Hari hari Yang Dimakruhkan Puasa

9.      Hari-hari Yang Dimakruhkan Puasa
a.       Hari yang diragukan menjelang Ramadhan
Maksudnya ialah ragu-ragu apakah hari itu sudah masuk bulan Ramadhan atau belum. Akan tetapi, apabila seseorang sudah terbiasa berpuasa seperti hari Senin dan Kamis, atau berkaitan dengan hari-hari sebelumnya (sudah berpuasa sejak beberapa hari termasuk hari itu) maka hukumnya boleh.
Hal ini telah dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Kamu sekalian jangan mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari kecuali orang yang telah berpuasa sebelumnya maka berpuasalah”.
Dan di dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Hibban, ia berkata bahwa Nabi Muhammad Saw. telah bersabda: “Barang siapa yang berpuasa pada hari yang ragu-ragu (belum jelas bulan Ramadhan) sungguh telah melanggar Sunnah Rasul”.
b.      Dua tiga hari berpuasa tanpa berbuka (puasa wishal)
Puasa wishal merupakan puasa yang dimakruhkan yaitu puasa selama dua atau tiga hari tanpa berbuka. Hal ini telah didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Nabi Muhammad Saw., telah bersabda: “Hindari oleh kalian puasa wishal”.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mutafaqun Alaih dari Ibnu Umar, ia berkata: “Nabi Muhammad saw. pernah puasa wishal pada bulan Ramadhan, baru diikuti oleh para sahabatnya. Setelah itu, beliau melarang puasa wishal. Kemudian para sahabatnya bertanya: “Bukankah engkau melaksanakan puasa wishal, wahai Rasulullah? Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya aku tidak seperti kalian, aku ini juga makan dan minum”.
Dalam hal ini juga menuntut dan sekaligus larangan menghubungkannya dengan umat Islam, laki-laki dan perempuan. Sabda Nabi Muhammad Saw.: “Aku ini juga makan dan minum”, menerangkan kepada kita bahwa Allah membantu beliau di dalam mengerjakan puasa tersebut.
c.       Satu tahun penuh mengerjakan puasa (puasa Dahr)
Puasa Dahr adalah puasa yang dilakukan selama satu tahun penuh. Puasa ini dimakruhkan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwasanya Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Tidak dianggap berpuasa bagi orang yang berpuasa selamanya”.
d.      Puasa seorang istri tanpa izin suaminya
Dimakruhkan bagi seorang wanita yang berpuasa tanpa seizin suaminya, selain pada bulan Ramadhan, sedang pada saat itu suaminya tengah berada disisinya.
Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Mutafaqun Alaih, bahwasanya Nabi Muhammad Saw. telah bersabda yang artinya: “Janganlah seorang wanita berpuasa pada suatu hari, ketika sang suami berada disisnya, melainkan dengan izinnya. Kecuali pada bulan Ramadhan”.
e.       Hari besar dan tahun baru orang kafir
Dimakruhkan berpuasa pada hari-hari besar dan hari tahun baru orang kafir. Karena pada hari-hari tersebut adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang kafir. Sehingga mengkhususkan puasa padanya merupakan bentuk dan pengagungan.
f.        Mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa
Dimakruhkan berpuasa khusus di bulan Rajab, karena bulan ini adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang jahiliyah.

Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours