Senin, 21 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "MAK MIDDING"

     
Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "MAK MIDDING"
Midding/Pakkok Dayak
Tersebutlah sebuah kisah di sebuah desa terpencil di Kabupaten Sambas, tinggallah seorang perempuan tua bersama seorang anaknya yang bernama Mahoni yang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, atau sama juga dengan anak dara tua. Nama ibunda Mahoni adalah Timmah. Orang-orang kampung di tempat tinggal mereka menyebutnya dengan sebutan Nek Timmah. Tidak jauh dari kediaman Mahoni ini tinggal seorang anak bersama ibunya yang bernama Mak Midding, sedangkan anaknya itu bernama Mohyani. Sebenarnya hubungan antara Mahoni dengan Mak Midding itu bukanlah orang lain, mereka masih bersaudara. Perbedaannya hanya terletak dalam hal kekayaan. Mahoni yang tinggal bersama ibunya itu hidup di dalam suasana yang serba berkecukupan. Rumahnya bagus, ternak peliharaannya pun banyak. Demikian juga dengan kebunnya yang selalu menghasilkan buah-buahan yang melimpah. Untuk hidup yang hanya dua beranak, kekayaan Mahoni itu dapat dikatakan lebih dari cukup.

Sebaliknya Mak Midding bersama anaknya Mohyani hidup di dalam suasana kehidupan yang serba kekurangan. Apa yang diperolehnya hari ini, tidak cukup untuk makan berdua. Syukur-syukur jika hasilnya hari ini bisa cukup untuk makan pada hari itu juga. Terkadang apa yang diperolehnya itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk menyisihkan sedikit penghasilan demi hari esok.
Perbedaan lain antara kedua keluarga ini adalah bahwa bibinya ini terkenal dengan sifat pelit dan kikir. Lain halnya dengan ibunya, Mak Midding lebih terkenal dengan kemurahan hati dan keramah-tamahannya. Bagi Mahoni, apa-apa yang telah diperolehnya jarang sekali atau boleh dikatakan tidak pernah dibaginya dengan tetangganya. Sedangkan Mak Midding walaupun penghasilannya pas-pasan, masih sanggup juga untuk menyisihkan hasil jerih payahnya untuk tetangga.
Setiap hari Mak Midding, kerjanya hanyalah pergi ke hutan belukar mencari dan mengumpulkan sejenis pakis yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama midding. Pakis ini ia kumpulkan untuk dijual ke rumah-rumah tetangga di sekitar tempat tinggalnya dan hasil penjualan pakis itu mereka pergunakan untuk memenuhi keperluan hidupnya sehari-hari. Oleh sebab itulah, sehingga masyarakat di kampungnya menyebut namanya dengan sebutan “Mak Midding”.
Pada suatu hari, Mak Midding memanggil anaknya lalu berkata kepada Mohyani.
“Oi ….. Ni ….. Nii, Umma’ nak paggi dolo’, kau jage rummah i …..”, kata sang ibu dengan penuh percaya diri.
“Aok be Mak, ati-ati jak, Ummak e care’ midding e … biar aku yang jage rummah”, sahut Mohyani. Nama Mohyani lebih dikenal orang dengan sebutan Yani.
Ibunya pun pergilah ke dalam hutan dengan membawa perlengkapan seperti yang sering dipergunakannya untuk mencari pakis. Capel di kepala, tangkin di gendong di belakang dan tidak lupa pula membawa bekal kapur sirih dan tembakau untuk ia menyugi. Berjalanlah Mak Midding perlahan-lahan di antara pepohonan sambil sesekali memetik tangkai midding (pakis) yang masih segar. Sudah merasa cukup dengan hasil midding yang diperolehnya dan kelihatannya matahari pun sudah mulai tinggi pertanda hari sudah siang. Lalu Mak Midding pun pulang menuju rumahnya. Midding tidak langsung dibawanya pulang ke rumah, tetapi dijualnya dulu ke rumah tetangga dengan harapan dapat ditukar dengan beras dan garam. Demikianlah pekerjaan Mak Midding dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun. Waktu terus berlalu, hingga kini Yani sudah mulai menginjak usia sekolah. Kalau nasib kurang mujur, kadang-kadang Mak Midding pulang tanpa membawa beras dan garam.
Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, pada suatu pagi Mak Midding jatuh sakit. Mak Midding memanggil Mohyani.
“Nii ….. Ni”, panggil Mak Midding kepada Mohyani.
“Iya, Mak. Ada apa, Mak …?”, tanya Mohyani kepada ibunya Mak Midding.
“Aduuuuh ….. aduuuhhh ….., aku sakit, Ni, ndak rabbah aku na’ midding ari to’ ke uttan, Ni”, kata Mak Midding kepada Mohyani sambil merintih kesakitan.
“Mane barras kite udah abis, Ni. Bagaimane carenye kitte nak makan to’, Ni?”, tambah Mak Midding kepada Mohyani.
“Ooh Mak, bagus aku paggi ke rumah Mak Ussu. Aku na’ minjam barras barang dua’ canting”, kata Mohyani kepada ibunya Mak Midding.
“Aok beh Nong, mun dipinjamme’-‘eng, cobe we kau paggi dolok ke rummah Mak Ussumu e”, kata Mak Midding kepada Mohyani.
“Aoklah Mak, aku paggi dolok Mak i?”, kata Mohyani kepada ibunya.
“Aok, ati-ati dijalan e”, kata Mak Midding berpesan kepada anaknya.
Jadi berangkatlah Mohyani menuju rumah bibinya Mahoni, dengan harapan akan mendapatkan pinjaman beras barang (sekitar) secanting atau dua canting (sekaleng atau dua kaleng). Langkah demi langkah yang kadang-kadang diselengi dengan berlari-lari kecil tibalah Yani atau Mohyani di rumah bibinya.
“Oi Mak Su, Mak Su”, panggil Mohyani dari luar rumah Mak Su nya (bibinya).
“Kau ke Ni … ade ape …? Naiklah Ni …..”, sahut bibinya dari dalam rumah.
“Duddok, Ni”, kata bibinya kepada Mohyani.
“Iye, Mak Su … Mak Kaseh”, jawab Mohyani.
“Kak, ye …ade ape, Ni?”, tanya bibinya kepada Mohyani.
“Ummak be sakit, sedangkan kamek uddah kehabissan barras. Rasenye be, nak minjam barras, rang si canting atau dua’ canting”, sambung Mohyani.
“Eh … ndak jarreh be nak minjam ye. Kallak kau ku barrek barras rang sicanting, asalkan maok nguttu aku”, kata Mohani.
“Bagaimane Ni, maok ke?” tanya bibinya.
 “Aok we Mak Su. Ape salahnye we”, jawab Mohyani kepada bibinya.
Mohyani pun dudukah di belakang bibinya sambil mencari kutu di kepalanya. Lama juga menghilangkan kutu yang ada di kepala bibinya itu. Setelah beberapa jam berlalu, selesailah sudah tugas yang dilakukan oleh Mohyani, yaitu menggutu bibinya.
“Dah sek age’ macam nye tok e, Mak Su guttunye. Tang ndak ade age’ yang ku liat tok e” kata Mohyani kepada bibinya.
“Ye ke … Mun dah dissek agek e, uddahlah. Kau balik udek”, jawab bibinya.
Kemudian, pulanglah si Mohyani ke rumahnya dengan membawa secanting beras. Setibanya di rumah, Yani pun segera memberi tahu kejadian itu kepada ibunya.
“Oh Mak, Mak. Ade mak e barrasnye, tappi cume secanting na-‘ang, Mak”, kata Mohyani kepada ibunya Mak Midding.
“Tak apelah, syukor bannar Mak Ussumu maok minjammek, biar sicanting” jawab ibunya.
“Cobe kau masak barras iye”, tambah Mak Midding kepada anaknya Mohyani.
“Aok Mak. Aku ke dapor lok i”, kata Mohyani kepada ibunya.
“Aok”, jawab ibunya singkat.
Beraspun segera dimasak oleh Yani, karena ia tahu pasti ibunya sudah lapar. Tanpa dikira dan dibayangkan, dan tanpa permisi kepada Mohyani atau Mak Midding, bibinya Mahoni masuk ke rumah Mak Midding dengan tergopoh-gopoh serta dengan suara yang agak nyaring.
“Oi Ni, Ni, kau be mbulaek aku. Jimmu be guttu di kepalak ku uddah abis, nyatenye be maseh ade tok e … waktu ku sisser, ade nang belabbik. Kaccik-kaccik kau dah pandai nak bullak i”, kata sang bibi kepada Mohyani.
“Mun gayye, aku ndak jadi nak marrek kau barras”, lanjut si Mahoni marah.    
Rupanya dengan adanya kutu yang jatuh dari rambutnya Mahoni menjadi sangat marah sehingga keluarlah kata-kata dari mulut Mahoni yang tidak sedap didengar telinga. Lebih-lebih beras yang telah diberikannya kepada Yani akan diambilnya kembali. Dengan muka yang agak pucat berbaur dengan perasaan yang sedih, Mohyani berkata kepada bibinya.
“Oh Mak Su, Mak Su, barras nang Mak Su barrekkan uddah kumasak, sadangkan kencengnyepun maseh tijarang di atas tungkok nun we”, kata Yani menjelaskan kepada bibinya.
Dengan tanpa merasa kasihan, bibinya terus menuju dapur mengangkat belanga’ yang masih tijarang seraya mengeluarkan isinya. Isinya (nasi) diletakkan di atas daun pisang, yang kebetulan pula ada daun pisang di atas kayu api. Nasi itu lalu dibungkus oleh Mahoni, dan tanpa bicara lagi langsung ia bergegas pulang ke rumahnya. 
“Saggal lalu Mak Ussu, cume gare-gare sekkok guttu sampai ati die ngambek nasek nang udah dijarangkan. Mudah-mudahan die dapat hukuman, dapat balla yang setimpal dangngan perbuatanye”, guman Mohyani. 
“Uddahlah Nong, Nong…mungkin uddah nasseb kitte. Nang panting kitte ndak boleh bebuat jahhat dangngan urrang”, kata ibunya menentramkan hati anaknya, Mohyani.
Sisa-sisa nasi yang masih melekat di dalam belanga itu dikumpulkan oleh Mohyani, tetapi apa hendak dikata lagi, nasi yang melekat di dalam belanga itu satu dua sendok saja. Itupun dalam bentuk kerak nasi yang agak hangus. Nasi hangus itulah yang mereka makan.  
Selang beberapa hari kemudian, melihat keadaan yang semakin memprihatinkan berkatalah Yani kepada ibunya yang terbujur di pembaringan karena sakit.
“Mak, Mak, bagaimane mun aku ajak yang incarek midding ke uttan. Ummak kan maseh sakit. Nak minjam dangngan mak Ussu, gayyelah rupenye die, Mun ndak ade nak dimakan, badan Ummak kallak mangkin lammah. Yani takut Ummak kallak kenape-nape”, kata Mohyani kepada Mak Midding dengan sedikit nada memohon.
“Mun kau dah maok, paggilah Nak, tappi ati-ati di jalan, ati-ati di uttan. Di uttan banyak ullar, lippan, kale, intiggik, dan macam-macam agek”, kata Mak Midding perlahan-lahan berbicara kepada anaknya Mohyani.
Mohyanipun pergilah ke hutan sambil menggendong bakul dan membawa sebilah parang. Waktu itu hari sudah agak sore. Tidak seperti biasanya, kali ini Mohyani mencari midding di sore hari selepas sembahyang Asyar. Dipetiknya midding satu persatu, sehingga terkumpullah untuk makan sore itu. Asik sekali Mohyani memetik midding di sore itu. Ketika ia lagi asik-asiknya memetik midding. Tiba-tiba Mohyani dikejutkan oleh seekor ular besar, ular phiton (ular sawak). Namun, dilihatnya ular phiton itu terjepit disebuah pohon. Oleh karena ular itu sudah terjepit dengan keadaannya yang demikian, Mohyani tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berkata kepada ular tersebut dengan suara yang lemah lembut.
“Oi ….. Sawak, mun kau nak makan aku, makanlah ….. Aku jak urrang miskin, ummak ku sakit. Aku incarek midding jak kan ummakku, kan kamek makan”, kata Mohyani kepada si ular sawah.
Di luar dugaannya, dikiranya ular itu setiap saat dapat saja membelit dan menelannya. Akan tetapi sebaliknya, ular itu membalas kata-kata Mohyani dengan lembut pula.
“Ndaan, aku jak ndaan nak makan kau, malah aku nak mbantok kau”, ujar ular sawah tersebut.
“Tappi maok ke kau nullong aku. Mun kau maok, bawaklah aku ke rumahmu”, lanjutnya.
“Bagaimane carenye”, tanya Mohyani kepada si ular phiton atau ular sawah tersebut.
“Gampang ye be, tarik ajak we ekokku. Aku jak daan barrat. Cobelah …..!”, kata si ular kepada Mohyani.
Mohyanipun pelan-pelan dengan perasaan agak takut mulai menarik ekor ular tersebut hingga datang ke rumahnya tanpa merasa lelah sedikitpun. Setelah tiba di rumahnya, ular sawah tersebut disuruh oleh Mohyani melingkar di bawah rumahnya. Kemudian Mohyani menyiangi midding yang didapatnya untuk makan malam bersama ibunya tercinta. Setelah selesai memasak midding, merekapun memakan sayur midding dengan lahapnya. Maklum hanya midding saja yang tersedia pada saat itu. Untunglah tidak seorangpun yang tahu bahwa Mohyani membawa ular besar itu ke rumahnya, sehingga keadaan tetap tenang dan aman. Namun setelah makan dan hampir tiba waktu sholat Isya, Mohyani berkata kepada ibunya.
“Mak ….. tade’ we waktu aku incare’ midding, aku be meliat ullar bassar innyan, Mak. Ullar sawak, Mak”, kata Mohyani kepada Mak Midding.
“Mane diye?”, tanya ibunya kepada Mohyani. 
“Ndak ke die ngi’git kau”, tanya ibunya lebih lanjut kepada Mohyani.
“Ndak be Mak, katenye die jak nak nullong kitte. Die nak tinggal same-same dangngan kitte, katenye Mak”, kata Mohyani menjelaskan kepada ibunya.  
Setelah Mohyani dan Mak Midding makan malam, terdengarlah suara yang begitu pelan namun sangat jelas terdengar dari bawah rumah Mak Midding. Suara itu memanggil-manggil Mohyani. Suara itu tiada lain adalah suara si ular phiton atau ular sawah yang berada di bawah rumah Mohyani.
“Ooooooi Ni, Ni, dah lama aku terbaring di bawah rumahmu. Tapi, sampai kin itto’, aku ballom mendengar kau masak nase’. Nang kau makan dangngan ummakmu cume sayok midding nak ‘ang. Ape ke kitta’ se’ be barras?”, tanya si ular sawah yang berada di bawah rumah Mak Midding.
“Jak dah innyan sawak e. Dah lamak kamek ndak merase barras, sibuttekpun ndak ade nak dimasak”, ujar Mohyani kepada si ular sawah atau ular phiton.
“Berape ari yang lalu be, aku paggi ke rumah Mak Ussuku, aku nak minjam barras. Tappi, kate Mak Ussuku, die maok marrek sicanting, tapi dangngan syarat, aku harus nguttu die dolok. Dah lakkaklah aku nguttu Mak Ussuku, barroklah aku dibarreknye barras sicanting. Tappi be, taggal maseh ade sekkok guttu yang belabbik dari kepalaknye, barras nang sicanting iye diambeknye agek”, lanjut Mohyani kepada si ular sawah.
“Kajjam lalu Mak Ussumu i. saggal lalu diye dangngan kittak” kate si ular sawah kepada Mohyani.
“Sek lalu ke barras kittak? Cobelah liattek, kallu-kallu ade di timpayan marrassan dua tigge igek”, lanjut si ular sawah kepada Mohyani.
Memang sebelumnya di dalam tempayan itu sudah ada sebiji keminting, sebuah batu kecil, dan sebatang paku. Ketiga benda tersebut ditemukan oleh Mak Midding sewaktu dia mencari midding disekitar rumahnya. Karena dianggapnya aneh, lalu disimpannya ketiga benda tersebut di dalam tempayan tempat menyimpan beras. Orang Sambas biasanya menyebut barang tersebut dengan sebutan “pekarras“ buat beras agar tidak didatangi oleh hantu sarrau (boros).
Kemudian Mohyani melihat tempayan tempat mereka menyimpan beras.
“ ‘A … ade tige buttek, Wak”, kata Mohyani kepada sang ular sawah.
“Maok di apekan to’ e, dimasak ke?”, tanya Mohyani pula.
“Eh mane cukup we”, jawab si ular.
“Buatkan aku kassai lager”, pinta si ular sawah kepada Mohyani.
“Untokkan ape, Wak?”, tanya mohyani keheranan.
“Ehh, ndak usah ditanyakkan ‘age’. Cumme passanku, mun kittak bangun tangngah malam, ussah nak tikajjut ajak i”, kata sang ular sawah kepada Mohyani.
Mohyanipun mengambil ketiga beras tersebut dan menumbuknya di dalam lesung batu. Kemudian diberinya air sedikit sehingga menjadi agak kental. Kemudian Mohyani mengikis-ngikis kulit pohon lager. Setelah kikisannya dirasa Mohyani cukup, maka disatukannya dengan tepung beras tersebut. Dan diletakkannya kassai lager (tepung beras dicampur kikisan kulit kayu lager) tersebut di atas sehelai daun dan diserahkannya kepada sang ular.
Ketiga butir beras yang ditemukan Mohyani dicelah buah keminting itulah, oleh ular diminta agar Mohyani membuatnya menjadi tepung. Dan tepung itu diberi sedikit air sehingga menjadi cairan kental, ditambah sedikit kikisan kulit kayu lager, yang disebut dengan kassai langger. Oleh sang ular, kassai langger itu nantinya akan dipoleskan di sekeliling keningnya seperti layaknya seorang pengantin wanita agar tampak cantik dan berseri.
Setelah semuanya beres, Mohyanipun masuk ke kamarnya mendampingi ibunya yang sudah sejak dari tadi berbaring melepaskan lelah. Keadaan semuanya hening, dan tidak lama kemudian merekapun tertidur. Sang ular sawah mulailah dengan rencananya. Kassai langger yang sudah ada di dekatnya, diambil dan dipoleskan disekeliling keningnya sambil membaca mantera dan berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga dirinya dikembalikan kepada wujud aslinya. Dengan kekuasaan Tuhan yang telah mengabulkan do’a sang ular. Perlahan-lahan wujud ular itu berubah menjadi manusia. Berkat do’a sang ular, rumah Mak Middingpun berubah menjadi sebuah bangunan yang indah seperti istana raja. Memang sang ular sebelumnya adalah seorang putera raja. Tetapi karena suatu kesalahan yang diperbuatnya, ia disumpah berubah menjadi wujud seekor ular sawah yang besar. 
Begitu kokok ayam pertama terdengar, sang putera raja kembali menjadi ular. Kemudian Mak Midding dan Mohyanipun terbangun dari tidurnya yang lelap. Alangkah kagetnya mereka berdua, karena rumahnya yang tadinya reot sekarang telah berubah menjadi seperti istana. Tidak hanya itu, semua pakaian yang melekat di badan mereka semuanya telah berubah menjadi baru dan indah. Mereka juga mempunyai perhiasan-perhiasan yang indah gemerlapan melingkari pergelangan tangannya dan jari mereka. Mak Midding dan Mohyani menjadi bingung dan keheranan. Mereka saling pandang, dan Mohyani berkata kepada ibunya, Mak Midding.
“Ittok di barangkali Mak, nang dikatekan Sawak e, kittak ussah nak tikajjut, kate si ular kepade kitte simalam e”, kata Mohyani kepada ibunya.
“Aok di Nong kallinye, kitte jak miskin. Ittok juak barangkali Tuhan Yang Maha Kuase nak nullong kitte, tapi lewat si Sawak”, sahut Mak Midding pula.
Teringat akan sang ular sawah, mereka berdua bergegas mendatanginya dan memanggilnya. Kali ini sang ular sudah berada di tempat tidur yang indah.
“Oi ….. Sawak, trima’ kaseh i, atas bantuanmu ngan kame’. Mun ndak gayye ndak mungkin kame’ na’ gai-tok”, kata Mak Midding kepada si ular sawah atau ular phiton.
“Mak kaseh atas bantuannye i ngan kame”, tambah si Mohyani kepada si ular.
“Aok be, yang namenye kitte iddup tantulah saling membantok”, jawab sang ular.
“Mun kittak ndak kebarattan, aku be rase nak minta’ tullong buatkan kelambu tujjoh lapis. Lapis pertame warnenye ittam, lapis kedua’ warnenye putteh, lapis ketige warnenye kunning, lapis keempat warnenye ijjau, lapis kelimma’ warnenye putteh agek, dan lapis keannam warnenye kunning agek, yang terakher ke tujjoh warnenye ittam agek”, pinta sang ular sawah kepada Mak Midding dan Mohyani.
Oleh karena telah dibantu, tanpa banyak bicara Mak Midding beserta anaknya Mohyani dengan senang hati menerima permintaan itu untuk membuat kelambu tujuh lapis dengan warna-warna yang sudah disebutkan oleh si ular sawah tersebut. Dengan kehidupan mereka seperti itu, Mak Midding dan anaknya Mohyani semakin merasa dekat dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka juga dekat kepada orang-orang kampung apalagi kepada tetangga-tetangganya mereka tidak segan untuk memberikan bantuan.
Pada suatu hari, berita tentang kekayaan dan kemurahan hati Mak Midding terdengar di telinga Mahoni, bibinya Mohyani.
“O, Mak!, Aku rase nak nyumpaek cuccokmu dolok. Dah lamak aku ndak ke rumahnye. Ummak tinggal i?”, kata Mahoni kepada ibunya, Nek Timmah.
“Aok …”, jawab ibu Mahoni singkat.
Setelah memberitahukan keinginannya, Mahonipun berangkatlah menuju rumah Mak Midding saudaranya itu. Setelah Mahoni tiba di tempat saudaranya Mak Midding, Mahoni begitu kaget dan terbengong-bengong menyaksikan di tempat rumah Mak Midding dan Mohyani itu telah berdiri sebuah bangunan indah bagaikan istana raja.
“Tang bagus innyan i, ittok ke rumah Mohyani”, kata Mahoni dengan suara yang agak keras keheran-heranan menyaksikan rumah yang begitu indah. Rumah yang selama ini tidak pernah dilihatnya sama sekali. 
“Ohhh … Mak Ussu ke?”, tanya Mohyani.
“Naiklah Mak Su, silekan naik”, lanjutnya kepada bibinya. 
Dengan perasaan gembira, Mohyani segera melayani bibinya dan menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi terhadap mereka. Seolah-olah Mohyani telah bersuamikan seekor ular sawah yang besar. Setelah agak lama berada di rumah keponakannya itu, Mahonipun pulang. Namun sebelumnya, ia berpamitan dengan Mak Midding dan Mohyani keponakannya. Setibanya di rumah, apa yang telah didengar dan dilihatnya, diceritakannya lagi kepada ibunya Nek Timmah. Sehingga Mahonipun ingin mencoba berbuat seperti apa yang telah dilakukan oleh keponakannya, si Mohyani.
“Mak …. Mak, aku be tang carrat innyan nak incarek midding juak”, kata Mahoni kepada ibunya.
“Ussah nak berani gillak, Ni. Banyak ullar di uttan ye. Ape age’ ari dah sore to’ e”, bantah Nek Timmah.
“Tappi, Mak. Aku kan carrat juak nak macam Mohyani. Masak die bisse, aku ndak bisse”, rengek Mahoni meminta izin kepada ibunya.
“Aoklah dah mun gayye maokmu e. ati-ati ajak di uttan e”, kata ibunya mengizinkan.
Oleh karena niat dan hasrat Mahoni yang kuat, sehingga ia berkeinginan untuk meninggalkan rumahnya pergi ke hutan rimba untuk mencari midding (pakis). Namun yang ada di dalam hatinya hanya untuk mencari atau untuk menjumpai ular yang besar seperti keponakannya. Setelah sekian lama berjalan masuk hutan belantara yang lebat. Tidak lama kemudian Mahonipun melihat seekor ular yang sangat besar. Besar ular itu sama persis sebagaimana apa yang diceritakan oleh Mohyani kepadanya. Mahoni mencoba berbuat seperti apa yang telah dilakukan oleh Mohyani. Namun, apa yang terjadi? Kejadiannya tidaklah sama sebagaimana yang diharapkan oleh Mahoni. Apa hendak dikata, niat dan harapan Mahoni tidak pernah kesampaian. Ular yang ditarik ekornya itu, serta merta berbalik langsung mematuk badan Mahoni. Sehingga dengan seketika itu juga ia pingsan dan akhirnya meninggal dunia.
Setelah kejadian itu, ular yang berada di rumah Mohyani dan Mak Midding dengan seketika berubah wujud menjadi seorang putera raja. Seorang manusia yang gagah perkasa dan ganteng rupanya. Putera raja tersebut akhirnya mempersunting Mohyani menjadi istrinya yang sebenar, tidak seperti waktu ia menjadi ular. Mereka kini tinggal serumah tidaklah sama dengan waktu ketika ia menjadi seekor ular sawah. Sejak hari itu mereka hidup dengan damai dan dalam suasana yang bahagia. Kejadian yang menimpa Mahoni adalah pembuka kutukan atau sumpahan yang dialami oleh si putera raja.

KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...