Senin, 21 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "KERAJAAN JAYA SAMUDRA"

KERAJAAN JAYA SAMUDRA


Alkisah, menurut yang empunya cerita, bahwa pada zaman dahulu kala, di pantai utara daerah Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sambas, terdapatlah sebuah kerajaan yang cukup besar. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Jaya Samudra. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang gagah berani, Indera Perkasa namanya. Beliau memerintah di dampingi permaisurinya yang cantik jelita.
Prabu Indera Perkasa mempunyai tiga orang anak. Ketiganya wanita atau gadis yang amat cantik seperti ibunya. Anak beliau yang sulung bernama Dewi Puspa, sedangkan putri yang tengah bernama Dewi Kumala, dan yang nomor tiga bernama Dewi Indah Sari.
Kerajaan Jaya Samudra adalah sebuah kerajaan maritim, karena sebagian besar rakyatnya hidup dari pelayaran dan perdagangan. Kerajaan ini juga memproduksi garam yang mereka buat dari air laut. Garam-garam yang banyak itu mereka jual ke kerajaan lain.
Selain yang tersebut di atas, Kerajaan Jaya Samudra ini memiliki para panglima dan pahlawan yang tangguh-tangguh. Mereka ini sangat mahir mempergunakan senjata. Diantara para panglima raja ada juga orang Cina. Orang-orang Cina ini pada mulanya adalah bajak-bajak laut yang saat itu berkeliaran di Tanjung Datok dan Selat Karimata. Mereka ditangkap oleh angkatan laut kerajaan. Akhirnya mereka bersumpah setia kepada raja dan akan mengabdi pada kerajaan. Ada juga diantara mereka yang kawin dengan gadis-gadis melayu. Kebiasaan kawin silang itu terus berlangsung turun-temurun hinggalah sekarang. Para panglima ini adalah jago-jago kungfu, tembong, toya, dan banyak lagi senjata lainnya yang sudah menjadi menu bagi mereka sehari-hari. Hal ini tidak mengherankan, karena saat itu kawasan ini merupakan ajang perkelahian dengan bajak-bajak laut yang ganas dan buas. Kerajaan Jaya Samudra berkewajiban melindungi rakyatnya dari gangguan para bajak laut, melindungi pelayaran dan perdagangannya.
Pada suatu hari Prabu Indera Perkasa, raja Kerajaan Jaya Samudra ini ingin mengetahui betapa besar kasih sayang ketiga putrinya yang telah dewasa itu kepada dirinya. Maka sepengetahuan permaisurinya, ketiga putri itu segera dipanggil untuk menghadap baginda raja.
Ketiga putri ini semuanya cantik jelita membuat hati berdebar-debar bagi siapa yang melihatnya. Jika kita meminjam istilah lama “wajah bak bulan purnama, rambut tebal hitam mengkilat bak mayang yang mengurai, terurai sampai ke tumit, mata tajam seperti bintang kejora, kulit mulus dan halus bagaikan salju puncak Himalaya, hidung mancung bagaikan seludang, pinggang nan ramping bak sebuah biola, berleher jenjang, air diminum tampak berbayang”. Cantik bukan? Sungguh sempurna Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakannya. Tiada kata-kata lagi untuk menggambarkan betapa cantiknya ketiga putri sang raja. Mungkin Khahlil Gibran yang banyak kata-kata untuk melukiskan kecantiakan tiga dara tersebut.
Setelah ketiga putri itu datang, bersabdalah baginda:
“Wahai ananda Dewi”, kata sang Prabu Indera Perkasa kepada Dewi Puspa, putri sulungnya yang telah berada di hadapannya.
“Ampun Ayahnda”, jawab Dewi Puspa.
“Ananda menghaturkan sembah bakti kepada Ayahnda Prabu dan Ibunda”, tambah Dewi Puspa.
“Kuterima sembah baktimu, ananda Dewi”, kata Sang Prabu Indera Perkasa.
“Perlu ananda ketahui, ayah dan ibu sangat sayang kepadamu. Sejak kecil engkau kupelihara dan kumanjakan dengan penuh cinta dan kasih. Berbagai permintaanmu semuanya Ayahnda turuti, sehingga kini engkau menjadi dewasa. Sekarang ayah dan ibumu ingin sekali mendengar pernyataanmu, sebesar apakah kasih sayangmu kepada ayah dan ibumu, Dewi?” tanya Sang Prabu Indera Perkasa kepada anaknya Dewi Puspa.
“Ampun beribu ampun Ayahnda Prabu”, jawab Dewi Puspa kepada ayahndanya.
“Betapa besarnya rasa kasih sayang anaknda kepada ayahnda dan ibunda, tidak dapat anaknda gambarkan dengan kata-kata. Seandainya boleh anaknda perumpamakan, kasih sayang itu bagaikan besarnya rasa senang diri anaknya pada perhiasan emas, intan, dan mutiara yang gemerlapan”, tambah Dewi Pusta kepada Sang Prabu Indera Perkasa.
Mendengar pernyataan putri sulungnya itu, Sang Prabu Indera Perkasa sangat senang sekali hatinya. Ia sungguh gembira ria dan tertawa-tawa.
Kegembiraan Sang Prabu Indera Perkasa semakian meluap setelah beliau mendengar pernyataan dari Dewi Kumala. Putri Dewi Kumala menjelaskan bahwa betapa besarnya rasa kasih sayangnya itu, bagaikan cintanya kepada bangsa dan tanah airnya.
Akan tetapi, wajah cerah Sang Prabu cepat berubah ketika mendengar pernyataan dari Dewi Indah Sari, yaitu putri bungsunya. Dewi Indah Sari hanya mengumpamakan besarnya rasa kasih sayang itu sebanding dengan cintanya kepada garam.
Sang Prabu Indera Perkasa murka bukan alang kepalang. Baginda segera memerintahkan kepada para patihnya agar membawa Dewi Indah Sari ke dalam hutan. Ia harus dibuang ke sana.
Kemudian, Dewi Indah Sari diasingkan ke tengah hutan belantara rimba Kalimantan yang sangat lebat. Di hutan rimba itu Dewi Indah Sari harus menanggulangi hidupnya sendirian, sehingga lama-kelamaan Dewi Indah Sari menjadi terbiasa hidup di hutan yang sunyi itu. Memang putri bungsu ini seorang yang tabah dan tetap pada pendiriannya. Apa yang ia anggap benar adalah benar, dan apa yang salah tidak mahu ia katakan itu benar. Ia tidak terpengaruh oleh sesuatu, sehingga membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.
Hari beranti minggu, minggu berganti bulan, dan bulanpun berganti dengan tahun. Entah sudah berapa purnama Putri Indah Sari hidup sendiri di dalam hutan belantara Kalimantan (Sambas). Ia sudah terbiasa dengan semua kehidupan di hutan belantara. Putri Indah Sari tetap tabah menghadapi semua cobaan yang datang kepadanya. Rintangan demi rintangan, suka dan duka Putri Indah Sari lalui dengan penuh ketabahan dan kesabaran.
Tiga tahun telah berlalu sudah, kini sudah tiga puluh enam purnama terlewati. Sang Prabu Indera Perkasa pergi berburu bersama para pengawalnya. Memang di kawasan hutan pantai utara daerah Kalimantan Barat saat itu banyak sekali binatang buruan. Binatang buruan tersebut ialah rusa, kijang, pelanduk, babi hutan, dan lain sebagainya. Apalagi burung-burung banyak sekali dan indah-indah pula bulu-bulunya. Dendeng rusa sudah menjadi makanan yang sangat istimewa masyarakat pada zaman itu. Bukan hanya di daerah pesisir, tapi di mana-mana masyarakat di seluruh Kalimantan Barat menggemarinya, kecuali suku-suku Dayak di kawasan Ketungau pedalaman tidak mahu makan daging rusa. Karena menurut kepercayaan mereka asal-usul rusa itu dari pada manusia. Binatang rusa sangat mereka keramatkan.
Demikianlah dalam perburuan mereka kejar mengejar dengan segala binatang buruan yang ada di sana. Para pengawal dan pengiring semuanya aktif, tidak ada yang mau ketinggalan. Sudah sekian lama mereka berburu, dan sudah banyak juga buruan yang mereka dapatkan, namun mereka masih belum mau kembali, karena mereka masih asyik sekali berburu.
Malang tidak dapat di tolak, untung belum tentu dapat diraih. Baginda Prabu Indera Perkasa terpisah dari para prajuritnya yang mengawalnya berburu di tengah hutan yang lebat itu. Baginda kini tersesat di dalam hutan belantara, lalu Sang Prabu menjelajahi hutan yang lebat itu. Setelah beberapa lama ia menjelajahi hutan belantara tersebut, akhirnya baginda raja ditakdirkan sampai ke tempat kediaman Dewi Indah Sari anak baginda yang bungsu. Namun sayang Sang Prabu tidak lagi mengenali Dewi Indah Sari. Akan tetapi Putri Dewi Indah Sari masih mengenali ayahndanya.
Melihat Sang Prabu Indera Perkasa yang kemalaman di tengah hutan itu, Dewi Indah Sari segera menyambutnya. Ia segera mempersilakan baginda masuk ke dalam pondoknya. Sedangkan Dewi Indah Sari sendiri lalu pergi ke dapur. Di dapur Putri Dewi Indah Sari memasak makanan, ia akan menghidangkan makanannya itu kepada Sang Prabu ayahnda nya. Ketika baginda menyantap makanan yang berbau lezat itu, baginda terkejut.
“Wahai anak muda, masakanmu sedap sekali, akan tetapi hambar rasanya” kata Sang Prabu kepada Dewi Indah Sari.
“Apakah tidak kau beri garam?” tanya Sang Prabu sambil melahap makanannya.
“Ampun Tuanku”, jawab Dewi Indah Sari sambil menundukkan kepalanya.
“Tuanku benar, hamba sengaja tidak memberi garam pada masakan hamba. Bukankah Tuanku sangat benci pada garam?” kata Dewi Indah Sari menambahkan.
“Apa katamu anak muda ...? Aku membenci garam ...?” tanya Sang Prabu Indera Perkasa kepada Dewi Indah Sari.
Sang Prabu Indera Perkasa bertambah heran atas perkataan Dewi Indah Sari. Dengan terbata-bata karena heran, Prabu Indera Perkasa berkata kepada Dewi Indah Sari.
“Siapa yang mengatakannya kepadamu, anak muda?” tanya Sang Prabu kepada Dewi Indah Sari.
“Ampun Tuanku, tidak ada orang yang mengatakannya demikian kepada hamba. Semua itu hanya terkaan hamba saja. Dan pula, berdasarkan pengetahuan hamba, Tuanku pernah mengusir putri Tuanku sendiri, hanya karena menganggap rendah pada garam’, jawab Dewi Indah Sari dengan yakinnya.
Sejenak baginda termenung mendengar jawaban dari anak muda itu. Sang Prabu tidak habis pikir, bagaimana ia bisa tahu, padahal ia tinggal di dalam hutan belantara yang sangat lebat dan hanya bertemankan dengan binatang-binatang, serta sangat jauh dari keramaian orang banyak.
Mendengar jawaban dari Dewi Indah Sari, Sang Prabu Indera Perkasa teringat pada peristiwa itu. Peristiwa yang baru saja beberapa tahun berselang, seolah-olah telah ia lupakan sama sekali. Baginda kemudian sadar bahwa pernyataan putrinya itu benar. Dan apa yang telah dikatakan oleh wanita muda ini juga benar.
Kemudian baginda memandang dan menatap wajah Dewi Indah Sari.
“Ananda Dewi ..... Indah Sari!” seru Sang Prabu kepada Dewi Indah Sari, setelah baginda yakin bahwa gadis muda itu adalah Dewi Indah Sari, putrinya yang pernah ia usir dari istana. Kemudian baginda memeluk Dewi Indah Sari dengan eratnya sebagai rasa sayang seorang ayah kepada anaknya yang telah lama terpisah.
“Ampun Ayahnda Prabu”, sahut Dewi Indah Sari menangis terisak di pelukan ayahndanya. Ia tidak dapat menahan goncangan hati karena gembiranya.
“Ayahnda bersalah, Dewi”, kata Sang Prabu kepada Dewi Indah Sari.
“Ayahnda lupa, garam adalah barang kecil yang remeh, akan tetapi banyak sekali gunanya. Garam tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita”, tambah Sang Prabu kepada anaknya Dewi Indah Sari. 
Sementara itu para pengawal raja yang terpisah menjadi resah dan gelisah. Karena Sang Prabu tidak ada dan entah kemana baginda perginya. Mereka sibuk mencari-cari Sang Prabu. Mereka sudah mencari ke mana-mana di dalam hutan yang lebat itu. Akan tetapi mereka masih belum menemukan sang raja. Sudah puas mereka mencari-cari dimerata tempat, akhirnya mereka sampai juga ke pondok Dewi Indah Sari. Betapa sukacitanya para pengawal karena Sang Prabu Indera Perkasa ada di sana. Mereka bersukur pada Sang Pencipta, bahwa Sang Prabu tidak hilang sebagaimana yang mereka fikirkan. Dan yang menakjubkan lagi bagi mereka, karena Sang Raja ada bersama putri beliau, yaitu putri Dewi Indah Sari. Dan diantara prajurit pengawal baginda ada yang masih kenal pada putri Dewi Indah Sari.
Raja menjelaskan segala sesuatunya kepada para pengawalnya. Kemudian mereka pulang bersama-sama keistana dengan penuh kegembiraan. Setelah kejadian itu, dan sekembalinya Sang Prabu Indera Perkasa bersama Dewi Indah Sari ke istana kerajaan. Baginda raja mengeluarkan pengumuman, yang isinya:
“Kepada rakyat di seluruh negeri, kuberi tahukan kepada kalian, agar kalian tidak meremehkan barang yang dianggap sepele, supaya kalian terhindar dari kekecewaan dikemudian hari”.

Baginda ditakdirkan sampai di tempat kediaman Dewi Indah Sari.

Namun Sang Prabu tidak mengenali putrinya itu.

KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...