Novel Surat Cinta Dari Surga Jilid 11

Pada waktu itu pandanganku terpokus pada serumpun bunga yang sedang tumbuh disengkedan (intare atau bantangan) persawahan. Bunga itu sungguh cantik berwarna putih. Ingin sekali aku menyelipkan bunga tersebut ditelinga Dewi.
“Lihat apa, Bang. Kok serius sekali? Lihat hantu, ya...”, tanyanya.
“Tidak...”, jawabku singkat.
“Tunggu sebentar, ya. Dewi tunggu disini. Abang ambil sesuatu buat kamu. Tapi Dewi tutup mata dulu, ya”, tambahku sambil berdiri.
“Apa sih, Bang. Kok pake’ tutup mata segala”, tanyanya.
“Tidak apa-apa, tunggu ajalah. Hanya sebentar kok... ayo sekarang tutup matanya”, pintaku pada Dewi.
Dewipun memejamkan matanya perlahan-lahan.
“Awas, ya jika meninggalkan Dewi atau berlaku curang ama Dewi. Dewi bilang bapak ha”, kata Dewi kepadaku.
“Tidak... siapa sih yang mau ninggalin kamu yang cantik, rugi tau”, kataku kepada Dewi.
Lalu kuambil bunga putih itu, dan kuselipkan ditelinganya yang kanan. Dewi kegelian ketika aku menyentuh kupingnya secara tidak sengaja.
“Bang, geli...”, katanya kepadaku.
“Maaf, Abang tidak sengaja”, jawabku.
“Sekarang coba matanya dibuka”, tambahku kepada Dewi sambil berdiri di depannya.
Dewi membuka matanya perlahan-lahan. Dan terbelalaklah kedua matanya yang cantik seperti bola pimpong yang bersinar diufuk timur.
“Kamu cantik sekali apabila memakai bunga putih itu ditelingamu”, rayuku kepadanya.
“Mana buktinya, Dewikan tidak bisa melihatnya”, katanya kepadaku.
“Iya, ya... benar juga. ‘Eee... bagaimana caranya, ya... agar kamu bisa melihatnya”, kataku sambil berfikir.

Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours