Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "ASAL MULA BATU BETARUB"

ASAL MULA BATU BETARUB


Di kampung Naning, Desa Tempapan Kuala, termasuk wilayah Kecamatan Teluk Keramat, terdapat sebuah batu besar dan tidak jauh dari tempat itu ada pula sebuah batu yang menyerupai seekor ikan. Batu besar itu dinamakan Batu Betarub, karena bentuknya seperti Tarub. Tarub adalah bentuk bangunan rumah yang biasanya didirikan di depan rumah sebagai bangunan sementara, yang dipergunakan untuk tempat tamu undangan bila ada perayaan seperti perkawinan, khitanan, pindah rumah baru, sepanjang ruangan rumah (serambi) tidak mampu menampung para undangan. Setelah selesai acara, maka tarub itu dibongkar kembali. Bangunan tarub mempunyai atap dan lantai, akan tetapi tidak mempunyai dinding.
Cerita rakyat ini yaitu Batu Betarub ada kaitannya dengan suatu kepercayaan di kalangan orang-orang tua, yaitu dilarang mentertawakan kucing, karena akan mengundang guntur dan petir serta halilintar yang disertai hujan dan angin ribut yang mungkin akan mendatangkan suatu bencana. Tetapi bila keadaan cuaca demikian, dianjurkan pula untuk menggesek-gesekkan sepotong besi dengan sepotong temiang (sejenis bambu yang kulitnya agak kesat dan mempunyai ruas-ruas agak panjang yang digunakan untuk bahan membuat seruling). Gesekan kedua benda itu akan menimbulkan bunyi yang sangat merangsang saraf gigi, dan gigi akan menjadi ngilu. Sambil menggesek-gesekkan sepotong besi dan temiang, dilantunkan pula semacam mantra yang berbunyi “Jauh gigi lentar jauh. Nyillok gigi lentar nyillok. Sittok lappak burrong sinnun lappak babi. Sittok urrong sinnun jadi”. Maksud dari mantra itu adalah agar rumah di mana sebagai tempat menggesek-gesekkan besi dengan temiang itu, agar guntur, petir, hujan dan angin cepat reda dan rumah tersebut terhindar dari sambaran petir.
Kisah ini terjadi pada jaman dahulu. Pada jaman dahulu, tersebutlah seorang penduduk disebuah kampung akan mengawinkan anak perempuannya. Sebagai satu-satunya anak perempuan, maka perayaan pesta perkawinan akan dilaksanakan secara meriah. Tidak hanya penduduk dikampung itu yang akan diundang, namun juga beberapa wargayang berasal dari kampung lain akan diundang dengan harapan agar pesta itu tambah meriah dan semarak. Untuk menampung para tamu, maka didepan rumah didirikan sebuah tarub yang cukup luas. Selang dua hari menjelang pesta tarub dan keperluan lainnya telah selesai dikerjakan berkat semangat gotong-royong dari warga kampung.
Pada hari kac-cik atau hari motong (sehari menjelang pesta), kegiatan di rumah mempelai perempuan itu semakin meningkat, tetangga semakin sibuk dengan tugas pekerjaannya masing-masing. Hewan-hewan seperti sapi, kambing, ayam dan itik, untu lauk pauk yang akan disuguhkan bagi para undangan telah mulai dipotong atau disembelih. Biasanya penyembelihan itu dilakukan oleh Pak Lebai. Pak Lebai adalah orang yang dituakan di kampung dan tugasnya membaca do’a, menikahkan orang, dan lain sebagainya.
Dibagian dapur, para juru masak sibuk membuat bumbu, dan di ruang tengah penata tempat sibuk pula menata pelaminan mempelai. Sementara itu tarub dihias dengan berbagai warna dan janur dari daun kelapa muda dan tua, agar memberikan kesan indah dan anggun. Kelihatanlah bahwa di rumah tersebut ada suatu acara perkawinan yang meriah.
Di desa tersebut, hiduplah sebuah keluarga miskin yang hanya terdiri dari seorang ibu dengan seorang anak. Anaknya sudah lumayan besar sekitar umur tujuh tahun. Keluarga ini adalah keluarga yang paling miskin di desa itu. Orang selalu tidak menganggap keberadaan mereka dan mengucilkan mereka. Ibunya hanya bekerja sebagai pencari kayu bakar untuk menghidupi keluarganya, dan kadang-kadang meminta-minta.
Orang lain sibuk dengan pekerjannya menghias, mendekor dan menyembelih hewan-hewan untuk acara. Sedangkan keluarga si miskin tidak diundang sama sekali keacara tersebut. Sedangkan seluruh warga kampung itu diundang, dan bahkan ke desa tetangga. Setelah mendengar cerita itu, si anak merasa ingin sekali pergi ke acara selamatan tersebut, karena seumur hidupnya dia tidak pernah pergi ke acara yang seperti itu.
”Mak, aku tidak pernah pergi ke acara yang seperti itu” kata anak itu kepada ibunya.
Lalu anak itu bertanya kepada ibunya.
”Mak, apakah kita diundang oleh orang kaya di acara pernikahan anaknya itu?”, tanya anak itu pada ibunya.
Lalu jawab ibunya.
”Tak tahu ya, coba kamu bertanya ke orang di situ”
Lalu jawab si anak lagi.
”Mana ada Mak orang yang mau memberitahu kita. Aku kan bau”, kata anak itu kepada ibunya.
”Oh, kalau begitu biar Mak saja yang bertanya” kata ibunya.
Di saat-saat kesibukan itu, muncullah perempuan miskin peminta-minta sambil memimbing anaknya. Ibu tersebut menemui salah seorang diantara mereka, disaat orang lain pada sibuk bekerja, kemudian bertanyalah ia kepada tetangganya itu.
”Eh, Cang, apakah aku diundang di acara itu?”, tanya ibu itu pada tetangganya yang bernama Icang.
”Tidak tahu ya. Sepertinya tidak ada. Aku cuma mengundang orang yang namanya tertera di sini”,  kata tetangga tadi dengan memperlihatkan selembar kertas.
Karena si Icang adalah tukang sarrok orang kaya tersebut. Tukang sarrok adalah orang yang disuruh oleh tuan rumah untuk mengundang para tetangga agar hadir pada saat acara perkawinan yang telah ditentukan waktu dan hari pelaksanaanya.
Semula orang-orang tidak begitu acuh dengannya. Namun, kemudian datanglah seseorang membawa sepiring nasi dan memberikan kepadanya. Dengan tangan gemetar perempuan peminta-minta itu menyambutnya, tetapi ketika dilihatnya isi piring itu ia terkejut. Isi piring itu ternyata hanyalah nasi sisa yang bercampur dengan tulang-tulang yang bekas dimakan.
Belum sempat ia berpikir, datang pula seseorang yang membawa usus-usus ayam dan dengan serta merta membelitkannya ke leher anak si peminta-minta tersebut, persis seperti seuntai kalung. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu tertawa, anak-anak bersorak-sorai, dianggapnya hal itu lucu dan menggelikan hati. Mendapat perlakuan yang demikian, maka cepat-cepat perempuan miskin itu pulang meninggalkan keramaian di pesta tersebut. Hatinya pedih bagaikan disayat sembilu sehingga matanya banjir dan menitikkan air mata. Rasa lapar yang dirasakan dengan sekejap hilang, semuanya sirna bagaikan ditelan bumi. Rasa lapar tidak lagi dihiraukannya. Sementara, orang-orang di rumah itu kembali bekerja. Mereka bekerja sesuai dengan pekerjaannya masing-masing sebagaimana yang telah ditentukan sebelumnya. Mereka biasa-biasa saja, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.        
Rasa kesal ibu miskin itu menyeruak. Kemudian sadarlah dia bahwa dia adalah orang paling miskin di kampungnya. Kemudian diberitahukannya kepada si anak bahwa keluarganya tidak diundang oleh orang yang mengadakan acara itu. Anaknya menjadi sedih, hatinya pilu. Anak kecil itu ingin sekali pergi keacara tersebut, ia ingin sekali seperti orang lain yang dapat makan enak.
”Mak...!” kata anak itu.
”Aku harus pergi ke acara itu apapun yang terjadi” kata anak itu lagi.
“Jangan anakku, kita tidak diundang”, jelas ibunya.
”Aku harus pergi ke acara itu, Mak…!. Apapun yang akan terjadi, Mak…!” kata anak itu dengan nekadnya. Ibunya hanya diam tertunduk sedih dan meneteskan air mata.
Pada malam harinya, suasana di rumah mempelai perempuan itu semakin sibuk, terutama di ruang tengah yaitu tempat pelaminan kedua mempelai. Dari arah dapur berhembus bau bumbu masakan yang merangsang selera makan. Tetapi nun jauh di sana, digubuknya yang hamper roboh, perempuan miskin yang malang itu semalam-malaman tidak dapat tidur sepicing pun. Masih jelas terbayang dimatanya apa yang dialaminya pada siang itu. Sampai hati benar orang-orang memperlakukannya sehina itu. Sementara sang anak tidur nyenyak beralaskan selembar tikar yang telah usang. Mungkin anak itu lagi bermimpi makan enak di rumah si orang kaya tersebut, karena tidurnya begitu pulas.
Tibalah hari yang dinanti-natikan oleh orang-orang kampung dan para undangan yang ingin berpesta diacara tersebut. Tarub orang yang kaya yang kemarennya di buat, kini telah penuh dengan tamu-tamu undangan. Tarub tersebut itu adalah tempat orang-orang terhormat berkumpul seperti kiai, kepala kampung, kepala dusun, tokoh masyarakat, pak haji, pak lebai, pk Rt, pak Rw, dan lain sebagainya. Pokoknya orang kaya dan terhormat yang datang pada sebuah acara perkawinan tersebut, yang memang sengaja dibuat oleh orang-orang.
Suasana riang gembira nmpak meliputi rumah mempelai perempuan. Cuaca pagi yang cerah, dengan sinar mentari yang lembut, awan pun berarak di langit biru, sepoi-sepoi angin bertiup menghembus para undangan. Semua itu tidak menampakkan hujan akan turun. Alam yang begitu ramah sepertinya ikut bergembira dan ingin menyaksikan saat-sat bahagia kedua mempelai duduk bersanding. Para tamu undangan laki-laki dan perempuan telah mulai berdatangan dan disambut oleh tuan rumah dengan wajah cerah dan penuh senyuman.
“Silakan-silakan masuk, Pak,Bu,,,silakan duduk pada tempat yang telah kami sediakan” ucap tuan rumah kepada tamu-tamunya.
“Terima kasih, Pak,,,mari Pak…”, balas para tamu kepada tuan rumah.  
“Selamat ya, Pak, atas dapat menantunya, semoga kelurganya bahagia sampai keanak cucu”, salah satu tamu menambahkan.
“Terima kasih, Bu”, jawab tuan rumah.
Setiap tamu yang datang memberikan ucapan selamat dan merasa kagum akan keindahan dan keanggunan pelaminan tempat mempelai bersanding yang ditata dengan sedemikian rupa.   
Acara sebentar lagi dimulai, tamu kini sudah ramai yang berdatangan, baik orang sekampung atau pun dari orang dari luar kampong. Orang sekampung sudah ramai yang datang. Melihat orang sekampung pergi ke acara itu, si anak pun ikut pergi juga. Berdandanlah si anak tersebut. Ketika sampai di tarub, si anak ditahan oleh si penjaga tarub.
”Ada apa kamu ke sini? Kamu itu tidak diundang” kata penjaga tarub tadi.
“Aku juga ingin ikut kepesta perkawinan ini. Aku juga mau makan enak seperti anak-anak itu”, jawab anak kecil itu mengiba sambil menunjuk kearah anak yang lainnya.
Namun apa yang terjadi, penjaga tarub mendorong tubuh anak kecil tersebut hingga jatuh. Merasa diperlakukan seperti itu, pulanglah anak kecil itu ke rumahnya. Setibanya di rumah, dia pun langsung memberitahu kepada ibunya apa yang di alaminya di acara tadi. Kemudian ibunya menyuruh dia untuk pergi kembali, pergilah si anak untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi, anak tersebut tetap saja diusir oleh penjaga tarub tersebut. Penjaga tarub tersebut mendorong anak tersebut lagi. Kemudian si anak kembali ke rumah dan memberitahukan kejadian tersebut kepada ibunya.
Sementara itu, dari kejauhan mulai terdengar suara arak-arakan rombongan mempelai laki-laki yang semakin lama semaki dekat juga dan akhirnya tibalah di depan tarub. Setelah diadakan upacara penyambutan, kemudian mempelai laki-laki dibawa ke ruang tengah tempat tamu perempuan, kemudian disitulah mereka duduk bersanding. Tamu-tamu saling berbisik memuji-muji kedua mempelai, sedangkan sebentar-sebentar kedua mempelai tersebut melemparkan senyuman kea rah tamu-tamunya.
Setelah sampai anak kecil itu di rumahnya, ibunya menyuruh anaknya untuk mandi sampai bersih.
”Coba kamu pergi lagi dan sebelum kamu pergi kamu harus mandi sampai bersih. Mungkin saja badanmu masih bau sehingga orang tidak mau menerimamu hadir di acara tersebut”.
Kemudian si anak tanpa berpikir panjang menuruti perintah ibunya. Setelah mandi si anak langsung pergi ke acara tersebut untuk ketiga kalinya. Akan tetapi, anak tersebut masih juga didorong oleh si penjaga tarub tersebut. Dengan hati yang sedih si anak kembali lagi ke rumahnya dan memberitahukan lagi apa yang dialaminya kepada si ibu. Mendengar cerita anaknya, hati si ibu pun menjadi geram terhadap perlakuan si penjaga tarub terhadap anaknya, maka timbullah niat jahat si ibu. Karena ibu tersebut tidak tahan melihat anaknya dihina dan dicaci.
”Oh, kalau begitu caranya orang dengan kami, kami juga bisa berbuat jahat dengan orang” kata si ibu.
”Kalau begitu, kamu dandani kucing kita ini dengan memakaikan baju kepadanya sehingga menjadi kucing yang benar-benar bagus. Kemudian kita bawa kucing tersebut ke acara orang kaya itu” kata si ibu.
Kemudian si anak dengan si ibu pergi ke acara tersebut sambil membawa kucing yang sudah didandani tadi. Ketika tamu sedang asik berbincang, muncullah perempuan peminta-minta itu. Dengan teresa-gesa tiba-tiba ia melemparkan seekor kucing ke dalam tarub lalu berlari pulang. Kucing itu yang sudah diberinya baju dan celana, serta pada ekornya yang bengkok diikatkan sehelai kain perca. Dan pula, kucing tersebut sudah didandani layaknya seorang manusia. Selain pakaian, baju dan celana, kucing itu juga dipolesi bedak dan lipstik tebal-tebal Kucing itu melompat-lompat dan berguling-guling. Kucing itu berusaha melepaskan kain perca yang terikat di ekornya. Namun usaha kucing tersebut sia-sia.     
Melihat tingkah laku kucing tersebut, orang yang ada di tarub tersebut dan orang-orang yang diluar tarub, semuanya pada tertawa sekeras-kerasnya. Tidak ada yang peduli untuk menangkap kucing tersebut. Karena kucing itu berlari-lari kebingungan tidak terarah. Kucing itu berlari sesuka hatinya, ia tidak tahu arah mana yang harus ditujunya. Kemudian, kucing itu berlari keruang tengah sambil melompat ke sana ke mari, berguling-guling, berbaring dengan kaki-kakinya ke atas dan menerjang-nerjang. Tamu perempuan yang melihatnya tertawa geli, anak-anak bersorak bukan main riuhnya. Suasana menjadi tambah ramai, karena diantara tamu perempuan itu ada orang yang mengidap penyakit latah. Orang mengira kalau kucing tersebut sedang menari-nari dan bermain acrobat, semakin besarlah ketawa orang-orang yang ada di situ.
Mereka ikut menirukan gaya kucing tersebut. Melompat…, jongkok…, merangkak…, dan gaya-gaya yang lainnya. Orang-orang bagaikan tidak sadar, mereka memukuli tubuhnya, dan tubuh tamu yang lainnya. Adapula yang menjerit-jerit dan memaki-maki. Kedua mempelai ikut terbawa suasana, tubuhnya kemudian bergoyang-goyang menahan tawa. Tetapi tidak ada seorang pun yang berusaha menangkap kucing itu.    
Dalam suasana yang hiruk-pikuk yang demikian itu, tidak lama kemudian, suasana alam di sekitarnya berubah. Awan hitam tiba-tiba meliputi kampung itu. Angin ribut mulai bertiup, hujan pun bagaikan dicurahkan dari langit. Kilat dan petir  tiba-tiba menyambar. Pepohonan di sekiranya mulai tumbang bergelimpangan. Tidak seorang pun yang berani ke luar rumah. Suara tawa kini berubah dengan pekik dan jerit-jeritan perempuan dan anak-anak kecil, mereka berteriak ketakutan.
Tidak ada yang mengira akan terjadi perubahan cuaca secepat itu. Alam yang tadinya ramah, sekarang murka dan tidak ingin bersahabat dengan mereka lagi. Seluruh penghuni rumah itu dicekam rasa ketakutan, begitu juga dengan orang-orang diluar rumah serta para tamu undangan yang berada di tarub. Lain halnya dengan perempuan miskin itu, dengan cepat-cepat ia berlari pulang, namun ia tidak berani masuk ke rumahnya, takut kalau-kalau rumah itu akan roboh diterjang angin yang kencang. Sambil membawa anaknya ia berteduh di bawah serumpun bambu temiang. Tiupan angin yang keras membuat batang-batang temiang beruas panjang itu berbenturan dan gesekannya menimbulkan bunyi yang merangsang saraf-saraf gigi. Perempuan miskin itu gemetar ketakutan. Dia memeluk anaknya dengan erat sekali. Tanpa sadar perempuan miskin itu memohon kepada Sang Pencipta. Dengan suaranya yang lirih ia mengatakan:
“Jauh gigi lentar jauh. Nyillok gigi lentar nyillok. Sittok lappak burrong sinnun lappak babi. Sittok urrong sinnun jadi”.
Berulang-ulang ibu itu mengucapkan permohonannya pada Sang Pencipta.
“Jauh gigi lentar jauh. Nyillok gigi lentar nyillok. Sittok lappak burrong sinnun lappak babi. Sittok urrong di sinnnuuuuuun jadi”.
Kalimat itu terus diucapkan oleh ibu miskin tersebut, dengan diiringi bunyi gesekan bambu temiang, diterangi kilat, dentum guntur dan petir serta gemuruh deru angin. Tiba-tiba alam sekitarnya menjadi terang bercahaya dan dengan bersamaan dengan itu terdengar bunyi ledakan yang dahsyat. Perempuan itu memekik sambil menutup telinga dan memejamkan matanya. Kemudian ia membuka matanya kembali. Ketika itu cahaya telah sirna dan bunyi ledakan dahsyat itu telah hilang tidak terdengar lagi. Alangkah herannya, alam disekelilingnya tenang, hening dan sepi. Daun dan rerumputan diam tidak bergerak, burung-burung tidak ada yang berkicau, hening semuanya. Jangkrik-jangkrik pun tidak ada yang terdengar. Angin ribut yang tadinya seperti akan memusnahkan setiap yang menghadangnya, hujan yang bagai dicurahkan dari langit, guntur dan petir serta halilintar yang seolah akan menghancurkan jagat raya, kini tiba-tiba sirna, kecuali tetes-tetes air hujan yang tersisa dan jatuh dari ujung-ujung daun temiang.
Yang paling mengherankan lagi, dan tidak ada yang mengira rumah dan tarub besar itu telah menjadi batu akibat disambar petir. Petir juga menyambar orang-orang  yang berada di dalam tarub tersebut. Semua tamu dan penghuni di dalamnya tidak seorang pun yang berhasil menyelamatkan diri. Mereka terperangkap dan terkurung di dalam batu besar itu yang masih mengeluarkan asap panas. Akan tetapi, si anak dengan si ibu yang miskin tersebut, yang tadinya bersembunyi di batang temiang, tidak terjadi apa-apa pada mereka. Mereka selamat dari sambaran halilintar atau petir yang sangat dahsyat itu.
Perempuan tua itu masih sempat mendengar suara rintihan seperti orang kehausan, dan seperti orang kelaparan yang datang dari dalam batu itu. Sampai beberapa hari sejak peristiwa itu, konon suara rintihan itu sering terdengar. Upaya memberikan bantuan air hanya dapat dilakukan dengan menggunakan sepotong bamboo yang dimasukkan melalui sebuah lubang kecil yang terdapat pada salah satu dinding batu tersebut.
Sampai sekarang, jika petir menyambar gesekkan saja batang bambu agar tidak terkena sambaran petir itu. Begitulah cerita mengapa disebut batu betarub yang sekarang batu tersebut terdapat di kampung Daup, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas. Tidak jauh dari  batu Betarub itu terdapat pula sebuah batu yang menyerupai seekor ikan.

Kebiasaan penduduk Sambas, apabila hujan dan angina rebut serta halilintar berkecamuk, maka mereka menggesek-gesekkan sepotong temiang dengan sepotong besi, dengan tujuan agar aangin ribut dan hujan cepat reda terutama agar petir tidak sampai menyambar rumah-rumah mereka. Dan pula jika hari sedang turun hujan disertai petir atau halilintar yang menyambar, jangan tertawa, apalagi mentertawakan kucing. Disamping itu, kaca cermin yang besar ditutup dengan kain, kaca cermin yang kecil, dibalik ke belakang. Dengan tujuan agar tidak disambar petir. Itulah kepercayaan masyarakat Sambas dari dulu hingga sejarang. Namun sekarang sudah agak berkurang kepercayaan masyarakat terhadap mitos-mitos tersebut. Mungkin dengan masuk dan berkembangnya teknologi pada generasi baru.

KEPUSTAKAAN 


Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...