Minggu, 10 Mei 2015

Kultum "Shu-uzon Dengan Allah dan Makhluk"


Kultum Shu-uzon Dengan Allah dan Makhluk

Hati adalah segumpal daging berwarna merah di dalam tubuh manusia atau hewan. Jika kita bicara hati di sini, saya mengatakan adalah manusia itu sendiri. Jika di dalamnya rusak (hati), maka yang diluarnya pun rusak. Jika kita bicara soal hati, ada beberapa penyakit hati, diantaranya ialah; dengki, hasut, fitnah, su-uzon, dan lain-lainnya. Disini saya ingin membahasa tentang su-uzon, su-uson itu adalah berprasangka buruk kepada seseorang atau lainnya, pada intinya berprasangka buruk. Berprasangka buruk atau su-uzon ini terbagi dua, yaitu su-uzon kepada Khalik (Allah) dan berprasangka buruk pada makhluk (manusia atau hewan).

Untuk membahas semua itu, mari kita dengarkan cerita, singkat saja, ada seorang musafir yang kelelahan atau kepanasan sedang istirahat di bawah sebuah pohon beringin, ia berbaring karena lelah, dalam hatinya bergumam. “mengapa pohon sebesar ini buahnya kecil sekali, sedangkan labu disampingku pohonnya kecil buahnyaa besar kurang lebih 3 kg, Tuhan tidak adil”, katanya.  Tidak lama kemudian setelah ia bicara seperti itu, tiba-tiba jatuhlah buah pohon beringin tepat mengenai hidungnya “Astarfirullah hul’azim”, ucapmya. Syukur buah pohon beringin kecil, jika besar seperti buah labu, maka hancurlah dengan muka-mukaku karenanya. Ternyata Tuhan maha adil dan bijaksana, maafkan hamba Tuhan”, ucap musafir tersebut menyesali perbuatannya.

Ada cerita lain lagi, yaitu su-uzon kepada makhluk, ceritanya begini, ada satu keluarga yang tinggal di hujung kampung desa, ada orang tua yang sudah tua yang sedang sakit-sakitan (lumpuh), ada seorang anak kecil yang masih bayi, ada dua orang anaknya (yaitu anak dan menantu dari kakek yang lumpuh atau sakit tersebut), dan ada seekor kucing. Bagaimana kita ingin membawa orang tua kita berobat ya, tidak ada yang jaga anak kita. Kucingkan ada, kata istrinya. Kucing jaga anakku ya, kami akan membawa bapak untuk berobat, meeoi meoii kata si kucing.

Setelah mereka pergi, tiba-tiba datanglah seekor ular yang ingin melilit anak kecil tersebut yang sedang tidur tersebut. Kucing itu dengan cekatan dan lincah bertarung dengan sang ular, singkat cerita ular tersebut menang, namun tubuhnya berlumuran darah. Si ular tergeletak di bawah balai-balai di dekat si anak kecil itu tertidur.

Tidak lama kemudian, datanglah mereka dari berobat, dan di sambut oleh si kucing. Pak lihat, kucing kita berlumura darah, pasti ia telah mengapa-apakan anak kita Pak, bapak atau suaminya menjadi geram, kucing itupun dipukulnya, kucing iitu hanyya berkata meong meong meong mungkin ia akan mengatakan bukan aku bukan aku, tapi ular yang ingin membunuhnya. Akan tetapi orang tersebut terus memukul si kucing hingga mati.

Setelah mereka masuk ke dalam, ternyata anak mereka selamat, mereka melihat ular melingkar mati tidak jauh dari anak mereka, mereka mengetahui ternyata si kucing melawan si ular, hingga si ular mati, ternyata itu adalah darah si ular.

Mereka menyesal sekali, kucing itupun dikuburkan, dengan deraian air mata si istrinya, hingga air matanya menets di kubur si kucing, akan tetapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...