Rabu, 23 September 2015

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 39



Mengapa aku mengatakan demikian? Karena biasanya pada awalnya bagus, namun setelah buahnya habis oleh hama tikus dan burung pipit. Kejadian itu sering terjadi di kampungku dan kampung-kampung yang lain. Tidak luput kami juga pernah mengalami hal yang semacam itu. Allah-lah Yang Maha Mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Hari semakin tinggi, panas semakin terik. Aku lihat matahari sudah hampir di tengah kepalaku, diperkirakan mungkin sudah pukul 10.30 wiba.
“Ma! Abang pulang dulu ya? Panas Ma!”, ucapku pada ibuku sambil berjalan di pematang sawah.
“Iya, pulanglah sana. Ibu sebentar lagi, masih tanggung”, jawab ibuku sambil meneruskan pekerjaannya.
Akupun pulang sambil bernyanyi kecil, yaitu lagu gelang sepatu gelang. Tidak lama kemudian aku pun sampai di rumah. Aku bergegas mandi karena ingin menemui Dewi yang akan pergi ke sekolah. Karena Dewi masuknya siang. Aku mandi di sungai, biasanya Dewi juga mandi di sungai di depan rumahnya. Karena rumah Dewi di tepi sungai, sedangkan rumahku kira-kira 100 meter dari sungai. Di sungai Sekadim itu banyak jamban-jamban yang dibuat oleh penduduk, khususnya yang tinggal di tepi sungai. Ada juga jamban umum untuk masyarakat yang tinggal jauh dari sungai seperti aku. Jadi aku mandi di jamban umum yang tidak jauh dari jamban Dewi.
Kegiatan seperti itu biasa kami lakukan hanya sekedar curi-curi pandang, atau bicara dari jauh, atau mungkin aku berenang menemui Dewi yang di jambannya atau sebaliknya. Begitulah keadaan kami jika kami mandi bareng di sungai. Saat itu terjadilah dialog diantara kami sambil mandi.  
“Bang...”, ucapnya singkat sambil memercikkan air ke badannya.
“Iya, Wi. Ada apa...?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...