Senin, 21 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "ASAL MULA KERAJAAN SAMBAS"

ASAL MULA KERAJAAN SAMBAS


Dahuku kala sebelum berakhirnya pendudukan Jepang dan Nica di daerah Kalimantan Barat, di pantai utara terdapat Kerajaan Sambas. Sekarang Kabupaten Sambas. Meskipun pemerintahan ala Kerajaan tersebut telah tiada, namun bekas istana raja dan masjid Jami’ masih tetap berdiri dengan megahnya. Meskipun telah direnovasi di sana-sini, kedua bangunan ini merupakan peninggalan sejarah masa lampau dan merupakan salah satu objek wisata di daerah Kalimantan Barat.
Menurut sumber (bapak Uray Aliuddin Yusba), benda-benda peninggalan lainnya banyak yang telah diambil oleh Jepang. Dan menurut yang empunya cerita, bahwa kata SAMBAS itu berasal dari bahasa Cina. Bahasa Cina itu adalah SAM dan BAS. SAM artinya TIGA, sedangkan BAS artinya SUKU atau ETNIK. Jadi dapat disimpulkan SAMBAS berarti TIGA SUKU atau Tiga Bangsa Suku, yaitu; Melayu, Dayak, dan Cina.
Kata SAMBAS ini muncul ketika bangsa Inggris datang menyerang kawasan ini tahun 1812 M. wilayah ini dipertahankan oleh tiga suku atau tiga etnik, yaitu Melayu, Dayak, dan Cina. Nah, karena tiga suku ini berjuang mati-matian, orang Cina menyebutnya SAMBAS.
Sumber cerita lain tentang kerajaan ini, ketika diadakannya seminar sehari di Museum Negeri Pontianak yang juga dihadiri oleh keluarga Keraton Sambas.
Menurut cerita, bahwa Kerajaan Sambas masih ada kaitannya dengan Kerajaan Brunai Darussalam, karena Raden Sulaiman pendiri Kerajaan Islam Sambas. Ayahndanya, yaitu Raja Tengah yang berasal dari Kerajaan Brunai Darussalam. Sedangkan ibundanya Ratu Surya berasal dari Kerajaan Sukadana Ketapang.
Pada zaman dahulu kala, di negeri Brunai Darussalam bertahtalah seorang raja yang bergelar Sri Paduka Sultan Muhammad. Beliau hanya mempunyai seorang anak, yaitu seorang putri. Anaknya seorang yang tunggal, tidak berkakak dan tidak beradik, maka turunan dari putri inilah yang menjadi tumpuan harapan baginda untuk menggantikannya di atas tahta kerajaan.
Sezaman dengan masa pemerintahan Sri Paduka Sultan Muhammad ini, Kaisar Cina memerintahkan pula dua orang menterinya yang gagah perkasa untuk merebut Kemala Naga di puncak Gunung Kinabalu. Kedua menteri yang gagah perkasa ini bernama Wong Sin Teng dan Wang Kung. Sebelum kedua menteri ini, telah banyak para pendekar Cina yang dikirim ke sana, tetapi tidak ada yang berhasil. Bahkan mereka yang menjadi korban keganasan Naga itu. Naga itu sangat garang dan beringas mempertahankan Kemala di mulutnya. 
Dulu nama gunung ini adalah Gunung Cina Balu. Nama tersebut diberi untuk menghormati para balu atau janda Cina yang para suami mereka menjadi korban keganasan Naga yang ada di sana. Sudah lama berlalu, kemudian nama Gunung Cina Balu diubah menjadi Gunung Kinabalu. Perubahan itu diakibatkan oleh pergeseran waktu dan perubahan dialek masyarakat setempat dan pendatang. 
Dalam usahanya merebut Kemala Naga itu, Wong Sin Teng mendapat suatu akal. Ia menaruh lilin yang menyala dalam sebuah peti yang ada cerminnya. Tidak lama kemudian, datanglah si Naga tersebut mendekati cermin yang sudah di taruh oleh Wong Sin Teng. Peti itu dimain-mainkan oleh sang Naga. Naga itu melihat bayangannya di dalam cermin, karena bayangannya ada di dalam cermin tersebut. Naga itu menyangka ada naga lain yang menjadi tandingannya. Tanpa disadari oleh si naga, Kemala yang ada dimulutnya terlepas. Wong Sin Teng segera mengambil Kemala Naga itu, kemudian ia megajak Wong Kung cepat kembali ke negeri Cina. Setelah itu mereka pun berlayar menuju negeri Cina.
Malang tidak dapat dipalang, mujur tidak dapat diatur, dalam perjalanan mereka pulang, terjadi perselisihan antara Wong Sin Teng dan Wong Kung. Masing-masing dari mereka ingin memiliki Kemala Naga yang indah itu. Dalam suatu pertarungan kungfu yang dahsyat Wung Kung berhasil mendesak Wong Sin Teng, hingga Wong Sin Teng tercebur ke dalam laut. Akhirnya Kemala Naga itu direbut oleh si Wong Kung. Wong Kung membawa Kemala Naga itu ke negeri Cina, ia akan mempersembahkan Kemala Naga itu kepada Sang Kaisar. Wong Kung ingin mendapatkan sendiri hadiah yang akan diberikan oleh Sang Kaisar.
Sedangkan Wong Sin Teng terapung-apung di laut. Beberapa hari ia terombang-ambing dihanyutkan oleh air laut. Kemudian Wong Sin Teng ditemukan oleh sebuah perahu layar yang sedang menuju Kerajaan Brunai. Wong Sin Teng yang dalam keadaan sekarat berhasil diselamatkan oleh orang yang berlayar tersebut.
Beberapa hari kemudian setelah ia sembuh dan kondisi badannya sudah segar, ia pergi menghadap raja Brunai, yaitu Sri Paduka Sultan Muhammad. Wong Sin Teng berjanji akan mengabdi pada kerajaan Brunai dan taat setia kepada segala perintah raja. Ia tidak mau lagi pulang ke negeri leluhurnya. Wong Kung pulang ke negeri leluhurnya (Cina) dengan gembira, dan menyangka bahwa Wong Sin Teng telah mati ditelan ikan hiu.
Selama Wong Sin Teng di Kerajaan Brunai, ia berbuat dan bertindak dengan sangat baik dan mengikuti peraturan dan perintah Sri Paduka Sultan. Menurut pengamatan raja, selama Wong Sin Teng berada di Kerajaan Brunai, ia telah mengabdi dengan segala kesungguhan hati, setia dan jujur. Dalam pergaulannya ia menunjukkan tingkah laku serta tata tertib yang baik, sopan santun yang dapat dibanggakan.
Oleh karena itu raja tidak ragu-ragu untuk menjodohkannya dengan putri tunggalnya. Kemudian Wong Sin Teng masuk agama Islam, dan namanya diubah menjadi Akhmad. Setelah itu ia dikawinkan dengan putri Sri Paduka Sultan Muhammad. Setelah kawin dengan putri Sri Paduka Sultan Muhammad, ia bergelar Sultan. Sehingga nama lengkapnya adalah Sultan Akhmad.
Sifat-sifat kepemimpinan pada diri Sultan Akhmad telah menarik hati raja, di mana Sri Paduka Sultan Muhammad berkenan untuk menyerahkan tahta Kerajaan Brunai kepada menantunya ini. Demikianlah Sultan Akhmad naik tahta Kerajaan Brunai menggantikan Sri Paduka Sultan Muhammad yang telah berusia lanjut.
Dari perkawinan Sultan Akhmad dengan putri raja telah membuahkan anak seorang putri yang kelak setelah dewasa dijodohkan dengan Baginda Syarif Ali bin Ummi Ibnu Barkad, yang bergelar Sultan Barkad.
Sultan Barkad inilah kelak yang akan menurunkan raja-raja kerajaan Brunai.
Dalam silsilah raja-raja disebutkan:
Sultan Barkad berputra Sultan Sulaiman.
Sultan Sulaiman berputra Sultan Bulkiya.
Sultan Bulkiya berputra Sultan Abdul Kahar.
Sultan Abdul Kahar berputra Sultan Syaiful Rizal.
Sultan Syaiful Rizal berputra Sultan Syah Brunai.
Sultan Syah Brunai berputra Sultan Hasan.
Sultan Hasan berputra Sultan Abdul Djalil Akbar.
Sultan Abdul Djalil Akbar berputra Sultan Raja Tengah.
Raja Tengah ini kemudian datang ke Kerajaan Sukadana. Di Kerajaan Sukadana (Ketapang), Raja Tengah ini disegani, karena tingkah lakunya dalam pergaulan sehari-hari sangat menyenangkan. Raja Tengah ingin mempersunting anak Raja Sukadana. Setelah proses pelamaran, Raja Sukadana mengabulkan perjodohannya dengan putrinya yang bernama Ratu Surya. Dari perkawinan mereka lahirlah seorang putra yang diberi nama Raden Sulaiman. Raden Sulaiman inilah yang menjadi pendiri Kerajaan Islam Sambas.
Tentang raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Sambas, adalah sebagai berikut:
1.      Raden Sulaiman (Sultan Muhammad Syafiuddin I) 1652 – 1666.
2.      Raden Bima (Sultan Muhammad Tajuddin) 1666 – 1702.
3.      Raden Mulia (Sultan Umar Akamuddin) 1702 – 1727.
4.      Raden Bungsu (Sultan Abubakar Kamaluddin) 1727 – 1757.
5.      Raden Jamak (Sultan Umar Akamuddin II) 1757 – 1782.
6.      Raden Gayung (Sultan Muda Akhmad) 1782 – 1789.
7.      Raden Janggut (Sultan Abubakar Tajuddin I) 1789 – 1811.
8.      Pangeran Anom (Sultan Mohammad Ali Syafiuddin I) 1813 – 1826.
9.      Raden Usman (Sultan Usman Kamaludin) mewakili 1826 – 1829.
10.  Raden Tengah (Sultan Umar Akamuddin III) mewakili 1829 – 1848.
11.  Raden Iskak (Sultan Abubakar Tajuddin II) 1848 – 1853.
12.  Raden Bintang (Sultan Umar Kamaludin) mewakili 1853 – 1866.
13.  Raden Afifuddin (Sultan Muhammad Safiuddin II) 1866 – 1922.
14.  Raden Muhammad Ali Arya Diningrat (Sultan Muhammad Ali Syafiuddin II) mewakili 1922 – 1926.
15.  Raden Muhammad Mulia Ibrahim (Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin) 1931 – 1943.
Setelah Kesultanan Sambas berakhir, Istana dipimpin oleh Pangeran, diantaranya:
1.      Pangeran Ratu Muhammad Taufik bin Sultan Muhammad Ibrahim Shafiuddin (1944-1984)      (Kepala Rumah Tangga Istana Kesultanan Sambas).
2.      Pangeran Ratu Winata Kusuma bin Pangeran Ratu Muhammad Taufik (2000-2008) (Kepala Rumah Tangga Istana Kesultanan Sambas).

3.      Pangeran Ratu Muhammad Tarhan bin Pangeran Ratu Winata Kesuma (2008) hingga sekarang) sebagai Pewaris Kepala Rumah Tangga Istana Kesultanan Sambas.

KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...