Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "IKAN PATING"

IKAN PATING


Ikan pating adalah salah satu jenis ikan konsumsi yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini banyak dijumpai di sungai-sungai. Bentuk ikan pating cukup unik. Badannya panjang dan berwarna putih dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Selain itu, ikan pating juga mengandung protein hewani yang cukup tinggi dan rasanya pun gurih. Meski demikian, tidak semua masyarakat di Kabupaten Sambas mau memakannya. Mengapa demikian? Temukan jawabannya dalam cerita Ikan Pating berikut ini!
Kalan Tuik, itulah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Selakau. Nama Kalan berasal dari kata Pangkalan. Menurut kebiasaan orang Sambas, mereka menyebutnya “Ngkalan” yang artinya tempat mandi atau mencuci dipinggir sungai. Sedangkan kata “Tuik” berasal dari salah satu jenis pohon yang hidup di pinggiran sungai.
Konon pada zaman dahulu kala, di desa Kalan Tuik hiduplah seorang ibu yang biasa dipanggil Nek Kattah bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Bujang. Karena si Bujang adalah anak satu-satunya, dan telah mati ditinggal ayahnya sejak kecil, oleh karena itu tumpahan kasih sayang ibunya tercurah hanya pada si Bujang. Tidak heran jika si Bujang tumbuh menjadi anak yang sangat manja sekali. Kerja si Bujang setiap harinya hanya tidur melulu. Sedangkan ibunya tidak pernah sama sekali memaksa si Bujang untuk bekerja di sawah atau pun di kebun.
Pada suatu hari si Bujang disuruh oleh ibunya untuk memancing di Ngkalan. Karena kemanjaannya, maka si Bujang minta dipersiapkan segala sesuatunya, sampai-sampai mata pancingnya pun telah dipasangkan umpannya oleh ibunya. Dengan sedikit agak dipaksa, akhirnya si Bujang bangkit juga dari tempat tidurnya, lalu ia menuju Ngkalan. Ia segera naik perahu sambil membawa pancingnya. Setelah pancingnya dilabuh ke dalam sungai, si Bujang kembali melanjutkan tidurnya. Dasar penidur si Bujang, dalam perahu di tengah sungai dengan sinar matahari yang membakar tubuh, ternyata bukan halangan bagi si Bujang untuk tidur dan bermimpi.  
Dalam tidurnya si Bujang bermimpi, ia didatangi oleh seorang bidadari yang sangat cantik. Bidadari itu datang dengan menggunakan pakaian serba putih berkilauan yang muncul begitu saja di dekat perahu. Sudah tentu si Bujang sangat gembira. Hati si Bujang berbunga-bunga seperti di taman Eden saja lagaknya. Bujang ingin sekali bercanda dengan bidadari itu, namun sang bidadari pergi begitu saja meninggalkan si Bujang. Bujang berusaha untuk mengejarnya, tetapi ia tidak berhasil, sebab ketika si Bujang mencoba hendak menangkapnya, bidadari itu langsung menceburkan diri ke sungai sehingga tubuhnya menjadi basah. Karena Bujang merasa tubuhnya telah basah terkena air, maka ia pun terjaga dari mimpinya. Namun ternyata tubuhnya benar-benar basah oleh cipratan air, tetapi bukan oleh cipratan air sungai melainkan air hujan rintik-rintik. Siang hari itu hujan rintik-rintik, namun mentari tetap bersinar terang. Orang Kabupaten Sambas biasa menyebutnya dengan hujan panas.
Orang tua-tua menasehatkan bahwa ketika hari dalam keadaan hujan panas, maka banyak roh-roh jahat yang berkeliaran, sehingga mereka melarang keras anak-anaknya untuk keluar rumah. Roh-roh jahat yang mengganggu ketika hari sedang hujan panas dinamakan hantu hujan panas. Sebagian paranormal atau dukun mengatakan bahwa yang menjadi hantu hujan panas adalah manusia biasa yang masih hidup yang memiliki ilmu kebatinan khusus. Biasanya dalam tradisi dari tanah Jawa disebut dengan siluman atau manusia jadi-jadian. Sebagian dukun juga ada yang mengatakan bahwa yang menjadi hantu hujan panas adalah Pak Haji yang bernama Karem atau orang-orang kampung biasanya memanggil dengan sebutan H. Karem. Sebagai penangkal ketika hari hujan panas biasanya di rumah-rumah dipasangi pelita atau menyalakan api di dapur atau di tempat khusus, misalnya dalam panci buruk atau pinggan seng buruk (jelek = pinggan yang tidak terpakai lagi) untuk membuat perabun (bara). Sedangkan perabun atau bara tersebut diberi kulit-kulit bawang merah atau pun sisa-sisa bekas cabe kering. Hal ini dimaksudkan supaya hantu hujan panas tahu tempat yang ada apinya adalah rumah manusia sehingga ia tidak berani untuk mengganggu penghuni rumah tersebut.
Setelah terjaga dari tidurnya, maka si Bujang baru teringat akan pancingnya. Ia segera mengangkat pancing dan ternyata ada seekor ikan pating (salah satu jenis ikan air tawar), melekat dimata pancingnya. Ikan tersebut diambil kemudian disimpan di timbak ruang (bagian tengah dari ruang sampan). Tak ayal lagi, setelah pancing dilabuh yang kedua kalinya, si Bujang tertidur kembali. Bujang kembali melanjutkan tidurnya dengan harapan semoga bidadari tersebut muncul kembali dalam mimpinya.
Tidak lama kemudian, ibu si Bujang pun datang memanggil-manggil si Bujang.
“Jang …Oooooo Bujang….!. sudah dapat berape ekok, cepat bawa’ naik,,,, umma’ nak masak-keknye tokkkk….”, seru ibu Bujang dari pinggir sungai.
Bujang tidak juga menyahut. Berulang kali ibunya memanggil, barulah si Bujang mendengar panggilan ibunya.
“Iye, Mak…. Ade dapat sekok nak-nye…. Tadek ku taruh di timbak ruang, Mak …”, sahut Bujang dari perahu.
Kemudian Bujang mengayuh perahunya menuju ibunya di pinggir sungai. Ketika sampan menepi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tangis bayi yang berasal dari timbak perahu si Bujang. Nek Kattah menjadi heran, lebih-lebih lagi si Bujang.
“Apakah benar itu adalah suara tangis bayi?” pikir Bujang dan ibunya.  
Nek Kattah segera menjenguk ke perahu dan Bujang pun segera menuju ke timbak ruang perahunya. Ibu Bujang dan si Bujang pun sangat terkejut ketika menyaksikan ada seorang bayi perempuan dengan kulit putih bersih terbaring di timbak ruang dalam perahu Bujang. Dan ternyata ikan pating yang didapat oleh si Bujang sudah tidak ada lagi.
“Lalu anak siapakah ini?. Darimanakah bayi ini berasal, dan mengapa tiba-tiba di dalam perahu?. Apakah bayi itu merupakan roh jahat?. Ataukah ikan pating telah berubah wujud menjadi seorang bayi?”. Begitulah berbagai macam teka-teki telah memenuhi benak si Bujang dan ibunya. Namun, rasa was-was itu pun segera hilang ketika memandang bayi perempuan itu. Nek Kattah mengambilnya dan segera menggendongnya. Mereka berdua pun langsung menuju rumahnya. Si Bujang menuju rumahnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil mendendangkan tembang manis saking gembiranya.
Setelah sampai di rumah, Nek Kattah lalu memandikan bayi itu. Dengan sangat hati-hati dan penuh belaian kasih-sayang. Bujang pun demikian menjadi patuh untuk membantu ibunya, dan pula si Bujang juga akan mengasuh anak tersebut. Bujang pun  kemudian patuh untuk membantu ibunya dalam melayani si kecil. Ketika sedang memandikan itulah Nek Kattah ada melihat bekas mata pancing  di bibir atas bayi perempuan itu. Bujang dan Ibunya berpikir, mungkin bayi itu adalah jelmaan dari seekor ikan pating hasil pancingan si Bujang. Pada sore harinya, gemparlah seluruh masyarakat Kalan Tuik bahwa Bujang telah memperoleh seorang adik perempuan.
Hari berikutnya, Mak Kattah dan si Bujang menyelenggarakan acara Tepung Tawar, sebagai tanda sukur karena telah memperoleh bayi. Dalam acara itulah si bayi perempuan itu diberi nama oleh Mak Kattah dengan nama yang sangat cantik yaitu Baiduri. Mulai saat itu si Bujang mulai berubah menjadi seorang yang rajin bekerja, dan Nek Kattah tidak perlu lagi bekerja keras seperti biasanya. Pekerjaan Mak Kattah yang dulunya mengambil kayu bakar, mengambil sayur pakis, ke huma (sawah) atau ke kebun, sekarang sudah digantikan oleh si Bujang. Bahkan si Bujang juga melakukan menumbuk padi dan lain sebagainya. Sedangkan tugas Nek Kattah hanya mengasuh Baiduri. Kadang-kadang juga si Bujang pergi memancing di sungai dimana tempat ia mendapatkan si Baiduri. Setiap kali Bujang memancing hasilnya selalu banyak, begitu pula hasil kebun dan sawahnya selalu melimpah setiap kali panen. Sepertinya kehadiran Baiduri membawa rahmat bagi kehidupan Nek Kattah dan si Bujang.
Singkat cerita, Baiduri kian hari kian bertambah besar dan tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang lembut, manis, dan mempesona. Tidak heran jika banyak jejaka yang menaruh hati padanya, tak terkecuali si Bujang sendiri. Kasih sayang si Bujang sebagai seorang abang terhadap adiknya, kini berubah menjadi kasih sayang yang ingin memiliki Baiduri seutuhnya. Akhirnya Bujang pun dijodohkan dengan Baiduri menurut tata cara adat masyarakat setempat. Ternyata cinta si Bujang tidak sebelah tangan, sebenarnya Baiduri pun menyukai si Bujang.
Tak terasa waktu kian berlalu, dan kini Bujang dan Baiduri yang sudah suami istri dan telah di karuniai seorang anak laki-laki dengan kulit yang  putih, dan berambut lurus. Kasih sayang Bujang terhadap istrinya semakin berlipat ganda dengan kehadiran buat hati mereka. Anaknya diberi nama Parmin. Parmin telah memberikan keharmonisan dalam keluarga mereka. Hasil sawah dan kebun semangkin meningkat, segala keinginan anak dan istrinya  telah dipenuhinya. Bujang sendiri pun menjadi orang yang sangat terpandang di desanya.  Walau pun demikian mereka tidak sombong, dan mereka senang senantiasa memberikan prtolongan kepada siapa saja yang memerlukan pertolongan mereka tanpa membeda-bedakan. Pertolongan yang mereka berikan juga tanpa tamrih atau pun imbalan.
Pada suatu ketika, si Bujang dan Baiduri akan pergi memenuhi undangan perkawinan anak tetangga mereka. Istrinya berpakaian bagus sekali, namun dengan dandanan yang seadanya. Berkatalah si Bujang kepada Baiduri dengan nada bergurau.
“Ape da-an supan Ri dengan bakkas kail dibibirmu e…?” tanya si Bujang dengan maksud bercanda.
Yang ditanyakan si Bujang kepada istrinya adalah “apakah tidak malu dengan bekas kail di bibir mu” kata si Bujang.
“Da-an, Bang…! Iye-kan udah nasib ku, nak dikemanekan ‘agek we…” jawab istrinya dengan santai.
Yang dijawab oleh Baiduri adalah “tidak, Bang,,,inikan sudah nasib ku, mau dikemanakan lagi” jawab istrinya.
Bujang memandang istrinya sambil tersenyum, dan si Baiduri pun membalas senyuman suaminya dengan manis. Namun jauh di dalam hati Baiduri tersimpan rasa pukulan yang amat hebat. Hatinya luka yang amat sangat, hatinya sedih dan menangis, namun disembunyiaknnya dari si Bujang. Kemudian suaminya mengajak Baiduri untuk segera berangkat ke acara perkawinan tetangganya itu.
“Dah, Ri kitte paggi, ari pun udah tinggi, yo. Panas gillak kallak, kitte” ajak si Bujang kepada istrinya yang nampak diam dari tadi.
“Paggilah Bang, dolok. Aku nak ke umme dolok nak meliattek tanaman”, jawab si Baiduri kepada suaminya dengan santainya.
“Ohhhh,,,,aoklah mun gayye,,,aku paggi dolok dengan Parmin”, kata Bujang menjawab istrinya.
Bujang pun pergi keacara perkawinan tersebut dengan mengendong Parmin. Sedikitpun tidak terpikir di hati si Bujang tentang rasa yang tersimpan di hati istrinya itu. Si Bujang pun tidak menaruh curiga sama sekali kepada Baiduri.
Sementara suaminya pergi, Baiduri bukannya pergi ke sawah, melainkan pergi ke Ngkalan. Setibanya di Ngkalan, ia segera melepas semua pakaiannya beserta perhiasannya. Kebetulan pada saat itu ada seorang perempuan bernama Ida sedang mencuci di Ngkalan. Karena ada yang kelihatan aneh dari gelagat Baiduri, Ida pun bertanya kepada Baiduri.
“Kakak nak ngape, Kak” tanya Ida kepada Baiduri.
“Kakak nak balik, Da…”, jawab Baiduri sedih.
“Yo…Kakak nak balik ke mane udek, Kak”, tanya Ida bingung dengan jawab dari Baiduri.
“Aku nak balik ke negeri asalku, Da…”, jawab Baiduri.
“Di mane we, Kak”, tanya Ida tambah bingung.
“Negeriku ada di dasar sungai, Da”, tambah Baiduri.
Kemudian si Baiduri menyelam kedasar sungai, dengan serta merta Baiduri tidak kelihatan lagi oleh si Ida. Ida menjadi bingung penuh tanda tanya di otaknya.
Tidak lama kemudia, Baiduri muncul kembali, sedangkan rasa bingung Ida masih belum hilang dan Ida pun masih belum bisa menemukan jawaban dari semua itu. Baiduri muncul tepat didepan Ida, namun pada waktu itu tubauh Baiduri sudah berubah wujud. Kakinya berubah menjadi seekor ikan, sedangkan kepalanya tetap kepala manusia. Ida hanya terdiam, mulutnya terkunci. Ida diam sejuta bahasa, Ida bagaikan terhipnotis. Ida tidak mampu untuk berkata-kata kepada Baiduri. Kemudian Baiduri pun berpesan kepada Ida.
“Da, tullong paddahkan ke Bang Bujang, Kakak dah balik ke asalnye, dan perhiasan yang Kakak tinggalkan iye tullong simpan baik-baik. Bille ade urrang nang kannak sakit gatal-gatal taggal makan ikan pating, pinummek dengan aek randaman perhiasan ku iye, Da”, pesan Baiduri kepada Ida.
“Iye, Kak”, jawab Ida singkat.
Selesai menyampaikan pesannya kepada Ida, Baiduri pun langsung menghilang masuk ke dalam sungai. Ida pun langsung pulang dengan bergegasnya untuk menyampaikan pesan kepada si Bujang tentang istrinya Baiduri. Sudah pasti Bujang sangat terkejut mendengar berita yang amat memukul jiwanya itu. Bujang tidak menyangka jika kata-kata pongahnya telah membawa mala petaka bagi dirinya dan keluarganya. Bujang yang telah berputera seorang itu menangis sejadi-jadinya.
Sejak peristiwa itu, hampir setiap hari Bujang pergi memancing di Ngkalan, di mana ia dahulu memperoleh ikan pating yang berubah menjadi Baiduri. Tiap hari ia memancing, dengan harapan dapat bertemu dengan Baiduri lagi. Setiap ikan pating yang mengena mata pancingnya selalu dipelihara dengan baik, namun si Bujang selalu saja kecewa, karena tidak satu pun ikan pating tersebut yang dapat menjelma seperti istrinya, yaitu si Baiduri.
Hari-hari terus berlalu, siang menjadi malam, malam menjadi siang kembali. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Namun harapan si Bujang untuk bertemu kembali dengan Baiduri tak kunjung sampai. Akhirnya si Bujang berubah menjadi pemurung dan pendiam. Sudah capek si Bujang memancing, ia pun duduk-duduk saja di bawah pohon Tuik di pinggir sungai sepanjang hari. Begitulah kerja si Bujang setiap harinya, ia menyesali perkataannya dahulu pada Baiduri. Ia menyesal dan amat menyesal sekali, sampai-sampai hari tuanya ia habiskan dengan termenung di bawah pohon Tuik yang tumbuh di pinggir sungai dekat Ngkalan. Dengan demikian Ngkalan yang ada pohon Tuik di mana tempat berteduhnya Bujang dalam meratapi suratan hidupnya terkenal dengan nama Ngkalan Tuik, sampai sekarang.    

KEPUSTAKAAN 


Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...