Selasa, 15 Maret 2016

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 99



“Kamu kok tahu banyak ya tentang kisah Sambas”, tanyaku kepada Dewi sambil melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut dan diikuti oleh Dewi dibelakangku.
“Ya tahulah... Makanya sekolah, Bang...!”, jawabnya.
“Ooo gitu ya... “, jawabku.
“Ya gitu donk.... Yok kita lari, Bang...!”, ajak Dewi kepadaku. Kami pun lari-lari kecil menuju motor kami yang diparkir. Dewi sampai duluan ke tempat parkir. Sedangkan aku masih ngos-ngosan karena berlari.
“Kenapa, Bang... Sesak ya...?”, tanya Dewi kepadaku sambil memegang tanganku.
“Iya ni... Napas Abang satu-satu rasanya. Dewi sih larinya terlalu kencang, Abangkan tidak kuat napasnya”, jawabku.
“Iya... iya... Dewi minta maaf... Sini Dewi gendong...”, ucapnya kepadaku.
“Ndak usah, nanti malu... lagi pula sekarang sudah datang diparkiran. Mau gendong kemana lagi? Ke Hongkong...!? Jika ke Hongkong Abang sih mau”, manjaku.
“Udah... ayok kita pulang, ntar kesiangan kita ke Bukit Dara Nandung dan Bujang Nadi”, tambahku.
“Ok Bos...”, jawab Dewi sambil mengacungkan jempolnya.
Aku pun membauyar biaya parkir sepeda motor 1000 rupiah.
“Bang ni uangnya”, kataku ke juru parkir yang asik dikursinya. Kemudian juru parkir tersebut menghampiriku.
“Terima kasih, Bang”, jawabnya. Kemudian tukang parkir itu meninggalkan kami.
Aku pun langsung naik ke sepeda motor, sedangkan Dewi sudah siap untuk berangkat menuju Sebedang. Setelah aku siap, kami pun berangkat. Dewi melaju dengan begitu cepatnya. Motornya nyelip-nyelip diantara mobil dan motor. Hanya dalam waktu 20 menit, kami tiba di Bukit Sebedang tempat dimakamkannya Dara Nandung dan Bujang Nadi anak dari Raja Tan Unggal yang lalim. Sekarang kami sudah berada di bawah bukit, sedangkan posisi makam Dara Nandung dan Bujang nadi berada di atas bukit, kira-kira 100 anak tangga. Dimakam Dara Nandung dan Bujang Nadi ini, banyak juga para penjiarah yang datang dari pelosok desa dan kota, bahkan dari Kota Singkawang, Mempawah, serta Pontianak. Tujuan mereka hanyalah satu, yaitu minta berkah untuk usaha, jodoh, penglaris, ilmu, dan lain sebagainya.
Dimakam Dara Nandung dan Bujang Nadi ini terdapat suatu mistik, jika kita menghitung jumlah anak tangga baik awal dan perginya, belum tentu sama. Begitu juga jika kita menancapkan sebatang ranting aau kayu dengan ukuran depa kita, jika kita tancapkan ke makam tersebut; bisa jadi kayu itu; panjang, pendek, atau tetap sama panjangnya seperti biasa. Sebelum menancapkan kayu tersebut kita harus membaca niat terlebih dahulu, begitulah mitosnya dari Makam Dara nandung dan Bujang Nadi menurut masyarakat yang mempercayainya.
“Sekarang kita sudah sampai, Bang”, ucap Dewi kepadaku sambil memarkir motor di bawah pohon yang ridang.
“Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga, ya... Ternyata ini ya lokasi dari makam Dara Nandung dan Bujang Nadi. Bagus ya, pemandangannnya!”, kataku kepada Dewi sambil melihat-lihat sekeliling bukit.
“Ayo Bang kita naik ke atas, makamnya di atas, Bang... masih jauh ni, kira-kira 50-60 meterlah ke atas ni”, ucap Dewi mengajakku ke atas.
“Ok, lanjut....”, jawabku sambil menapakkan kaki ke anak tangga pertama.
“Bismillahirohmanirrohim...”, tambahku.
Kemudian Dewi pun mengikutiku dari. Ketika menaiki tangga, Dewi selalu memegang tanganku. Aku senang sekali. Sudah separuh jalan kami menaiki tangga, terasa napasku sesak sekali. Rasanya aku tidak sanggup
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...