Februari 2016


Di dalam mimpiku, aku dan Dewi jalan-jalan ke Keraton Kerajaan Sambas tempo dulu. Kami berangkat menggunakan sepeda motor Dewi. Orang tuanya mengizinkan kami untuk jalan-jalan kemana pun kami suka. Aku tidak pandai mengendarai sepeda motor, Dewi lah yang mengonceng aku. Sedangkan aku hanya jadi penumpangnya. Aku merangkul pinggang Dewi dengan erat agar tidak jatuh. Karena jalan di desaku sangat jelek. Sekitar 3 km yang seperti itu. Ketika aku merangkul pinggang Dewi, ia hanya tersenyum dan berkata kepadaku.
“Pegangan yang kuat, Bang. Tar jatuh lho.... Jalan jelek ni”, katanya kepadaku.
“Iya... jangan deras-deras ya, nanti Abang bisa jatuh”, kataku.
“Jangan takut, Bang! Beres....!”, jawabnya.
Motor kami pun melaju dijalan-jalan yang jelek lagi berbatu. Seringkali kami berpapasan dengan penduduk yang pulang dari kerja atau pun mau ke kebun. Mereka menyapa dan kami pun menyapa mereka.
“Kemana kita jalan-jalannya ni, Wi?”, tanyaku kepada Dewi.
“Kemana ya...”, jawab Dewi yang masih belum tahu tujuan kami jalan-jalan.
“Kita ke Sambas saja kali ya...”, tambahnya.
“Sambasnya kemana, Wi?”, tanyaku kepada Dewi.
“Keistana aja, Bang. Keistana Kesultanan Sambas. Dewi belum pernah ke sana, Bang”, kata Dewi memberi saran kepadaku.
“O iya, bagus juga tu...”, jawabku.
“Apakah Abang pernah ke sana?”, tanya Dewi kepadaku.
“Belum pernah sama sekali, Wi...”, jawabku.
“Kenapa, Bang?”, tanya Dewi kepadaku.
“Kok kenapa? Kenapa apanya, Wi?”, tanyaku kembali.

Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 93
Lemukutan
Selesai sudah kurangkai sebuah puisi ungkapan hatiku yang galau dan kecewa. Aku ingin menangis, tapi aku malu pada diriku sendiri. Mengapa? Karena aku menangis terus, nanti dibilang cengeng oleh diriku, atau pun oleh cecak dikamarku. Hari-hari aku sedih, nangis tanpa sebab. Apa yang kusedihkan, apa yang membuat aku sedih? “Nasib”. Nasib dan takdirku yang tidak sama seperti mereka. Mereka kaya, aku miskin. Mereka gagah, aku cacat. Mereka ganteng, aku miharsa. Mereka kuat, aku lemah. Bagaimana nasibku nanti dikemudian hari? Apakah aku akan seperti ini terus? Bagaiamana bisa aku akan mengumrohkan kedua orang tuaku? Bagaimana bisa aku untuk membahagiaka kedua orang tuaku serta adik-adikku? Dapatkah aku untuk mempersunting Dewi pujaan hatiku, belahan jiwaku?
Sudahlah, jangan pikirkan lagi. Esok atau lusa siapa yang tahu. Semua ini sudah takdir Tuhan. Ia tahu apa-apa yang diciptakanNya. Begitu juga dengan aku yang diciptakan-Nya. Saat itu, aku tidak tahu apa lagi yang terjadi diluar sana. Apakah Dewi memikirkan aku atau pun tidak. Sedangkan aku selalu memikirkan dan menghayalkannya. Aku membayangkan wajah cantiknya tepat di depanku. Ingin sekali aku menciumnya. Dari dulu waktu ia kelas 6 SD hingga SMA sekarang ini, belum pernah sama sekali aku menciumnya. Dalam keasikanku membayangkan wajah Dewi, aku pun tertidur dengan pulasnya, “mimpi”.   
Didalam mimpi dan di alam nyata ternyata jauh sekali perbedaannya. Jika di alam nyata hatiku selalu sakit dan tersakiti. Aku selalu dihina, dicaci, ditertawakan dan diejek-ejek. Sedangkan di alam mimpi hatiku  bahagia sekali. Apa-apa yang aku inginkan, apa-apa yang aku dambakan, apa-apa yang aku harapkan, semuanya terkabul dengan cepat. Tidak ada seorang pun yang dapat menggangguku. Jika aku mati pun, aku bisa hidup lagi. Enaknya mimpi dan hayalan. Dimana kita dapat mewujudkan segala impian kita? Hanyalah dalam hayalan jawabnya.

Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578

“HATIKU BUKAN PUALAM”

Dari mana aku harus bermula
Tuk katakan luka dihatiku saat ini
Dari mana aku harus memulainya
Tuk aku meluahkan perasaan kukepadamu

Mengapa malam ini tanpa bintang Tuhan
Mengapa malam semakin suram
Kunang-kunang pun entah kemana perginya
Hanya aku yang tinggal saat ini

Ia yang kuharapkan
Dia yang kuimpikan
Dia yang kudambakan
Tapi, dia juga yang menghancurkan hatiku

Aku tahu, aku bukannya Arjuna
Aku tahu, aku bukannya Sri Rama
Aku hanya seorang yang miharsa
Aku hanya seorang yang dhoif

Ketika aku menatapmu
Seakan-akan tercabik-cabik hatiku
Seakan-akan kau tusukkan berjuta sembilu dihatiku
Hingga hatiku hancur berkecai-kecai

Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 91
Sugianto & Andrew Australia
“Ada apa sih, Dik?!”, tanyaku kepada adikku Norma yang memukul pipiku.
“Nyamuk, Bang”, jawabnya singkat.
“Nyamuk si nyamuk, Dik... tapi kira-kira lah mukulnya. Sakit ni pipi...”, jawabku sambil memegang pipiku.
“Maaf,,,maaf,,,maaf,,, tidak sengaja. Bukan maksud Dedek ‘tuk nyakiti Abang, nyamuknya yang kebanyakan makan darah Abang. Jadi Dedek geram melihatnya”, jawab adikku sambil mengelus pipiku yang barusan dipukulnya.
“Abang ngayal ya?”, tambahnya.
“Ngayal apa?!”, jawabku.
“Tu... Cik Dewi lagi menari dengan si Amat. Enak sekali mereka menari, seperti cacing kepanasan saja Dedek lihat”, kata adikku Norma.
“Sudahlah, jangan diurusi orang lain. Ayo kita masuk, Abang sudah ngantuk ni”, kataku sambil bangkit dari tempat dudukku. Sedangkan tatapanku masih menatap kearah Dewi yang sudah mulai istirahat dan duduk diteras tetangga. Dewi pun melambaikan tangannya ke arahku. Sedangkan aku hanya tersenyum kepadanya.
Aku pun langsung masuk ke dalam rumah menuju tempat tidurku. Sedangkan kedua orang tua dan adik-adikku yang lainnya lagi nonton. Aku pun merebahkan tubuhku ditempat tidur yang empuk sekali. Seakan-akan aku lah yang terkaya di dunia ini. Dunia ini milikku dan milik Dewi, sedangkan semuanya hanya menumpang. Kuambil diary usangku dan kutulis lah sebuah puisi. Puisi itu kuberi judul “hatiku bukan pualam”.
Puisi itu mengisahkan kejadian barusan yang kualami. Bagaimana perasaan hatiku saat itu yang melihat Dewi menari dengan laki-laki lain. Hatiku hancur dan tercabik-cabik berkeping-keping jadinya. Dimana hendak kucari penawar hati ku yang luka? Sedangkan di dunia ini hanyalah Dewi penawar itu. Dialah satu-satunya penawar hatiku di dunia ini.    
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 90
Pulau Lemukutan
Wi, maaf... sepertinya Dewi lagi resah ya? Jika Dewi mau menari dengan mereka, tidak apa-apa kok. Abang izinkan Dewi menari dengan mereka. Semua itu tidak masalah bagi Abang” kataku kepada Dewi menyuruhnya untuk menari dengan teman-temannya.
“Tidak apa-apa, Bang”, jawab Dewi. Tapi matanya selalu keraha teman-temanya.
“Yang benar ni? Abang tahu kok, Dewi mau ke sana”, kataku.
Kurang lebih sepuluh menit kami bicara saat itu. Berdasarkan permintaanku kepada Dewi untuk menari dengan teman-temannya, Dewi pun permisi kepadaku. Karena kutahu ia pun menginginkan hal yang sama. Tapi ia tidak mau mengatakannya kepadaku. Aalah aku ini, aku tidak tahu menari atau pun dance, yang kutahu hanyalah menangis dan mengeluh. 
“Bang, Dewi ke sana dulu, ya”, ucapnya.
“Iya, hati-hati aja, ya. Banyak lelaki tu yang ingin menggodamu”, ucapku.
“Cemburu, ya”, katanya sambil tersenyum manja.
“Enggak...” jawabku menyembunyikan kata hatiku yang penuh dengan rasa cemburu dan benci. Ingin rasanya kurobek-robek hatiku, agar ia tahu tentang perasaanku saat itu.
Aku hanya mampu memperhatikan Dewi menari dengan laki-laki lain. Kemudian muncullah di otakku bahwa aku yang menari dengan Dewi. Semua orang hanya menjadi penonton. Tatapan mereka kepada kami tidak berkedip sedikit pun. Bahkan ada yang iri dengan tarian kami yang begitu dahsyatnya. Dewi menari meliuk-liuk bagaikan si ular kobra, sedangkan aku seperti raja singa layaknya. Ingin rasanya Dewi kubaham saat itu, hingga hatiku puas. Ketika aku asik menari-nari dengan Dewi, tiba-tiba pipiku terasa sakit sekali.
“Plakkkk....” bunyi sesuatu tepat ditelingaku. Aku terkejut dan sadar dari hayalan yang asik tadi. Kini buyar sudah semuanya impianku.
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 89
Sugianto, S.Pd.I
“Kenapa?!”, tanya Dewi kepadaku.
“Malu?!”, tanyanya lagi kepadaku.
“Tidak,,,!”, jawabku.
“Lalu, kenapa?”, tanyanya pengen tahu.
“Sakit...!”, tambahnya.
“Iya...”, jawabku sedih.
“Kenapa mata Abang basah...?” tanyanya lagi.
“Mana? Tidak apa-apa, kok”, elakku.
“Ya tidak apa-apa lah jika Abang tidak bisa ikutan. Dewi disini aja menemani Abang”, katanya kepadaku.
“Tidak usah... Dewi menari saja dengan yang lainnya. Lihatlah, mereka memperhatikan kita terus. Mungkin mereka ingin Dewi menari bersama dengan mereka. Apalagi si Amat itu selalu saja menoleh kemari, mungkin ia ingin menari bersamamu!”, kataku kepada Dewi.
“Ndaklah... Dewi disini aja”, jawab Dewi kepadaku.
Kami pun bercerita apa saja saat itu. Akan tetapi kuperhatikan teman-temannya selalu saja memperhatikan kami. Seolah-olah mereka tidak suka melihat aku bicara dengan Dewi. Sedangkan Dewi pun saat itu kulihat hatinya tidak tenang atau mungkin merasarisih dan malu. Aku mengerti, ia malu jika bicara dengan orang cacat seperti aku. Aku tahu, ia malu jika bicara dengan orang yang lebih tua darinya. Aku juga paham, ia pasti malu jika bicara dengan orang yang tidak punya pendidikan lagi miskin sepertiku. Ingin rasanya aku mengubah semua ini. Aku yang cacat menjadi ganteng, aku yang miskin menjadi kaya, aku yang lemah menjadi kuat, aku yang hina menjadi mulia, aku yang tidak sekolah menjadi sarjana. Tapi apakan daya, semua ini sudah takdir Tuhan, semua ini sudah suratan Ilahai. Entah apa rahasia-Nya dikemudian hari yang tidak aku ketahui. Melihat keadaan yang seperti itu, aku pun berkata kepada Dewi.
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 88
Pulau Lemukutan

Malam itu di samping rumahku lagi ada acara pesta hura-hura anak muda. Mereka para remaja dan remaji lagi ngedance RNB, aku hanya mengintip dari balik tirai kaca rumahku. Kulihat ada Dewi di sana dengan baju kaos lengan pendek warna putih dan celana ¾ lagi goyang-goyang pinggul dengan laki-laki. Kulihat Dewi melihat ke arah rumahku. Namun ia tidak tahu bahwa aku sedang mengintipnya.
Aku sangat sedih waktu itu, tidak terasa air mataku membasahi pipiku yang sudah mulai mengering karena usiaku semakin bertambah. Bayangkan saja ia sudah kelas 2 SMA saat ini. Sedangkan dulu baru kelas 6 SD, kemudian kelas 1 SMP, sekarang sudah kelas 2 SMA. Jadi sudah berapa tahun semua itu berlalu?. Aku duduk di ruang tengah dengan deraian air mata. Aku sembunyikan air mataku dari adik-adikku yang sedang memperhatikan tingkahku. Sebenarnya mereka tahu, aku suka akan Dewi, dan mereka juga tahu, aku bersedih saat itu.  
Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba Dewi datang ke rumahku dengan mengucapkan salam.
“Assalamulaikum....!” Dewi mengucapkan salam didepan rumahku.
“Bang...!”, tambahnya lagi.
Aku terkejut mendengar salam darinya. Kuseka air mataku, kemudian akupun membuka pintu dan keluar menemuinya.
“Waalaikumsalam.....”, jawabku.
“Iya, Wi... ada apa?”, tanyaku kepadanya sambil duduk. Kemudian Dewi pun duduk di sampingku.
“Nari yok,,,!” ajaknya kepadaku sambil meraih tanganku. Ketika tangannya menyentuh tanganku, tubuhku seakan-akan dingin, darahku meluap-luap mau muncrat. Jantungku berdegup cepat, aku sangat grogi jadinya. Maklum sudah lama tidak bersua dengannya si pujaan hati belahan jiwaku. Saat itu aku hanya mampu berkata;
“Tidak bisa”, jawabku singkat dan layu.
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578

Pulau Lemukutan

“Ayo kita beri pelajaran orang cacat ni!”, kata Bosnya memberikan aba-aba kepada anak buahnya.
Kemudian aku pun dipukul oleh mereka secara bergantian. Tubuhku terasa sakit sekali. Aku hanya pasrah dengan semua ini. Pipiku mulai berdarah, perutku terasa sakit karena dipukul mereka. Setelah mereka puas memukuliku, mereka pun berlalu meninggalkanku. Dan Bosnya pun berkata kepadaku.
“Ingat... Jangan coba-coba lagi dekati Dewi! Jika tidak... Nyawamu melayang!”, ancamnya kepadaku. Aku hanya mengangguk kecil tanda mengerti. Dasar nasib badan, di dalam mimpi saja aku bernasib sial. Apalagi dikehidupan nyata. Mengapa nasib baik tidak memihak kepadaku? Mengapa hanya duka yang selalu datang menghampiri? Sedangkan duka atau pun luka tidak pernah sama sekali aku undang dalam kehidupanku. Yang kuinginkan hanyalah bahagia, sehat, kaya, masuk sorga. Tapi kenyataannya lain sekali, lain yang kuimpikan, lain yang kudapatkan.
Aku tidur semakin pulas, entah apalagi yang akan terjadi esok hari dikehidupan yang nyata. Apakah aku akan bahagia atau pun esok aku akan terluka lagi. Hanya Tuhan-lah yang mengetahui semua ini, karena Tuhan yang telah menciptakan aku ke dunia ini.
Waktu terus berjalan, siang-malam silih berganti. Hujan-panas, pasang-surut, semuanya berjalan sesuai dengan kodrat Ilahi. Begitu juga dengan Dewi saat ini. Kini Dewi sudah duduk di kelas dua SMA. Dewi sekarang sejak malam itu jarang pulang, biasanya ia pulang satu minggu sekali, sekarang dua minggu atau tiga minggu sekali baru pulang kampung. Kadang-kadang satu bulan baru pulang kampung. Padahal Kota Pemangkat dan desaku (Desa Pusaka) juga tidak terlalu jauh. Jadi hari-hari kulalui dengan kesunyian dan kesedihan. “Aku menanti cinta yang tidak pasti. Aku mengharap, cinta yang belum pasti kudapat. Aku mendamba, cinta yang belum tentu nyata”.  
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 86
Sugianto, S.Pd.I

“Mau menemui Bang Anto, tuk kabarkan bahwa Dewi tidak jadi keluarnya”, kata Dewi.
“Karena sejak dari tadi dia menunggu Dewi di jalan”, tambahnya.
Kemudian Dewi pun menemuiku. Seperti itulah kira-kira aku menghayal saat Dewi di rumahnya. Mungkin hanya cicaklah yang mengerti isi hati Dewi saat itu. Dan tidak lepas pula Tuhan Yang Kuasa yang sangat mengetahui isi hati Dewi kepadaku. Setelah lelah aku menghayal, kemudian aku pun tertidur dengan sendirinya.
Belum lama aku tertidur, aku bermimpi. Aku mimpi buruk sekali. Aku didatangi oleh beberapa orang yang tidak aku kenal. Mungkin mereka pacar Dewi atau mungkin mereka orang suruhan bapak Dewi untuk melarang aku berteman dengan anaknya Dewi. Seperti sinetron saja aku lihat, padahal ini kisahku, bukan sinetron. Mungkin aku asik dengar cerita orang-orang yang nonton sinetron atau pun drama ditelevisi.  
“Hey, kau yang bernama Anto!?”, tanya salah seorang dari mereka yang bertubuh kekar seperti ahli gusti WWF lagaknya aku lihat. 
“Ya benar, Pak... Memangnya ada apa Pak?”, tanyaku kepada mereka, sambil ku lihat satu persatu wajahnya. Akan tetapi tidak satu pun yang aku kenal. Mereka tiga orang semuanya, kuat-kuat dan berotot.
“Mulai sekarang kamu jangan lagi mengganggu Dewi... Karena Dewi suah ada yang punya... Dia anak orang kaya, dia gagah... dia ganteng... sedangkan kau...!”, kata bapak yang tadi sambil mengepal-ngepalkan kedua tanganya. Sepertinya mereka hendak memukul tubuhku yang kerempeng dan ingin mematah-matahkan tulangku.
“Tidak Pak! Saya hanya mengajaknya jalan-jalan... Bukanya apa!”, jawabku.
“Oooo... Berani juga menjawabnya”, kata temannya yang lain.
“Sudah Bos... Pukul saja dia. Tunggu apa lagi. Kita beri saja ia pelajaran”, kata yang lainnya.
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -
Hp: 0852 4571 6578
 
Pengaruh Cahaya Terhadap Kacang Hijau
Sugianto, S.Pd.I
SISTEMATIKA PENULISAN
LAPORAN PENELITIAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah dari penelitian ilmiah ini adalah biji kacang hijau atau kecambah yang sangat disukai oleh sebagian besar masyarakat Kota Singkawang. Maka dengan ini kita harus berpikir lebih kreatif untuk membuat atau memproduksi kecambah. Bagaimana jika tidak ada orang yang membuat atau menjual kecambah?. Jadi, kita harus bisa memanfaatkan keadaan seperti ini, misalnya berwirausaha dengan memproduksi biji kacang hijau menjadi kecambah agar kita bisa mengkomsumsi sendiri. Dan tidak membelinya dari orang lain.  

B.       Identifikasi Masalah
Identifikasi Masalah Penelitian ini adalah:
1.      Melihat semua hal yang melatar belakangi masyarakat Kota Singkawang yang sangat menyukai akan sayur kecambah.
2.      Melihat banyaknya masyarakat yang kurang memproduksi kecambah.

C.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini:
1.      Apakah cahaya mempengaruhi terhadap pertumbuhan kecambah?
2.      Kecambah manakah yang lebih cepat pertumbuhannya, apakah ditempat terang atau gelap?

D.      Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1.      Membandingkan laju pertumbuhan biji kecambah pada pencahayaan yang terang dan gelap.
2.      Mengetahui pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan kacang hijau.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Kajian Pustaka
Pertumbuhan adalah bertambahnya massa, ukuran  dan volume dari sel yang bersifat irreversibel. Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan atau kecambah dipengaruhi oleh dua faktor yaitu eksternal dan internal. Faktor internal itu meliputi gen dan hormon sedangkan faktor internal itu meliputi suhu, nutrisi, air, cahaya, kelembaban, dan oksigen.

Pertumbuhan kacang hijau yang menjadi kecambah terjadi karena adanya pertambahan jumlah sel dan pembesaran sel.

B.       Metode
1.      Populasi dan Sampel
a.         Populasi      :    biji kacang hijau
b.        Sampel       :    6 biji kacang hijau

2.      Variabel Penelitian
a.        Variabel bebas
b.        Cahaya Variabel terikat
c.        Variabel kontrol:
-       Gelas aqua (sebagai wadah)
-       Kapas
-       Biji kacang hijau
-       Air

C.       Analisis Data
Berikut adalah tabel pengamatan tinggi tanaman kacang hijau yang diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan:

Tabel Pengamatan

No
KEADAAN
Sinar Matahari
Lampu
Gelap
1
0
0
0,20
2
0,9
0,7
0,90
3
1,4
1,2
2,04
4
2,75
1,9
4,90
5
3,10
2,50
5,5
6
3,49
2,75
6,8


Pengamatan dilakukan setelah 6 hari.

Pada dasarnya tumbuhan membutuhkan cahaya. Banyak sedikitnya cahaya yang dibutuhkan tiap tumbuhan berbeda-beda. Dari penelitian yang telah dilakukan terhadap pertumbuhan dan perkembangan biji kacang hijau dengan merendam kacang hijau selama 5 menit dan meletakan 6 biji kacang hijau ke dalam tiga botol aqua gelas (aqua A dan aqua B serta aqua C) lalu meletakkan gelas A di tempat terang dan gelas B ditempat gelap.
Biji kacang hijau yang terkena cahaya matahari secara langsung (terang) pertumbuhannya lebih lambat, daunnya lebar & tebal, berwarna hijau, batang tegak, kokoh. Sedangkan, biji kacang hijau yang tidak terkena cahaya matahari (gelap) pertumbuhannya lebih cepat tinggi (etiolasi) dan daunnya tipis, berwarna pucat, batang melengkung tidak kokoh. Hal ini terjadi karena cahaya memperlambat atau menghambat kerja hormone auksin dalam pertumbuhan meninggi (primer).

D.      Pembahasan
Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Bagian paling bernilai ekonomi adalah biji dan kecambahnya.
Pada tumbuhan, khususnya pertumbuhan dan perkembangan kacang hijau diawali dengan perkecambahan biji. Perkembangannya dapat terjadi apabila kandungan air dalam biji semakin tinggi. Masuknya air ke dalam biji melalui proses yang dinamakan imbibisi. Air yang masuk akan memacu embrio dalam biji untuk melepaskan hormone giberelin. Giberelin bekerja secara sinergis dengan auksin saat terjadi perkecambahan. Giberelin diproduksi di semua bagian tumbuhan. Giberelin ini mendorong pelepasan enzim yang berfungsi menghidrolisis makanan cadangan sehingga terbentuklah energi.
Energi ini digunakan untuk proses awal pertumbuhan dan perkembangan embrio dalam biji. Struktur yang pertama muncul dan menyobek selaput biji adalah radikula. Radikula merupakan calon akar primer. Radikula adalah bagian dari hipokotil. Selanjutnya, pada bagian ujung sebelah atas tumbuh epikotil  (calon batang).






BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa cahaya dapat mempengaruhi proses perkecambahan biji kacang hijau. Proses pertumbuhan kacang hijau membutuhkan cahaya. Namun, banyak sedikitnya cahaya yang dibutuhkan tiap tumbuhan berbeda-beda, begitu pula dengan tumbuhan kacang hijau.
Dari penelitian yang telah kami lakukan terhadap perkecambahan biji kacang hijau. Sebenarnya biji kacang hijau yang diletakkan di tempat gelap dan terang akan mempunyai perbedaan. Biji kacang hijau yang terkena cahaya matahari secara langsung (terang) pertumbuhannya lebih lambat dan, biji kacang hijau yang diletakkan di tempat yang tidak terkena cahaya matahari secara langsung, pertumbuhan atau perkecambahannya akan lebih cepat.

B.       Saran-saran
Sebaiknya apabila kita melakukan percobaan terhadap kacang hijau atau kecambah, dilakukan dalam waktu yang lebih lama agar terlihat lebih jelas dan lebih detail dalam menyimpulkan perbedaan antara tumbuhan yang berada ditempat terang dan berada ditempat gelap. Dan juga harus dilengkapi dengan peralatan yang lebih komplit dan memadai.