Kamis, 28 Mei 2015

Makalah Proses pembentukan keterampilan sosial anak usia dini Jilid 3


BAB II
PROSES PEMBENTUKAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA DINI


A.    Proses Pembentukan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini
Pendidikan moral pada usia dini harus dilakukan sejak anak dilahirkan, dan pada usia di bawah 2 tahun dapat dilakukan hanya dengan memberikan kasih sayang sebesar-besarnya kepada anak. Menurut Thomas Lickona, “Love lights the lamp of human development. If we wish to raise good children, we should begin by giving them our love” (Budiningsih, Asri C.: 2005). Ibaratnya sebuah bejana kosong, kalau diisi air “cinta dan kasih sayang” maka bejana tersebut hanya berisi air kesucian. Ketika anak dewasa, bejana (hati) ini hanya akan menebarkan kesucian dan kebajikan dalam perjalanan hidupnya. Apabila yang diterima adalah umpatan, dan contoh-contoh yang buruk, maka sifat-sifat seperti inilah yang akan disebarkan dalam perjalanan hidupnya. Oleh karena itu, orang tua (khususnya ibu) perlu sekali untuk mencium, memberikan kata-kata manis, dan mendendangkan cinta kepada bayi-bayi mereka.
Menurut Darsono Max (2001) “Seorang anak yang siap untuk masuk usia sekolah harus sudah dibekali dengan kesadaran emosi seperti rasa bersalah, rasa malu, perasaan disakiti, bangga, dan sebagainya”. Anak-anak pada usia pra-sekolah harus sudah dapat membedakan beberapa jenis emosi yang dirasakannya, sehingga mereka tidak menjadi bingung tentang nilai-nilai dari emosi yang dirasakan oleh mereka. Misalnya, seorang anak yang merasa iba kepada seorang anak yang dikucilkan, sedangkan seluruh kawan-kawannya mengejek anak tersebut. Anak tersebut akan mempunyai rasa ambivalen antara rasa empati dan rasa takut untuk dikatakan pengecut karena tidak mau terlibat untuk turut mengejek anak yang dikucilkan tersebut. Anak harus tahu bahwa merasa empati kepada anak yang dikucilkan adalah perasaan yang lebih baik yang harus diikuti.
Oleh karena itu, pendidikan karakter di sekolah, terutama pada usia TK dan SD, juga perlu dilakukan, tentunya disesuaikan dengan tahap perkembangan umur anak. Hal ini berbeda dengan Pendidikan Moral Pancasila yang selaim ini dilakukan yang hanya menyentuh aspek akademik (hafalan dan pengetahuan saja), tetapi tidak melibatkan aspek emosi (feeling) dan perilaku (acting).

B.     Macam Keterampilan Sosial Anak Usia Dini
Beberapa hasil penelitian menunjukkan masih banyak anak TK (PAUD) yang memilih cara agresif dalam penyelesaian konflik, hasil penelitian lain menunjukkan cara tersebut akan dibawa hingga dewasa. Pemahaman pendidik TK (PAUD) dalam kajian keterampilan sosial sangat minim dan beberapa bentuk program yang ada dilakukan dengan tidak sadar atau terprogram dengan jelas.
Pendidik PAUD atau Taman Kanak-kanak belum terbiasa untuk melakukan stimulasi keterampilan sosial yang terprogram dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat tiga alasan pendidik PAUd yang belum terbiasa melakukan stimulasi, yaitu;
  1. Pendidik sebagian besar sudah mengimplementasikan social skill dalam proses kegiatan belajar di PAUD atau TK, namun pada hasil kualitatif, terlihat bahwa sebagian besar pendidik belum memahami secara betul makna social life skill.
  2. Usaha penanaman social life skill belum terprogram dalam kegiatan yang direncanakan, melainkan hanya secara implisi disertakan pada kegiatan-kegiatan lain.
  3. Usaha pendidik dalam memahami macam keterapilan anak didik masih belum terencana atau diprogramkan. Bila sudah direncanakan atau diprograkan akan dapat dilaksanakan secara sadar sistematik, sehingga tujuan yang ingin dicapai secara eksplisit dapat dijadikan pedoman target yang jelas.
Sedangkan maca-macam keterapilan yang dimiliki oleh anak didik di PAUD adalah rasa empati, penuh pengertian, tenggang rasa, kepedulian pada sesame, komunikasi dua arah/ hubungan antar pribadi, kerjasama, tata krama/kesopanan, kemandirian, dan rasa tanggung jawab sosial. Dari beberapa uraian di atas dapat dikemukakan bahwa ketrampilan sosial adalah keterampilan atau strategi yang digunakan untuk memulai ataupun mempertahankan suatu hubungan yang positif dalam interaksi sosial, yang diperoleh melalui proses belajar dan bertujuan untuk mendapatkan hadiah atau penguat dalam hubungan interpersonal yang dilakukan.

C.    Konsep Pembentukan Karakter Sosial Usia Dini
Pengembangan karakter anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan terutama dari orangtua. Anak belajar untuk mengenal nilai-nilai dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dilingkungannya tersebut. Dalam pengembangan karakter social anak, peranan orang tua dan guru sangatlah penting, terutama pada waktu anak usia dini.
Berbagai bentuk kejahatan dan tindakan tidak bermoral dikalangan anak menunjukan bahwa anak didik kita belum memiliki karakter social yang baik. Hal ini perlunya pengembangan karakter yang sesuai dengan anak, yang tidak sekedar pengetahuan, dan doktrinasi, tetapi lebih menjangkau dalam wilayah emosi anak.
Usaha atau upaya yang dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dalam membangun karakter anak usia dini adalah:
1.      Memperlakukan anak sesuai dengan karakteristik anak.
2.      Memenuhi kebutuhan dasar anak antara lain kebutuhan kasih sayang, pemberian makanan yang bergizi.
3.      Pola pendidikan guru dengan orangtua yang dilaksanakan baik dirumah dan di sekolah saling berkaitan.
4.      Berikan dukungan dan penghargaan ketika anak menampilkan tingkah laku yang terpuji.
5.      Berikan fasilitas lingkungan yang sesuai dengan usia perkembangannya.
6.      Bersikap tegas, konsisten dan bertanggungjawab

D.    Prosedur Pembentukan Keterapilan Sosial Anak Usia Dini
Prosedur membentuk karakter anak dimulai sejak dini, paling tidak anak berusia dua tahun. Apabila masa usia 2 tahun pertama anak sudah mendapatkan cinta, maka sangat mudah anak tersebut dibentuk menjadi manusia yang berakhlak mulia. Menurut hasil penelitian, anak-anak usia 2 tahun sudah dapat diajarkan nilai-nilai moral, bahkan mereka sudah dapat mempunyai perasaan empati terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain.
Misalnya, ketika ia melihat raut wajah ibunya yang sedih, ia dapat mengekspresikan empatinya. Dikatakan bahwa rasa empati adalah sifat alami yang sudah ada sejak anak dilahirkan yang merupakan sumber dari moralitas individu, seperti rasa iba dan rasa ingin berbuat baik, termasuk perasaan bersalah dan malu kalau melakukan hal-hal yang tidak baik. Sedangkan bagaimana empati dapat terus tumbuh subur adalah tergantung dari emotional bonding dengan ibunya pada usia-usia awal kehidupan seorang anak.

Mengenai prosedur pembentukan keterapilan sosial anak usia dini yaitu saat usia anak paling tidak berusia dua tahun. Kemudian anak yang berusia dua tahun tersebut   harus dibekali dengan kesadaran emosi seperti rasa bersalah, rasa malu, perasaan disakiti, bangga, dan sebagainya. Menurut Hamalik, Oemar (2004), seorang anak yang siap untuk masuk usia sekolah harus sudah dibekali dengan kesadaran emosi seperti rasa bersalah, rasa malu, perasaan disakiti, bangga, dan sebagainya.
Anak-anak pada usia pra-sekolah harus sudah dapat membedakan beberapa jenis emosi yang dirasakannya, sehingga mereka tidak menjadi bingung tentang nilai-nilai dari emosi yang dirasakan oleh mereka. Misalnya, seorang anak yang merasa iba kepada seorang anak yang dikucilkan, sedangkan seluruh kawan-kawannya mengejek anak tersebut. Anak tersebut akan mempunyai rasa ambivalen antara rasa empati dan rasa takut untuk dikatakan pengecut karena tidak mau terlibat untuk turut mengejek anak yang dikucilkan tersebut. Anak harus tahu bahwa merasa empati kepada anak yang dikucilkan adalah perasaan yang lebih baik yang harus diikuti.
Oleh karena itu, pendidikan karakter di sekolah, terutama pada usia TK dan SD, juga perlu dilakukan, tentunya disesuaikan dengan tahap perkembangan umur anak. Hal ini berbeda dengan Pendidikan Moral Pancasila yang selaim ini dilakukan yang hanya menyentuh aspek akademik (hafalan dan pengetahuan saja), tetapi tidak melibatkan aspek emosi (feeling) dan perilaku (acting).

E.     Tahapan Pembentukan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini
Pembentukan keterampilan sosial anak usia dini ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi.
Kesatu, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik.
Kedua, anak mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan. Misalnya, anak tak mau mencuri, karena tahu mencuri itu buruk, ia tidak mau melakukannya karena mencintai kebajikan.
Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya. Lewat proses sembilan pilar karakter yang penting ditanamkan pada anak. Ia memulainya dari cinta Tuhan yang Maha Esa dan alam semesta beserta isinya; tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; kejujuran; hormat dan santun; kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama; percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati; toleransi, cinta damai, dan persatuan.
Tujuan mengembangkan keterampilan sosial anak usia dini adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik. Begitu tumbuh dalam karakter yang baik, anak-anak akan tumbuh dengan kapasitas dan komitmenya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukannya dengan benar, dan cenderung memiliki tujuan hidup. Membangun karakter yang efektif, ditemukan dalam lingkungan sekolah yang memungkinkan semua anak menunjukan potensi mereka untuk mencapai tujuan yang sangat penting. (Salim, Agus dkk: 2004).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...