Senin, 21 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "CERITA SINGUMBAAN MENGENAI PAK ITAM SENGET"

CERITA SINGUMBAAN MENGENAI PAK ITAM SENGET


Pak Itam Senget adalah seorang pemuda berpenampilan lugu dan polos. Nama Pak Itam Senget ini hanyalah nama panggilan akrabnya sehari-hari. Sedangkan nama sebenarnya adalah Syahruddin. Ia berasal dari kampung Sekumba’ Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas. Oleh karena Pak Itam Senget ini berasal dari kampung Sekumba’, dan cerita mengenai tingkah lakunya yang selalu lucu dan polos itu, maka penduduk setempat lebih mengenalnya dengan istilah “cerita sengumbaan“.
Cerita singumbaan ini sudah populer dikalangan penduduk di Kabupaten Sambas. Terlebih lagi bagi penduduk di Kecamatan Teluk Keramat. Populernya cerita ini hanyalah pada kalangan orang tua-tua dahulu. Sedangkan pada jaman sekarang cerita singumbaan mengenai Pak Itam Senget tidak banyak yang mengetahuinya apalagi anak-anak sekolah dasar, anak SMP dan SMA serta anak Kuliahan saja, belum tentu mengetahui cerita mengenai Pak Itam Senget ini.
Alkisah bermula, pada waktu itu dipasar Sekura, Ibu Kota Kecamatan Teluk Keramat terkenal dengan adanya pasar sungkup. Seorang pemuda yang biasa dipanggil dengan nama Pak Itam Senget, setiap hari ia selalu melakukan pekerjaan harus berkeliling pasar sambil menjajakan barang dagangannya yaitu daun simpur. Daun simpur ini dapat dipergunakan oleh penjual sebagai pembungkus barang-barang yang diperdagangkan.
Pekerjaan menjual daun simpur itu, bagi Pak Itam Senget sangat menyenangkan. Namun hasil dari penjualan daun simpur, dirasakan belum dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Bahkan terkadang ia sering berhutang di toko Khong Hin.
Suatu hari, Pak Itam Senget berhutang beras dan gula pasir di toko Khong Hin tersebut. Ia memesan beras dan gula pasir masing-masing sebanyak 1 (satu) ons. Lalu ditimbangkan oleh Khong Hin beras dan gula masing-masing 1 (satu) ons.
Kemudian si Khong Hin atau si tauke (si pemilik toko) tersebut menanyakan kepada Pak Itam Senget tentang barang-barang yang akan dibelinya lagi selain beras dan gula pasir.
“Pak Itam, ape age’ to’?, barras udah ditimbang 1 (satu) ons dan gulle paser udah juak 1 (satu) ons. Ape ke ade yang laing age’, Pak Tam?”, kata Khong Hin kepada Pak Itam Senget.
“Si on agek”, jawab Pak Itam Senget serius sambil berbicara dengan orang-orang yang ada didekatnya yang sedang belanja di toko si Khong Hin.
Mendengar jawaban seperti itu si Khong Hin menimbang lagi beras dan gula pasir masing-masing 1 (satu) ons lagi. Sehingga semakin banyaklah beras dan gula pasir yang dipesan oleh Pak Itam Senget itu. Mengapa demikian? Karena setiap si Khong Hin bertanya kepada Pak Itam Senget, Pak Itam Senget selalu menjawab “si on agek“, tanpa memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh si Khong Hin.
Berkali-kali si Khong Hin menanyakan hal itu kepada Pak Itam Senget, dan jawabannya tetap sama. Sehingga menyebabkan pesanannya semakin banyak.
“Udah ke Pak Tam ...?” tanya si Khong Hin kepada Pak Itam Senget.
“Udah banyak to’ e barras dan gullenye”, tambah si Tauke Khong Hin.
“Udah, cukup. Berapa semuenye ye belanjaanku?” tanya pak Itam Senget kepada si Khong Hin.
“Bentar i, Pak Tam.... Ku itong dolok”, jawab si Khong Hin.
Si Tauke Khong Hin pun menghitung belanjaan Pak Itam Senget dengan simpoa.
Plek ... plek ... plek ... bunyi simpoa di petik oleh si Khong Hin.
“Semuenye Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah) Pak Tam”, kata Khong Hin kepada Pak Itam Senget.
“Banyak inyan we ...? berape ratinye rage barras dan gulle paser 1 (satu) kg ... sedangkan aku jak malli 1 ons nak ‘ang ...?” jawab Pak Itam Senget kesal karena belanjaannya banyak sekali.
“Barras si kelo Rp. 2.500,00 (dua ribu lima ratus) Pak Tam .... Sedangkan gulle passer sikelo ye Rp. 1.500,00 (seribu lima ratus), jadi semuanya Rp.4.000,00 (empat ribu rupiah).
“Banyak inyan we 1 (satu) kg, aku jak malli 1 (satu) ons, sape nang malli 1 (satu) kg we?”, jawab Pak Itam Senget kepada si Khong Hin dengan nada agak sedikit tinggi.
“Tadek e, Pak Itam bilang ... si on,,, si on,,,” kata si Khong Hin menjelaskan kepada Pak Itam Senget.
“Jikku kan si on ... si on e,,,, aku ndak agek nak malli barras dan gulle. Si on e dah cukup kan aku”, kata Pak Itam Senget kepada si Khong Hin.
Ternyata Si Khong Hin mengira bahwa “si on agek“ itu adalah 1 (satu) ons lagi. Sedangkan untuk arti dari kata “se on agek“ adalah “tidak ada lagi”.
Begitulah si Khong Hin yang salah penafsiran tentang kata-kata yang diucapkan oleh Pak Itam Senget dalam dialek bahasa daerahnya, yaitu bahasa Sambas yang masih kental. Dengan pemakaian dialek bahasa daerah seperti itu menyebabkan salah tafsir bagi orang yang mendengarnya, terlebih lawan bicara ini bukanlah penduduk asli yang dapat terbiasa mengucapkan dan mendengarkan dialek yang khas seperti itu. Sehingga tanpa disadari dari kejadian tersebut membuat orang di sekelilingnya ikut tertawa menyaksikan kejadian tersebut.
Pak Itam Senget selalu bertingkah laku lucu dan polos. Ia merupakan sosok pemuda yang cukup pandai, tetapi karena ia tidak pernah mengecap bangku pendidikan, maka nasibnya hanya sebatas penjual daun simpur saja. Jalan pikirannya pun tidak berkembang sehingga sering ia salah dalam menerima perintah yang diberikan oleh orang lain.
Dari hari ke hari, waktu berganti waktu, Pak Itam Senget selalu bersemangat menjajakan daun simpurnya dan berkeliling pasar Sekura. Bekerja sebagai penjual daun simpur ini tidak perlu bermodalkan pendidikan, karena pekerjaan dapat dilakukan oleh siapa saja dan modal utamanya adalah ketekunan dan keuletan untuk mencari daun simpur itu ke dalam hutan atau dipinggiran sungai. Karena tumbuhan jenis daun simpur ini adalah sejenis tumbuhan liar yang dapat tumbuh di mana saja.
Pada suatu hari Pak Itam Senget berjalan mengelilingi pasar Sekura. Ketika itu seorang penjual sate ingin membeli daun simpur yang dijajakan oleh Pak Itam Senget. Kemudian, penjual sate itu memanggil Pak Itam Senget untuk membeli daun simpurnya. Daun simpur tersebut akan dipergunakannya untuk membungkus sate dagangannya.
“Hey daun ..... hei daun simpur ..... daun, sini!”, seru si mamang sate.
Namun Pak Itam Senget tidak memperdulikan si Mamang sate yang memanggilnya.
“Hey daun ..... hei daun simpur ..... daun, sini!”, panggil si mamang sate kepada Pak Itam Senget.
Namun Pak Itam Senget masih diam. Berkali-kali penjual sate itu memanggilnya, tetapi tidak dihiraukan oleh Pak Itam Senget. Ia tidak menjawab dan tidak memperdulikan panggilan tersebut. Meskipun sebenarnya ia mengetahui bahwa yang dipanggil itu sebenarnya adalah dirinya sendiri. Pak Itam Senget berpura-pura tidak mengerti bahwa yang dipanggil itu adalah dirinya.
Dengan gaya yang lugu, Pak Itam Senget terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari penjual sate itu. Hal ini membuat kesal si penjual sate, karena telah berkali-kali ia memanggil Pak Itam Senget itu tidak diindahkannya. Pak Itam Senget terus berlalu tanpa menghiraukan panggilan si penjual sate tersebut. Karena yang dipanggil oleh si mamang sate adalah daun, bukan namanya. Demikianlah pikir di dalam hati Pak Itam Senget.
Setelah untuk yang kesekian kalinya si penjual sate itu memanggil Pak Itam Senget, dengan menyebut nama yang sebenarnya, maka barulah ia memenuhi panggilan dan mendekati si penjual sate tersebut. Akan tetapi, si penjual sate sudah terlanjur menaruh rasa kesal kepada Pak Itam Senget karena ulahnya berbuat demikan. Si tukang sate kesal karena beberapa kali Pak Itam Senget dipanggil tidak memperdulikannya.
Oleh karena si mamang sate itu sangat membutuhkan daun simpur itu, akhirnya kekesalan itu tidak dihiraukannya dan hilang seketika itu juga. Si tukang sate lalu membeli daun simpur tersebut. Daun simpur tersebut di beli oleh si tukang sate dengan hutang. Di dalam pikiran si tukang sate, si tukang sate punya niat akan membalas tingkah laku Pak Itam Senget yang telah menyebalkan dirinya. Hal itu ia pendam di dalam hatinya saja. Karena ia menunggu kesempatan yang tepat untuk membalas tingkah laku Pak Itam Senget itu, si penjual daun simpur.
Keesokan harinya, Pak Itam Senget ingin menagih uang hasil penjualan dari daun simpur tersebut kepada si penjual sate. Pak Itam Senget dengan menggunakan dialek atau logat bahasa Sambasnya yang kental berkata kepada si penjual sate itu. Penjual sate itu berfikir bahwa ini merupakan kesempatan yang baik untuk membalaskan kekesalannnya kepada Pak Itam Senget yang tidak menghiraukan panggilannya pada saat ia hendak membeli daun simpur kemaren.
“Mang ... saye mao’ nageh duit daon”, kata Pak Itam Senget kepada si penjual sate.
Tanpa banyak bicara si penjual sate memenuhi permohonan Pak Itam Senget itu. Diambilnya selembar daun dari pohon yang tumbuhnya di dekat tempatnya berjualan sate itu. Oleh si penjual sate itu dibayarnya uang pembelian daun itu dengan daun yang diumpamakannnya seperti uang.
“Ini ...duit mu”, si Mamang memberikan uang daun tersebut ke Pak Itam Senget, sehingga Pak Itam Senget sangat bingung karena ia diberi uang yang terbuat dari daun. Kemudian Pak Itam Senget mengajukan keberatan kepada penjual sate tersebut.
“Yoo ... tang dibarrek daon saye to’, tadekkan saye minta’ duit, bukannye minta’ daon. Mamang kan uddah malli daon simpor saye yang saye bawa’ simari”, kate Pak Itam Senget dengan nada protes kepada si penjual sate.
“Memang battol, cobe Pak Itam Senget ingat .... Yang di mintak Pak Itam Senget tade’ kan adalah duit daon, jadi saye barrek duit yang terbuat dari daonlah”, kata si penjual sate kepada Pak Itam Senget.
“Nah ... kena’ juak kau batunye Pak Itam Senget, rasekan pembalasanku, simari aku juak kau perlakukan seperti iye, sekarang gileranmu”, kata si penjual sate di dalam hatinya, setelah ia memperlakukan Pak Itam Senget seperti itu.
Setelah mendengar penjelasan dari si penjual sate tersebut di atas, Pak Itam Senget mengerti akan kekeliruannya itu. Pak Itam Senget sadar ia telah dibalas oleh si penjual sate itu atas perbatan yang tidak menghiraukan panggilannya. Akhirnya mereka berdua antara Pak Itam Senget dan si penjual sate bersalaman. Mereka saling berangkulan dan saling memaafkan antara satu sama lainnya. Mereka sama-sama mengerti akan kekeliruan masing-masing.
Selesai Pak Itam Senget berjualan di pasar, pada suatu ketika ia diminta oleh ibunya untuk mengangkat pakaian di tiang jemuran di halaman rumah mereka. Karena cuaca terlihat mendung, tampaknya hari akan turun hujan. Pada saat yang sama ibunya sedang memasak sehingga ia berpesan kepada anaknya Pak Itam Senget untuk mengambil pakaian yang dijemur di halaman rumah mereka.
“Ooy ..... nak, tullonglah angkatkan jemuran pakaian yee, arri na’ ujan to’, ummak age’ masak to’ be” kata ibunya kepada Pak Itam Senget.
“Aok ... Mak”, jawab Pak Itam Senget kepada ibnya.
Akan tetapi apa yang dilakukan oleh Pak Itam Senget itu diluar dugaan ibunya. Pada saat itu yang diangkat oleh Pak Itam Senget bukannya pakaian yang ada di tiang jemuran, melainkan dengan tiang-tiangnya sekaligus dicabutnya.
“Mak ... yo, uddah ku angkat semuanye, taroh di mane to’, Mak ...?”, tanya Pak Itam Senget kepada ibunya.
“Taroh ja’ sie wee”, kata ibunya kepada Pak Itam Senget.
Tidak lama kemudian, ibunya pun keluar menemui Pak Itam Senget.
“Ya ... Allah, Pak Itam ... ape yang kau lakukan to’ ee, ngape tang kau angkat semuenye dengan tiang-tiangnye”, kata ibunya kesal kepada Pak Itam Senget.
Melihat keadaan seperti itu, ibunya memanggil ayah Pak Itam Senget yang kebetulan sedang berkebun di dekat rumahnya untuk melihat kelakuan Pak Itam Senget yang telah mencabut tiang jemuran itu.
“Yah ...Yah ... cobelah liat anak mu, disurroh ngangkat pakaian wee, diangkatnye dengan tiang-tiangnye”, kata ibu Pak Itam Senget kepada ayahnya.
“Lekan ... dah...”, jawab ayah Pak Itam Senget singkat kepada istrinya.
Kedua orang tuanya hanya tinggal mengurut dada saja. Mereka tidak bisa marah kepada Pak Itam Senget, mereka berdua hanya bisa memakluminya. Karena di dalam pikiran Pak Itam Senget itu adalah ia disuruh untuk mengangkat tiang jemuran bukannya pakaian yang ada di tiang jemuran itu.
Suatu hari datang pamannya datang ke kampung tempat tinggal Pak Itam Senget untuk melihat keadaan keluarga di kampung. Pamannya itu adalah saudara kandung dari ayahnya yang secara kebetulan tinggal di ibukota kabupaten. Ia bermaksud hendak menjenguk seluruh keluarga yang ada di kampung karena sudah rindu dan sudah lama tidak bersua. Selain itu pula ia berniat akan membawa keponakannya itu ke kota. Karena keponakannya itu belum pernah melihat keadaan kota kabupaten dan ibukota provinsi.
Oleh pamannya ia dibawa pergi ke kota dan diajak berkeliling kota kabupaten tersebut. Dengan perasaan heran dan terkagum-kagum ia melihat pesatnya pembangunan yang dilaksanakan di kota itu. Pembangunan toko-toko, jalan-jalan yang sudah beraspal, dan penerangan listrikpun sudah sampai di kota kabupaten. Sedangkan untuk ibukota kecamatan, di tempat tinggal Pak Itam Senget itu masih belum tersentuh penerangan listrik.
Pak Itam Senget yang begitu sederhana hidupnya di kampung, tidak pernah membayangkan akan pergi ke kota. Ia merasa sangat bahagia ketika pamannya mengajaknya serta untuk berkunjung ke kota kabupaten. Di dalam perjalanannya berkeliling kota kabupaten itu, ia melihat banyak tiang listrik berdiri dipinggiran jalan raya. Pak Itam Senget termangut-mangut karena melihat tiang-tiang listrik itu. Di dalam hati Pak Itam Senget bergumam.
“Ohhhh ... hebat innyan urrang kota’ to’, di jalan-jalan to’ beh, banyak innyan tiang jemuran, dan tinggi-tinggi age’ ee”, desah Pak Itam Senget di dalam hati.
Pak Itam Senget mengira kabel-kabel listrik yang bergantungan itu adalah tiang jemuran milik orang kota dan hal ini membuat ia merasa kagum.
Sudah puas rasanya mereka berkeliling kota kabupaten, mareka pun pulang ke rumah pamannya.
“Pak Itam Senget, nak istirahat ... istirahat dolo’, nak mande’ atau nak tido’ silekan. Jak kitte dah makan tade’ e di pasar”, kata pamannya kepada Pak Itam Senget mempersilakan anak buahnya untuk istirahat atau mandi.
“Saye nak mande’ lok lah, Pak Long”, kata Pak Itam Senget kepada pamannya. Pak Long adalah panggilan untuk paman yang nomor satu dalam bahasa Sambas.
“Silekanlah ....., nun yo di siok ade wc. Masok ja’ sie ... Pak Long nak gurring dolok to’, nak ngajorkan pingggang. Rase pannat juak battis dan pinggang to’ ee”, kata pamannya kepada Pak Itam Senget.
Pak Itam Senget pun mandi di wc yang sudah di beri tahu terlebih dahulu oleh pamannya.  
Setelah selesai mandi, Pak Itam Senget ingin menjemur handuknya. Ia keluar rumah dan mencari-cari tiang jemuran. Dilihatnyalah tiang-tiang listrik yang tinggi menjulang.
“Nah ... yo di tiang jemurannya”, ucap Pak Itam Senget di dalam hati.
Pak Itam Senget pun memanjat tiang listrik untuk menjemur handuknya. Orang-orang di sekeliling rumah pamannya melihat gelagat Pak Itam Senget dan berteriak-teriak. Mereka menyuruh Pak Itam Senget turun. Mereka takut Pak Itam Senget akan kesetrum listrik atau pun jatuh. Jika semua itu terjadi, maka habislah riwayat Pak Itam Senget.
Ketika orang-orang berteriak, terdengarlah ketelinga pamannya yang lagi berbaring. Paman Pak Itam Senget terkejut sekali, melihat Pak Itam Senget sudah di atas tiang listrik. Pamannya memanggil Pak Itam Senget dan memberikan pengertian kepadanya, bahwa itu bukan tiang jemuran, akan tetapi tiang listrik. Setelah diberi penjelasan Pak Itam Senget pun turun dari atas tiang listrik. Kemudian Pak Itam Senget pun menjemur handuknya pada tiang jemuran yang ditunjukkan oleh pamannya. Pamannya bersukur, tidak terjadi sesuatu kepada Pak Itam Senget.

KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...