hikmah puasa assyura

Hikmah puasa assyura. Puasa assyura merupakan puasa yang dilaksanakan pada bulan muharram yaitu puasa pada hari kesepuluh pada bulan muharram tersebut. Puasa pada sepuluh hari dibulan muharram itu disebut dengan puasa assyura. Segala apa yang diperintahkan oleh Allah atau Rasulullah saw pada kita (umat) nya, semua itu mengandung hikmah atau manfaat untuk kita. Misalnya sholat, zakat, haji, sedekah, menolong orang, puasa, dan lain sebagainya.
Begitu halnya dengan cantik, jelek, cacat, dan apalagi lah namanya, semua itu ada hikmahnya. Nah, lalu bagaimana dengan hikmah puasa pada bulan Muharram atau puasa 10 hari pada bulan Muharram yang disebut puasa Asyura, yang dilakukan pada hari kesepuluh atau hari kesembilan.
Hikmah puasa hari Asyura (puasa hari kesepuluh pada bulan Muharram) dan puasa Thasu’a (sehari sebelum hari Asyura, berarti hari kesembilan pada bulan Muharram), adalah supaya seseorang lebih berhati-hati, karena dimungkinkan sejak awal tahun ada kesalahan (dosa). Dan supaya orang Islam berbeda dengan orang Yahudi, karena biasanya pada tanggal 10 Muharram orang-orang Yahudi juga berpuasa. Oleh sebab itu, jika tanggal 9 Muharram tidak berpuasa, maka disunatkan mengganti pada tanggal 11 Muharram (setelah hari Asyura).   
Hari assyura ini yang biasanya disebut oleh orang-orang dan semua orang, yaitu 10 Muharram adalah hari yang agung. Sejarah mengatakan bahwa, pada hari tersebut Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam dan Bani Israil dari pengejaran Fir’aun dan bala tentaranya di Laut Merah. Untuk mensyukuri nikmat yang agung tersebut, kaum Yahudi diperintahkan untuk melaksanakan shaum ‘Asyura.
Di dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam tiba di Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari ‘Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: “Ada apa ini?”
Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini.”
Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam bersabda, “Saya lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan kalian.” Maka beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa ‘Asura.”(HR. Bukhari no. 2204 dan Muslim no. 1130).
Pada zaman jahiliyah, suatu zaman kebodohan, suku atau Kaum musyrik Quraisy sendiri juga telah melaksanakan shaum atau puasa ‘Asyura tersebut. Kaum musrik Quraisy menganggap hari tersebut adalah hari yang agung sehingga mereka melakukan penggantian kain Ka’bah (kiswah) pada hari tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga telah melakukan puasa ‘Asyura sejak sebelum diangkat menjadi nabi sampai saat beliau berhijrah ke Madinah. Hal ini mengindikasikan, wallahu a’lam, puasa ‘Asyura diwarisi oleh kaum Quraisy dari ajaran nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam.

Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours