Sabtu, 18 Juli 2015

7 Hari 7 Malam Terdengar Kokok Ayam dari dalam Kubur


Berdasarkan judul di atas, penulis mengatakan bahwa 7 hari 7 malam. Kata (7 hari 7 malam)  ini, diambil dari kata yang selalu diucapkan oleh orang-orang tua disekitar lingkungan saya, di Desa Pusaka, Dusun Sekadim, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, itu detailnya. Kata 7 hari 7 malam ini tidak asing lagi ditelingaku seperti kata “tujuh gunung tujuh lautan”.

Mengapa banyak orang mengucapkan kata 7 hari 7 malam? Mengapa orang tua-tua dulu mengucapkan kata 7 hari 7 malam itu? Lalu apa maksudnya? Maksudnya adalah 7 hari 7 malam itu adalah pelaksanaan pesta yang sering dilakukan oleh para sultan atau raja-raja di zaman dahulu, termasuklah di Sambas, tanah kelahiranku. Selain raja atau sultan, pesta 7 hari 7 malam juga dilakukan oleh kerabat raja-raja, atau saudagar kaya (orang kaya-kaya), dan datok-datok, serta pengusaha. Sekarang penulis tidak pernah lagi mendengar yang namanya pesta 7 hari 7 malam itu. Dan kata 7 hari 7 malam sangat jarang penulis temukan di masyarakat Sambas pada khususnya, Indonesia pada umumnya.

Selain pesta perkawinan atau pesta apa saja yang dilakukan selama 7 hari 7 malam, ada juga suatu peristiwa sedih yang terjadi 7 hari 7 malam di Kabupaten Sambas atau Kerajaan Sambas (tempo duloe). Kalau pesta 7 hari 7 malam dalam hal penobatan raja atau sultan atau acara perkawinan adalah hal yang gembira, akan tetapi ini 7 hari 7 malam hal yang menyedihkan bagi rakyat Sambas tempo dulu. Lalu apa dia itu?

7 hari 7 malam yang menyedihkan itu adalah ditanamnya hidup-hidup anak raja dari Kerajaan Sambas oleh ayahndanya sendiri di Bukit Sebedang Kecamatan Sebawi (sekarang) yang bernama Dare Nandung dan Bujang Nadi, sedangkan ayahndanya bernama Raja TanUnggal seorang raja yang lalim. Selama 7 hari 7 malam penduduk setempat masih mendengar suara kokok ayam dari Bujang Nadi yang ikut ditanam menemani si Bujang Nadi, sedangkan buat si Dare Nandung adalah alat tenunan kesayangannya, serta tujuh butir telur, 7 buah ketupat, dan 7 garung air. Selama 7 hari 7 malam mereka terkebur, setelah itu mereka menghembuskan nafas (meninggal dunia).

Itulah hikayat atau makna dari kalimat atau kata 7 hari 7 malam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...