Selasa, 24 Februari 2015

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 34


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 34

akan menambah beban kepada Bang Anto”, kata Mudassir memberikan pengertian kepada adiknya Dewi.
Dewi hanya diam dan tertunduk lesu bagaikan tidak bermaya. Beberapa menit kemudian, Dewi bangkit berajak mengemaskan peralatan sholatnya.
“Mau ke mana, Wi?”, tanyaku.
“Pulang!”, jawabnya singkat, dan terus menuju pintu musholla.
“Tidak sholat Isya lagi, kan sebentar lagi sholat Isya akan masuk”, tambahku sambil berdiri mencoba mendekatinya ke depan pintu.
“Tak apalah Dewi pulang dulu, Bang”, kata Dewi segera meninggalkanku.
Entah apa perasaan Dewi saat itu, aku pun tidak mengerti. Tidak lama kemudian azan sholat Isya pun tiba. Kali ini yang menjadi imam adalah aku. Setelah azan atau iqamah, tanpa ragu atau kecut aku memimpin sholat Isya berjamaah. Aku sudah terbiasa menjadi imam begitu juga dengan temanku Mudassir.
Malam itu cuaca bagus sekali. Langit tampak cerah, bintang-bintang bertaburan dilangit seumpama bidadari menaburkan batu permata. Begitu juga dengan para bidadara di kayangan, seolah-olah mereka lagi main kelereng atau gundu. Tidak lama kemudia sholatpun selesai, para jamaah saling salaman dan terus pulang menuju rumahnya masing-masing, begitu juga dengan aku dan Mudassir.
“Sampai jumpa esok, Sir”, ucapku pada Mudassir ketika kami pulang yang berlawanan arah. Ia menuju ke arah timur, sedangkan aku ke sebelah barat. Setibanya di rumah aku langsung makan. Setelah makan aku langsung menuju kamarku. Sedangkan keempat adikku dan orang tuaku lagi asik ngobrol. Aku mencari buku diaryku yang usang itu. Aku lupa menaruhnya di mana. Ku cari ke tempat bajuku, tidak ada. Kucari di bawah tempat tidurku, tidak ada. Aku terdiam sejenak sambil menempelkan jari telunjukku di jidat. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...