Senin, 21 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "ASAL USUL BATU BEJAMBAN DAN BATU LAYANG"

ASAL USUL BATU BEJAMBAN DAN BATU LAYANG


Menjelang abad ke-12 di sekitar wilayah pantai utara Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sambas terdapat sebuah Kerajaan Hindu Majapahit, dengan pusat pemerintahan di wilayah Paloh. Kerajaan tersebut telah beberapa kali mengalami perpindahan pusat kerajaan dan akhirnya menetap disuatu daerah masuk ke pedalaman yang sekarang ini dikenal dengan nama Desa Kota Lama. Daerah ini termasuk wilayah Kecamatan Galing sekarang.
Pada masa kekuasaan Kerajaan di daerah Paloh tersebut, di sebelah pantai selatan Kalimantan Barat juga terdapat suatu Kerajaan yang kuat dan tangguh. Kerajaan itu dikenal dengan nama Kerajaan Matan Tanjungpura. Kerajaan Matan Tanjungpura ini berpusat di daerah Sukadana, Kabupaten Ketapang. Antara kerajaan yang berada di daerah Paloh di Kabupaten Sambas, dengan Kerajaan Matan Tanjungpura di Ketapang sejak dulu telah terjalin hubungan bilateral. Hal ini terjadi karena kedua kerajaan ini menganut kepercayaan Hinduisme yang dibawa dari Majapahit.
Daripada itu, hubungan demi hubungan kian meningkat tidak saja dalam hal perdagangan akan tetapi lebih dipererat lagi pada hubungan perkawinan antara kedua kerajaan tersebut. Dengan demikian antara Kerajaan di Paloh Kabupaten Sambas dengan Kerajaan Matan Tanjungpura di Kabupaten Ketapang, sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa menganut kepercayaan Hinduisme Majapahit. Oleh karena itu kedua kerajaan itu tentu saja di bawah pengawasan kerajaan yang besar, yaitu Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur.
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa setiap kerajaan yang tunduk di bawah pengawasan kerajaan yang berkuasa pada masa itu berkewajiban untuk membayar upeti. Kewajiban membayar upeti kepada Kerajaan Majapahit itu tidak dapat dikatakan seperti perlakuan yang telah dilakukan oleh penjajah Belanda semata-mata hendak mengeruk kekayaan alam dan berusaha memecah belah persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Akibatnya rakyat Indonesia menderita selama masa imperialisme Belanda itu.
Lain halnya dengan membayar upeti dari kerajaan-kerajaan yang telah tunduk kepada Kerajaan Majapahit seperti yang dilakukan oleh Kerajaan di daerah Paloh dan Kerajaan Matan Tanjungpura tersebut. Di mana setiap tahunnya kedua kerajaan itu memberikan upetinya kepada Raja Majapahit dan hal ini merupakan suatu isyarat atau tanda penghormatan dan penghargaan dan bukan dianggap sebagai beban bagi masyarakat.
Demikian eratnya hubungan antara kedua kerajaan tersebut sehingga terjadi suatu peristiwa yang di luar jangkauan akal pikiran manusia.
Diceritakan bahwa pada waktu itu akan datang “kebenaran” atau berita dari alam ghaib. Seorang puteri yang mengaku bernama Puteri Ratu Pantai Selatan (sekarang disebut orang dengan nama Nyiroro Kidul, penguasa laut pantai selatan). Puteri Ratu Pantai Selatan  ingin berkunjung ke kerajaan yang terdapat di daerah Paloh tersebut. Sedangkan berita dari alam ghaib itu tidak pula menjelaskan siapa sebenarnya Puteri Ratu Pantai Selatan tersebut. Dan siapa nama raja yang berkuasa di daerah Paloh tersebut.
Ceritanya diawali dengan suatu kejadian di pusat kerajaan di sekitar daerah Paloh Kabupaten Sambas. Ketika itu kerajaan ini merupakan wilayah paling ujung sebelah pantai utara Kalimantan Barat. Seorang raja telah naik tahta dan berkuasa penuh di wilayah itu. Pada suatu hari, raja tersebut mendapat kabar berita melalui alamat mimpi yang diyakini berasal dari alam ghaib dan oleh penduduk di daerah Paloh itu dikenal dengan nama sebutan “negeri kebenaran”.
Negeri kebenaran sebenarnya adalah suatu alam ghaib yang tidak tampak oleh mata telanjang manusia. Namun keberadaannya masih dalam ruang lingkup Planet Bumi. Oleh karena itu, sebagian orang meyakini di “negeri kebenaran” ada penghuninya , yaitu makhluk-makhluk ghaib atau “makhluk bunian “, seperti halnya Puteri Ratu Pantai Selatan juga merupakan “makhluk bunian” dari “negeri kebenaran”.
Puteri Ratu Pantai Selatan inilah yang memberi alamat atau petunjuk melalui mimpi sang raja. Di dalam mimpinya itu Sang Puteri akan berkunjung ke Kerajaan Paloh. Sejak itulah daerah Paloh ini menjadi pusat “Kerajaan Negeri Kebenaran” yang telah melagenda di dalam masyarakat Kabupaten Sambas.
Kemudian, karena mendapatkan alamat mimpi dari negeri kebenaran, lalu sang raja merembukkan masalah ini dengan para hulubalangnya. Sementara itu, mendengar akan datangnya tamu yaitu tidak lain adalah Puteri Ratu Pantai Selatan, maka hati serta jantung para hulubalang menjadi bergetar dibuatnya. Sebab yang mereka pikirkan dan yang ada di dalam benak mereka itu bagaimana cara penyambutan Ratu Pantai Selatan itu nantinya.
Dari hasil rembukan itu, diambillah suatu kesepakatan tentang penyambutan Puteri Ratu Pantai Selatan yang akan turun dari negeri kebenaran dan berkunjung ke Paloh itu.
Sebagaimana diketahui, oleh karena Puteri Ratu Pantai Selatan bukanlah makhluk lazimnya seperti manusia biasa. Adapun yang akan dipergunakan sebagai sarana untuk Puteri Ratu Pantai Selatan naik ke kerajaan Paloh adalah tangga atau jalan bertingkat, dan inilah yang dikenal orang dengan nama “Batu Bejamban”. Konon diceritakan bahwa Batu Bejamban yang aslinya telah diangkat ketempat asalnya, yaitu negeri orang kebenaran. Dan yang tampak sekarang ini hanyalah berupa batu-batu karang yang tersusun bertingkat mulai dari dasar laut hingga ke darat, di dekat perairan laut Tanjung Datok.
Batu Bejamban adalah suatu tempat yang selalu “dikeramatkan” orang. Terlebih lagi oleh penduduk setempat di wilayah Kabupaten Sambas. Adapun asal-usul Batu Bejamban, kisahnya masih berkaitan dengan asal usul Batu Layang yang berada di daerah Pontianak.
Sama halnya dengan Batu Bejamban, Batu Layang juga merupakan daerah yang selalu dikeramatkan orang. Di mana di daerah Batu Layang terdapat banyak makam raja-raja Kesultanan Pontianak. Salah satu diantara makam raja tersebut adalah Makam Sultan Syarif Alkadri, yaitu pendiri kota Pontianak. Adapun tempatnya waktu daerah Batu Layang itu menjadi tempat pemakaman Raja-raja Pontianak serta alasan mengapa daerah tersebut dinamai Batu Layang mempunyai kisah tersendiri.
Batu Layang adalah batu yang dilayangkan dari Ketapang (maksudnya dari daerah Kabupaten Ketapang), menuju ke daerah Paloh. Sedangkan batu-batu tersebut diperuntukkan untuk membuat Batu Bejamban, sebuah tangga untuk Puteri Ratu Pantai Selatan naik dari dasar laut ke negeri Kerajaan Paloh, Negeri Kebanaran.
Beberapa buah batu yang diperuntukkan membuat tangga untuk menyambut Puteri Ratu Pantai Selatan yang melayang itu ada yang jatuh di pertengahan jalan (maksudnya di sekitar garis lintang khatulistiwa), yang sekarang ini dikenal dengan nama Desa Batu Layang. Desa Batu Layang ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Pontianak Utara.
Batu Layang, jauh sebelum kedatangan Syarif Abdurrahman Alkadri yang mendirikan Kota Pontianak itu merupakan daerah yang tidak bertuan. Sudah sejak lama ada dan telah banyak pula dikenal orang. Namun, entah siapa yang pertama memberikan nama Batu Layang terhadap daerah tersebut, tidak diketahui dengan pasti.
Akan tetapi, konon dikabarkan orang bahwa di perairan Sungai Kapuas di sekitar Pulau Batu Layang itu, terdapat seorang nelayan yang berasal dari hulu Sungai Landak sedang mencari ikan. Pada saat sedang asik menangkap ikan, tiba-tiba ia menyaksikan kejadian aneh di mana langit secara tiba-tiba cuaca mendung yang menandakan akan datangnya hujan. Bukannya hujan yang turun, melainkan barisan batu-batu yang melayang dan berterbangan itu membuat sinar matahari menjadi tertutup, sehingga cuaca tampak menjadi mendung.
Dari kejadian itulah, sehingga dari mulut ke mulut daerah tersebut dikenal dengan nama “Batu Layang”. Dan akhirnya sampai ke telinga Syarif Abdurrahman Alkadri hingga sekarang ini daerah itu merupakan tempat “keramat” yang selalu dikunjungi. Maka Syarif Abdurrahman Alkadri yaitu orang yang pertama mendirikan Kota Pontianak itu minta dimakamkan di tanah Batu Layang tersebut.
Kemudian kisah Batu Bejamban belumlah habis akibat beberapa batu-batu yang dilayangkan dari Ketapang itu ada yang jatuh di wilayah Batu Layang kini.
Setelah batu-batu layang itu tiba di tanah Paloh maka disusunlah batu-batu itu mulai dari dasar laut hingga ke darat (ke atas). Sebab Puteri Ratu Pantai Selatan akan menginjakkan kaki pertamanya ke darat. Sementara yang mengerjakan penyusunan batu-batu itu sehingga menjadi Batu Bejamban adalah makhluk ghaib juga. Makhluk ghaib ini yang mulai dari pengambilan batu dari Ketapang sampai pada tahap melaksanakan pengerjaan Batu Bejamban yang diketuai oleh seorang jin. Jin tersebut bernama Bujang Danor.
Setelah itu waktu berganti dengan cepatnya, Puteri Ratu Pantai Selatan tidak lama lagi akan datang. Persiapan penyambutannya pun mendapat perhatian khusus dari rakyat Kerajaan Paloh.
Pada tiap-tiap dusun dipasang umbul-umbul janur kuning dari nyiur kelapa. Di samping itu raja memerintahkan pada punggawa untuk secepatnya mendirikan sebuah keraton di Kota Lama (maksudnya bukan keraton Ratu Sepudak pada saat itu). Setelah itu pusat kerajaan di daerah Paloh dialihkan ke Kota Lama. Di Kota Lama terkenal dengan rajanya yang bergelar Ratu Sepudak.
Pendirian keraton di Kota Lama tidak lain diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan Puteri Ratu Pantai Selatan. Tempat untuk Tuan Puteri Ratu Pantai Selatan tidur, diberi “kelambu kuning”. Sedangkan untuk Tuan Puteri Ratu Pantai Selatan mandi, raja juga memerintahkan punggawa untuk mencarikan sebuah bukit. Dan bukit tempat Tuan Puteri Ratu Pantai Selatan itu mandi, terkenal dengan nama bukit Sebedang. Di mana bukit Sebedang ini terdapat danau yang sangat indah sekali. Di danau Sebedang inilah tempat Puteri Ratu Pantai Selatan itu mandi.
Demikian eloknya danau Sebedang dikelilingi oleh bukit atau tanah tinggi. Konon di tanah Sebedang ini pula telah terjadi peristiwa penguburan hidup-hidup sepasang anak manusia dan terkenal dalam sejarah lagenda “Bujang Nadi dan Dare Nandung”.
Kunjungan Puteri Ratu Pantai Selatan ke kerajaan di daerah Paloh itu membawa pesan bahwa antara Paloh dan Ketapang harus bergabung, (bergabung maksudnya saling bekerjasama dalam hal apapun).
Kedatangan Puteri Ratu Pantai Selatan pun kemudian disambut dengan penaburan beras kuning, beras merah, dan beras putih. Semua yang dilakukan tersebut dalam menyambut Puteri Ratu Pantai Selatan bermakna keselamatan. Semua itu adalah salah satu upacara masa dulu kala dalam proses penyambutan tamu, yang protokolernya dengan penaburan beras kuning, beras merah, dan beras putih.
Namun, sekarang protokoler penyambutan tamu adalah dengan cara mengalungkan bunga dan lain-lainnya.
Demikianlah kisah perjalanan Puteri Ratu Pantai Selatan, sehingga telah membuat dua peristiwa bersejarah di Kalimantan Barat, yang berbeda dan berlainan tempat itu. Yang pertama adalah Batu Bejamban di daerah Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas, dan yang kedua Batu Layang di Kecamatan Pontianak Utara.


 KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...