Selasa, 15 Maret 2016

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 100


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 100
Pulau Lemukutan

untuk melanjutkan perjalanan ke atas. Soalnya masih jauh Makam Dara Nandung dan Bujang Nadinya.
“Kenapa ya orang jaman dahulu mengebumikan Dara Nandung dan Bujang Nadi di atas bukit ini. Kan jauh dari Sambas ke Sebedang, lagi pula makamnya di atas bukit. Bagaimana cara orang-orang zaman dahulu membawa mereka ya?”, ucap hati kecilku.
“Orang dulu memang hebat membuat makam di atas bukit”, kata Dewi kepadaku.
“Ya benar... Tapi kasihan kita donk, anak cucunya. Mau ke atas saja sesak seperti ini napas Abang. Kapan sampainya kita ke atas jika seperti ini”, omelku.
“Jangan ngomong seperti itu, Bang... Tidak boleh! Nanti bisa kualat, Bang”, kata Dewi mencegahku dari bicara yang tidak-tidak.
“Oo gitu ya...!”, jawabku sambil melanjutkan perjalanan mendaki bukit menuju Makam Dara Nandung dan Bujang Nadi.
“Apakah Abang masih mampu untuk naik ke atas? Jika tidak, biar Dewi gendong saja! Dewi kuat kok jika hanya menggendong Abang. Paling-paling Abang 25 kg”, kata Dewi kepadaku.
“Ahh masa Abang digendong oleh cewek! Malulah Abang, Wi!”, jawabku.
“Disini mana ada orang, Bang!”, jawabnya.
“Iya juga sih... Tapi tidak usah ya... Abang masih kuat kok”, ucapku sambil meneruskan perjalanan ke atas.
Meskipun dengan tertatih-tatih naik ke atas, akhirnya kami datang juga ditempat yang dituju. Makam Dara Nandung dan Bujang Nadi terawat dengan rapi berbalut kain kuning disekeliling makamnya. Keadaan makam Dara Nandung dan Bujang Nadi seperti telaga yang sudah tidak terpakai lagi. Semuanya sudah tertutup dengan tanah gunung yang berwarna kuning, dan disekeliling makam terdapat banyak sekali pohon karet serta bambu kecil.
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...