Senin, 28 September 2015

Bidai Bengkayang Dipermak Oleh Malaysia Menjadi Bidai Sarawak


Bidai Bengkayang
Bidai adalah batas atau tempat berhenti dalam beberapa permainan olahraga, misalnya dalam permainan kasti. Namun, bukan defenisi seperti di atas yang kami maksudkan. Menurut kamus Bahasa Indonesia dalam artian lain bidai adalah tikar yang terbuat dari bahan rotan yang sudah dihaluskan menjadi seperti tali dan dianyam dengan rapi dan cantik menyerupai tikar atau permaidani.

Mengenai judul di atas, lagi-lagi Malaysia, lagi-lagi Malaysia. Beberapa bulan yang lalu kami telah memposting masalah bubur pedas Kalimantan Barat (Sambas) yang dklaim oleh Malaysia, klik di sini ya “Bubur Pedas Khas Sambas (West Borneo) Di Klaim Oleh Malaysia (Sarawak)” setelah ini apa lagi ya? Tanah kita sudah dicaplok, pulau kita sudah dicaplok, apa sih maunya. Mungkin karena kita satu rumpun kali ya, makanya perlu ada pengawasan yang ketat dari pemerintah mengenai aset-aset kita yang ada di Indonesia ini, khususnya aset yang ada diperbatasan seperti Bengkayang, Sambas, Intekong, dan lain sebagainya.

Bidai Bengkayang yang sudah dipermak oleh Malaysia diubah namanya menjadi Bidai Sarawak. Sebenarnya Tikar Bidai asal Seluas, Bengkayang, Kalimantan Barat adalah produk kerajinan tangan masyarakat disana. Akan tetapi dengan berkembangnya, atau beredarnya produk tersebut ke Malaysia maka nama tikar bidai Bumi Sebalo diubah namanya menjadi “Bidai Sarawak”. Jika begini terus keadaannya, maka kekayaan budaya Indonesia pada umumnya akan habis selalu saja di klaim oleh negeri luar (jiran atau tetangga). Apa sebenarnya permasalahannya? Kenapa bisa seperti itu?

Kita hanya orang kecil, hanya bias bersuara dan demo, akan tetapi keputusan tetap saja sama orang besar yang memegang tapuk pemerintahan. “Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Christiandy Sanjaya menyatakan prihatin mendapat kabar ada kerajinan tikar bidar milik masyarakat Seluas, Kabupaten Bengkayang diklaim pihak Malaysia. Ia pun mengajak masyarakat budayakan mematen hasil karya untuk menghindari klaim pihak lainn terutama oleh negara tetangga”.

Jika sudah demikian, coba kita cari solusi yang terbaik, apa yang harus dilakukan oleh Negara ini, oleh aparatur Negara. Jangan sudah diklaim baru kita usung masalah, sebelum terjadi, apa-apa yang bias kita jadikan asset, ayo kita perkenalkan ke PBB ke dunia, bahwa itu adalah asset kita, kita penemunya. Jangan biarkan orang-orang dengan mudah mengklaim punya kita. Jika bukan kita “siapa lagi?”.  



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...