November 2016
Doa Menyatukan Hubungan Suami Istri, Manusia adalah makhluk yang paling sempurna Tuhan ciptakan. Semua makhluk yang Tuhan ciptakan di dunia ini semuanya berpasang-pasangan. Baik itu manusia itu sendiri, tumbuhan, hewan, alam dan lain sebagainya. Mengenai judul di atas, “doa menyatukan hubungan suami-istri” akan penulis bahas di bawah ini. Mengapa kita perlu doa untuk menyatukan suami istri yang bertengkar? Karena kita ingin membantu merukunkan kerukunan keluarga mereka. Mereka sudah lama mendirikan masjid tersebut dengan cinta dan kasih sayangnya. Kasihan anak-anak mereka tidak punya orang tua. Kenapa mereka dengan semudahnya untuk merobohkan masjid yang telah dibangun dengan cinta tersebut? Lebih baik kita bantu mereka dengan doa. Diantaranya ialah sebagai berikut:

Berdoalah setelah sholat hajat dengan cara-cara:
-                 Istighfar dulu 100 x
-                 Baca shalawat nabi 10x
-                 Berdoa mohon diberi ketenangan hati
-                 Berdoa dengan doa pengikat kasih sayang menggunakan ayat-ayat al-Qur’an berikut ini: “Kul ingkuntum tuhibbu nallah fattabi’uni, yuhibbukumullahu wayarfirlakum zunubakum wallahu rofururrohim”. (QS. Ali-Imran: 31).

Bisa juga dengan membaca mantra “pantan asam garam” misalnya: ashaduanta fatimah hasam, tarung taraf tarung madure, gunne sunnak dimate ... gunne sunnak di matemu, tunduk kasih sayang si .... dengan aku, berkat aku makai kate lailahailalah muhammad rasulullah”. Mantra tersebut dibaca paling sedikit 3 kali, paling banyak 21 kali. Tiupkan ke air dan minumkan insyaAllah rukun. Semua datangnya dari Allah dan kebali kepada Allah semata.


Terima kasih, wasalam. Sugianto, S.Pd.I

Ayam Jago
Anda suka makan daging? Anda peminat daging ayam kampung atau ayam merah serta daging bebek yang sudah tua? Atau anda suka memakan daging sapi yang empuk dan lezat? Namun, bagaimana jika daging yang lezat itu keras sekali. Bagaimana cara kita untuk memakan daging itu yang sangat keras (tidak empuk).

Sekarang ini, dengan kemajuan teknologi sangat mudah sekali untuk melembutkan tulang-tulang atau melembutkan daging yang keras (daging yang sudah tua). Caranya, masukkan saja daging (daging apa saja) yang ingin dilembutkan hingga ke tulang-tulangnya ke dalam alat atau panci pelembut tulang dan lain sebagainya.

Akan tetapi, bukan itu yang saya maksudkan, yang ingin saya sampaikan adalah cara melembutkan daging secara tradisional. Cara melembutkan daging secara tradisional adalah dengan cara;
1.      masukkan air ke dalam panci.
2.      beri garam sedikit.
3.      kemudian masukkan beberapa buah kelereng

direbus hingga mendidih, Insya Allah daging tersebut akan empuk dan lembut. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. ......  Selamat mencoba.....
Ilustrasi Kampung Hangus
Asal Usul Kampung Hangus, Selama dua abad kesultanan Sambas berdiri, selalu dirongrong oleh berbagai kekacauan baik yang datangnya dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kedaulatan sering dilanggar sehingga menimbulkan beberapa kali peperangan. Sampai penutup abad ke- 18 Belanda dan Inggris hanya berhasil melakukan perniagaan yang tidak mengikat.
Hubungan antara kesultanan Sambas dengan Belanda dan Inggris tidak terlalu akrab.
Inggris dan Belanda selalu berusaha menuntut pembagian tanah yang lebih luas untuk kantor dagang dan benteng (loji) sehingga timbul pertengkaran antara Sultan Sambas dan Inggris yang meminta tidak hanya hak monopoli dalam perdagangan, juga meminta tanah pemukiman didaerah Paloh “Tanjung Datuk”. Permohonan mereka ditolak oleh Sultan Sambas.
Alexander Hare, wakil pemerintah Inggris yang datang menemui Sultan Sambas pada tahun 1812 mengira akan dengan mudah mendapat beberapa bidang tanah di Sambas,mereka merasa kecewa atas sikap tegas Sultan terhadap mereka.
Pada masa itu Negeri Sambas dalam keadaan sangat lemah, karena secara berturut turut sejak tahun 1789 sampai dengan tahun 1791 diserang oleh pasukan Siak Sri Indrapura. Di dalam negeri mendapat gangguan dari Kongsi-kongsi pertambangan emas orang Cina.
Pada tahun 1811, Sultan Abu Bakar Tajudin I menerima laporan dari rakyatnya (nelayan penangkap ikan), bahwa dikuala Sungai Sambas Kecil telah berlabuh sebuah kapal asing milik East Idian Company kepunyaan Inggris yang amat mencurigakan. Kedatangan kapal Inggris itu ternyata untuk menuntut tanggung jawab dari Pangeran Anom yang telah menyerang kapal Inggris diperairan Banjarmasin dalam tahun 1789. Inggris memberitahukan agar Sultan Sambas mau memenuhi permintaan Inggris terhadap daerah Paloh.
Dalam upaya Sultan Sambas mempertahankan negerinya dari serangan pasukan Inggris itu, diperintahkan kepada panglima dan rakyatnya bersiap siaga membuat kubu pertahanan di sebelah kiri dan kanan Sungai Sambas Kecil dan dan menimbun batu batu besar ke dalam sungai tersebut untuk menghadang kapal kapal Inggris yang berusaha masuk menelusuri alur sungai Sambas Kecil. Karena timbunan batu tersebut kapal Inggris yang besar tak bisa masuk melalui sungai Sambas Kecil sehingga sampai sekarang daerah tersebut diberi nama kampung Sebatu (karena alur sungainya dipenuhi batu).
Bagaimana kisah serangan Inggris terhadap Sambas? Mayor William Thorn menjelaskan, serangan pertama dilakukan pasukan Inggris terhadap kerajaan Sambas adalah pada bulan Oktober 1812 dipimpin oleh Kapten Bowen dari kapal perang Inggris bernama Phoenix namun mereka tak dapat masuk sungai Sambas kecil karena terhalang batu yang ditimbun di sungai. Dalam serangan kedua pada tanggal 22 Juli 1813, dipimpin oleh Kapten Watson, mereka bergerak masuk melalui kampung Kartiasa di sungai Sambas besar.
Pada tanggal 23 Juli 1813, mereka menurunkan senjata dan pada tanggal 25 Juli 1813 tentara Inggris bergerak maju menuju kota Sambas. Sebelum bergerak masuk, mereka mengirimkan sepucuk surat kepada Sultan Sambas yang ditanda tangani oleh Kapten Sayer dan disampaikan oleh Kapten Bayley. Isi surat tersebut meminta kepada Sultan agar menyerahkan Pangeran Anom beserta pengikutnya kepada pasukan Inggris, surat yang disampaikan tersebut tidak ditanggapi oleh Sultan. Karena ia bersama rakyat telah bertekad tidak akan menyerah sebelum berlumur darah melawan penjajah.
Merasa dilecehkan,pada malam 26 Juli 1813 pasukan Inggris bergerak maju menyusuri Sungai Betung dan hutan rimba menuju Sambas. Gerakan pasukan Inggris ini dapat dihadang oleh pasukan Sambas, sehingga Inggris harus membagi pasukanya menjadi beberapa bagian agar dapat menembus pasukan Sambas. Di bawah pimpinan Kapten Morris dari resimen 14 juga tidak berhasil menaklukkan Sambas. Sedangkan pada kelompok lain di bawah komando Kapten Brookes dari Batalyon Sukarela Bengal 3, yang terdiri dari angkatan laut Inggris dengan 100 orang India harus mendaki jalan pintas yang terjal untuk sampai ke Sungai Sambas kecil.masing masing divisi diiringi oleh sekelompok kelasi bersenjata yang membantu membawa perbekalan dan membuat jalan perintis melewati hutan rimba.
Pasukan Inggris di bawah komando Watson diberangkatkan pada jam 03.00 pagi dan setelah melewati berbagai rintangan alam, sampai di daerah pertahanan pasukan Sambas pada jam 09.30 pagi. Pasukan Ingris menyerang dan menghujani Negeri Sambas dengan peluru meriamnya.
Pada saat saat yang genting itu sebenarnya Pangeran Anom beserta keluarganya tidak berada di Sambas. Ia sedang berkelana bersama pasukanya ke negeri lain. Ketika di dalam pelayaran ia menderita penyakit malaria. Kejadian itu terjadi pada tahun 1812. Karena penyakit malarianya yang lumayan parah, ia dan pasukanya menetap sementara di Lunduk (sekarang daerah tersebut masuk wilayah Sarawak atau Malaysia).
Karena penyakit tersebut Pangeran Anom tak mungkin pulang dan memimpin pasukanya. Oleh karena itu, diperintahkanlah Puteranya Pangeran Muda berangkat ke Sambas memimpin pasukanya untuk mengusir serangan pasukan Inggris.
Kubu pasukan Sambas ditepi sungai Betung tidak mungkin lagi dipertahankan. Lalu mereka berpindah mengundurkan diri disebelah timur daya, yaitu di Kampung Pendawan. Pasukan Inggris pun menggempur pertahanan di Kampung Pendawan karena pada saat itu pertahanan pasukan Sambas di Sebatu dan Sungai Betung telah berhasil mereka hancurkan.  Menghadapi serangan musuh yang serba lengkap senjatanya itu, pasukan Sambas bergabung menjadi satu maju kemedan perang di bawah komando Pangeran Muda (Putera Pangeran Anom). Terjadilah pertempuran yang sangat sengit dan hebat dalam hutan belantara. Oleh karena persenjataan yang tak berimbang, peperangan berubah menjadi perang gerilya dan berlangsung hingga berbulan bulan.
Di dalam pertempuranya ini, Pangeran Muda atas keberanianya yang luar biasa, ia  terkepung dalam lingkaran pasukan musuh sehingga ia gugur dimedan laga. Dengan kejadian tersebut semangat pasukan Sambas semakin menipis. Beberapa hari kemudian pasukan Inggris bergerak maju ke barat laut mengepung Pasukan Sambas sehingga tak berdaya dan terpaksa menyerah.
Kira kira 150 meter menyusur tepi sungai Sambas kecil hingga kesungai Teberau, pasukan musuh membakar sebuah kampung hingga hangus dan menjadi abu. Tempat itu hingga sekarang diberi nama “Kampung Angus”.
Ketika Pangeran Anom mendengar kabar bahwa Negeri Sambas telah kalah berperang dengan Inggris dan gugurnya Pangeran Muda (Putranya) dalam mempertahankan negeri Sambas naiklah darah pahlawanya. Ia amat marah walau dalam keadaan sakit keras, ia sangat merasa sedih atas gugurnya putranya serta penderitaan yang dialami rakyat Sambas. Tapi menyadari penyakitnya yang masih belum sembuh, ia berfikir lebih baik menetap saja di kampung Lunduk untuk sementara waktu dari pada kembali ke negeri Sambas.
Setelah Negeri Sambas dikuasai Inggris, datanglah berkunjung keistana Sultan komandan pasukan inggris dengan maksud untuk berkenalan dengan Sultan Abu Bakar Tajudin I dan Pangeran Anom.
Karena Pangeran Anom masih di kampung Lunduk, komandan tersebut mohon bantuan Sultan agar segera memerintahkan menterinya pergi ke kampung Lunduk membawa Pangeran Anom kembali ke Sambas.  
Sultan Sambas memerintahkan 4 orang Datuk Kyai serta berpuluh orang penggiring berangkat menjemput Pangeran Anom beserta keluarganya ke kampong Lunduk.
Setelah Pangeran Anom beserta keluarganya berada kembali di Sambas. Pangeran Anom pergi dengan Bedar menemui komandan pasukan Inggris di kapal perangnya. Pada hari berikutnya datang pula komandan perang pasukan Inggris ke istana Sambas membalas kunjungan Pangeran Anom yang telah dating ke kapalnya. Dan ia berjanji akan melaporkan segala perbincanganya dengan Sultan dan Pangeran Anom kepada atasanya di Batavia (Jakarta). Ia berjanji pula akan mendatangkan suatu utusan khusus ke Sambas untuk mengikat tali persahabatan dan perjanjian dagang dengan Sultan dan Pangeran Anom.
Demikianlah riwayat Negeri Sambas dan asal usul “Kampung Hangus”, setelah kalah perang melawan Inggris. Tiada berapa lama Pangeran Anom berada di Sambas ia diangkat mengantikan Sultan Abu Bakar Tajudin I.
Dalam penyerangan Inggris ke Sambas tahun 1812-1813, Inggris telah mengerahkan Resimen ke 14 Batalyon Sukarela Bengal 3 dan Artileri Bengal dengan kapal 3 perang yaitu: Kapal Perang Ratu Inggris, Leda dan Hussen. Menurut catatan Inggris, pasukan mereka yang tewas 15 orang diantaranya beberapa perwira Inggris dan 58 orang luka. Jumlah pasukan Sambas yang tewas: 12 orang Pangeran, 150 orang prajurit.

Sultan Abu Bakar Tajudin I meninggal dunia pada 20 hari bulan Ramadhan 1229 Hijriyah. Dan digantikan pada hari Jum’at 14 September 1814 M oleh Pangeran Anom dengan gelar Sultan Muhammad Ali Syafi’uddin I.

KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
SAMBAS DISERANG SIAK SRI INDRAPURA 1789-1791 (PANGERAN ANOM MEMPERTAHANKAN SAMBAS)

Serangan Pertama Kerajaan Siak Sri Indrapura ke Sambas.
Tidak lama ketika Pangeran Anom memerintah di Sambas, pada bulan Desember tahun 1789 Kesultanan Sambas diserang pasukan Siak Sri Indrapura yang dipimpin oleh Raja Ismail. Penyerangan dari Siak ini adalah karena persaingan dagang dan ekonomi diantara kedua Kesultanan. Dua keerajaan salin berebut kekuasaan dilaut serta berusaha menguasai wilayah antara pulau Sumatra dan Kalimantan. Armada Siak Sri Indrapura bergerak maju disekitar perairan Sungai Sambas kecil menembakan meriam ke arah pasukan dari kesultanan Sambas.
Ketika pasukan Siak Sri Inderapura hendak mendarat maka pasukan Sambas berenang mendekati kapal musuh dan membocorkan kapal mereka hingga tenggelam. Tenggelamnya kapal dari Siak diiringi pula dengan tembakan meriam dari halaman istana. Hampir menjelang malam, namun pertempuran di antara kedua pasukan semakin sengit. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
Namun lagi-lagi strategi dan kepiawaian pasukan Sambas yang dipimpin Pangeran Anom dapat memukul mundur pasukan dari Siak Sri Indrapura. Sebagian kapal mereka ditenggelamkan dan sebagian berhasil meloloskan diri dan keluar dari perairan Sambas.
Serangan kedua Kerajaan Siak Sri Indrapura ke Sambas.
Pada tahun 1791 pasukan Siak Sri Indrapura menyerang kembali untuk kedua kalinya dengan jumlah pasukan yang jauh lebih besar dan dipimpin langsung oleh Sultan Ali Said sendiri. Pertempuran berlangsung cukup lama, pasukan Siak Sri Indrapura menyerang dengan keberanian yang luar biasa tanpa memperhitungkan korbanya yang gugur di medan laga. Pertahanan pasukan kerajaan Sambas sudah goyah karena serangan bertubi tubi dari pasukan Siak Sri Indrapura yang gagah berani.
Memperhatikan keadaan yang sangat genting itu beberapa orang menteri Kerajaan Sambas, Wazir serta Hulubalang berunding dengan Sultan Abubakar Tajudin I dan Pangeran Anom supaya diadakan perundingan damai dengan Sultan Said Ali dari Siak Sri Indrapura. Usul tersebut ditolak oleh Sultan dan Pangeran Anom, karena Pangeran Anom merasa yakin atas kekuatan pasukanya.
Maka diperintahkanlah oleh Pangeran Anom kepada beberapa pengawal setianya untuk menjemput pasukan mereka yang lain yang terdiri dari orang orang Dayak Sungkung, dan orang orang Dayak Saribas. Maka tak beberapa lama pasukan bala bantuan Pangeran Anom telah terkumpul dan dengan pasukan tersebut Pangeran Anom berhasil memukul mundur pasukan dari Siak Sri Indrapura.
Tapi rupanya Pasukan Siak Sri Indrapura tidak kembali kenegerinya mereka bertahan dilaut menunggu bala bantuan tiba dari garis belakang,mereka menghimpun kekuatan baru untuk menyerang Sambas.
Serangan Ketiga Siak Sri Inrdapura ke Sambas 1792.
Pada tahun 1792 pasukan Siak Sri Indrapura menambah dan memperkuat pasukanya yang ada diperairan Sambas, dipimpin Sayyid Ali Mustafa dan didampingi oleh seorang panglima dari Aceh yang terkenal keberanianya bernama Panglima Aru. Aru adalah nama dari suatu kampung di daerah Aceh, dalam penyerangan itu ikut serta juga permaisuri Sayyid Ali Mustafa yang sakti dan gagah berani.
Pucuk pimpinan perang pasukan Sambas dipegang oleh Pangeran Anom dan didampingi oleh Panglima Awang Tandi (Lawang Tandi) yang khusus dijemput dari tempat pertapaanya dikeramat Bantilan (letaknaya sekarang dalam wilayah kecamatan Sejangkung).
Pertempuran antar pasukan Sambas dan pasukan Siak Sri Indrapura disertai adu kekuatan dan ketangkasan antara panglima Aru dengan Panglima Awang Tandi. Pertarungan yang memakan waktu cukup lama itu adalah beradu kesaktian dan kekuatan. Namun kesaktian yang dimiliki Awang Tandi tak dapat ditandingi oleh Panglima Aru. Awang Tandi berhasil mengalahkan Panglima Aru hingga ia tewas di tangan Awang Tandi. Melihat kejadian tersebut Permaisuri Sayyid Ali Mustafa menjadi geram dengan tangkas ia turun ke medan perang (dihalaman istana Sambas) ibarat seekor singa yang haus darah ia membunuh prajurit dan panglima pasukan Sambas satu persatu hingga parajurit Sambas kelabakan dan menjadi kocar kacir.
Permaisuri Sayyid Ali Mustafa menjadi beringas, siapa saja yang berada di depan atau di belakangnya langsung dibunuh dan dipenggalnya. Melihat keadaan yang mencemaskan itu, Pangeran Anom segera terjun ke medan pertempura menahan gerak maju pasukan musuh dan diperintahkanya kepada Panglima Awang Tandi untuk menyerang langsung tubuh permaisuri tersebut.
Namun penyerangan sulit dilakukan karena permaisuri kebal terhadap senjata tajam dan dia diapit oleh pasukanya yang berlapis lapis. Untuk menghentikan dan mengatasi ketangkasan serta keberanian dan kesaktian permaisuri Sayyid Ali Mustafa tersebut, Pangeran Anom segera memasukan “Peluru Petunang” kedalam Meriam. Sambil mengucapkan mantera diarahkanya meriam tersebut tepat kepada tubuh permaisuri Sayyid Mustafa. Kemudian, dengan tembakan “Peluru Petunang” tersebut tubuh permaisuri yang kebal terhadap senjata tajam tersebut roboh seketika. Tubuhnya bersimbah darah dan seketika itu pula ia gugur di medan laga.
Melihat kejadian itu Raja Sayid Ali dan Sayid Mustafa beserta pasukanya dengan rasa kesal dan sedih memutuskan mundur dari pertempuran dan kembali ke negerinya. Sebagian dari panglima panglimanya yang menyerah kepada pasukan Sambas dan bersedia setia menjadi penduduk Negeri Sambas diberikan tempat oleh Sultan Abubakar Tajudin I sebuah kampung yang diberi nama “Kampung Tanjung Rengas” untuk kediaman orang-orang dari Zulu disediakan suatu kampung yang diberi nama “Kampung Nagur”, dan untuk kediaman orang orang dari Sulawesi disedikan suatu kampung yang diberi nama”Kampung Bugis”.
Sultan Sambas dan rakyatnya selalu membuka pintu selebar lebarnya menerima pendatang baru dari seluruh pelosok Nusantara, sehingga turun temurun tinggal di Sambas sampai sekarang. Rakyat Sambas merasa bangga mempunyai seorang Panglima seperti yang telah di contohkan Pangeran Anom dalam mempertahankan negeri dan rakyatnya dari gangguan orang orang Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan dari kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Catatan:
Keruis adalah perahu layar Pangeran Anom.
Fenes adalah sebuah perahu layar ukuran kecil atau lebih kecil dari Keruis.
Menurut dugaan Keruis dan Fenes berasal dari bahasa Portugis atau Spanyol.

Peluru Petunang adalah peluru yang didalamnya berisi jisim halus atau sahabat “Mu’akal” Pangeran Anom yang bernama”Bujang Danor”.
Cerita ini telah menjadi cerita rakyat masyarakat Kabupaten Sambas sampai sekarang.



 KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Padi
Konon pula menurut versi cerita suku melayu Kalimantan Barat khususnya Kabupaten SAMBAS, timbulnya permainan gasing yang dilaksanakan setiap tahunnya menurut cerita atau dongengnya adalah sebagai berikut:
Seorang putra khayangan yang turun ke bumi sedang melihat anak manusia yang bermain dan ia tertarik dengan permainan ini yaitu memainkan sepotong kayu yang berputar-putar dihalaman rumah anak manusia tersebut. Anak bangsa khayangan ini merasa heran campur senang sepotong kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa dapat berputar dengan cara dilempar dengan menggunakan seutas tali. Kemudian dengan kekagumamannya, ia mengajak anak manusia naik kekhayangan dengan membawa benda yang dimainkan tersebut.
Sesampainya di khayangan, dimintanya anak manusia untuk memainkan permainan itu dihadapan anak-anak bangsa khayangan. Semua anak bangsa khayangan terkagum-kagum dengan permainan tersebut. Setelah mereka bermain-main, dan mereka semua telah merasa lelah, anak manusia tersebut diberi makan oleh anak bangsa khayangan. Pada saat diberi makanan tersebut, giliran anak manusia yang terheran-heran dan kagum. Karena belum pernah ia makan makanan yang berbiji putih dan nikmat sampai perutnya merasa kenyang dan kenyangnyapun lama.
Melihat anak manusia yang makan dengan banyak dan senang sehingga tergugahlah perasaan anak bangsa khayangan lalu ia pun berkata:
“Nanti akan saya bawakan benda ini ke bumi, dengan sarat kamu harus selalu memainkan benda ini”, kata anak khayangan tersebut.
“Baiklah, aku janji. Aku akan selalu memainkan benda ini”, kata anak manusia itu kepada anak bangsa khayangan.
Kemudian anak manusia diantarkannya pulang ke bumi. Sesuai dengan permintaan anak bangsa khayangan, anak manusia tadi selalu memainkan permainan ini di bumi.
Setelah sekian lama, anak bangsa khayangan hampir lupa dengan apa yang telah diucapkannya pada waktu mereka bermain dikhayangan. Tidak lama kemudian datanglah anak bangsa khayangan ke bumi dengan membawa sebutir biji benda yang dikeluarkannya dari kemaluannya. Biji atau benda tersebut disimpan dikemaluannya, karena ia takut dimarahi oleh orang tuanya. Makanya biji tersebut disimpannya dalam kemaluannya.
Kemudian, benda atau biji tersebut diminta oleh anak bangsa khayangan kepada anak manusia di bumi untuk segera ditanam.
Anak manusiapun menuruti apa yang dimintakan oleh anak bangsa khayangan. Biji tersebut ditanam di tanah yang gembur dan subur serta basah. Kemudian, dari hari ke hari biji itu makin menampakkan pertumbuhannya. Biji itu semakin banyak pula tumbuhnya.
Sesuai dengan permintaan anak bangsa khayangan agar selalu memainkan permainan yang pernah mereka mainkan di khayangan waktu yang lalu. Anak manusia di bumi selalu memainkan permainan itu.  
Biji-biji itu terus berkembang, dan biji yang ditanam tadipun akhirnya telah layak untuk diambil karena telah menguning. Dari satu biji yang ditanam hasilnya berlipat ganda beribu-ribu banyaknya. Maka biji tanaman ini terus dikembangkan oleh anak-anak manusia di bumi.
Sejak saat itulah tanaman ini dikenal oleh manusia sebagai makanan pokok yang dapat mengenyangkan dan tahan lama, yaitu “padi”. Padi ini diolah menjadi “beras”. Kemudian oleh anak manusia permainan yang berputar serta berpusing tersebut diberilah nama dengan sebutan “gasing”.
Sampai saat ini permainan gasing selalu dimainkan oleh anak-anak manusia mulai musim bertanam padi sampai masa panen. Dengan turunnya padi kepada manusia ke bumi, maka Pangkak Gasing (bermain gasing) selalu dimainkan turun-temurun bagi masyarakat melayu dan dayak Kalimanatan Barat pada umumnya, dan khususnya masyarakat Kabupaten Sambas. Permainan Pangkak Gasing hingga sampai sekarang ini terus dimainkan, dari tingkat pedesaan sampai tingkat provinsi Kalimantan Barat. Dari anak usia Sekolah Dasar hingga orang tua. Kegiatan Pangkak Gasing tersebut dimainkan dalam acara peringatan hari-hari besar agama, gawai Naik Dangau, pesta ulang tahun kerajaan maupun peringatan hari-hari besar Nasional, pesta demokrasi, dan lain sebagainya.
Padi dengan gasing berhubungan sangat erat sekali, sehingga di dalam kehidupan orang Dayak dan Melayu Kalimantan Barat, padi dibuatkan tempat khusus (dangau padi atau tamping). Pada lumbung padi dimasukkan sebuah gasing yang namanya gasing gantang. Ukuran gasing yang disimpan ke dangau (lumbung) padi tersebut ukurannnya sama dengan pengukur padi atau beras sebagai alat timbangan tempo dulu yaitu “gantang”. Sedangkan di dalam tempayan tempat menyimpan beras disimpan gasing cupak, yang ditutupkan pada mulut tempayan, dan pasu untuk ukuran beras.


 KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.

ASAL USUL BATU BEJAMBAN DAN BATU LAYANG


Menjelang abad ke-12 di sekitar wilayah pantai utara Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sambas terdapat sebuah Kerajaan Hindu Majapahit, dengan pusat pemerintahan di wilayah Paloh. Kerajaan tersebut telah beberapa kali mengalami perpindahan pusat kerajaan dan akhirnya menetap disuatu daerah masuk ke pedalaman yang sekarang ini dikenal dengan nama Desa Kota Lama. Daerah ini termasuk wilayah Kecamatan Galing sekarang.
Pada masa kekuasaan Kerajaan di daerah Paloh tersebut, di sebelah pantai selatan Kalimantan Barat juga terdapat suatu Kerajaan yang kuat dan tangguh. Kerajaan itu dikenal dengan nama Kerajaan Matan Tanjungpura. Kerajaan Matan Tanjungpura ini berpusat di daerah Sukadana, Kabupaten Ketapang. Antara kerajaan yang berada di daerah Paloh di Kabupaten Sambas, dengan Kerajaan Matan Tanjungpura di Ketapang sejak dulu telah terjalin hubungan bilateral. Hal ini terjadi karena kedua kerajaan ini menganut kepercayaan Hinduisme yang dibawa dari Majapahit.
Daripada itu, hubungan demi hubungan kian meningkat tidak saja dalam hal perdagangan akan tetapi lebih dipererat lagi pada hubungan perkawinan antara kedua kerajaan tersebut. Dengan demikian antara Kerajaan di Paloh Kabupaten Sambas dengan Kerajaan Matan Tanjungpura di Kabupaten Ketapang, sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa menganut kepercayaan Hinduisme Majapahit. Oleh karena itu kedua kerajaan itu tentu saja di bawah pengawasan kerajaan yang besar, yaitu Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur.
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa setiap kerajaan yang tunduk di bawah pengawasan kerajaan yang berkuasa pada masa itu berkewajiban untuk membayar upeti. Kewajiban membayar upeti kepada Kerajaan Majapahit itu tidak dapat dikatakan seperti perlakuan yang telah dilakukan oleh penjajah Belanda semata-mata hendak mengeruk kekayaan alam dan berusaha memecah belah persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Akibatnya rakyat Indonesia menderita selama masa imperialisme Belanda itu.
Lain halnya dengan membayar upeti dari kerajaan-kerajaan yang telah tunduk kepada Kerajaan Majapahit seperti yang dilakukan oleh Kerajaan di daerah Paloh dan Kerajaan Matan Tanjungpura tersebut. Di mana setiap tahunnya kedua kerajaan itu memberikan upetinya kepada Raja Majapahit dan hal ini merupakan suatu isyarat atau tanda penghormatan dan penghargaan dan bukan dianggap sebagai beban bagi masyarakat.
Demikian eratnya hubungan antara kedua kerajaan tersebut sehingga terjadi suatu peristiwa yang di luar jangkauan akal pikiran manusia.
Diceritakan bahwa pada waktu itu akan datang “kebenaran” atau berita dari alam ghaib. Seorang puteri yang mengaku bernama Puteri Ratu Pantai Selatan (sekarang disebut orang dengan nama Nyiroro Kidul, penguasa laut pantai selatan). Puteri Ratu Pantai Selatan  ingin berkunjung ke kerajaan yang terdapat di daerah Paloh tersebut. Sedangkan berita dari alam ghaib itu tidak pula menjelaskan siapa sebenarnya Puteri Ratu Pantai Selatan tersebut. Dan siapa nama raja yang berkuasa di daerah Paloh tersebut.
Ceritanya diawali dengan suatu kejadian di pusat kerajaan di sekitar daerah Paloh Kabupaten Sambas. Ketika itu kerajaan ini merupakan wilayah paling ujung sebelah pantai utara Kalimantan Barat. Seorang raja telah naik tahta dan berkuasa penuh di wilayah itu. Pada suatu hari, raja tersebut mendapat kabar berita melalui alamat mimpi yang diyakini berasal dari alam ghaib dan oleh penduduk di daerah Paloh itu dikenal dengan nama sebutan “negeri kebenaran”.
Negeri kebenaran sebenarnya adalah suatu alam ghaib yang tidak tampak oleh mata telanjang manusia. Namun keberadaannya masih dalam ruang lingkup Planet Bumi. Oleh karena itu, sebagian orang meyakini di “negeri kebenaran” ada penghuninya , yaitu makhluk-makhluk ghaib atau “makhluk bunian “, seperti halnya Puteri Ratu Pantai Selatan juga merupakan “makhluk bunian” dari “negeri kebenaran”.
Puteri Ratu Pantai Selatan inilah yang memberi alamat atau petunjuk melalui mimpi sang raja. Di dalam mimpinya itu Sang Puteri akan berkunjung ke Kerajaan Paloh. Sejak itulah daerah Paloh ini menjadi pusat “Kerajaan Negeri Kebenaran” yang telah melagenda di dalam masyarakat Kabupaten Sambas.
Kemudian, karena mendapatkan alamat mimpi dari negeri kebenaran, lalu sang raja merembukkan masalah ini dengan para hulubalangnya. Sementara itu, mendengar akan datangnya tamu yaitu tidak lain adalah Puteri Ratu Pantai Selatan, maka hati serta jantung para hulubalang menjadi bergetar dibuatnya. Sebab yang mereka pikirkan dan yang ada di dalam benak mereka itu bagaimana cara penyambutan Ratu Pantai Selatan itu nantinya.
Dari hasil rembukan itu, diambillah suatu kesepakatan tentang penyambutan Puteri Ratu Pantai Selatan yang akan turun dari negeri kebenaran dan berkunjung ke Paloh itu.
Sebagaimana diketahui, oleh karena Puteri Ratu Pantai Selatan bukanlah makhluk lazimnya seperti manusia biasa. Adapun yang akan dipergunakan sebagai sarana untuk Puteri Ratu Pantai Selatan naik ke kerajaan Paloh adalah tangga atau jalan bertingkat, dan inilah yang dikenal orang dengan nama “Batu Bejamban”. Konon diceritakan bahwa Batu Bejamban yang aslinya telah diangkat ketempat asalnya, yaitu negeri orang kebenaran. Dan yang tampak sekarang ini hanyalah berupa batu-batu karang yang tersusun bertingkat mulai dari dasar laut hingga ke darat, di dekat perairan laut Tanjung Datok.
Batu Bejamban adalah suatu tempat yang selalu “dikeramatkan” orang. Terlebih lagi oleh penduduk setempat di wilayah Kabupaten Sambas. Adapun asal-usul Batu Bejamban, kisahnya masih berkaitan dengan asal usul Batu Layang yang berada di daerah Pontianak.
Sama halnya dengan Batu Bejamban, Batu Layang juga merupakan daerah yang selalu dikeramatkan orang. Di mana di daerah Batu Layang terdapat banyak makam raja-raja Kesultanan Pontianak. Salah satu diantara makam raja tersebut adalah Makam Sultan Syarif Alkadri, yaitu pendiri kota Pontianak. Adapun tempatnya waktu daerah Batu Layang itu menjadi tempat pemakaman Raja-raja Pontianak serta alasan mengapa daerah tersebut dinamai Batu Layang mempunyai kisah tersendiri.
Batu Layang adalah batu yang dilayangkan dari Ketapang (maksudnya dari daerah Kabupaten Ketapang), menuju ke daerah Paloh. Sedangkan batu-batu tersebut diperuntukkan untuk membuat Batu Bejamban, sebuah tangga untuk Puteri Ratu Pantai Selatan naik dari dasar laut ke negeri Kerajaan Paloh, Negeri Kebanaran.
Beberapa buah batu yang diperuntukkan membuat tangga untuk menyambut Puteri Ratu Pantai Selatan yang melayang itu ada yang jatuh di pertengahan jalan (maksudnya di sekitar garis lintang khatulistiwa), yang sekarang ini dikenal dengan nama Desa Batu Layang. Desa Batu Layang ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Pontianak Utara.
Batu Layang, jauh sebelum kedatangan Syarif Abdurrahman Alkadri yang mendirikan Kota Pontianak itu merupakan daerah yang tidak bertuan. Sudah sejak lama ada dan telah banyak pula dikenal orang. Namun, entah siapa yang pertama memberikan nama Batu Layang terhadap daerah tersebut, tidak diketahui dengan pasti.
Akan tetapi, konon dikabarkan orang bahwa di perairan Sungai Kapuas di sekitar Pulau Batu Layang itu, terdapat seorang nelayan yang berasal dari hulu Sungai Landak sedang mencari ikan. Pada saat sedang asik menangkap ikan, tiba-tiba ia menyaksikan kejadian aneh di mana langit secara tiba-tiba cuaca mendung yang menandakan akan datangnya hujan. Bukannya hujan yang turun, melainkan barisan batu-batu yang melayang dan berterbangan itu membuat sinar matahari menjadi tertutup, sehingga cuaca tampak menjadi mendung.
Dari kejadian itulah, sehingga dari mulut ke mulut daerah tersebut dikenal dengan nama “Batu Layang”. Dan akhirnya sampai ke telinga Syarif Abdurrahman Alkadri hingga sekarang ini daerah itu merupakan tempat “keramat” yang selalu dikunjungi. Maka Syarif Abdurrahman Alkadri yaitu orang yang pertama mendirikan Kota Pontianak itu minta dimakamkan di tanah Batu Layang tersebut.
Kemudian kisah Batu Bejamban belumlah habis akibat beberapa batu-batu yang dilayangkan dari Ketapang itu ada yang jatuh di wilayah Batu Layang kini.
Setelah batu-batu layang itu tiba di tanah Paloh maka disusunlah batu-batu itu mulai dari dasar laut hingga ke darat (ke atas). Sebab Puteri Ratu Pantai Selatan akan menginjakkan kaki pertamanya ke darat. Sementara yang mengerjakan penyusunan batu-batu itu sehingga menjadi Batu Bejamban adalah makhluk ghaib juga. Makhluk ghaib ini yang mulai dari pengambilan batu dari Ketapang sampai pada tahap melaksanakan pengerjaan Batu Bejamban yang diketuai oleh seorang jin. Jin tersebut bernama Bujang Danor.
Setelah itu waktu berganti dengan cepatnya, Puteri Ratu Pantai Selatan tidak lama lagi akan datang. Persiapan penyambutannya pun mendapat perhatian khusus dari rakyat Kerajaan Paloh.
Pada tiap-tiap dusun dipasang umbul-umbul janur kuning dari nyiur kelapa. Di samping itu raja memerintahkan pada punggawa untuk secepatnya mendirikan sebuah keraton di Kota Lama (maksudnya bukan keraton Ratu Sepudak pada saat itu). Setelah itu pusat kerajaan di daerah Paloh dialihkan ke Kota Lama. Di Kota Lama terkenal dengan rajanya yang bergelar Ratu Sepudak.
Pendirian keraton di Kota Lama tidak lain diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan Puteri Ratu Pantai Selatan. Tempat untuk Tuan Puteri Ratu Pantai Selatan tidur, diberi “kelambu kuning”. Sedangkan untuk Tuan Puteri Ratu Pantai Selatan mandi, raja juga memerintahkan punggawa untuk mencarikan sebuah bukit. Dan bukit tempat Tuan Puteri Ratu Pantai Selatan itu mandi, terkenal dengan nama bukit Sebedang. Di mana bukit Sebedang ini terdapat danau yang sangat indah sekali. Di danau Sebedang inilah tempat Puteri Ratu Pantai Selatan itu mandi.
Demikian eloknya danau Sebedang dikelilingi oleh bukit atau tanah tinggi. Konon di tanah Sebedang ini pula telah terjadi peristiwa penguburan hidup-hidup sepasang anak manusia dan terkenal dalam sejarah lagenda “Bujang Nadi dan Dare Nandung”.
Kunjungan Puteri Ratu Pantai Selatan ke kerajaan di daerah Paloh itu membawa pesan bahwa antara Paloh dan Ketapang harus bergabung, (bergabung maksudnya saling bekerjasama dalam hal apapun).
Kedatangan Puteri Ratu Pantai Selatan pun kemudian disambut dengan penaburan beras kuning, beras merah, dan beras putih. Semua yang dilakukan tersebut dalam menyambut Puteri Ratu Pantai Selatan bermakna keselamatan. Semua itu adalah salah satu upacara masa dulu kala dalam proses penyambutan tamu, yang protokolernya dengan penaburan beras kuning, beras merah, dan beras putih.
Namun, sekarang protokoler penyambutan tamu adalah dengan cara mengalungkan bunga dan lain-lainnya.
Demikianlah kisah perjalanan Puteri Ratu Pantai Selatan, sehingga telah membuat dua peristiwa bersejarah di Kalimantan Barat, yang berbeda dan berlainan tempat itu. Yang pertama adalah Batu Bejamban di daerah Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas, dan yang kedua Batu Layang di Kecamatan Pontianak Utara.


 KEPUSTAKAAN 


Dinas Kabupaten Sambas. 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

…………………………., 2001. Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah. Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas. Sambas.

Lufthi Akbar. 2001. Empat Sahabat. Romeo Grafika Pontianak.
....................., 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.
Maspedi. 2001. Asal Muasal Burung Ruai. Romeo Grafika Pontianak.
Nina Muranti. 2001. Kuali-kuali Sakti. Romeo Grafika Pontianak.
Sugianto. 2003. Kumpulan Cerita Rakyat Kabupaten Sambas II Asal Muasal Kerajaan Sambas. Media Salam. Tebas.

Supia Sulaiman. 2001. Bukit Batu. Romeo Grafika Pontianak.
Syahzaman. 2000. Cerita-cerita Rakyat Dari Kalimantan Barat. Romeo Grafika Pontianak.
Yoyon Suharto. 2001. Pak Aloi. Romeo Grafika Pontianak.