Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "BATU NEK JAGE"

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "BATU NEK JAGE"
Batu Nek Jage Pelanjau

BATU NEK JAGE


Konon menurut cerita orang-orang, nun dahulu kala di Gunung Pelanjau berdiamlah sebuah keluarga yang rukun dan bahagia. Sang suami bernama Nek Jage, sedangkan istrinya bernama Nek Sari. Mereka tinggal bersama anak dan menantunya. Anaknya bernama Amat dan menantunya bernama Minah. Di dalam keluarga itu, terdapat seorang cucu laki-laki yang lucu dan teramat manja, namanya Maman. Nek Jage dan istrinya sangat sayang pada cucunya itu. Begitu besar perhatian Nek Jage terhadap cucunya yang manis dan imut itu. Sehingga apa saja yang diminta oleh cucunya, Nek Jage selalu berusaha mencarinya demi kebahagiaan cucu satu-satunya itu. Orang bilang cucu semata wayang memang disayang.
Pada suatu hari Nek Jage akan pergi berburu ke hutan. Ia bangun pagi-pagi sekali (dini hari sekitar jam 02-an), sebelum burung-burung berkicau dan ayam berkokok, dan sebelum sang surya mengintip di balik Gunung Pelanjau. Segala peralatan berburu segera disiapkan oleh Nek Jage. Sedangkan Nek Sari mempersiapkan bekal makanan untuk suaminya yang tercinta. Setelah segala sesuatunya telah siap, maka Nek Jage pamit pada Nek Sari. Setelah Nek Jage pamit kepada istrinya, ia pun berangkat berburu ke hutan belantara yang masih gelap gulita. Nek Jage terus berjalan menuju hutan, Nek Jage ke luar masuk hutan demi mencari binatang buruan seperti babi hutan, pelanduk, dan binatang lainnya.
Alhasil, Nek Jage sejak dari tadi belum juga berjumpa dengan binatang buruan, dan lama-kelamaan Nek Jage menjadi lelah. Tidak lama kemudian Nek Jage duduk beristirahat pada sebuah pohon yang amat besar di hutan itu. Nek Jage menyandarkan tubuhnya yang kurus itu.  Kadang-kadang pikirannya selalu melayang-layang pada cucunya dirumah. Rasanya sudah berjam-jam lamanya Nek Jage berburu binatang, tetapi ia belum juga mendapatkan seekor binatang buruan.
Di bawah pohon itu, Nek Jage selalu gelisah, wajahnya begitu sendu, kadangkala memikirkan cucunya yang ia sayangi. Tidak lama kemudian, ada suara burung-burung yang berkicau terdengar dari kejauhan. Nek Jage terbuai oleh kicauan burung-burung yang melompat-lompat dari dahan yang satu ke dahan yang lainnya. Nek Jage memperhatikan burung-burung itu dengan tatapan yang tajam untuk menangkap burung-burung itu. Namun Nek Jage tidak berhasil menangkap burung itu, Nek Jage menjadi kesal sekali.
Tak terasa bagi Nek Jage kini waktu sudah tengah hari. Sedangkan nek Jage belum juga menemukan seekor binatang buruan. Sebab bila Nek Jage bertemu dengan binatang buruan itu, maka dengan secepat kilat binatang-binatang itu akan lari masuk ke hutan yang sangat gelap. Seringkali Nek Jage gagal menangkap binatang buruan itu, hal itu membuat hati Nek Jage sangat kecewa. Tapi, apabila ia ingat akan cucunya, Nek Jage terus mencari binatang buruan dengan berpindah-pindah ke tempat yang lain.  
Memang hutan yang dimasuki Nek Jage, hutannya sangat lebat, pohon-pohonnya berbatang besar. Maklum pohon-pohon tersebut sudah berusia ratusan tahun, bahkan tak sedikitpun sinar cahaya matahari yang bisa menembus ke dalam hutan itu. Nek Jage terus berjalan tanpa beralas kaki keluar masuk hutan untuk mencari pelanduk, babi atau pun seekor rusa. Tidak ada rasa takut sedikitpun di hati Nek Jage terhadap binatang buas, karena itu sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari.
Nek Jage berjalan dengan tenang. Ketika Nek Jage sedang berjalan, tiba-tiba di depannya ada seekor pelanduk yang sedang melintas. Maka dengan langkah perlahan-lahan Nek Jage mengintai sang pelanduk. Dengan sigap Nek Jage melemparkan tombaknya, tetapi apa yang terjadi, tiba-tiba sang pelanduk mengetahui kalau ia akan ditombak oleh Nek Jage. Sehingga pelanduk itu berlari dengan kencangnya.
Memang nasib lagi apes bagi Nek Jage malam ini. Kemudian Nek Jage hari itu pulang dengan tangan kosong, tanpa ada seekor binatang buruan. Nek Jage berjalan dengan langkah gontai pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Nek Jage hanya dapat tersenyum tipis melihat tingkah laku cucunya yang sangat lucu. Nek Jage lalu menghentikan langkahnya sambil memandang cucunya kemudian mencium kening cucunya, yaitu si Maman.
“Aduh, Cu ... lagi apa kamu, Cu ...” tanya Nek Jage kepada si Maman cucunya.
“Lagi main, Kek ...”, jawab si Maman.
“Mana hasil Kakek berburu, Kek ...?”, tanya cucu Nek Jage.
“Tidak ada, Cu ..., susah mencari hewan buruannya”, jawab Nek Jage sambil tersenyum tipis.
Tak lama kemudian datang Nek Sari menyambut kedatangan suaminya.
“Mana hasil buruanmu?”, tanya istrinya.
“Binatang buruanku selalu menghindar, dan jarang sekali aku melihatnya”, kata Nek Jage sambil berjalan menuju tempat duduk di depan rumahnya.
“Barang kali kamu terlalu lama turunnya ke hutan”, kata Nek Sari kepada Nek Jage.
“Ahhhh, mungkin juga kali, Nek ...!, mungkin juga belum rezekiku. Kita harus bersabar saja. Lain kali kita pasti akan mendapatkannya”, kata Nek Jage kepada istrinya.
“Kurasa rasa kau lebih baik agak awal lagi turunnya, binatang-binatang itu kan tertidur sehingga gampang diburu”, kata istri Nek Jage memberi pendapat.
“Yah, kalau begiu baiklah aku akan lebih awal lagi turun esok malam!”, kata Nek Jage lagi.
“Aku mau istirahat dulu, Nek”, tambah Nek Jage.
“Ya, lah...air panas sudah ku siapkan untuk mu mandi”, kata Nek Sari kepada Nek Jage.
“Terima kasih, Nek”, jawab Nek Jage.
Kemudian Nek Jage pun mandi dan istirahat. Hari itu dia letih sekali karena semalam berburu tetapi hasilnya nihil. Namun Nek Jage tidak putus asa dan kalah semangat. Esok hari ia pasti akan mendapatkan hasil buruan yang lebih banyak. Sambil berbaring ia menghayal menyusun strategi untuk berburu pada malam-malam berikutnya, sebagaimana saran dari Nek Sari barusan tadi siang. Apa yang dikatakan istrinya memang benar dan masih teringat di otaknya. Nek Jage pun tersenyum tipis, sepertinya ia menemukan ide baru, setelah itu Nek Jage tertidur pulas hinggakan istrinya yang mau tidur disampingnya pun tidak diperdulikannya lagi. 
Pada suatu malam yang sudah direncanakan sebelumnya, Nek Jage turun dari pondoknya dengan tujuan untuk berburu. Nek Jage turun lebih awal dari sebelumnya. Ia telah berjanji akan pergi berburu kepada istrinya lebih awal lagi. Nek Jage berpikir bahwa barangkali saat-saat tengah malam semua binatang tidur, sehingga lebih mudah untuk menangkapnya. Peralatan semuanya sudah disiapkan oleh Nek Jage sendiri. Tombak, takin, manggar kelapa sebagai alat suluhnya di dalam hutan yang lebat, serta sedikit makanan dan air. Siapa tahu nantinya kelaparan atau kehausan di dalam hutan.
Kepergian Nek Jage tidak diketahui oleh istrinya, anak dan menantunya sekalipun, dan bahkan cucunya pun tidak mengetahui kepergian Nek Jage. Mereka semuanya tertidur lelap pada saat Nek Jage berangkat berburu ke hutan belantara. Nek Jage yakin benar bahwa di hutan nantinya ia akan mendapatkan binatang buruan yang banyak.
Di tengah malam buta, Nek Jage terus berjalan menyusuri hutan yang sangat lebat. Pohon-pohonnya pun besar-besar dan menjulang tinggi ke angkasa. Suara-suara burung pungguk, burung kuil, terngiang-ngiang ditelinganya. Suara burung-burung hantu yang menakutkan. Suara binatang malam terdengar di mana-mana membuat malam semakin seram saja. Tapi bagi Nek Jage, semua itu tidak menjadi halangan untuk berburu di tengah malam.
Di dalam perjalanan Nek Jage menyusuri hutan, tiba-tiba langkahnya terhenti seketika. Lampu suluhnya yang terbuat dari manggar kelapa telah padam, dan cadangannya pun telah habis. Nek Jage jadi bingung, belum saja mendapat hasil buruan, ada saja halangannya yaitu api suluhnya padam. Bagaimana bisa berburu jika tidak ada alat penerangannya.
“Ahhh, nasib memang lagi sial kali, baru saja mau berburu, apinya padam”, keluh Nek Jage.
“Apa salah dan dosa ku ya, Dewata?”, tambah Nek Jage berkeluh kesah.
Ketika ia lagi berkeluh kesah, tiba-tiba Nek Jage melihat ada cahaya yang bersinar begitu terang tidak jauh darinya. Secara spontan, Nek Jage heran melihat cahaya itu, matanya tidak berkedip sedikitpun melihat cahaya itu, kemudian Nek Jage mendekati cahaya itu.
“Cahaya apakah itu, terang sekali cahayanya?”, kata hati Nek Jage penuh tanda tanya.
“Nahhh, aku ada ide...lebih baik cahaya itu aku jadikan alat suluh untuk aku berburu”, ucap hati kecil Nek Jage yang mendapatkan ide baru.
Nek Jage terus mendekati sumber cahaya itu dan mengambil cahaya itu, lalu menempelkannya di dahinya. Ternyata cahaya yang bersinar itu adalah tumbuhan sejenis kulat kerang (cendawan) yang dapat memancarkan cahaya yang amat terang. Nek Jage membiarkan cahaya itu menempel di dahinya, dengan itu membuat Nek Jage lebih mudah berjalan dan berburu. Dengan adanya kulat yang bercahaya itu, Nek Jage merasa terbantu sekali, karena mudah baginya memburu hewan-hewan yang akan di tombaknya.
Dengan bantuan cahaya kulat itu, Nek Jage dapat berjalan dengan mudah dan disekitarnya menjadi terang benderang oleh sinar kulat itu. Nek Jage terus berjalan sambil mencari binatang buruan. Tiba-tiba cahaya yang ada dikening Nek Jage dengan secepat kilat menerangi babi yang lagi tidur di semak belukar. Herannya babi itu langsung terkapar di tempat itu juga. Nek Jage merasa heran dan terkagum-kagum akan keajaiban cahaya kulat yang menampel di dahinya. Betapa senanmgnya hati Nek Jage, akan kehebatan cahaya itu yang dapat mematikan binatang buruannya.
“Terima kasih! Terima kasih, Dewata.... kau telah menolongku. Terima kasih cahaya, kau juga telah menolongku!”, kata Nek Jage sambil tertawa berderai. Tawa Nek Jage memecah kesunyian malam yang mencekam. Tawanya menggema kepelosok-polosok hutan belantara. Tak putus-putusnya Nek Jage karena kegirangan mendapatkan seekor babi hutan yang amat besar. Nek Jage bangga akan kehebatan cahaya kullat yang baru ditemukannya itu. Tak lama kemudian ada seekor kijang sedang lewat yang tidak seberapa jauh di depannya. Begitu Nek Jage melihat kijang itu, seketika itu juga cahaya yang menempel dikeningnya mengenai kijang tersebut. Tiba-tiba dengan seketika kijang itu langsung mati terkapar. Nek Jage dengan senang hati bersorak kegirangan dan mengambil hewan buruannya.
Setelah merasa puas berburu, Nek Jage memutuskan untuk pulang kerumahnya. Nek Jage sudah merasa rindu dengan cucunya, meskipun hanya dua, tiga jam atau semalam Nek Jage sangat rindu akan cucunya itu. Rasa berat sekali Nek Jage berjauhan dengan si Maman cucu kesayangan. Ia memangul hasil buruannya dengan takin yang sudah dibawanya dari rumah. Dengan segera Nek Jage berjalan menyusuri hutan menuju rumahnya di tepi hutan.
Setibanya dipondoknya, semuanya sepi, baik istri anak dan menantunya tidak berada di rumah. Nek Jage merasa heran. Ke mana gerangan anggota keluarganya pergi. Tak ada satupun yang menyahut atas panggilan Nek Jage. Kegelisahannya semakin menjadi. Dengan rasa tak sabaran lagi, lalu dilemparkannya binatang hasil buruannya itu di luar rumah. Setelah Nek Jage masuk ke dalam rumah, tak satupun orang yang dijumpainya. Istri dan anak serta menantunya pada waktu itu semuanya ke ladang mengambil padi dan mencari jangung.
Tiba-tiba Nek Jage mendengar suara cucunya yang sedang bermain-main di dalam bauh. Bauh adalah tempat menyimpan padi, yang dindingnya sangat kokoh dan terbuat dari kulit kayu yang tebal. Nek Sari memang sengaja menyimpan cucunya di dalam bauh agar cucunya itu tidak kemana-mana, nanti takut cucunya main ke sungai, karena pondok atau rumah mereka tidak jauh dari hulu sungai Sebangkau.
Dengan rasa tidak sabaran lagi, Nek Jage lalu ingin melihat cucunya yang sedang bermain-main di dalam bauh. Karena merasa kesulitan melihat cucunya yang sedang bermain, maka Nek Jage langsung membuka pintu bauh yang terkunci dari luar. Serta merta cucunya yang melihat kakeknya segera berlari menemui kakeknya. Namun tiba-tiba cucunya terjerembab, roboh terkapar dilantai bauh. Nek Jage merasa heran, mengapa cucunya langsung jatuh tersungkur, ia langsung mendekap cucunya. Namun cucunya sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata yang mengakibatkan cucunya tidak bernyawa adalah cahaya yang masih memancar dari kening Nek Jage. Kulat itu masih menempel di dahi Nek Jage. Nek Jage sadar dengan hal itu, ia segera ingin melepaskan kulat yang menempel di dahinya, namun tidak bisa. Kulat itu sudah menempel dan menyatu dengan kulit dahinya Nek Jage. Kini tubuh cucunya si Maman terbujur kaku tidak bernyawa lagi di lantai bauh.
Melihat kejadian yang sangat memilukan itu, Nek Jage seperti orang gila. Ia terus menarik-narik kulat yang menempel di dahinya. Namun usahanya sia-sia belaka.
“Kau telah membunuh cucuku!”, teriak Nek Jage seperti orang gila.
“Kau telah membunuh cucuku...”, ucap Nek Jage meratap.    
Nek Jage sangat menyesal mengapa ia lupa melepas kulat kerang yang menempel di dahinya. Sehingga sinarnya yang mematikan itu menewaskan cucunya sendiri. Nek Jage terus mengamuk, dia marah sejadi-jadinya. Karena terlalu hebatnya dia mengamuk, maka rumah pondok dan bauhnya roboh dan berantakan menjadi puing-puing dan rata dengan tanah. Tidak lama setelah itu datanglah istri, anak dan menantunya. Mereka terkejut melihat rumah dan bauh mereka sudah rata dengan tanah. Apalagi setelah mereka melihat si Maman sudah terbujur kaku tidak bernyawa.
“Apa yang telah terjadi, Pak ...!?”, tanya Amat anaknya.
“Ada apa, Pak ...!?” tambah menantunya si Minah.
“Apa yang terjadi, Nek Jage dengan cucu kita...? Mengapa dia bisa mati....!?” tanya istri Nek Jage sambil menggoncang-goncang tubuh Nek Jage.
Nek Jage hanya diam, dia tidak bisa berkata-kata. Hatinya lagi sedih dan pilu, hatinya bagaikan ditusuk-tusuk dengan sembilu. Nek Jage terus mengamuk, Nek Jage mengamuk sambil meraung-raung sesunggukan. Nek Jage bagaikan orang yang lagi kemasukan Setan atau Jin. Dengan kejadian seperti itu, semuanya menangis sedih, hati mereka telah hancur. mereka ikut merasakan apa yang Nek Jage rasakan, karena anak dan cucu kesayangan mereka sudah tiada. Dengan keadaan mereka yang seperti itu, yang lagi di rundung duka lara. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, angin berhebus kencang dan guntur menggelegar bersahut-sahutan di angkasa. Kilat menyambar-nyambar pohon yang ada di sekitar mereka, sehingga menjadi robohlah pohon-pohon itu. Semua pohon-pohon yang ada di sekitar mereka rata dengan tanah.
Sementara itu hujan turun dengan deras secara terus menerus menyebabkan sungai Sebangkau meluap, dan batu-batu besar dari Gunung Pelanjau pun banyak yang bergulingan masuk ke dalam sungai Sebangkau. Nek Jage dan ahli keluarganya terguling-guling ke dalam sungai Sebangkau. Air sungai Sebangkau yang meluap telah menelan tubuh mereka sekeluarga. Pada saat itu pula batu-batu besar bermunculan dari dalam sungai Sebangkau. Nek Jage dan ahli keluarganya sudah menjadi batu. Semua itu adalah permintaan Nek Jage pada Dewata, dan Dewata pun mengabulkan permohonannya. Mereka semuanya dikutuk menjadi batu.
Kini batu Nek Jage terletak di tengah-tengah sungai Sebangkau di Kecamatan Tebas sekarang, yaitu di satu desa yang bernama desa Batu Mak Jage dusun Pelanjau. Batu-batu besar penjelmaan Nek Jage itulah yang sangat berbahaya bagi perahu yang bermuatan kayu dari hutan di hulu sungai yang ingin membawa hasil mereka ke hilir. Banyak dari perahu-perahu itu yang telah karam di sekitar batu Nek Jage tersebut. Sampai sekarang batu-batu itu masih ada, sehingga penduduk menyebutnya dengan sebutan BATU MAK JAGE.

KEPUSTAKAAN 


Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...