Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "BATU BALLAH BATU BETANGKUP"

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "BATU BALLAH BATU BETANGKUP"
Batu Ballah Batu Betangkup

BATU BALLAH BATU BETANGKUP

 

 

Kononnya, pada waktu dahulu ada sebuah gua ajaib di daerah Sambas. Gua ini digelar batu ballah batu bertangkup oleh penduduk sekitar, dan amat ditakuti oleh para penduduk kampung. Pintu gua ini boleh terbuka dan tertutup bila diseru dan siapa saja yang termasuk atau masuk ke dalam gua itu, maka dia tidak akan dapat keluar lagi.
Suatu masa dahulu di sebuah kampung yang bernama Pemangkat. Sekarang Pemangkat sudah menjadi kecamatan. Dulu di desa Pemangkat (Tanjung Batu sekarang) tinggallah seorang ibu tua dengan tiga orang anaknya. Mereka tinggal berdekatan dengan gua ajaib itu, Orang-orang menyebutnya “Mak Tanjung” sedangkan ketiga orang anaknya bernama Melur, Pekan dan Bungsu. Kehidupan mereka sangatlah miskin. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, sekedar mencari makan sesuap nasi, Mak Tanjung bekerja keras mencari kayu bakar di hutan. Mak Tanjung juga mencari sayur-sayuran pakis di semak-semak dan di hutan di kaki Gunung Gajah. Serta Mak Tanjung juga menangkap ikan di tepi laut atau sungai untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Untuk menghidupi ke tiga anaknya yang masih anak-anak itu. Mak Tanjung tidak kenal putus asa dalam menjalani hidup demi anak-anaknya yang tercinta.
Mak Tanjung asyik bersedih kerana baru kehilangan suami dan terpaksa menjaga ketiga anak-anaknya dalam keadaan yang miskin dan dhaif.
Pada suatu hari, cuaca kelihatan amat cerah. Langit membiru dihiasi awan-awan putih bersih yang berarak lalu. Cahaya sinar matahari bersinar terang. Mentari tersenyum dibalik awan-awan putih. Ketika itu, Mak Tanjung teringin makan telur ikan tembakul. Dia pun pergi ke sungai untuk menangkapnya. Mak Tanjung kemudian berkata kepada anaknya.
“Ummak akan mencari lauk-pauk dulu ya, Nak…”, kata ibunya pada anaknya yang sulung.
Kan, masih ada lauk, Mak”, ucap anaknya yang sulung.
“Nanti Mak sakit, kami takut, Mak” tambah anaknya dengan perasaan kasihan kepada ibunya.
“Ummak rasanya ingin sekali makan ikan Tembakul lagi. Biasanya cuaca yang begini cerah banyak ikan Tembakul”, jawab ibunya dengan rasa liurnya yang ingin mendapatkan ikan Tembakul.
“Lauk kita itu kan tinggal sepotong. Mana cukup buat kita berempat”, tambah ibunya.
Tiba-tiba adiknya datang dan berkata pada ibunya dengan rasa senang hati.
“Umma’ akan mencari ikan Tembakul, ya ?”, tanya anaknya yang nomor dua yaitu si Pekan. 
“Iya, hari ini rasanya Umma’ ingin makan ikan Tembakul”, jawab ibunya dengan tergesa-gesa untuk menyiapkan segala peralatan untuk menangkap ikan Tembakul.
“Umma’ akan menangkap ikan Tembakul, ya”, tanya si Bungsu dengan senyumnya yang manis. 
“Iya, nanti ikannya kita masak gulai asam pedas, enaaak !”, ucap ibunya dengan senang sambil mengelus pipi si Bungsu. Si Bungsu tersenyum manis.
“Horeeee ….. asiiiik, hari ini kita makan enaaaaak ….. !”, teriak si Bungsu secara tiba-tiba dengan rasa girangnya.
“Do’akan Umma’ agar banyak mendapatkan ikan Tembakul, ya”, ucap kakaknya yang sulung, yaitu Melur kepada adik-adiknya itu.
Dengan peralatan untuk menangkap ikan, seperti takin  dan tangguk. Ibunya mulai melangkahkan kaki untuk segera pergi menangkap ikan Tembakul ke hutan. Karena di hutan banyak terdapat ikan-ikan yang berada dipohon-pohon yang tumbang dan terdapat kolam-kolam yang berisikan  ikan Tembakul.
Dengan bersusah payah ia keluar masuk hutan untuk mencari ikan Tembakul. Akan tetapi ia belum juga mendapatkan seekor pun. Hari sudah menjelang siang, sedangkan perutnya sudah terasa lapar yang teramat sangat. Kemudian sejenak ia istirahat di bawah pohon yang tumbang. Di situ terdapat air tergenang bekas tumbangan pohon yang cukup dalam. Ketika ia sedang melamun, tiba-tiba ia dikejutkan seperti ada ikan yang melompat-lompat berenang saling berkejaran. Diperhatikannya dengan cermat pemandangan itu, dan memang rupanya terdapat banyak ikan. Bukan main senang hatinya dan berkeinginan untuk segera menangkap ikan Tembakul itu.
“Aduh, banyak sekali ikan Tembakul ini, makan enak lah aku nanti. Anak-anak ku pasti senang”, ucap ibu miskin itu sambil tersenyum riang.
“Ternyata sampai juga niat ku untuk makan ikan Tembakul, sudah lama sekali aku menginginkannya”, tambah Mak Tanjung.
Bukan main senang hati Mak Tanjung, dengan segera ia ingin menangkap ikan Tembakul tersebut. Dengan cekatan dan susah payahnya Mak Tanjung menangkapi ikan Tembakul itu. Ikan Tembakul itu berlarian ke sana ke mari menghindari tangkapan Mak Tanjung. Namun usaha dari ikan Tembakul itu sia-sia saja. Mak Tanjung semakin gesit menangkapnya. Ikan-ikan itu kelelahan  melompat-lompat. Akhirnya satu-persatu dari ikan Tembakul itu masuk ke takin Mak Tanjung. Kira-kira sudah banyak, lalu dengan segera ia pulang, karena hari sudah semakin siang dan perutnya pun sudah semakin lapar. Mak Tanjung pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga, hatinya seperti taman yang penuh dengan bunga-bunga indah.
Sesampainya di rumah, Mak Tanjung memerintahkan kepada anaknya yang sulung yaitu si Melur untuk menyiangi ikan-ikan tersebut.
“Ikan-ikan itu segera kau siangi ya, Nak …!” perintah Mak Tanjung kepada Melur.
“Ya, Mak …!”, jawab Melur dengan sopannya.
Bukan main suka hati anak-anaknya apabila Mak Tanjung dapat seekor ikan Tembakul yang besar.
“Wah, besarnya ikan yang Mak dapat ni …!”, teriak Pekan kegembiraan.
“Ya, ini induk ikan Tembakul namanya, Pekan. Mak rasa ikan ini ada telurnya. Sudah lama Mak teringin untuk memakan telur ikan Tembakul ini”, kata Mak Tanjung.
Sedangkan si Bungsu tertatih-tatih mendekati ibunya.
“Wah, anak Umma’, sini dekat Mak”, kata Mak Tanjung pada si Bungsu. Si Bungsu baru empat setengah tahun. Mak Tanjung ikut membantu menyiangi ikan Tembakul itu, sebentar.
Dia pun memberikan kepada Melur untuk dimasak gulai asam pedas.
“Dimasak apa, Mak?”, tanya si Melur pada ibunya. 
“Masak asam pedas saja !. Ikan itu enak jika dimasak asam pedas, dan telur ikan Tembakul ini juga kamu masukkan, ya. Jangan di goreng”, jelas Mak Tanjung kepada Melur.
 “Gulai asam pedas, Mak?”, tanya Melur lagi kepada ibunya.
“Iya, dan ingat ya, telur serta ikan yang besar ini buat Ummak, meskipun hanya sepotong, ya. Umma’ hendak ke sungai dulu, Mak mau mandi dan sambil mencari kayu bakar sedikit di hutan buat nanti malam. Jika Mak terlambat pulang, Melur makanlah dahulu bersama Pekan dan si Bungsu. Tapi, jangan lupa untuk tinggalkan telur ikan Tembakul untuk Mak, ya. Sebagaimana pesan Mak tadi”, pesan Mak Tanjung kepada Melur.
“Baik, Mak. Akan saya simpankan buat Ummak”, jawab si Sulung sambil pergi ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaanya, yaitu menyiangi ikan-ikan Tembakul tersebut.
“Ummak mau kemana lagi”, tanya si Pekan anak Mak Tanjung yang nomor dua.
“Ummak mau ke sungai, mandi dan mencari kayu bakar sebentar”, jawab ibunya santai.
“Kamu jika mau makan, makan saja sama adik dan kakak mu. Kalau mau nunggu juga tidak apa”, jelas ibunya.
Sementara itu di halaman rumahnya banyak anak-anak yang bermain dengan sangat riang dan gembiranya. Meskipun cuaca panas dan matahari menyinari dengan sinar cahaya yang sangat terik, hingga panasnya menghitamkan kulit. Tapi anak-anak tidak memperdulikan hal itu. Mereka terus bermain dengan asiknya. Pekan dan si bungsu menghampiri teman-temannya yang lagi asik bermain.  
“Hari ini, kakakku masak ikan Tembakul”, kata si Bungsu pada teman-temannya.
“Dimasak apa ikannya ?”, tanya salah satu dari temannya yang bernama Anto.
“Dimasak gulai asam pedas”, jawab si Bungsu dengan begitu polos kepada teman-temannya.
“Waahhh … bukan main enaknya masakan gulai asam pedas itu !” kata salah seorang dari temannya lagi.
 “Ingin rasanya aku menikmati ikan Tembakul itu”, cetus salah satu dari temannya dengan air ludah yang berliur-liur karena membayangkan enaknya masakan itu.
“Tetapi kakakku sedang memasaknya”, jawab si Bungsu.
“O….begitu ya, jawab teman-temannya dengan serempak.
Mereka kemudian bermain lagi. Permainan yang dimainkan adalah permainan congkak, dengan peralatan yang sederhana. Melur dan Pekan serta si Bungsu menunggu hingga tengah hari, akan tetapi ibu mereka tidak pulang juga. Pekan mula menangis kerana lapar, begitu juga dengan si Bungsu. Karena si Bungsu dan si Pekan sudah cukup lama bermain, jadi perut mereka sudah lapar. Dengan segera mereka menemui kakaknya.
“Sudah masak ikannya, Kak ?”, tanya si Bungsu.
“Belum, Dik. Kakak baru saja selesai menyiangi ikan-ikan itu”, jawab kakaknya.
“Aduuuuuh ….., perutku lapar sekali, perutku sakit ni, Kak. Cepat masaknya, ya !”, rengek si Bungsu sambil bersandar di dinding dapur.
“Ingat pesan kakak, ya ! Jika sudah masak, kita jangan makan dulu kalau Ummak belum pulang dari sungai. Kita menungu Ummak kita makan sama-sama Ummak, biar enak dan senang”, kata si Melur menasehati adik-adiknya.  
“Tapi, kami sudah lapar, Kak …” tambah si Pekan.
“Iya, Kak. Tadi Ummak aja mengizinkan jika kita mau makan dulu. Tidak apa katanya”, tambah si Bungsu meyakinkan Melur.
“Iya, Kakak tau”, jawab Melur.
“Kalian main dulu sana di halaman”, tambah si Melur.
“Iya, dech …..”, jawab adik-adiknya lesu.
Adik-adiknya pun bermain-main di halaman rumah sambil menunggu kakaknya memasak ikan-ikan Tembakul kegemaran mereka.
Setelah di siangi dan dicuci beberapa kali dengan air bersih oleh Melur, ikan-ikan Tembakul itu pun dengan segera dimasak asam pedas oleh Melur sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh  ibunya. Sedangkan telur ikan Tembakul itu juga di masak oleh si Melur. Hingga aromanya tercium ke seluruh ruangan hingga keluar rumah yang terbawa oleh angin. Aroma masakan itu membuat adik-adiknya yang sedang bermain di halaman rumah mencium baunya, dan semakin terasa oleh mereka berdua, bahwa perut mereka semakin lapar saja.   
Setelah selesai memasak gulai ikan Tembakul, dan masak sayur pakis tersebut. Maka Melur pun terus menyimpan ikan Tembakul yang besar dan telur ikan Tembakul itu di dalam baskom untuk ibunya. Setelah itu, Melur terus menyajikan nasi, dan gulai ikan bersama telur Tembakul untuk dimakan bersama Pekan dan si Bungsu bersama ibu mereka nantinya. Kemudian masakan itu ditutup dengan tudung saji.
Tiba-tiba datanglah adik-adiknya dari dari main sambil merengek-rengek mau minta makan, karena mereka sudah kelaparan sekali.   
“Kak, aku lapar. Mau makan”, rengek adiknya yang bungsu.
“Iya, aku juga, Kak. Aku juga mau makan, Kak …”, kata si Pekan.
“Sabar, kita menunggu Ummak. Ummak sebentar lagi pulang. Ummak kan lagi mandi dan mengambil kayu bakar untuk nanti malam”, kata Melur menjelaskan kepada adik-adiknya.
“Kak, ikannya kan sudah masak, jadi harus kita makan lah, Kak. Nanti keburu dingin, jadi tidak enak rasanya, Kak”, kata Pekan merayu kakaknya.
“Sabaaaar adik-adikku, kita menunggu Ummak, bentar lagi Ummak pasti balik”, jelas Melur meyakinkan adik-adiknya.
“Kapan Ummak pulang, kan sudah siang, Kak ?”, cetus adiknya yang bungsu.
“Huh, Ummak ke sungai lama sekali, pakai ambil kayu bakar lagi. Memangnya esok-esok tidak bisa, Kak ?”, kata Pekan pada Melur.
“Iya, Kak. Bungsu lapar ni. Dengarlah Kak, perutku sudah berbunyi ni. Aku sudah tidak tahan, Kak”, rengek si Bungsu pada Melur sambil menggigit jari-jarinya. Menandakan bahwa si Bungsu memang betul-betul lapar.
Sementara itu aroma masakan gulai asam pedas yang tercium di hidungnya membuat perut terasa semakin lapar, dan ingin segera menyantapnya. Air liurnya terasa mau menetes.
“Kak, apa Kakak tidak lapar, sih?”, tanya Pekan pada Melur. 
“Ya, lapar juga. Tapi, kita harus menunggu Ummak. Apa kalian lupa dengan pesan kakak tadi, ha …?”, jawab si Melur pada adiknya.
“Iya, sih Kak. Tapi, Kak, perut ini sudah melilit-lilit”, cetus adiknya merengek.
“Pokoknya kalian harus turut perintah Kakak, kasihan Ummak tidak ditunggu. Kalian juga harus ingat dengan pesan Ummak, jika mau makan tunggu orang tua dulu. Jika sudah kumpul baru kita makan”, balas kakaknya dengan tegas.
“Tidak boleh melanggar pesan orang tua!”, sambungnya lagi. 
“Tapi, Kak …!. Kami …”, kata Pekan .
“Tidak ada tapi-tapi, kalian main saja dulu, Kakak mau membelah kayu api sebentar”, tegas Melur kepada adik-adiknya.
Adik-adiknya itu hanya terdiam dan hatinya semakin mendongkol karena perutnya semakin lapar. Rasa ingin cepat-cepat menikmati masakan gulai asam pedas ikan Tembakul itu. Akan tetapi semua itu tidak terlaksana karena dilarang oleh kakaknya. Dua beradik itu duduk di lantai dengan wajah cemberut. Matanya tetap menatap masakan yang tersaji di meja dengan ditutupi tudung saji.
Pekan dan si Bungsu berunding.
“Bagaimana jika kita makan duluan, Dik ?”, kata Pekan kepada si Bungsu.
“Bagus juga tu, Bang. Aku sudah tidak tahan ni”, kata si Bungsu kepada abangnya.
“Tapi, apakah kakak dan Ummak tidak marah ?. Karena kita makan duluan”, sambung si Bungsu.
“Abang rasa tidak, karena kita kan sudah lapar sekali”, kata Pekan meyakinkan adiknya.
“Baiklah, yok kita makan”, ajak si Bungsu.
Mereka pun makan dengan lahapnya. Sedangkan si Melur masih sibuk membelah kayu bakar di tanah. Sedangkan Mak Tanjung masih belum pulang.
“Hmmm … sedap sekali baunya ni, Bang”, sudah tidak sabar lagi aku ni nak makan. Aku ingin merasakan nikmatnya rasa daging ikan Tembakul dan telur-telurnya”, kata Bungsu kepada abangnya si Pekan.
“Iya, Dik. Abang juga ni”, jawab Pekan dengan semangat laparnya.
“Hmmm..sedap betul telur ikan ini,” kata Pekan sambil menikmati telur ikan Tembakul. 
“Eh Bungsu, janganlah asyik makan telur ikan saja. Makanlah nasi dan gulai juga,” kata Pekan.
“Aku mau telur ikan lagi, Bang”, kata si Bungsu.
“Tidak, usah Dik”, telur ikannya nanti habis”, kata Pekan kepada adiknya si Bungsu.
“Kita harus meninggalkannya sedikit buat Ummak”, imbuhnya.
“Tapi, Bang. Tanggung ni”, rengek si Bungsu.
Pekan memberi adiknya lagi. Mereka terus makan dengan lahapnya. Telur ikan Tembakul memang tidak banyak, dengan sekejap telur-telur ikan Tembakul itu habis masuk ke dalam perut mereka berdua. Akhirnya mereka pun kekenyangan. 
Tidak lama kemudian ibunya pulang, dan kemudian mereka makan sama-sama. Ketika hendak menyantap makanan itu, ibunya teringat bahwa ia memesan telur ikan Tembakul. Maka di tanyakannya pada Melur dimana telur ikan Tembakul pesanannya.
“Melur, mana pesanan telur Ummak ?” tanya Mak Tanjung pada Melur.     
Ada di situ, Mak”, kata Melur menegaskan.
Maka diaduk-aduknyalah gulai ikan tersebut untuk mencari telur ikan Tembakul yang dipesannya, ternyata tidak di temukannya.
“Mana, Melur. Tidak ada ni …?! Mana telurnya ?”,  tanya Mak Tanjung.
“Masa’ sih Mak …?”, Melur terkejut.
Kemudian Melur mengaduk-aduk gulai tersebut untuk memastikan omongan ibunya. Alangkah terkejutnya Melur ketika melihat ikan Tembakul dan telurnya sudah tidak ada lagi, yang tinggal hanya kuahnya saja. Gemetarlah si Melur karena takut kepada ibunya. Ia merasa bersalah pada ibunya. Wajahnya kelihatan sedih, dan lama si Melur terdiam.
 “Mana telur ikan Tembakul itu ?”, tanya ibunya lagi.
Lama sekali si Melur menjawabnya. Hatinya sedih dan diliputi oleh rasa takut untuk menghadapi ibunya.
“Mana telur ikan Tembakul itu, Melur ?”, tanya ibunya dengan suara yang tinggi.
Dengan rasa yang kecewa, ibunya berbuih-buih memarahi si Sulung (Melur). Si Melur kemudian menangis sedih dan terisak-isak serta memohon maaf kepada ibunya.
“Telur dan ikan Tembakul telah dimakan adik-adik, Mak”, kata si Melur menjelaskan dengan isakan tangis.
“Ummak kan sudah pesan kepada mu, bahwa telurnya buat Ummak !”, teriak ibunya pula.
“Maafkan saya, Mak. Maafkan, Melur !. Melur yang salah, tidak mengindahkan pesan Ummak. Tadi saya asik membelah kayu bakar. Mungkin tadi adik-adik memakannya tanpa memberitahu Melur, Mak. Dan mereka memakannya sampai habis”, kata si Melur sambil menangis terisak-isak menjelaskan duduk perkaranya.
Mendengar hal itu, ibunya merasa kesal dan kecewa yang teramat sangat. Telur yang diharapkannya telah tiada. Menetes-neteslah air liurnya menahan selera yang tidak kesampaian. Hanya tinggal rasa kuahnya saja. Akhirnya Mak Tanjung sambil menahan amarahnya pergi berlari ke tepi sungai. Di sana ia lalu naik ke atas batu besar yang menganga lebar seperti mulut. Sambil berlari Mak Tanjung bersenandung:
“Batu ballllllaaaaaaahhhh, batu betangkuuuuuuup ………!”
“Tangkupkan akuuuuuu ………… dengan bigek asamku ……… !”
“Aku kemmmmmponan, talllllok Timakol ………… !”
“Aku kemponannnnn, tallokkk Timakolllllll …………!”
Senandung itu terus diucapkan oleh Mak Tanjung. Tanpa disadarinya ia kemudian di jepit oleh batu besar yang menganga dengan bigek asam (mata kaki) nya. Mak Tanjung terus bersenandung tanpa menghiraukan kakinya yang sudah terjepit tadi. Namun liriknya berubah:
“Batu ballllllaaaaaaahhhh, batu betangkuuuuuuup ………!”
“Tangkupkan akuuuuuu …………… dengan pallaktuut ku ……… !”
“Aku kemmmmmponannn, talllllok Timakol ………… !”
“Aku kemponannnnn, tallokkk Timakolllllll …………!”
Kemudian, batu itu memakan atau menjepit Mak Tanjung dengan lututnya. Mak Tanjung sedih sekali, bila teringat akan anak-anaknya yang telah tega tidak menyisihkan sedikit daging ikan Tembakul dan telurnya. Semua itu tidak sempat dimakannya, semuanya telah habis ditelan anak-anaknya. Kini Mak Tanjung rela dimakan oleh batu ballah. Mak Tanjung terus melantunkan senandungnya.
Sedangkan di rumah, anak-anaknya yang tiga orang itu telah lama menanti kedatangan ibunya. Namun sudah lama mereka menanti, ibunya belum juga pulang ke rumah. Mereka menjadi risau dan takut. Mereka takut terjadi apa-apa dengan ibunya. Mereka takut ditinggalkan oleh ibu mereka.
“Kak, kenapa Umma’ tidak pulang-pulang, ya …?”, tanya si Bungsu kepada Melur.
“Entahlah, Umma’ kemana, Kakak juga tidak tahu, ni …”. jawab Melur kepada adiknya.
“Kakak jadi takut, ni. Hingga sekarang Ummak belum juga pulang”, tambah Melur.
“Coba kita susul, Kak. Mungkin Umma’ di sungai mencari ikan Tembakul atau kayu bakar”, kata si Pekan kepada kakaknya.
“Iya, ya. Ayo, kita cari Ummak ke sungai”, jawab Melur.
Mereka pun mencari-cari ibunya. Mereka terus mengikuti jejak langkah Mak Tanjung. Melur berteriak memanggil-manggil ibunya sambil menangis terisak-isak.
“Ummaaaaaaakkkk-ummmmaaaaaakkkkk …………… !”
“Balikkkkkkkk udeeeeeekkkkkk … eeek …………… !”
“Adeeeekkk meeeeenangiiiiiiiis keeeelaaaaparaaaan suuusu ………!”
“Adeeek meeeenangiiiiissss keeeeeelaparaaaaannn susuuuu ……………!”
Teriakan Melur hanya sia-sia, Mak Tanjung tidak mendengar semua itu. Ia sudah terjepit di celah batu ballah. Adik-adiknya menangis, mereka kelaparan dan kehausan.
“Ummak kemana, Kak”, tanya adik-adiknya sambil menangis.    
“Ummak tidak balik-balik ke mana, Kak ?”, tanya Pekan lagi.
“Entahlah, Kakak akan mencarinya ke sungai”, jawab Melur.
Sedangkan Mak Tanjung terus bersenandung. Batu ballah baru memakan Mak Tanjung dengan lututnya. Mak Tanjung bersenandung:
“Batu ballllllaaaaaaahhhh, batu betangkuuuuuuup ………!”
“Tangkupkan akuuuuuu …………… dengan pinggangku ……… !”
“Aku kemmmmmponannn, talllllok Timakol ………… !”
“Aku kemponannnnn, tallokkk Timakolllllll …………!”
Ketika selesai bersenandung, tubuh Mak Tanjung dimakan lagi dengan pinggangnya.
“Kop …”, suara batu ballah memakan tubuh Mak Tanjung.
Kini tubuhnya hanya dari batas pinggang ke kepalanya. Dengan susah payah dan lemah Mak Tanjung terus bersenandung dengan tubuhnya yang tinggal sepotong itu.
“Batu ballllllaaaaaaahhhh, batu betangkuuuuuuup ………!”
“Tangkupkan akuuuuuu …………… dengan palakku ……… !”
“Aku kemmmmmponannn, talllllok Timakol ………… !”
“Aku kemponannnnn, tallokkk Timakolllllll …………!”
“Kop …”, kembali lagi suara batu ballah memakan tubuh Mak Tanjung dengan kepalanya. Rambutnya yang panjang menjurai-jurai keluar ditiup angina laut.
Anaknya sudah lelah mencari, namun masih juga belum ketemu. Keesokan harinya, dengan cuaca yang begitu cerah dan bersahabat. Mentari menyinar terang, burung-burung bernyanyi riang mengiringi desiran angin laut yang bertiup hingga kerumah Melur. Tidak lama kemudian, pergilah Melur ke sungai untuk mencari ibunya. Ditepi sungai banyak terdapat batu-batu besar dan kecil. Warnanya bermacam-macam, ada yang merah, ada yang putih, dan ada pula yang hitam. Melur terus memanggil-manggil ibunya.
“Ummaaaaaaaaaaaakkkkkkkk ……!”, teriaknya dengan suara yang keras hingga memecah kesunyian sungai. Tidak ada satu pun jawaban yang terdengar. Kecuali pantulan suara Melur yang menggema mengikut ucapan Melur. Melur terus memanggil-mangil ibunya dengan isakan tangis. Adik-adik Melur menunggu di rumah. Pekan dan si Bungsu menangis. Mereka menyesal telah melakukan kesalahan. Gara-gara mereka ibunya hilang entah kemana. Melur dengan isak tangisnya terus memanggil-mangil ibunya.
“Ummaaaaaaakkkk-ummmmaaaaaakkkkk …………… !”
“Balikkkkkkkk udeeeeeekkkkkk … eeek …………… !”
“Adeeeekkk meeeeenangiiiiiiiis keeeelaaaaparaaaan suuusu ………!”
“Adeeek meeeenangiiiiissss keeeeeelaparaaaaannn susuuuu ……………!”
Teriakan Melur semakin keras. Teriakannya seakan-akan mengalahkan bunyi ombak yang memecah pantai Sinam. Tidak ada jawaban dari ibunya, yang terdengar hanya riak-riak air sungai yang mengalir. Suara Melur menggema memantul berulang kali.
“Ummakkkk-ummaaaaakkkkk …… balikkkkkk uudddeeeek. Adeekkk menangiiisss kelaaapaaaran susuuuuu ….”, kata Melur berulang-ulang.
Sudah puas Melur mencari ibunya dimana-mana. Di sungai atau di hutan, akan tetapi ibunya belum juga ketemu. Ibunya hilang tanpa bekas. Konon menurut orang pintar, bahwa ibunya yang hilang itu ditelan batu besar yang angker di tepi sungai. Batu tersebut disebut orang dengan Batu Ballah. Konon menurut cerita, batu tersebut selalu membawa celaka dan mencederakan orang. Wallahu aklam bissawab. (hanya Allah yang mengetahuinya).  

 KEPUSTAKAAN 

Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...