Selasa, 16 Februari 2016

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 91



Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 91
Sugianto & Andrew Australia
“Ada apa sih, Dik?!”, tanyaku kepada adikku Norma yang memukul pipiku.
“Nyamuk, Bang”, jawabnya singkat.
“Nyamuk si nyamuk, Dik... tapi kira-kira lah mukulnya. Sakit ni pipi...”, jawabku sambil memegang pipiku.
“Maaf,,,maaf,,,maaf,,, tidak sengaja. Bukan maksud Dedek ‘tuk nyakiti Abang, nyamuknya yang kebanyakan makan darah Abang. Jadi Dedek geram melihatnya”, jawab adikku sambil mengelus pipiku yang barusan dipukulnya.
“Abang ngayal ya?”, tambahnya.
“Ngayal apa?!”, jawabku.
“Tu... Cik Dewi lagi menari dengan si Amat. Enak sekali mereka menari, seperti cacing kepanasan saja Dedek lihat”, kata adikku Norma.
“Sudahlah, jangan diurusi orang lain. Ayo kita masuk, Abang sudah ngantuk ni”, kataku sambil bangkit dari tempat dudukku. Sedangkan tatapanku masih menatap kearah Dewi yang sudah mulai istirahat dan duduk diteras tetangga. Dewi pun melambaikan tangannya ke arahku. Sedangkan aku hanya tersenyum kepadanya.
Aku pun langsung masuk ke dalam rumah menuju tempat tidurku. Sedangkan kedua orang tua dan adik-adikku yang lainnya lagi nonton. Aku pun merebahkan tubuhku ditempat tidur yang empuk sekali. Seakan-akan aku lah yang terkaya di dunia ini. Dunia ini milikku dan milik Dewi, sedangkan semuanya hanya menumpang. Kuambil diary usangku dan kutulis lah sebuah puisi. Puisi itu kuberi judul “hatiku bukan pualam”.
Puisi itu mengisahkan kejadian barusan yang kualami. Bagaimana perasaan hatiku saat itu yang melihat Dewi menari dengan laki-laki lain. Hatiku hancur dan tercabik-cabik berkeping-keping jadinya. Dimana hendak kucari penawar hati ku yang luka? Sedangkan di dunia ini hanyalah Dewi penawar itu. Dialah satu-satunya penawar hatiku di dunia ini.    
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...