Kamis, 20 Oktober 2016

Dampak Buruk dari Full Day School bagi Sekolah, Siswa, Guru dan Orang Tua

Dampak Buruk dari Full Day School bagi Sekolah, Siswa, Guru dan Orang Tua
Sugianto, S.Pd.I
Dampak buruk dari full day school bagi siswa guru dan orang tua. Kali ini saya akan membahas dampak buruk dari Full Day Scholl bagi sekolah, siswa, guru, dan orang tua, dan bagi perekonomian orang tua.   

a.         Bagi sekolah
Dampak buruk bagi sekolah mungkin tidak terlihat begitu nyata. Akan tetapi, bagi keuangan sekolah akan terlihat nyata, yaitu “bertambahnya pengeluaran”. Mengapa? Karena sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana atau fasilitas buat anak dan guru yang memberikan materi pada sore harinya. Eskulnya, misalnya. Biaya konsumsi bagi guru yang stanbay di sekolah. Gaji guru honor dan keuangan lainnya. Sedangkan keuangan sekolah sudah minim, banyak yang honor, siswa sedikit, sekolah kecil. Uang BOS hanya untuk kebutuhan rutin, gaji, eskul, ATK, BHP, dan kebutuhan lainnya. Sekarang dengan pulang jam satu saja, biaya konsumsi sudah bertambah. Yang satu juta, bertambah menjadi 2 juta, yang 2 juta, menjadi 2,5 juta. Kok banyak sekali?? Kira-kira donk Pak? Jawab kita: Pegawai kami banyak, makannya nasi, bukan tahu ama tempe.   

b.        Bagi siswa
1.      Siswa akan stres bukan senang “senang ya mungkin buat yang pacaran, habis mereka pacaran di sekolah tanpa kontrol dari guru dan orang tua, akhirnya nanti anak-anak kita banyak yang hamil”. Bagaimana bisa guru mengontrol siswa yang begitu banyak, guru pun capek seharian di sekolah. Akhirnya guru hanya santai-santai di kantor, ngobrol dan lain sebagainya.
2.      Siswa akan lelah bukannya senang “setengah hari saja mereka capek, apalagi satu hari full, apalagi katanya menteri tidak ada PR, jadi “maaf” BODO anak-anak kita Pak-Bu.
3.      Memberikan keleluasaan kepada Siswa untuk pacaran di sekolah. Siswa pasti mempunyai pacar di sekolah, baik itu satu kelas atau pun kakak kelas atau pun adik kelas. Jika satu hari full mereka di sekolah, maka kita selaku orang tua memberikan keleluasaan kepada anak kita untuk pacaran, akhirnya anak kita bukan belajar, akan tetapi pacaran. Dan nanti alat kontra sepsi akan mereka bawa ke sekolah seperti di barat atau Erofa. Faham Bapak.... tujuannya? Bapak ibu harus tahu dari menteri itu. Tujuan mereka adalah memperbodoh kita, menyesatkan anak-anak kita, mereka bicara pendidikan, akan tetapi bukan itu sebenarnya bapak ibu sekalian. Tujuan mereka lain, memperbodoh anak bangsa, semua itu hanya permaianan politik.   
4.      Mengurangi atau melalaikan siswa untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun di sekolah ada rumah ibadah, baik musolla atau pun gereja.   
5.      Siswa akan merasa jauh dengan orang tua dan keluarganya. Karena seharian di sekolah, jadi mereka jarang berdialog, bicara atau kumpul dengan keluarga, apalagi jika ada acara dalam keluarga. Meskipun boleh izin, tapi kan malu jika izin terus. 
6.      Siswa merasa terpenjara di sekolah, terkekang. Karena mereka tidak bisa untuk bermain di luar sekolah, refresing bersama teman atau keluarga.
7.      Bahayanya Siswa pulang larut malam, karena pulangnya jam 17.00. Bahaya bapak ibu jika anak kita pulang terlalu sore. Pulang siang saja, keselamatan mereka tidak bisa di jamin. Ok, kita yang jemput.... Apakah semua orang tua punya kendaraan? Apalagi sekolah anak itu jauh dari rumah mereka?
8.      Kurangnya kasih sayang dari orang tua. Karena anak seharian di sekolah, entah apa yang anak kita lakukan di sekolah, kita dan guru pun tidak mengetahuinya, kecuali ada laporan dari teman-temannya.
9.      Siswa pulang jam 1, atau jam 2 saja, mereka sudah capek. Dan datangnya ke rumah itu ada yang jam 3, ada yang jam 4, ada juga yang jam 5 sore. Kenapa? Karena rumah mereka jauh, oto, mobil, oplet, sudah tidak ada lagi. Mau pulang sama teman jika terlalu sering takut merepotkan. Nanti minta antar sama pacar, kemudian............ karena capek, istirahat, nyantai, minum, ngomong-ngomong... dannnnnnn.... HAMIL.... itu yang di mau? Akhlaq mereka akan rusak sendiri Pak, karena keadaan dan kesempatan. Kasihan mereka, karena ego dan demi UUD dan NAMA.     
10.  Anak tidak tahu membantu orang tua, karena mereka sudah capek dari sekolah. Jika kita paksa atau suruh, maka mereka akan melawan kita selaku orang tuanya. Nanti mereka tidak tahu masak, mereka tidak tahu untuk membantu tetangga, tidak tahu mengepel lantai, menyapu rumah dan lain sebagainya.  

c.         Bagi guru
1.      Guru merasa sumpek dan capek karena seharian di sekolah. Mereka mengajarpun tidak lagi semangat.  
2.      Guru akan jauh dari keluarganya, baik istri atau suami dan anak-anak mereka.
3.      Akan menciptakan perselingkuhan baru. Karena mereka seharian di sekolah, mereka saling curhat, canda-canda, gurau-gurau, saling melayani satu sama lain (dalam tanda kutip, bukan hal-hal yang negatif), dan lain sebagainya. Mereka memasak di kantor. Bagi yang guru perempuan, mereka melayani suami orang, sedangkan suami sendiri di rumah, makan dan masak sendiri, anak di rumah yang masih kecil siapa yang jaga, yang masih usia batita, balita, kelas 1 atau kelas 3, dan lain sebagainya. Sedangkan bagi guru yang laki-laki, dia melayani dan membantu istri orang, anak-anak mereka siapa yang jaga, hewan peliharaan, rumah, kebun, dan lain sebagainya, siapa yang uruskan semua itu.   
4.      Bagaimana dengan pendapatan atau icome guru. Apakah ada tambahan atau pun tidak? Jika tugas Guru ditambah dengan setengah hari, secara otomatis gaji mereka juga akan bertambah.
5.      Mana mungkin guru mampu untuk menjaga anak orang seharain full, setengah hari saja begitu repot untuk menjaga anak orang. Anak itu bermacam-macam sifat dan tingkah lakunya. Jika terjadi apa-apa pada anak, maka guru yang akan bertanggungjawab. Meskipun disekolah tersebut diciptakan kesenangan. Dengan senang itulah “maka anak kita akan bodo”.    
6.      Guru dalam tanda kutip “akan bercinta dengan muridnya” atau sebaliknya “murid akan bercinta dengan gurunya” dan bahkan mungkin guru dengan guru sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
7.      Bagi guru yang bujang atau dara jika satu kantor, itu mungkin tempat biro jodoh bagi mereka jika masing-masing jomlo, cinlok-lah katekan. Tapi, jika diantara mereka sudah ada yang punya, maka akan mengakibatkan kecemburuan sosial. Dengan alasan ini sudah tugas pemerintah, mau apa dikata, kami hanya pegawai honor.
8.      Bagi guru atau pegawai honor, bagaimana? Apa yang harus mereka lakukan? Apakah gaji mereka akan bertambah? Dan akan dibebankan kemana? Pikir Bapak Menteri yang pandai....
9.      Bagi guru yang honor lebih dari 1 sekolah. Misalnya pagi sekolahnya di negeri, sore ngajarnya di sekolah swasta. Jadi pulangnya jam berapa? Jam 10 malam, atau jam 12 malam. Bodo sekali ya....
10.  Bagi guru atau siswa atau sekolahnya yang sore, masuknya jam 1, pulangnya jam berapa? Jam 12 malam donk! Jika pulangnya jam sore, ya tidak adillah bagi sekolahnya yang pagi. Jika buat keputusan itu untuk satu semua, bukan dibeda-bedakan...Pak...!  
11.  Guru merawat anak orang, anak orang dirawat oleh guru. Apakah sama cara mereka merawat anak antara guru dan orang tuanya?
12.  Bagi guru yang punya anak. Anaknya dijaga oleh guru lain (kita anggap temannya). Apakah sama temannya yang guru dan dia selaku orang tua menjaga dan merawat anaknya? Kita adalah orang tua bagi siswa, kita jaga anak orang seperti anak kita sendiri. Ya iya, itu mah teori bagi guru. Akan tetapi, apakah sama pelayanan kita dengan siswa kita? Kita sayangi anak orang sama seperti anak kita. Teori!!!! Ni ada anak cewek kita sayangi seperti anak kita, kita peluk.... dibilang pelecehan sek sual. Ada anak nakal, kita tampar.... HAM.... mana mungkin sama dengan kita menyayangi anak kita. Kan, apa yang kita lakuka itu sebagai perwujudan rasa sayang dan peduli kita kepada mereka. Tapi, apa hasilnya? Kita juga khan yang salah? Makanya tidak bisa Guru sama seperti orang tua mereka. Semua yang sudah berjalan itu benar, setengah hari guru yang menjaga mereka, memberikan ilmu kepada anak-anak kita. Setengah harinya, peran orang tua untuk berkumpul, menyayangi anak-anaknya, mengarahkan, dan lain sebagainya.   

d.        Bagi orang tua
1.      Jauh dari anak. Jauh dalam artian masalah hubungan batin, perasaan, kasih-sayang, belaian, manja, dan lain sebagainya.  
2.      Orang tua dan anak akan ada jarak. Jarak dalam tanda kutip adalah orang tua sudah merasa tidak peduli dengan anak, dan anak merasa tidak dipedulikan oleh orang tua.  
3.      Kurang berkomunikasi dengan anak.  
4.      Kurang menyayangi anak dan kurang memperhatikan anak.
5.      Segala tanggungjawab selaku orang tua diserahkan kepada orang lain. (guru dan orang tua serta masyarakat kan harus bekerja sama untuk membentuk anak, bukannya hanya tugas guru).  
6.      Orang tua akan kehilangan anaknya. Karena tidak ada lagi yang akan membantunya membereskan rumah, jualan atau dagang, membantunya menambah penghasilan keluarga. Jika begini terus, anak tidak akan sekolah, orang tua tidak akan mampu untuk menyekolahkan anaknya. Yang akan sekolah anak-anak orang kaya, anak-anak kota, anak orang yang mampu. Dan kita yang miskin akan dijajah oleh orang kaya.
7.      Biaya ekonomi orang tua siswa akan bertambah, seperti: uang jajan anak, uang transportasi anak, dan kebutuhan anak yang lainnya. Orang tua pastinya akan menambah biaya anak tersebut buat ia sekolah. Biasanya 5000, akan menjadi 10.000, yang 10.000 akan menjadi 20.000. apalagi jika mentraktir kawan, maka akan bertambahlah uang jajan. Anak yang diharapkan oleh orang tua disore harinya untuk membantunya bekerja di kebun, di sawah, di toko, atau pun berkemas-kemas di rumah. Sekarang tidak ada lagi.
8.      Orang tua tidak tenang dengan anaknya lama baru pulang. Orang tua takut anaknya kenapa-napa di jalan. Pulang yang siang saja, banyak kasus terhadap siswa, apalagi pulangnya sore dan bahkan hingga malam. Jadi sangat bertolak belakang sekali dengan tujuan pendidikan di era sekarang. JADI Maunya apa?  

Coba kita semak “Menanggapi hal tersebut, Muhadjir mengklaim jika konsep full day school tidak seperti yang dikhawatirkan masyarakat. Menurut dia, program yang akan menyasar sekolah dasar dan menengah pertama tersebut justru akan membuat para siswa senang meskipun seharian ada di sekolah. Berikut tiga alasan Menteri Muhadjir:
1.      Tidak ada mata pelajaran.
Menurut Muhadjir, full day school adalah pemberian jam tambahan. Tapi dalam jam tambahan tersebut tidak ada mata pelajaran yang bisa membuat para siswa bosan. Kegiatan yang dilakukan adalah ekstrakulikuler. Kegiatan ekstrakulikuler tersebut akan merangkum hingga 18 karakter, seperti jujur, toleransi, disiplin, hingga cinta tanah air. Dengan kegiatan tersebut, dia mengatakan para siswa bisa dijauhkan dari pergaulan yang negatif.
Keterangan saya: Pulangnya jam berapa? Makan dan minum siswa dari mana? (bawa uang jajan, bawa bekal, makan disediakan sekolah, makan dikantin. Itukan jawabannya?) Gaji guru yang ngajar bagaimana? Jika gurunya honor bagaimana? Bagi anak yang membantu orang tuanya bagaimana? Bagai anak yang rumahnya jauh dengan sekolah? Bagaimana rumah guru yang jauh dengan sekolah? Bagaiaman jika fasilitas sarana dan prasarana di sekolah tersebut tidak lengkap atau cukup? Sekolah harus belikan? Uangnya dari mana? Dari BOS kan? Uang BOS saja tidak cukup untuk gaji dan ATK serta BHP serta uang kebutuhan lainnya. Ooooo bapak mau tambah, berapa?   
   
2.      Orang tua bisa jemput anak ke sekolah.
Pertimbangan lain dari program full day school adalah masalah hubungan antara orang tua dan anak. Menurut Muhadjir, untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan, pada umumnya orang tua bekerja hingga pukul 5 sore. Dengan program tersebut, kata dia, orang tua bisa menjemput anak mereka di sekolah saat pulang kerja. Sata ini, kata Muhadjir, siswa pulang dari sekolah pukul 1 siang, sementara orang tua baru pulang pukul 5 sore. "Antara jam 1 sampai jam 5 kita enggak tahu siapa yang bertanggung jawab pada anak, karena sekolah juga sudah melepas sementara keluarga juga belum ada," kata Muhadjir.
Keterangan saya: Ya iya, bagi yang sudah kerja orang tuanya. Apakah semuanya sudah bekerja dan pulangnya jam 5 sore? Bagi yang tidak bekerja, bagaimana? Apakah anak tidak merasa bosan atau capek jika disekolah terus selama bertahun-tahun, enam tahun SD, 3 tahun SMP dan SMA. Bahkan hingga bapak habis jabatannya, mana mereka tahan. SUMPEK Pak di sekolah tu, kami juga perlu alam bebas... ini namanya pemerkosaan HAK Asasi Anak dan GURU (HAM).
  
3.      Membantu sertifikasi guru.
Program full day school dianggap Muhadjir dapat membantu guru untuk mendapatkan durasi jam mengajar 24 jam per minggu sebagai syarat mendapatkan sertifikasi guru. "Guru yang mencari tambahan jam belajar di sekolah nanti akan mendapatkan tambahan jam itu dari ini," katanya.
Keterangan saya: jika hanya menhgarapkan sertifikasi dengan adanya Program Full Day School lebih baik hapuskan sertifikasi guru. Berarti guru hanya mengharapkan Uang. Guru atau tenaga yang honor mau diapakan di program full day school ini. lebih baik sertifikasi guru itu dihapuskan, maaf bagi saudaranya yang guru atau dia itu guru. Sertifikasi guru itu tidak ada manfaatnya. Manfaatnya hanya menambah penghasilan bagi guru. Sedangkan untuk kemajuan di dunia pendidikan tidak ada sama sekali. Lebih baik program sertifikasi itu diganti dengan guru yang berprestasi. Karena ada UKG (Uji Kompetensi Guru). Sertifikasi itu menciptakan kecemburuan sosial antar sesama guru yang belum dapat dan yang sudah dapat dan guru yang honor. Dan sertifikasi itu akan mengakibatkan pembengkakan pengeluaran APBN. Sedangkan pendapatan Negara tidak berubah. Berubah kenaiakn pun sedikit. Kenapa pembengkakan menurut saya? Karena guru yang akan disertifikasi akan bertambah-dan selalu bertambah jika program ini masih lanjut. Sedangkan pendapatan negara apakah bertambah sesuai dengan pertambahan guru atau pegawai yang disertifikasi? Negara saja jual aset ke swasta, untuk apa? Seperti aset BUMN itu, kan dijual... untuk apa? Uangnya kemana? Sudah habis jabatan... ok ok aja... apakah ini juga sama? Yang rugi siapa Bapak-Ibu semua? Mari kita pikirkan, mari kita satukan persepsi kita. K13 jangan didukung, full day school jangan didukung. TOLAK FULL DAY SCHOOL dan PEMBERHENTIAN PR bagi SISWA. PR BOLEH, TAPI JANGAN TERLALU BANYAK. Ini apa, salah GURU juga, beri anak PR 30, 40, 50 soal, catat lagi. Bukan satu guru, bahkan semua guru MAPEL. Yang sedang-sedang sajalah Pak-Buk ya..... wasalam penulis....    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...