Dia adalah seorang pemuda miskin dan cacat (desibelitas). Ia tidak sekolah seperti layaknya teman-temannya yang mendapatkan pendidikan formal oleh orang tua mereka. Kesehariannya hanya tinggal di rumah mengasuh adik-adiknya, karena orang tuanya tidak mampu untuk menyekolahkannya ke SMP (waktu itu). Meskipun demikian, ia tidak pantang menyerah, ia belajar sendiri dengan membaca apa-apa saja yang bisa dibacanya, seperti koran bekas bungkusan belanja atau koran bekas milik tetanggganya, buku-buku yang sudah usang, serta buku-buku pelajaran adiknya. 

Usianya semakin meningkat, dan ia membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Sedangkan untuk melamar pekerjaan membutuhkan ijazah yang tinggi semisal SMP, SMA, atau S1 (sarjana). Pendidikan sangat diutamakan untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Orang akan menilai atau menerima orang lain bekerja sesuai dengan pendidikannya yang terakhir. Sekarang apa hendak ia katakan lagi, sedangkan a tidak sekolah sama sekali (hanya lulus sekolah dasar dengan mendapatkan nilai yang terbaik di sekolahnya, tapi hanya juara dua dari 32 siswa). 

Dimata kedua orang tuanya, serta adik-adiknya dan masyarakat dilingkungannya mengatakan bahwa ia adalah anak yang rajin dan pintar. Namun sayang keluarganya tidak mampu untuk menyekolahkannya ke SMP dan jenjang berikutnya. Apalagi ke jenjang berikutnya, ke SMP saja tidak bisa. Namun ia tidak putus asa begitu saja, meskipun ia pernah minta “mati” pada Tuhan, karena saking putus “asa” nya waktu itu sebelum semangatnya “kuat”. Pada waktu itu Tuhan memperingatkannya dengan membunyikan halilintar yang sangat keras dibelakangnya (ia merasakan panas yang sangat), sedangkan cuaca sangat cerah.Singkat cerita, ia masuk Paket B, yang ia kelola sendiri, setelah itu paket C, yang ia kelola sendiri, kemudian ia masuk kuliah di Singkawang (STIT Syarif Abdurrahman Singkawang 2008-2012). Ia masuk tanggal 30 bulan September 2008, kuliahnya selesai tanggal 29 April 2012, wisuda tanggal 20 bulan 10 2012. jadi berapa tahun ia sekolah (kuliah)?. 
Kembelai kebelakang, ketika ia sekolah paket B atau C, orang-orang memandangnya sebelah mata, banyak yang mengejek, menghina, dan mencaci, banyak pula teman-temannya yang bubar dan minggat begitu saja karena tidak tahan dengan hinaan dan cacian dari masyarakat serta teman-teman mereka. Namun ia tidak memperdulikan itu semua. Ia tetap lanjut, dan lanjut. Dari 40 siswa angkatannya tinggal 15 orang saja yang bertahan. Diantara mereka sekarang S1 olahraga di Malang, D3 Administrasi di Pontianak, dan ia S1 di STIT Syarif Abdurrahman Singkawang. Sedangkan yang tidak melanjutkan sekolah atau kuliah membuka usaha dan wiraswasta.

Orang itu tiada lain adalah penulis sendiri yaitu Sugianto, S.Pd.I. 
Share To:

ANTS EDUCATION

Post A Comment:

0 comments so far,add yours