Selasa, 20 Januari 2015

Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 22


Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 22

 “Uang jajan dong, Bu. Masa lupa, Bu!”, gurau Dewi kepada ibunya.
Dewipun diberi uang jajan oleh ibunya sekitar Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah). Dewi pun pergi sekolah dengan jalan kaki sekitar 3 km dari rumahnya menuju tempat oplet. Ojek sih ada, sekitar 5000-an ke depan (ke tempat menunggu oplet lewat). Akan tetapi biaya sekolah pasti akan membengkak. Karena abang-abang dan kakak serta adiknya juga masih sekolah, yang pastinya banyak memerlukan biaya. Begitulah adanya kebiasaan Dewi pergi dan pulang sekolah diterik panas matahari dan dinginnya udara malam ketika pulang sekolah.
Dewi adalah seorang gadis yang rajin dan ulet dan tidak malu jika ia berjualan mencari uang tambahan buat jajan dan biaya sekolah. Meskipun bapaknya seorang pegawai negeri (guru SD). Semua itu ia lakukan demi masa depan dan cita-citanya ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS)  seperti bapak dan pamannya (ABRI).
Setelah sampai di halte, Dewi menunggu oplet atau bis yang lewat menuju arah Pemangkat atau Singkawang. Tidak lama kemudian bis jurusan Sambas-Singkawang pun lewat dan diberhentikan oleh Dewi.
“Pemangkat, Singkawang-Singkawang”, teriak kenek mencari penumpangnya.
“Bang...!”, teriak Dewi sambil melambaikan tangannya.
Bis pun berhenti tepat di depannya.
“Kemana Dik?”, tanya si kenek (kondektur) kepada Dewi.
“Sekolah, Bang di Geresik”, jawab Dewi singkat.
Dewi pun naik bis tersebut menuju sekolahnya SMP Negeri 1 Pemangkat di Geresik. Dari jalan raya menuju gang sekolahnya sekitar 250 meter jalan kaki. Teman-teman Dewi sudah sejak dari tadi menunggunya di sekolah untuk mengerjakan PR bersama di perpustakaan sekolahnya.
Sementara itu terdengar suara azan sholat Luhur mengumandang di angkasa. Akupun bersegera wuduk karena waktu sholat Luhur sudah tiba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...