Selasa, 10 Februari 2015

Cerai atau Talak Menurut Islam


Sugianto, S.Pd.I
Saat ini banyak sekali anak-anak yang kawin muda. Dari usia yang hanya baru 15 hingga 18 tahun. Yang masih duduk dibangku sekolah kelas dua (delapan) SMP atau kelas 10 SMA. Banyak dari antara mereka yang kecolongan (hamil duluan), akhirnya dikawinkan yang sudah 2-3 bulan. Selaku orang tua dari kedua belah pihak hanya mengaminkan saja. Merekalah yang akan menangungnya kehidupan berkeluarga (pernikahan dini). Untuk membuat KTP saja mereka belum bias, jadi akhirnya mereka nikah di bawah tangan (nikah sama orang tua dan disksikan oleh penghulu dan sebagainya, atau nikah tidak kepada Negara/tidak ada surat nikah).

Perut semakin membesar, dan akhirnya melahirkan. Anak semakin besar, yang membutuhkan asumsi gizi yang seimbang. Sedangkan selaku orang tua harus memerikan nafkah kepada anak dan istri. Sedangkan diri (sang suami)masih muda, baru belasan tahun, sekolah baru kelas dua yang kandas, orang tualah yang akan menangung pembiayaan anak dan istrinya.

Istri membutuhkan perhiasan, sedangkan sang suami tidak bekerja. Istri jadi marah, dan akhirnya “cerai”. Di dalam agama Islam, penceraian merupakan sesuatu yang tidak disukai oleh Islam tetapi dibolehkan dengan alasan dan sebab-sebab tertentu. Penceraian boleh dilakukan dengan cara talak, fasakh dan khuluk atau tebus talak. Buat apa perkawinan dipertahankan jika hanya menderita, sengsara. Tujuan dari perkawinan adalah keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Banyak orang yang cerai atau talak, tapi apakah mereka tahu apa itu cerai? Cerai atau Talak menurut bahasa bermaksud melepaskan ikatan dan menurut syarak pula, talak membawa maksud melepaskan ikatan perkawinan dengan lafaz talak dan seumpamanya. Talak merupakan suatu jalan penyelesaian yang terakhir sekiranya suami dan istri tidak dapat hidup bersama dan mencari kata sepakat untuk mecari kebahagian berumahtangga. Diantara kedua belah pihak merasa tidak ada lagi kecocokan. Kadang-kadang sehari betul, tiga hari selisih paham (tidak saling komunikasi).  

Sebenarnya Talak ini merupakan perkara yang dibenci oleh Allah s.w.t., tetapi dibenarkan. Diizinkan atau dibolehkan, dengan sebab-sebab tertentu.

Hukum cerai atau talak menurut Islam ada lima yaitu; wajib, haram, sunat, makruh, harus. Yang dimaksudkan dengan wajib adalah a) Jika perbalahan suami isteri tidak dapat didamaikan lagi
b) Dua orang wakil daripada pihak suami dan isteri gagal membuat kata sepakat untuk perdamaian rumahtangga mereka, c) Apabila pihak kadi berpendapat bahawa talak adalah lebih baik, d) Jika tidak diceraikan keadaan sedemikian, maka berdosalah suami. Sedangkan yang dimaksudkan dengan haram diantaranya: a) Menceraikan isteri ketika sedang haid atau nifas. b) Ketika keadaan suci yang telah disetubuhi, c) Ketika suami sedang sakit yang bertujuan menghalang isterinya daripada menuntut harta pusakanya, d) Menceraikan isterinya dengan talak tiga sekali gus atau talak satu tetapi disebut berulang kali sehingga cukup tiga kali atau lebih.

Setelah penjelsan dua diatas, yang dimaksudkan dengan sunat dijelaskan bahwa; a) Suami tidak mampu menanggung nafkah isterinya, b) Isterinya tidak menjaga maruah dirinya. Kemudian penjelsan dari makruh adalah sebagai berikut Suami menjatuhkan talak kepada isterinya yang baik, berakhlak mulia dan mempunyai pengetahuan agama. Yang terakhir yang dimaksudkan dengan harus adalah Suami yang lemah keinginan nafsunya atau isterinya belum datang haid atau telah putus haidnya.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa cerai itu dibenci oleh Allah akan tetapi di izinkan. Serta cerai atau talak itu mempunyai lima hukum.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...