Selasa, 27 Januari 2015

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 28


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 28

Menit demi menit terlewati, setengah jam berlalu sudah. Kini PR adikku sudah selesai kami kerjakan.
“Akhirnya, selesai juga”, ucap bibirku yang hitam kelam bagaikan bukit kelam di negeri kayangan. Kulihat jam dinding baru pukul 14.30 wiba.
“Ada apa sih, Bang. Kok lihat jam segala?”, tanya adikku.
“Tidak...! Abang cuma capek aja, rasa mau tidur, tapi sudah sore”, ucapku pada adikku sambil bangkit dari kursi.
“Aduh, badan Abang terasa remuk semua ni. Capek...!”, kataku sambil merenggangkan urat leher dan pinggangku serta bahuku.
“Baring-baring aja Bang di kamar. Biar rasa capeknya berkurang”, kata adikku sambil mengemaskan buku-bukunya.
“Biar Dede’ (adik) yang pijitin, ya. Agar capeknya hilang!”, pinta adikku menawarkan jasa.
Dede’ adalah panggilan manja adikku Norma.
“Tidak usah. Abang bisa sendiri kok!”, jawabku sambil melangkah menuju kamarku.
Setibanya di kamar. Aku merebahkan badanku ditempat tidurku yang sudah sangat tua. Kasurnya saja sudah tipis dan keras. Tidak lagi empuk seperti beberapa tahun yang lalu ketika baru dibeli. Mataku menerawang jauh menembus langit-langit rumahku. Seakan-akan atap rumahku yang terbuat dari daun sagu itu tiada lagi. Kini di kamarku semuanya terang-benderang. Rohku seakan-akan melayang ke angkasa menemui bidadari yang tinggal di kayangan. Bidadariku itu tiada lain adalah Dewi.
Bidadariku amat cantik dan molek, aku suka sekali kepadanya. Ia selalu tersenyum dan selalu tertawa riang bila bersamaku. Hari-hari kulalui bersamanya selalu senang dan bahagia. Selama ini tidak pernah kurasakan yang namanya bahagia. Ketika bersamanya hatiku senang, damai, dan tentram. Entah apa yang kurasakan saat itu. Baru kali itulah aku mengenal seorang wanita atau gadis. Padahal ia baru kelas satu SMP, sedangkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...