Sabtu, 03 Oktober 2015

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 45


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 44
Sugianto, S.Pd.I
“Iya-iya, Abang ikut...”, kataku kepada Dewi sambil beranjak dari tempat dudukku. Sedangkan tangan kami masih saling berpegangan dengan eratnya, seakan-akan tidak mau dilepaskan.
Sesampainya di depan pintu rumah Dewi, aku melepaskan genggaman tanganku. Kemudian kami pun masuk ke dalam rumah, namun sebelumnya Dewi mengucapkan salam. Dewi minta izin dengan orang tuanya agar aku mau mengajarinya ngaji. Waktu itu bapak dan ibunya sedang di dapur, sedangkan aku menunggu diruang tengah sambil nonton televisi. Dewi pun menyampaikan maksudnya kepada kedua orang tuanya.
“Ma,,, Dewi ingin belajar ngaji ni...”, ucap Dewi pada ibunya sambil mendeati ibunya yang lagi bekerja.
“Sama siapa, Cik...?” tanya ibunya singkat sambil bekerja jalan terus.
“Iya, sama siapa, Cik...?” tambah bapak Dewi sambil menyimpan gelas sehabis ia minum air kopi yang dibuatkan oleh ibu Dewi.
“Jika ingin belajar ngaji, harus sama orang yang pandai dan mengerti ilmu tajwiz Cik, jangan asal-asalan. Bukan sama orang yang tidak tahu apa-apa, nanti salah penyebutan, juga salah artinya...”, tambah ibunya kepada Dewi menjelasan. 
 Waktu itu aku duduk diruang tengah sambil nonton bersama adik Dewi si Fariz dan Abangnya si Mudassir temanku.
“Sama siapa kamu ingin belajar, Cik?” tanya bapaknya dengan tegas.
“Sama Bang Anto, Pak-Ma...!”, jawab Dewi singkat.
“Anto!?”, jawab bapak Dewi terkejut.  
“Memang tidak ada orang lain lagi, Wi, selain dari pada Anto...! Ini Anto, itu Anto, Anto lagi... Anto lagi...!”, kata bapak Dewi menyebut-nyebut namaku. Mungkin mereka mengira bahwa aku tidak ada di ruang tengah.
“Iya sih, kenapa Cik, kok Anto terus...”, tambah ibunya memarahi Dewi.
“Memang kamu apanya dia, sih Cik?” tanya ibunya seperti penasaran. 

Penulis: Sugianto, S.Pd.I
Judul Novel: “Surat Cinta Dari Surga”
Tahun: 2014
Penerbit: -

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...