Cara Menetapkan Waktu Puasa Ramadhan
  1. Cara Menetapkan Waktu Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan puasa yang telah ditentukan waktunya yaitu pada bulan Ramdhan. Jumlah hari pada bulan Ramadhan ada yang 29 hari ada yang 30 hari. Untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan dapat ditempuh dengan tiga cara, yaitu:
1.      Ru’yah
Ru’yah adalah Ru’yatul Hilal (melihat bulan) yaitu bulan sabit tanggal 1 bulan Qamariyah dengan mata kepala. Untuk melakukan ru’yah ini memerlukan persyaratan tertentu, sehingga tidak sembarang orang dapat melakukannya.
Hal ini telah dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh lima ahli hadits kecuali Ahmad dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Telah datang seorang laki-laki Badui kepada Nabi Muhammad SAW, lalu ia berkata: “Sesungguhnya aku telah melihat Hilal (bulan pertaa Ramadhan)”. Kemudian beliau bertanya: “Adakah engkau bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah?”. Ia menjawab: “Ya”. Lalu beliau memerintahkan kepada Bilal: “Hai Bilal, serukanlah (beritahukanlah) hal itu kepada orang banyak agar esok hari mereka berpuasa”.
Demikian juga dalam menentukan akhir bulan Ramadhan yaitu dengan melihat bulan sabit pada tanggal 1 Syawal. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Umar ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda: “Apabila kamu melihat bulan Ramadhan hendaklah kamu berpuasa, dan apabila kamu melihat bulan Syawal hendaklah kamu berbuka. Maka jika tidak tampak olehmu hendaklah kamu perhitungkan julah dari dalam satu bulan”.
Penetapan bulan Ramadhan dengan ru’yah ini juga berdasarkan firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 185, yang artinya : “Maka siapa di antara kamu sekalian yang menyaksikan awal Ramadhan haruslah ia berpuasa”.
 
2.      Istiqmal
Istiqmal adalah menyempurnakan bilangan dari bulan Sya’ban 30 hari dalam menentukan awal Ramadhan menyempurnakan bilangan hari bulan Ramadhan dengan 30 hari dalam menentukan akhir bulan Ramadhan.
Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwasanya Nabi Muhammad Saw. telah bersabda: “berpuasalah kamu sekalian karena kamu melihat bulan dan berbukalah atau berlebarlah kamu sekalian karena kamu melihat bulan. Jika kamu sekalian tidak melihat bulan maka sempurnakanlah bilangan hari dua bulan Sya’ban tersebut menjadi 30 hari”.
Cara Istiqmal ini dilakukan apabila melihat hilal sulit dikarenakan tertutup mega, atau tidak ada seorang adil yang bersaksi bahwa ia telah meiahat hilal, maka bulan Sya’ban digenapkan 30 hari. Karena inilah yang cocok, selama tidak ada sesuatu alasan yang merubahnya.

3.      Hisab
Hisab adalah menentukan hitungan mulai dari puasa Ramadhan menurut ilmu falaq atau ilmu astronomi (ilmu perbintangan). Hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang ahli falaq.
Penetapan awal bulan Ramadhan dengan perhitungan ahli hisab ini dengan syarat, yaitu apabila bulan tidak terlihat maka bulan Sya’ban disempurnakan 30 hari. Dan melakukan hisab itu memang ahli dalam bidang tersebut.
Penetapan awal bulan Ramadhan dengan hisab ini didasarkan pada firman Allah Swt. dalam surah Yunus ayat 5 yang artinya “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya tempat-tempat perjalanan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang mengetahui”.

Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours