Senin, 21 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "Asal Usul Kampung Hangus"

Ilustrasi Kampung Hangus
Asal Usul Kampung Hangus, Selama dua abad kesultanan Sambas berdiri, selalu dirongrong oleh berbagai kekacauan baik yang datangnya dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kedaulatan sering dilanggar sehingga menimbulkan beberapa kali peperangan. Sampai penutup abad ke- 18 Belanda dan Inggris hanya berhasil melakukan perniagaan yang tidak mengikat.
Hubungan antara kesultanan Sambas dengan Belanda dan Inggris tidak terlalu akrab.
Inggris dan Belanda selalu berusaha menuntut pembagian tanah yang lebih luas untuk kantor dagang dan benteng (loji) sehingga timbul pertengkaran antara Sultan Sambas dan Inggris yang meminta tidak hanya hak monopoli dalam perdagangan, juga meminta tanah pemukiman didaerah Paloh “Tanjung Datuk”. Permohonan mereka ditolak oleh Sultan Sambas.
Alexander Hare, wakil pemerintah Inggris yang datang menemui Sultan Sambas pada tahun 1812 mengira akan dengan mudah mendapat beberapa bidang tanah di Sambas,mereka merasa kecewa atas sikap tegas Sultan terhadap mereka.
Pada masa itu Negeri Sambas dalam keadaan sangat lemah, karena secara berturut turut sejak tahun 1789 sampai dengan tahun 1791 diserang oleh pasukan Siak Sri Indrapura. Di dalam negeri mendapat gangguan dari Kongsi-kongsi pertambangan emas orang Cina.
Pada tahun 1811, Sultan Abu Bakar Tajudin I menerima laporan dari rakyatnya (nelayan penangkap ikan), bahwa dikuala Sungai Sambas Kecil telah berlabuh sebuah kapal asing milik East Idian Company kepunyaan Inggris yang amat mencurigakan. Kedatangan kapal Inggris itu ternyata untuk menuntut tanggung jawab dari Pangeran Anom yang telah menyerang kapal Inggris diperairan Banjarmasin dalam tahun 1789. Inggris memberitahukan agar Sultan Sambas mau memenuhi permintaan Inggris terhadap daerah Paloh.
Dalam upaya Sultan Sambas mempertahankan negerinya dari serangan pasukan Inggris itu, diperintahkan kepada panglima dan rakyatnya bersiap siaga membuat kubu pertahanan di sebelah kiri dan kanan Sungai Sambas Kecil dan dan menimbun batu batu besar ke dalam sungai tersebut untuk menghadang kapal kapal Inggris yang berusaha masuk menelusuri alur sungai Sambas Kecil. Karena timbunan batu tersebut kapal Inggris yang besar tak bisa masuk melalui sungai Sambas Kecil sehingga sampai sekarang daerah tersebut diberi nama kampung Sebatu (karena alur sungainya dipenuhi batu).
Bagaimana kisah serangan Inggris terhadap Sambas? Mayor William Thorn menjelaskan, serangan pertama dilakukan pasukan Inggris terhadap kerajaan Sambas adalah pada bulan Oktober 1812 dipimpin oleh Kapten Bowen dari kapal perang Inggris bernama Phoenix namun mereka tak dapat masuk sungai Sambas kecil karena terhalang batu yang ditimbun di sungai. Dalam serangan kedua pada tanggal 22 Juli 1813, dipimpin oleh Kapten Watson, mereka bergerak masuk melalui kampung Kartiasa di sungai Sambas besar.
Pada tanggal 23 Juli 1813, mereka menurunkan senjata dan pada tanggal 25 Juli 1813 tentara Inggris bergerak maju menuju kota Sambas. Sebelum bergerak masuk, mereka mengirimkan sepucuk surat kepada Sultan Sambas yang ditanda tangani oleh Kapten Sayer dan disampaikan oleh Kapten Bayley. Isi surat tersebut meminta kepada Sultan agar menyerahkan Pangeran Anom beserta pengikutnya kepada pasukan Inggris, surat yang disampaikan tersebut tidak ditanggapi oleh Sultan. Karena ia bersama rakyat telah bertekad tidak akan menyerah sebelum berlumur darah melawan penjajah.
Merasa dilecehkan,pada malam 26 Juli 1813 pasukan Inggris bergerak maju menyusuri Sungai Betung dan hutan rimba menuju Sambas. Gerakan pasukan Inggris ini dapat dihadang oleh pasukan Sambas, sehingga Inggris harus membagi pasukanya menjadi beberapa bagian agar dapat menembus pasukan Sambas. Di bawah pimpinan Kapten Morris dari resimen 14 juga tidak berhasil menaklukkan Sambas. Sedangkan pada kelompok lain di bawah komando Kapten Brookes dari Batalyon Sukarela Bengal 3, yang terdiri dari angkatan laut Inggris dengan 100 orang India harus mendaki jalan pintas yang terjal untuk sampai ke Sungai Sambas kecil.masing masing divisi diiringi oleh sekelompok kelasi bersenjata yang membantu membawa perbekalan dan membuat jalan perintis melewati hutan rimba.
Pasukan Inggris di bawah komando Watson diberangkatkan pada jam 03.00 pagi dan setelah melewati berbagai rintangan alam, sampai di daerah pertahanan pasukan Sambas pada jam 09.30 pagi. Pasukan Ingris menyerang dan menghujani Negeri Sambas dengan peluru meriamnya.
Pada saat saat yang genting itu sebenarnya Pangeran Anom beserta keluarganya tidak berada di Sambas. Ia sedang berkelana bersama pasukanya ke negeri lain. Ketika di dalam pelayaran ia menderita penyakit malaria. Kejadian itu terjadi pada tahun 1812. Karena penyakit malarianya yang lumayan parah, ia dan pasukanya menetap sementara di Lunduk (sekarang daerah tersebut masuk wilayah Sarawak atau Malaysia).
Karena penyakit tersebut Pangeran Anom tak mungkin pulang dan memimpin pasukanya. Oleh karena itu, diperintahkanlah Puteranya Pangeran Muda berangkat ke Sambas memimpin pasukanya untuk mengusir serangan pasukan Inggris.
Kubu pasukan Sambas ditepi sungai Betung tidak mungkin lagi dipertahankan. Lalu mereka berpindah mengundurkan diri disebelah timur daya, yaitu di Kampung Pendawan. Pasukan Inggris pun menggempur pertahanan di Kampung Pendawan karena pada saat itu pertahanan pasukan Sambas di Sebatu dan Sungai Betung telah berhasil mereka hancurkan.  Menghadapi serangan musuh yang serba lengkap senjatanya itu, pasukan Sambas bergabung menjadi satu maju kemedan perang di bawah komando Pangeran Muda (Putera Pangeran Anom). Terjadilah pertempuran yang sangat sengit dan hebat dalam hutan belantara. Oleh karena persenjataan yang tak berimbang, peperangan berubah menjadi perang gerilya dan berlangsung hingga berbulan bulan.
Di dalam pertempuranya ini, Pangeran Muda atas keberanianya yang luar biasa, ia  terkepung dalam lingkaran pasukan musuh sehingga ia gugur dimedan laga. Dengan kejadian tersebut semangat pasukan Sambas semakin menipis. Beberapa hari kemudian pasukan Inggris bergerak maju ke barat laut mengepung Pasukan Sambas sehingga tak berdaya dan terpaksa menyerah.
Kira kira 150 meter menyusur tepi sungai Sambas kecil hingga kesungai Teberau, pasukan musuh membakar sebuah kampung hingga hangus dan menjadi abu. Tempat itu hingga sekarang diberi nama “Kampung Angus”.
Ketika Pangeran Anom mendengar kabar bahwa Negeri Sambas telah kalah berperang dengan Inggris dan gugurnya Pangeran Muda (Putranya) dalam mempertahankan negeri Sambas naiklah darah pahlawanya. Ia amat marah walau dalam keadaan sakit keras, ia sangat merasa sedih atas gugurnya putranya serta penderitaan yang dialami rakyat Sambas. Tapi menyadari penyakitnya yang masih belum sembuh, ia berfikir lebih baik menetap saja di kampung Lunduk untuk sementara waktu dari pada kembali ke negeri Sambas.
Setelah Negeri Sambas dikuasai Inggris, datanglah berkunjung keistana Sultan komandan pasukan inggris dengan maksud untuk berkenalan dengan Sultan Abu Bakar Tajudin I dan Pangeran Anom.
Karena Pangeran Anom masih di kampung Lunduk, komandan tersebut mohon bantuan Sultan agar segera memerintahkan menterinya pergi ke kampung Lunduk membawa Pangeran Anom kembali ke Sambas.  
Sultan Sambas memerintahkan 4 orang Datuk Kyai serta berpuluh orang penggiring berangkat menjemput Pangeran Anom beserta keluarganya ke kampong Lunduk.
Setelah Pangeran Anom beserta keluarganya berada kembali di Sambas. Pangeran Anom pergi dengan Bedar menemui komandan pasukan Inggris di kapal perangnya. Pada hari berikutnya datang pula komandan perang pasukan Inggris ke istana Sambas membalas kunjungan Pangeran Anom yang telah dating ke kapalnya. Dan ia berjanji akan melaporkan segala perbincanganya dengan Sultan dan Pangeran Anom kepada atasanya di Batavia (Jakarta). Ia berjanji pula akan mendatangkan suatu utusan khusus ke Sambas untuk mengikat tali persahabatan dan perjanjian dagang dengan Sultan dan Pangeran Anom.
Demikianlah riwayat Negeri Sambas dan asal usul “Kampung Hangus”, setelah kalah perang melawan Inggris. Tiada berapa lama Pangeran Anom berada di Sambas ia diangkat mengantikan Sultan Abu Bakar Tajudin I.
Dalam penyerangan Inggris ke Sambas tahun 1812-1813, Inggris telah mengerahkan Resimen ke 14 Batalyon Sukarela Bengal 3 dan Artileri Bengal dengan kapal 3 perang yaitu: Kapal Perang Ratu Inggris, Leda dan Hussen. Menurut catatan Inggris, pasukan mereka yang tewas 15 orang diantaranya beberapa perwira Inggris dan 58 orang luka. Jumlah pasukan Sambas yang tewas: 12 orang Pangeran, 150 orang prajurit.

Sultan Abu Bakar Tajudin I meninggal dunia pada 20 hari bulan Ramadhan 1229 Hijriyah. Dan digantikan pada hari Jum’at 14 September 1814 M oleh Pangeran Anom dengan gelar Sultan Muhammad Ali Syafi’uddin I.

KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...