Rabu, 16 Maret 2016

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 103



“Sekarang kita tinggalkan selama kurang lebih lima atau sepuluh menit, Bang. Setelah itu baru kita lihat hasilnya. Apa yang akan terjadi pada kayu-kayu kita”, jawabnya kepadaku.
“Apa yang akan terjadi!?” tanyaku lagi sambil melihat matahari dibalik pohon-pohon karet yang semakin tinggi.
“Yang akan terkadi adalah, apakah kayu Dewi atau Abang akan panjang, atau pendek, atau pula tetap. Tidak berubah sedikitpun kayu-kayu kita itu”, jawab Dewi.
“Maknanya apa dari panjang, pendek, atau tetap itu?”, tanyaku lagi mau tahu lebih banyak mengenai mitos keunikan dari Makam Dara Nandung dan Bujang Nadi ini.
“Maknanya jika panjang, bahwa apa-apa yang kita inginkan akan segera terkabulkan. Sedangkan jika kayu kita memendek, maka apa yang telah kita niatkan tidak akan tercapai. Jika kayu kita tetap, maka tidak ada perubahan sama sekali dalam kehidupan kita. Itulah mitosnya menurut orang tua-tua kita yang mempercayainya”, ucap Dewi kepadaku.
“Kok bisa seperti itu, ya...!?”, tanyaku sambil garuk-garuk kepala.
“Ya bisalah, Bang...! Hanya Tuhan yang mengetahuinya”, jawab Dewi.
“Sepertinya sudah ni, Bang... Ayo kita cabut kayu kita masing-masing. Dan kita lihat apa yang terjadi”, tambah Dewi kepadaku.
“Ayo...!”, jawabku sambil melangkah ke dalam makam Dara Nandung dan Bujang Nadi dan diikuti oleh Dewi.
“Bismillahirohmanirrohim....”, ucap kami bersamaan ketika mencabut kayu tersebut. Setelah kayu itu kami cabut, kami pun keluar dari makam dan mengukur kayu tersebut dengan depa kami. Pertama-tama aku yang mengukur kayu tersebut. Apa yang terjadi? Kayuku menjadi panjang tiga jari diperkirakan 4 cm, begitu juga dengan punya Dewi kayunya panjang 3 cm.
“Horreee.... Kayu Abang panjang, Wi. Hebat ya! Kok bisa ya? Alhamdulillah semuanuya akan terkabul. Terima kasih Tuhan”, ucapku.

Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...