyimpulnya agar menjadi panjang, jadi kita harus bersama-sama mengikatnya”, kata Ribbas menimpali.
“Jika demikian, baiklah aku akan membantu mu mengikat kayu-kayu yang telah tersusun itu dengan akar-akar panjang yang telah kau bawa”, kata Masam menyetujui dengan rasa berat hati karena ia menahan rasa laparnya.
Masam pun segera membantu si Ribbas mengikat kayu-kayu yang telah tersusun itu. Setelah selesai keduanya istirahat kembali dan Masam ingin mencari buah-buahan di dalam hutan. Oleh karena itu ia pun berpamitan dengan Ribbas.
“Kawanku, bolehkah aku pergi mencari buah-buahan di dalam hutan itu untukku makan ?. Perutku sangat lapar sekali”, izin Masam kepada Ribbas.
“Silakan, aku ingin beristirahat saja”, jawab Ribbas sambil menyandarkan punggungnya ke salah satu batang pohon somah.
“Kau tidak lapar, Ribbas ?”, tanya Masam lagi.
“Tidak, aku sudah makan tadi”, jawab Ribbas singkat.
“Kurang ajar, kau curang. Mau enaknya sendiri saja”, kata Masam ketus.
“Sudahlah, sebaiknya kau cepat pergi mencari makanan, supaya tenagamu kembali lagi dan siap untuk mendayung”, kilah Ribbas seraya memejamkan matanya karena ia mulai mengantuk.
Masam segera melangkah ke hutan untuk mencari buah-buahan. Hatinya sangat kesal dengan ulah temannya itu.
“Kali ini kau bisa membohongiku, tetapi lihat lain kali, akan aku balas perbuatanmu”, gumam Masam di dalam hati.
Di dalam hutan, Masam banyak menemukan buah-buahan. Masam makan dengan lahapnya, satu persatu buah-buahan dimakannya. Kini tenaganya sudah kembali lagi. Kini Masam sudah kenyang dan segar karena sudah banyak makan buah-buahan. Kemudian Masam pun kembali menemui si Ribbas. Masam takut nanti kesorean mereka pulang. Setelah tiba di tempat semula, tempat di mana rakit bersandar, dan Ribbas yang tertidur sambil bersandar di batang pohon somah. Dilihatnya si Ribbas masih mendengkur. Kemudian Masam pun membangunkan si Ribbas. Ribbas pun bangun. Melihat hari mulai sore, keduanya memutuskan untuk mengambil batu itu pada keesokan hari saja. Kemudian mereka pun tertidur karena kelelahan.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali si Ribbas dan Masam telah bersiap-siap untuk mengambil batu yang telah diperintahkan oleh Kak Mare. Mereka yakin bahwa, mereka dapat mengangkat batu-batu itu. Rakit sudah mereka persiapkan di dekat batu itu. Masam dan Ribbas bukanlah tipe orang yang lemah. Keduanya sangatlah kuat. Dengan mengarahkan seluruh tenaga, akhirnya kedua orang itu dapat mengangkat batu sebesar rumah lanting ke atas rakit yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Mereka sangat senang sekali, karena mereka sama-sama berhasil dapat membawa batu itu ke hadapan Mare yang telah memerintahkan mereka, sekalipun dengan perjuangan yang sangat berat, tetapi mereka puas dengan keberhasilan yang mereka dapatkan itu.
“Syukurlah kita berhasil”, kata mereka serempak sambil menghapus keringat yang bercucuran di dahi mereka karena kerja keras yang mereka lakukan itu.
“Tapi ingat …!”, lanjut Ribbas lagi.
“Kita harus tiba di sana pada saat air pasang”, tambah Ribbas mengingatkan si Masam.
“Ok …maka dari itu, kita harus cepat”, tambah Masam menimpali.
Masam dan Ribbas telah siap-siap untuk pulang. Setelah berada di atas rakit, mereka menjalankan rakit itu dengan sangat hati-hati. Siang itu air sedang pasang, Masam dan Ribbas terus menyelusuri sungai. Oleh karena timbulnya perasaan tidak yakin pada diri mereka tentang perjalanan yang mereka lakukan akan tiba di tempat yang ditentukan itu pada saat air pasang, akhirnya mereka bersepakat untuk beristirahat setiap kali air surut dan melanjutkan perjalanan pada saat air pasang kembali.
Sementara itu, si Mare sedang menunggu kedatangan mereka berdua. Kak Mare menunggu si Masam dan si Ribbas dengan perasaan yang gelisah. Ia khawatir kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh kedua pemuda itu. Si Mare setengah menyesal karena ia telah mengusulkan untuk melakukan hal itu. Sebenarnya, si Mare ini di kampungnya dikenal seorang yang bodoh dan sakit ingatan. Walaupun si Mare agak bodoh dan terganggu ingatannya, tetapi ia mampu menjadi penengah dalam pertikaian antara si Masam dan Ribbas itu. Usul itu dapat diterima oleh akal sehat sekalipun harus memakan waktu yang sangat lama dalam melakukannya.
Oleh karena kebimbangannya pada keselamatan kedua pemuda itu, maka setiap hari ia mengawasi orang yang datang dari Sebawi dan Sibato’. Akhirnya setelah tujuh hari tujuh malam, sampailah kedua pemuda itu di simpang tiga muara itu. pada saat itu, kebetulan si Mare tidak berada di tepi sungai seperti biasanya pada beberapa hari yang lalu. Sesampainya mereka di pinggir sungai itu, mereka pun langsung memanggil Mare.
“Kak, Mare !, kami datang !”, teriak mereka berdua secara serempak.
Dari sebelah darat terlihat si Mare sedang berlari-lari kecil menuju ke arah Ribbas dan Masam. Mare bersukur karena kedua pemuda itu dapat tiba dengan selamat. Mare segera menanyakan hasil yang mereka peroleh.
“Apakah kalian sudah mendapatkan batunya ?”, tanya Mare bersemangat.         
“Ya, Kak, itu batunya”, jawab Ribbas seraya menunjukkan batunya di tepi sungai.
“Besar sekali, baiklah sekarang kita buat perjanjian bersama-sama. Kalau batu itu timbul setelah diceburkan, maka si Ribbas dari orang Darat menjadi raja dan orang Laut pun harus menuruti perintahnya, tetapi andaikata batu ini tenggelam atau tidak timbul lagi setelah diceburkan, maka si Masam dari orang Laut yang menjadi raja dan ia berhak memerintah orang Darat pula”, jelas si Mare kepada si Masam dan si Ribbas.
Si Masam dan si Ribbas menyepakati perjanjian itu. Kemudian si Mare menyuruh Masam dan Ribbas untuk melemparkan batu itu ke dalam air.
“Satu, dua, tiga”, demikian Mare memberi aba-aba.
Setelah Mare memberi aba-aba dengan serempak pula Masam dan Ribbas menyeburkan batu itu ke dalam air sungai. Batu yang besar itu terlempar ke dalam air, sehingga berpecahlah air sungai itu ke daerah-daerah di sekitarnya. Air itupun bergelombang oleh batu yang sebesar rumah lanting. Oleh karena batu itu tidak timbul lagi ke atas permukaan air, akhirnya si Ribbas turun ke sungai untuk menimbulkan batu itu. Dengan bersusah payah Ribbas mengangkat batu itu agar batu itu muncul ke permukaan. Walhasil air terus berputar di daerah itu. Oleh karen air itu terus berputar sehingga daerah itu dinamakan Muare Ulakkan.
Muare dalam bahasa Melayu Sambas berarti muara, sedangkan Ulakkan berarti berputar-putar. Setelah itu maka perjanjian yang mereka sepakati itu dilaksanakan dan ditepati juga oleh mereka berdua, sehingga orang Lautlah yang berhak menjadi pemimpin bagi orang Laut sendiri dan juga bagi orang Darat.
Muare Ulakkan tidak dapat dilihat apabila saat hujan yang disertai dengan panasnya matahari. Oleh karena pada saat seperti itu airnya berhenti berputar. Menurut masyarakat sekitarnya bahwa hantu penunggu muara itu sedang menjaring. Yang dimaksud dengan menjaring adalah pelangi yang muncul pada saat hujan yang disertai dengan panas. Orang-orang Sambas menyebutnya dengan sebuatan hujan panas.

   KEPUSTAKAAN 

Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...