Selasa, 20 Januari 2015

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 24


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 24

sudah tidak terpakai lagi dijual sama “Mamang” yang membeli barang bekas.
Setelah selesai sholat Luhur, aku berdo’a pada Tuhan, semoga hidup kami sekeluarga berubah. Dalam suasana yang hening kurasakan karena tidak ada bunyi alunan musik dari tipe dex tetangga. Maklumlah tetanggaku punya harta yang banyak, baik televisi atau tipe dex. 
“Ya Allah, hamba menghaturkan sembah kehadiran-Mu, mohon ampunan atas segala dosa dan kesalahaku, baik yang sengaja ataupun tidak sengaja hamba lakukan. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, robahlah hidup kami ini ya Allah, kehidupan kami yang miskin menjadi kaya, kehidupan kami yang susah menjadi bahagia, hidup kami yang sakit menjadi sembuh, kehidupan kami yang hina menjadi mulia.  Ya Allah, aku yang tidak berguna ini, yang doif dan miharsa ini memohon kepada-Mu ya Allah. Bantu aku, tolong aku ya Rahman, tolonglah hamba keluar dari kemiskinan ini ya Allah, hamba mohon kepada-Mu...”, seperti itulah do’aku pada Allah subhanahu wataala. Aku terdiam lama sambil menunduk dalam-dalam sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku yang hitam dan kering dimakan oleh sinar matahari.
Ketika aku sedang larut dalam renunganku. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara dari depan rumahku.
“Assalamualaikum, Bang...!”, terdengar olehku ucapan salam yang begitu nyaring.
“Siapa sih, ganggu aja orang lagi sholat”, ucap hati kecilku sambil menuju ke arah pintu depan rumah.
“Adikku mana ya. Kok tidak ada...!”, tambahku sambil menoleh ke sana ke mari mencari-cari adikku Norma.
“Assalamualaikum...”, terdengar lagi ucapan salam yang begitu nyaring. Aku tahu suara itu, suara itu tidak begitu asing lagi bagiku. Suara itu tiada lain adalah suara adik Dewi yaitu Alfariza (dipanggil Fariz).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...