Senin, 02 Februari 2015

Pernikahan Menurut Islam


Sugianto, S.Pd.I
Nikah menurut bahasa berarti percampuran atau mengumpulkan atau penyatuan. Diartikan juga sebagai akad atau bersetubuh. Al-fara’ berkata “An-Nukh adalah sebutan untuk kemaluan, dan disebut sebagai akad adalah karena ia merupakan penyebab terjadinya kesepakatan itu sendiri”. 
Sedangkan Al-Farisi berkata “jika mereka mengatakan bahwa si fulan atau anaknya fulan menikah, maka yang dimaksud adalah mengadakan akad. Akan tetapi jika dikatakan, bahwa ia menikahi istrinya, maka yang dimaksud adalah bersetubuh”.
Sedangkan menurut Sugianto, S.Pd.I “nikah adalah suatu hubungan badan yang dilakukan suka sama suka (ikhlas) karena Allah semata”.
Sedangkan pernikahan menurut Islam atau syara’ adalah “akad yang menghalalkan hubungan suami istri dengan lafazd nikah atau tajwiz atau arti dari keduanya dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat tertentu sehingga menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya.
Pernikahan dalam arti yang luas adalah merupakan suatu ikatan lahir antara dua orang (laki-laki dan perempuan), untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan untuk mendapatkan keturunan yang dilangsungkan menurut ketentuan-ketentuan syariat Islam.
Pernikahan menurut undang-undang perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah rumah tangga berdasarkan ketentuan agama.

Nah, itulah pernikahan menurut pendapat-pendapat, sedangkan hukum pernikahan itu ada wajib, sunnat, makruh, mubah dan yang terakhir adalah haram. Jadi kita tergolong yang mana? Perhatikan firman Allah swt dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 235 yang artinya “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu[148] dengan sindiran[149] atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf[150]. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al-Baqarah: 235).
Keterangan; [148]. Yang suaminya telah meninggal dan masih dalam 'iddah. [149]. Wanita yang boleh dipinang secara sindiran ialah wanita yang dalam 'iddah karena meninggal suaminya, atau karena talak bain, sedang wanita yang dalam 'iddah talak raji'i tidak boleh dipinang walaupun dengan sindiran. [150]. Perkataan sindiran yang baik.


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...