Minggu, 29 November 2015

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 72


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 72
Sugianto, S.Pd.I
Ketika aku asik dengan lamunanku, aku ditegur oleh Dewi.
“Bang.... Kenapa?”, katanya sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mataku.
“Tidak! Tidak kenapa-napa?”, jawabku mengalihkan perhatiannya.
“Wah syukurlah, Dewi banyak temannya, jadi Dewi tidak kesorangan di kota. Apalagi di kota kan sebagaimana Abang tahu, bahwa orangnya cuek-cuek dan acuh tak acuh sama orang”, jawabku sambil tersenyum kecil kearahnya.
“Seperti itu kan orang kota, Cik”, imbuhku kepadanya.
“Tidak juga Bang. Abang sekali-kali lah ke Pemangkat, main ke kota, atau jalan-jalan. Jangan di rumah terus Bang, nanti bisa   kuper Bang!” katanya kepadaku.
Selama ini aku tidak pernah mendengar yang namanya kuper. Apa sih kuper itu? Binatang? Bagaimana bentuk dari binatang “kuper”? Apakah ia seekor anak anjing? Monyet, atau pun anak Harimau? Aku jadi bingung, lalu kutanyakan kepadanya.
“Eee... maaf Cik, kuper itu apa? Apakah ia seperti kuda atau pun seperti keledai?”, tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala tidak gatal, dan tersenyum malu.
“Nah kan, kuper saja Abang tidak pernah mendengarnya. Kuper itu kepanjangan dari “kurang pergaulan” Bang. Jika Abang tidak keluar-luar rumah, hanya diam di dalam rumah terus. Nanti Abang kurang pergaulan, wawasan Abang tidak luas. Hanya di rumah atau pun di RT ini saja yang Abang ketahui, Bang”, katanya Dewi menjelaskan kepadaku.
Habislah aku digurui oleh “cekgu” ni. Maklum aku tidak sekolah, aku hanya tamat SD. Sedangkan ia sekarang sudah SMA. Jika dulu, aku masih menang, aku masih bisa mengajarinya. Tapi sekarang, malah terbalik, aku bukan siapa-siapa dimatanya. Aku hanya seekor pungguk yang merindukan bulan. Aku hanya seekor semut yang berada digurun pasir saat itu.
Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...