Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 33

Biasanya yang menjadi imam pada sholat Magrib tersebut adalah aku, temanku (Mudassir), dan Pak Haji Tegah (H. Basuni). Tapi kali ini bukan aku yang menjadi imam, melainkan Pak H. Basuni. Karena aku dan Mudassir datangnya agak terlambat. 
Anak-anak sekolah dasar dan orang tua di lingkungan RT-ku ramai juga yang sholat. Tapi, kadang-kadang juga hanya lima atau enam orang yang datang sholat. Iqomah pun berkumandang, Mudassir yang iqomah. Sholat Magrib berjamaah pun dimulai. tidak lama kemudian sholat pun selesai. Setelah selesai sholat anak-anak mengaji yang diajari oleh H. Basuni atau Ibu Asnik. Sedangkan aku sedang berbicara dengan Mudassir mengenai hal agama. Tiba-tiba Dewi datang menghampiri kami. Ia duduk diantara aku dan abangnya. Dan ia pun berkata kepadaku.
“Bang, ajarin Dewi ngaji donk!”, pinta Dewi kepadaku sambil menatap ke arahku.
Aku menoleh ke arah Mudassir. Mudassir hanya diam sambil memutar-mutarkan tasbihnya (berwirid).
“Bagaimana ya, Abang tidak tau ni”, jawabku agak bingung antara mau dan takut.
“Coba Dewi tanya Angahnya, pa diizinkan atau tidak?”, pintaku pada Dewi.
“Ngah, boleh ya...!”, pinta Dewi membujuk Abangnya sambil menggenggam kedua tangan Mudassir. Abangnya hanya diam membisu. Mungkin abangnya juga bingung, apa yang harus ia lakukan. Apabila diizinkan ia akan dimarah oleh kedua orang tuanya. Jika tidak Dewi akan menangis atau dia tidak enak kepadaku. Akan tetapi aku tahu apa keputusannya.
“Nanti ajalah ngajinya, nanti bilang dulu sama ibu atau bapak. Mereka kan harus tau juga. Nanti kamu akan merepotkan Bang Anto saja. Kamu
Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours