Sabtu, 19 November 2016

Cerita Rakyat Kabupaten Sambas "ASAL MULA KAMPUNG SERIRAK"

ASAL MULA KAMPUNG SERIRAK


Selakau adalah salah satu nama Kecamatan yang terletak di Kabupaten Sambas. Pekerjaan penduduk setempat selain sebagai petani juga memanfaatkan hasil hutan, seperti mengambil rotan, penggergajian kayu menjadi bahan bangunan, dan ada pula yang kerjanya menangkap ikan air tawar atau ke laut untuk menangkap ikan air asin.   
Selakau dialiri sebuah sungai besar yang memanjang dari timur ke barat dan bermuara di Laut Cina Selatan. Sudah tentu tranportasi sungai merupakan jalur utama yang cukup dominan. Karena itu sampan merupakan kendaraan air yang terpenting sehingga mutlak dimiliki oleh setiap kepala keluarga. Orang setempat menyebutnya perahu atau sampan. Perahu tersebut terbuat dari kayu pilihan dengan maksud supaya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Konon pada zaman dahulu, terdapat suatu kisah yang menceritakan tentang sekelompok orang yang pergi kehulu sungai untuk membuat jalur atau dasar perahu. Mereka itu terdiri dari enam orang, yang paling tua biasa dipanggil Pak Along, atau Pak Long, yang ke dua dipanggil Pak Angah atau Pak Ngah,  yang ke tiga dipanggil dengan sebutan Pak Ude atau Pak De, yang ke empat dipanggil Pak Uning atau Pak Ning, yang ke lima dipanggil Pak Acik atau dengan kata yang serupa yaitu Pak Cik, dan yang paling muda bernama Lase.
Pada suatu hari yang sudah disepakati bersama, mereka berenam berangkat menuju hulu sungai dengan menggunakan dua buah perahu yang dilengkapi dengan perbekalan makanan serta alat-alat untuk membuat jalur.
Setelah seharian penuh mereka berkayuh sampan menelusuri Sungai Selakau yang berliku-liku, akhirnya sampailah mereka ditempat tujuan yang sekarang bernama SERIRAK. Setibanya ditempat itu mereka segera membuat pondok kecil dipinggir sungai. Pondok tersebut dibuat apabila diperlukan dan jika sudah selesai menggunakannya ditinggal begitu saja.
Keesokan harinya, pagi-pagi benar Pak Along sudah bangun dan langsung kedapur menyalakan api untuk memasak air dan berapi atau menanak nasi. Tidak lama kemudian teman-temanya yang lainnya pun bangun. Tanpa diperintah, mereka semua bekerja. Ada yang membantu Pak Along di dapur, ada yang merapikan tempat tidur dan ada pula yang mengemaskan barang-barang serta peralatan untuk persiapan berangkat ke hutan. Setelah semua beres dan siap, mereka semua berangkat dengan dipimpin oleh Pak Along sebagai orang yang dituakan pada kelompok mereka. Sudah tentu karena Pak Along lebih banyak ilmu serta pengetahuan dibidang yang lain mengenai seluk beluk dan tata cara ke hutan.
Orang yang pertama kali melangkahkan kaki adalah Pak Along. Perjalanan awal itu disertai dengan membacakan berbagai mantra. Mantra-mantra tersebut berisi tentang pemberian salam kepada Duate atau penghuni hutan dan memberitahukan bahwa Pak Along bersama anak buahnya mohon petunjuk serta diberi izin untuk dapat bekerja di daerah tersebut. Mereka juga mohon perlindungan agar diawasi dan dijauhkan dari segala marabahaya serta kecelakaan selama berada di dalam hutan. Sudah tentu rombongan Pak Along harus mematuhi semua larangan yang berlaku di hutan dan tidak boleh melanggar apa yang sudah dipantangkan atau dilarang.
Serapah atau mantra yang bibaca oleh Pak Along adalah “ha paya saya, cium bau kalare ruppe, kamek tok anak cucok Sibangkau, anak cucok Raje Sultan Safiuddin Sambas, datang kesitok nak keraje, carek rijaki. Carek duit buat anak dan bini nak makan, tullong jagekan anak cucok tok, tullong padahkan juak pantang larang hutan tok e,,,”. Kemudian Pak Along mengambil salah satu daun rumput yang hidup dihutan tersebut dengan membacakan mantra berikutnya. “ya rasi narasi ashaduan narasi”.  Kemudian daun tersebut digosok-gosokkan ke tangan kanan dan tangan kiri.
Hal-hal yang tidak boleh dilakukan di hutan adalah:
1.      Tidak boleh berteriak atau tertawa terbahak-bahak.
2.      Tidak boleh mandi telanjang.
3.      Tidak boleh bersiul.
4.      Tidak boleh membunuh binatang jika tidak menggangu.
5.      Tidak boleh bekerja antara jam 11.00-12.30.
6.      Tidak boleh berkata cabul atau kotor.
7.      Tidak boleh berkata sombong atau takabur.
Jika salah satu dari pantangan di atas ada yang dilanggar maka di antara anggota kelompok atau si pelanggar itu sendiri akan mendapat kesulitan di hutan. Kesulitan itu dapat berupa kecelakaan seperti luka, terjatuh, tertimpa pohon, digigit binatang berbisa, atau tersesat di hutan (tidak tahu jalan pulang atau kembali), bahkan ada yang hilang menjadi makhluk halus. Pak Along sebagai orang tua di antara mereka senantiasa mengingatkan hal-hal tersebut, agar tidak melanggar pantangan-pantangan yang telah ada.
Pada hari pertama mereka baru menemukan lokasi serta jens-jenis kayu yang akan mereka gunakan, kayu-kayu yang menjadi pilihan mereka diberi tanda silang. Hal ini dimaksudkan supaya esoknya mudah menemukannya kembali. Keesokan harinya mereka masuk hutan lagi untuk menebang dan menggergaji pohon-pohon yang telah mereka temukan dan mereka beri tanda silang. Satu pohon ditebang oleh tiga orang. Satu hari penuh lamanya baru tumbang pohon tersebut.
Hari berikutnya barulah mereka mengerjakan kayu itu. Pengerjaannya dimulai dengan memotong dahan-dahannya, lalu batang itu dipotong menurut ukuran yang telah ditentukan sesuai keinginan. Kemudian kayu itu dibelah lalu ditarah atau menipiskan kayu dengan membuang dagingnya hingga membentuk sebuah jalur. Dalam menyelesaikan pembuatan sebuah jalur mereka menggunakan beliung sebagai alat utama. Sampai sekarang pun orang masih menggunakan beliung dalam pembuatan sebuah jalur.
Menurut ahli pembuat jalur, beliung lebih mudah dipergunakan daripada kampak dalam proses pembuatan jalur. Hal ini disebabkan bahwa kedudukan dan posisi mata beliung bisa diubah-ubah terhadap gagangnya. Sehingga si pemakai beliung dapat mengatur posisi serta letak mata beliung menurut keinginan dan keperluan si pemakai agar mudah serta serasi dalam pemakaiannya.
Ternyata mereka sudah enam hari berada di hutan dan baru menyelesaikan dua buah jalur, satu masih di hutan, dan satunya lagi sudah di bawa ke pinggir sungai dekat pondok mereka. Seperti hari-hari sebelumnya, sesampainya di pondok, Pak Uning segera menyalakan api untuk berapi, sementara yang lain ada yang pergi mandi sambil memancing ikan, ada yang melihat bubu atau lukah (perangkap ikan yang terbuat dari bambu). Sementara Lase sendiri sibuk menampang kayu api atau membelah kayu yang sudah kering untuk berapi ngulai (memasak nasi dan memasak sayur).
Sambil mengangkat kayu api yang telah dibelah dan segera diserahkan ke Pak Uning yang sudah menunggu di dapur, si Lase pun pogah atau bergurau.
“Alangkah senangnya ya Pak Ning, jika capek-capek datang dari bekerja, hidangan sudah tersedia”, celoteh si Lase.
“Pak Uning pun tidak perlu lagi ke dapur”, sambung Pak Cik.
Suasana jadi ramai. Mereka hanyut dalam senda gurau dan lupa akan pantangan yang telah diberitahukan oleh penghuni hutan.
“Huusst...! Sekarang ini kita sedang berada di dalam hutan, kurang baik berkata seperti itu”, larang Pak Along yang kebetulan pulang dari mandi.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka telah berangkat meninggalkan pondok dan bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Hanya Pak Along yang nampak tidak tenang, pikirannya selalu teringat akan gurauan kemarin sore. Pak Along diliputi oleh rasa cemas, mungkin sesuatu akan terjadi sehubungan dengan gurauan itu, pikirnya. Setelah hari menjelang senja barulah mereka pulang. Setibanya di pondok, mereka semua terkejut, karena tiba-tiba seisi pondok nampak bersih dan rapi. Alangkah terkejutnya lagi Pak Uning bila menyaksikan pancinya sudah berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Pak Angah, Pak Ude, Pak Acik, semuanya heran, mereka tercengang, mereka bengong. Apa sebenarnya yang terjadi, sementara Pak Along terdiam saja menyaksikannya. Pak Along bagaikan terhipnotis, perasaannya tidak tenang. Berkatalah Pak Along kepada Pak Angah, Pak Ude, dan Pak Acik.
“Inilah akibat dari gurauan kalian yang suka ngomong sembarangan, penghuni hutan ini mendengar dan memenuhi keinginan kalian”. Pak Along kelihatan santai mengucapkannya, namun kalimat yang keluar dari bibirnya sebuah kata yang serius.
“Bukankah berarti kita tidak perlu lagi memasak? Karena sudah ada yang memasakkan kita. Apa salahnya kita menerima bantuan dari orang lain yang bersedia berbuat baik kepada kita?”, kata Lase yang nampak gembira sekali atas kejadian itu. Sedikitpun rasa takut tak tercermin di raut wajahnya.
Kejadian yang sama selalu terjadi pada hari-hari berikutnya. Keadaan yang demikian itu sudah menjadi kebiasaan mereka.
Lase mempunyai rencana untuk menyibak misteri tersebut, makhluk apa gerangan yang membantu mereka memasak. Lase pun menyusun sebuah rencana. Hari itu Lase berpura-pura kurang enak badan, jadi ia diperbolehkan tidak ikut bekerja. Sementara yang lain sibuk bekerja di hutan, Lase pun sibuk menanti dengan bersembunyi di balik sebuah jalur yang disimpan tidak jauh dari pondok mereka. Di hati Lase masih penuh dengan berbagai tanda tanya, sedikitpun rasa takut tidak pernah menghantui jiwanya. Dibenaknya hanya ada pikiran bahwa makhluk yang telah menolong mereka pasti seorang gadis yang cantik, ayu, lembut, manis, dan menawan. Oleh sebab itulah Lase merasa tidak takut, karena ia yakin dengan apa yang ada dibenaknya.
Sedari pagi hingga matahari sepenggalah, belum juga ada tanda-tanda kemunculuan makhluk yang sedang ditunggu. Lase mulai tidak tenang, ia mulai bertanya dalam hati. “Apakah makhluk itu hantu? Manusia atau bidadari cantik dari khayangan? Apakah ia tahu bahwa aku sedang menunggunya sehingga ia tidak berani muncul? Pengecutkah ia? Atau ia hanya sekedar mempermainkan aku!” keluh si Lase.
Ketika itu cuaca cerah sekali karena mentari bersinar terik. Tiba-tiba gerimis turun, makin lama semakin deras, kemudian hujan pun mengecil menjadi gerimis. Dedaunan basah, berkilauan bila terkena sinar matahari. Udara pun terasa panas. Orang menyebutnya hujan panas.
Tiba-tiba suara angin mendesas-desus, suara daun-daun bergemirincing diselingi sayup-sayup terdengar suara tawa gadis-gadis. Semakin lama suara gadis itu semakin jelas terdengar. Darimana datangnya pikir Lase. Lase terperanjat. “Apakah aku sedang tidur”, pikirnya. “Apakah tawa yang ku dengar itu benar tawanya para gadis? Bukankah sekarang ini aku sedang berada di dalam hutan?” Kepala Lase penuh tanda tanya dan bingung. Ia tak habis bikir, apakah ini mimpi atau pun kenyataan. Lama juga si Lase termenung sendirian. Akhirnya pun Lase merasa yakin bahwa tawa tersebut memang tawa gadis-gadis dan berasal dari arah pondok mereka. Gadis-gadis itu tertawa riang bersenda gurau di dalam pondok si Lase, entah apa yang mereka lakukan. 
Lase pun segera mendekati pondok dengan sangat hati-hati sekali. Melalui celah dinding pondok yang terbuat dari pelepah daun pinang barik, Lase pun mengintipnya dari luar. Alangkah herannya Lase, ternyata di dalam pondok mereka telah berada enam orang bidadari yang cantik sedang bersenda gurau. Lase memperhatikan segenap tingkah lakunya dan mendengarkan semua percakapan mereka. Kepada yang lebih muda mereka panggil adik, dan kepada yang lebih tua mereka panggil kakak. Si bungsu ternyata bernama Maidari, dan perangainya sangat berbeda dengan kakak-kakaknya. Maidari mempunyai sifat sosial yang tinggi dan ringan tangan. Maidari segera menyalakan api untuk menanak nasi.
“Mengapa kau tolong manusia, Dik?. Bukankah mereka dapat memasak sendiri”, tegur kakaknya yang lebih tua.
“Biarlah Kak, aku hanya ingin membantu dan ingin berbuat baik kepada manusia”, bela Maidari.
Kemudian Maidari pergi ke pinggir sungai dan menangkap ikan persedian Lase yang dikurung dalam tempat ikan yang terbuat dari bambu. Anehnya ikan-ikan tersebut disiangi oleh Maidari tanpa menggunakan pisau, akan tetapi menggunakan kuku-kukunya yang panjang. Kuku-kukunya memang kelihatan panjang sekali dan indah. Setelah dicuci ikan itu lalu dimasak namun ikan itu dimasak tidak menggunakan kunyit. Kebiasaan orang setempat bila memasak ikan air tawar ataupun ikan air asin, selalu memakai kunyit atau pun daun serai untuk menghilangkan bau amis dari ikan tersebut. Ternyata Maidari memang menghindar jauh dari tempat kunyit disimpan. Sudah tentu hal ini menjadi tanda tanya bagi si Lase. Selesai memasak, segala peralatan dirapikan oleh Maidari sendiri. Sementara kakak-kakaknya hanya asik bermain dan mentertawakan Maidari. Selesai berkemas, mereka (para bidadari) keluar dari pondok. Melihat hal itu si Lase cepat-cepat bersembunyi dibalik jalur. Ternyata keenam bidadari itu memang berjalan ke arah jalur dimana tempat si Lase bersembunyi.
Berkatalah bidadari yang lebih tua dari yang lainnya.
“Mengapa ya, manusia itu merubah bentuk kayu menjadi seperti ini? Kayu ditebang kemudian dipotong, lalu dibelah dan ditarah hingga berbentuk seperti ini (jalur)?”.
Rupa-rupanya bidadari itu merasa heran dengan apa yang telah dikerjakan oleh manusia. Dalam suasana sepert itu diam-diam Maidari merasa kagum dengan kepintaran manusia yang dapat merobah kayu menjadi jalur. Maidari pun ikut bermain dengan cara memasukkan jari tangannya ke dalam lobang yang sengaja dibuat Pak Along sebagai lobang kontrol untuk mengetahui tebal tipisnya jalur yang dibuat. Setiap jari yang dimasukkan ke dalam lobang jalur itu dengan cepat Lase memotong kukunya. Setelah dicabut, Maidari heran karena kukunya menjadi pendek. Namun Maidari semakin senang melihat kukunya pendek. Kemudian jari berikutnya yang masih berkuku panjang dimasukkan lagi ke lobang yang sama, setiap kali pula si Lase memotong kukunya. Dengan demikian semua jari-jari tangan Maidari tidak lagi berkuku panjang.
Melihat kejadian ini, kakak-kakak Maidari merasa heran bercampur rasa takut, jangan-jangan hal itu merupakan perangkap, pikir mereka. Tanpa pikir panjang lagi, mereka pun segera terbang. Dalam sekejap mereka pun hilang dari pandangan, mereka lenyap entah kemana. Melihat kakak-kakaknya pergi, Maidari pun ingin juga pergi. Tapi malang telah berpihak kepadanya, ia tidak dapat lagi terbang ke khayangan. Namun apa penyebabnya?. Maidari pun teringat, mungkin karena kuku-kukunya telah menjadi pendek menyebabkan ia tidak bisa kembali ke khayangan. Tinggalah Maidari seorang diri menangis tersedu-sedu menyesali kuku-kuku jari tanganya telah pendek. Dalam situasi seperti ini, maka keluarlah Lase dari persembunyiannya. Ia segera menghampiri, membujuk dan menghibur Maidari agar tetap tinggal di bumi bersamanya.
Hari belum begitu sore, namun Pak Along bersama teman-temannya telah kembali, mereka khawatir dengan keadaan Lase. Sesampainya di pondok mereka terheran-heran bila menyaksikan Lase telah ditemani oleh seorang gadis cantik jelita. Semula mereka menyangka bahwa gadis itu adalah hantu jadi-jadian. Tapi setelah Lase menceritakan semuanya, maka mengertilah mereka bahwa gadis itu adalah putri dari khayangan.
“Jika demikian, besok pagi kita hilir (pulang)”, kata Pak Along.
“Kenapa demikian Pak Along. Bukankah sudah ada tukang masak kita? Jadi terus saja kita bekerja hingga selesai”, bantah si Lase sambil memberikan alasan.
“Tidak, Lase...! Kita mesti pulang dulu”, tambah Pak Along.
“Ya, Lase..., kita harus pulang”, sambung Pak Angah.
Keesokan harinya mereka pun pulang. Jika mudiknya enam orang tapi hilirnya menjadi tujuh orang, karena ada Maidari bersama mereka. Sesampainya di rumah Lase dan Maidari dinikahkan menurut adat dan tata cara setempat.
Singkat cerita, Lase dan Maidari telah dikaruniai seorang anak perempuan yang mereka namakan Pirak. Pirak tumbuh dan besar seperti manusia biasa. Orang tua Lase yang biasa dipanggil dengan sebutan Nek Delok. Sedangkan Nek Delok tidak pernah tahu mengenai asal-usul menantunya dengan jelas.
Pada suatu hari Maidari pergi ke kebun bersama ibu mertuanya yaitu Nek Delok untuk mengambil buluh (sejenis bambu yang digunakan untuk membuat caping). Pada tetakan yang kedua, Maidari tanpa sengaja berkata, “Ruas ini untuk darah anakku”. Diam-diam Nek Delok pun memperhatikan tingkah laku menantunya yang kelihatan aneh. Nek Delok berpikir, kalau begitu menantu ku ini bukan manusia, dia pasti hantu. Maka Nek Delok mohon pulang lebih dahulu.
“Maidari, ibu pulang dulu ya, ibu mau menyiapkan makan siang”, kata Nek Delok kepada Maidari.
“Iya, Bu...!”, jawab Maidari.
Kini Maidari ditinggalkan sendirian di dalam hutan. Sedangkan Maidari yang ditinggal sendirian masih sibuk dengan pekerjaanya, mencari kayu bakar, memotong buluh, dan lain sebagainya. Dan Maidari pun melihat bunga anggrek yang amat cantik, lalu dipetiknya bunga itu, kemudian di selipkan dikuping sebelah kanannya. Semakin ayulah Maidari kelihatannya. Namun tidak ada yang melihat kecantikannya, karena ia sendiri di dalam hutan. Kecuali burung-burung, tupai, dan hewan lainnya. Maidari memang istri Lase yang amat cantik, karena dia adalah bidadari dari khayangan.
Kemudian, sesampainya di rumah Nek Delok segera menyiapkan makan siang. Kebetulan hari itu si Lase pergi memancing dan memperoleh ikan batok dan beberapa ikan ruan atau ikan gabus. Nek Delok pun memasak ikan itu, sudah barang tentu menggunakan kunyit. Sebab pikir nek Delok, jika menantuku itu hantu, pasti ia tidak akan mau makan ikan yang dimasak menggunakan kunyit. Sementara di dalam tukil garam (tempat menyimpan garam yang terbuat dari tempurung kelapa) disimpan seekor anak kelancuk atau anak ikan gabus yang kecil sebesar jari tangan yang sudah dibakar oleh Nek Delok.        
Tidak lama kemudian, Maidari pun datang dari kebun. Setelah selesai mandi mereka sekeluarga makan siang bersama. Ketika Maidari hendak menyendok ikan di dalam mangkok, sendok ditangannya terpelanting. Ia tahu bahwa masakan ikan di dalam mangkok itu memang diberi kunyit oleh ibu mertuanya.
“Bu, saya tidak mau makan ikan itu, saya ingin lauk garam saja”, kata Maidari pada mertuanya.
Ibunya segera mengambilkan garam dan langsung dibawa dengan tukilnya.
“Ini garamnya”, kata ibunya sambil menyerahkan tukil garam itu kepada Maidari.
Maidari pun langsung menyambutnya dan segera mengambil garam dengan memakai tangannya yang kanan. Jari Maidari tidak langsung menyentuh garam melainkan memegang ikan ruan bakar terlebih dahulu. Karena ikan bakar itu tanpa dipotong-potong atau masih utuh satu ekor, maka Maidari menjadi terperanjat sambil mengucapkan kata-kata latah sebagai reaksi gerak reflek.
Cok kolok anak ancok masok dalam cibbok tikattok-kattok”.
Kata-kata itu diucapkan Maidari diluar kesadarannya. Tak lama kemudian badan Maidari menjadi kejang-kejang. Akhirnya tubuh Maidari jatuh lemas dan diam tidak bergerak, kaku dan bisu untuk selama-lamanya. Maka gaduhlah seisi rumah karena Maidari telah meninggal dunia.
Untuk mengabadikan nama Lase, Maidari dan Pirak, maka lokasi tempat mereka membuat jalur dikenal dengan sebutan SERIRAK yang berasal dari suku kata terakhir nama-nama LA-SE, MAIDA-RI, dan PI-RAK. Kampung Serirak sampai sekarang dikenal dan terdapat di Kecamatan Selakau Kabupaten Sambas.

KEPUSTAKAAN 

Abdul Muin Ikram. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
.............................., 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Aryo Arno Moraro. 2001. Jomia Tatu Loka. Romeo Grafika Pontianak.
Ario Arno Morario. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
N.N. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Novi Muharrami. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
M. Zaie Achmadi. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas I Raja Tan Unggal. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Supiah Sulaiman. 2001. Ikan Pating. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2001. Si Belanga dan Putri Raja. Romeo Grafika Pontianak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...