Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 16

 “Iya maaf, Abangkan tidak tahu” Aku mencari alasan agar ia tidak marah, padahal aku hanya ingin bergurau. Kemudian aku menuangkan air ke dalam gelasnya.
“Ini airnya, haus ya...!”, ucapku kepadanya sambil memberikan air tersebut kepadanya.
“Ya, iyalah... dari tadi tidak diberi minum”, ucapnya manja kepadaku.
Dewi minum dengan cepat sekali hingga terdengar bunyi ia minum. “Glek... glek... glek...” bunyinya seperti harimau atau kucing yang minum di kali atau danau yang sudah setahun tidak minum-minum. Seakan-akan air dalam ketel tersebut pun satu kali minum. 
“Alhamdulillah... hilang sudah rasa haus Dewi, Bang. ‘Makasih ya Bang”, kata Dewi kepadaku sambil mencolek pipiku yang sudah mulai kering karena dimakan oleh matahari.
“Iya, sama-sama. Gitu aja kok repot...”, ucapku sambil menyeka pipiku yang dicolek oleh Dewi.
“Ayo, kita lanjutkan lagi mengerjakan PR-nya”, ajakku kepada Dewi.
“Udahlah Bang, capek”, ucapnya sambil menjulurkan kakinya ke bawah meja seperti rebahan.
“Tapikan masih ada yang belum selesai, Wi!”, ucapku kepadanya sambil membolak-balik buku PR-nya.
“Tidak apa-apa, Bang. Cuma tinggal 1 soal lagi tu, biar esok saja Dewi selesaikan di sekolah sama teman-teman Dewi”, katanya sambil membetulkan duduknya kembali.
Kini PR dianggap selesai, kami main-main dan gurau-gurau di ruang depan. Waktu terus berlalu, seperti itulah kami bercanda-bergurau berdua di rumahku. Tidak lama kemudian adikku Norma datang dari main.
“Assalamulaikum”, ucap adikku dari luar.
“Waalaikum salam”, jawabku dan Dewi hampir bersamaan.

Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours