Apakah Bisa Menggantikan Puasa Orang Lain?
  1. Menggantikan Puasa Orang Lain
Apabila ada orang yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan sebab berhalangan (udzur) kemudian ia meninggal dunia sebelum mengganti puasanya, misalnya berhalangan terus-menerus hingga akhirnya ia meninggal, maka ia tidak berdosa dan tidak wajib mengqadha’ dan juga tidak wajib membayar fidyah.
Akan tetapi, jika ia meninggal setelah ada kemungkinan untuk mengganti puasanya, namun kesempatan itu harus digantikan oleh salah satu anggota keluarga.
Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra, ia berkata bahwasanya Nabi Muhammad Saw. telah bersabda: “Barang siapa yang telah meninggal dunia dengan masih mempunyai tanggungan (kewajiban) puasa yang pernah ditinggalkannya, maka walinya harus berpuasa untuk menggantikannya”.
Dalam hal ini, sebagian ulama berpendapat, bahwa hanya puasa nadzarlah yang boleh digantikan oleh orang lain. Pendapat mereka ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ada salah seorang datang kepada Nabi Muhammad Saw, sambil bertanya: “Wahai Rasulullah, aku mepunyai seorang ibu yang telah meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa nadzar yang belum dikerjakan, apakah aku diperbolehkan untuk menggantikan puasanya?”. Beliau balik bertanya: “Bagaimana pendapatmu, kalau ibunya mempunyai hutang lalu engkau membayarnya?”. Ia menjawab: “Tentu terbayar”. Maka beliau bersabda: “Berpuasalah untuk menggantikan puasa ibumu, dengan demikian puasa ibumu telah terbayar”.
Ada juga pendapat lain yang mengenai hal ini, yaitu sebagian ulama lainnya berpendapat, bahwa puasa yang belum dikerjakan itu harus dibayarkan dengan cara diambilkan dari harta peninggalannya, kemudian disedekahkan kepada fakir miskin setiap satu hari puasa dibayar dengan ¾ liter makanan yang dapat mengenyangkan. Pendapat mereka ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Umar ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad Saw. telah bersabda: “Barang siapa yang telah meninggal dunia dan ia masih mempunyai tanggungan puasa yang ditinggalkan, maka hendaklah dibayar dengan makanan tiap-tiap hari untuk seorang miskin”.
Diantara kedua pendapat di atas tersebut, yang kuat adalah pendapat yang pertama.  

Share To:

Unknown

Post A Comment:

0 comments so far,add yours