Selasa, 27 Januari 2015

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 30


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 30

yang ingin menarik wajahku ke wajahnya. Aku bagaikan terbius oleh kecantikan dan keayuan Dewi saat itu. Aku ingin sekali mengecup pipinya yang montok dan licin itu. Dan akupun ingin merasakan manis bibirnya yang merah merekah bagaikan buah delima. 
Pada saat aku ingin mendekatkan bibirku ke pipinya, tiba-tiba dengan spontannya Dewi menampar wajahku.
“Plakkkk...!”, bunyi tamparan itu terdengar nyaring seolah-olah mengalahkan nyaringnya bunyi halilintar di angkasa. Dengan refleknya akupun berteriak memecahkan keheningan di danau tersebut.
“Awwwww....uu!”, teriakku terperanjat karena tamparan Dewi yang begitu hebat. Pipiku yang hitam gelap berubah menjadi merah seperti terbakar api unggun.
“Maaf, Wi...! Abang tidak sadar...!”, ucapku sambil bangkit dari tindihan tubuh Dewi.
Dengan spontan pula Dewi menolakku hingga aku terjatuh ke tepian danau. “Byuuuurrrr” basah sudah seluruh pakaianku. Seketika itu juga aku terjaga dari tidurku. Ternyata aku terjatuh dari tempat tidur.
“Alaaahhh... mimpi lagi! Ahhhh... aku terlalu banyak angan-angan!”, ucapku sambil ke luar dari kamarku.
Kulihat jam dinding.sudah pukul 17.10 menit.
“Aduuuhh, aku belum sholat ni, sholat asar dululah. Tapi, sebelum sholat mandi dulu dech, biar nanti tidak mandi lagi”, ucap hati kecilku.
Akupun segera mandi. Setelah selesai mandi akupun terus sholat asar di kamarku. Setelah sholat aku membuka buku diaryku dan kutulis sebuah puisi. Puisi itu aku rangkai biasa-biasa saja. Kucari kata-kata yang sesuai dengan keadaanku waktu itu. Aku tidak belajar dalam hal penulisan puisi ini, aku hanya menuruti gerak hatiku saja. Apa yang ada dibenakku saat itu, akan aku tuliskan menjadi sebuah kalimat yang baik menurutku. Maka terciptalah sebuah puisi yang berjudul “sebuah ilusi”.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...